Natalie duduk di tempatnya. Ia masih menunggu kedatangan Andrew yang tidak kunjung datang. Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, tetapi atasannya itu belum juga muncul. Antara kesal dan khawatir, dua perasaan itu terasa beda tipis. Natalie berulang kali menelepon, tetap saja tidak ada tanggapan dari Andrew.
“Baru hari pertama aja udah kayak gini, gimana untuk hari selanjutnya?” Natalie mengetuk mejanya kesal. Semua dokumen yang harus ditandatangani Andrew sudah siap. Tinggal menunggu kedatangan Andrew dan Natalie akan lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya.
Seperti bayangannya dalam sebuah novel. Waktu senggang saat di kantor pasti akan terasa sangat mengasyikkan. Lantas bagaimana Natalie bisa membayangkannya. Andrew saja belum menampakkan batang hidungnya. Lelaki itu seperti menghilang dan menyembunyikan sesuatu.
Beberapa staf lainnya menanyakan Kedatangan Andrew. Meeting untuk konsep pengembangan produk tahun depan akan dimulai satu jam lagi. Kehadiran Andrew sangat penting karena posisinya sebagai manager pemasaran. Ide cemerlang Andrew sangat menentukan bagaimana produk dari perusahaannya dapat berkembang dan bersaing dengan produk import. Media promosi yang tepat mampu menjangkau pasar di seluruh pelosok negeri. Selama ini kredibilitas Andrew tidak pernah diragukan. Dua tahun berturut-turut perusahaannya mencapai target yang memuaskan dalam menjual produk mereka. Tak tanggung-tanggung, Andrew mendapatkan bonus tahunan yang sangat fantastis. Tak heran jika sosok Andrew menjadi salah satu idola di kantor.
Selain itu, perkembangan zaman yang pesat dan style yang selalu berubah membuat perusahaan harus melakukan inovasi untuk tetap bertahan dalam persaingan pasar dan tetap eksis dalam industri pembuatan sepatu. Banyak pekerja yang menggantungkan nasib pada perusahaan tersebut. Pihak managemen dan HRD selalu mengupayakan yang terbaik.
“Nath, tolong siapkan konsep pemasaran yang aku kirim ke email-mu.” Andrew tiba-tiba datang dan langsung terlihat serius.
Ia sama sekali tidak terlihat merasa bersalah atau sekadar menanyakan kabar Natalie. Lelaki berjas abu-abu itu terlihat lebih segar dan tampan. Karismanya memang tidak pernah padam. Hati yang harusnya marah tiba-tiba saja hanya diam menuruti perkataan Andrew.
“Kamu kenapa malah diam? Cepat siapkan konsepnya!” Nada bicara Andrew terdengar keras. Lelaki itu menunjukkan sikap tak peduli.
Natalie hanya diam dan membuka kotak surat elektonik miliknya. Ia membuka konsep Andrew dan mengunduhnya. Sedangkan Andrew masih berdiri dengan melipat tangan. Ia tampak gelisah dan padangan matanya sangat tidak bersahabat. Dalam hati ingin rasanya Natalie menangis. Ia merasakan pertama kalinya dibentak oleh seorang lelaki.
Ia justru malah berpikir apakah tuhan memberi balasan kepadanya karena selalu memerlakukan lelaki seenaknya. Menyakiti mereka saat dirinya tidak membutuhkan mereka lagi.
“Buruan! Kenapa kerjamu lelet sekali?! Harusnya pagi tadi kamu mengecek email-mu tanpa perintah dariku.”
Natalie mencetak konsep Andrew dan menyodorkannya. Ia menekuk wajahnya karena kesal. Ia tidak peduli jika pada akhirnya Andrew akan marah.
“Jangan lupa di copy terlebih dahulu. Aku sudah ada soft copy untuk persentasi.”
“Berapa?”
“Tanya Nadia!” Andrew meninggikan nada suaranya.
“Nadia?” Natalie masih tidak mengerti siapa Nadia.
“Ikut aku meeting! Jangan sampai lupa mebawa copiannya.” Perintah Andrew. Lelaki itu bergegas menuju ruang meeting dan meninggalkan Natalie sendiri. Bahkan lelaki itu tidak menunggu Natalie. Ia pun tidak menjelaskan siapa Nadia.
“Ini Andrew apa dedemit, sih?” Natalie bangkit dan membawa block note miliknya. Tak lupa konsep yang telah ia cetak. Ia segera mencari tahu siapa Nadia dan mengcopy konsep yang diperintahkan Andrew.Setelah itu ia akan segera menyusul Andrew karena tidak ingin terkena amukan untuk kesekian kalinya.
Natalie hanya bisa menggerutu dalam hati. Ia merasa Andrew sangat berbeda dengan Andrew yang ia kenal beberapa hari yang lalu. Tutur katanya yang lembut tidak tampak sama sekali. Atasannya itu malah terkesan kasar dan arogan.
Setelah selesai bertemu Nadia yang ternyata adalah seorang office girl, Natalie langsung beregas menyusul Andrew karena meeting 15 menit lagi akan dimulai. Ia menyerahkan semua copian kepada Nadia dan memintanya untuk segera mengantarnya ke ruang meeting. Ia tidak ingin Andrew terlalu lama menunggunya dan menganggapnya tidak bisa bekerja.
Masuk ruang meeting membuat Natalie semakin terbakar api cemburu. Beberapa staf bagian keuangan terlihat mendekati Andrew dan mereka terlihat begitu dekat. Andrew tertawa menanggapi wanita di depannya.
Wajah yang terlihat kaku tidak tampak sama sekali. Bahkan ia terlihat begitu bahagia saat berbincang dengan wanita tersebut.
Merasa tidak ingin kalah, Natalie langsung duduk di samping Andrew tanpa basa-basi. Gadis itu masih menunjukkan wajah kesalnya. Ia menekuk bibirnya dan membuka blocknote miliknya. Ia sengaja diam dan mencorat-coret kertas di depannya. Ia tidak peduli Andrew merasa terganggu karenanya. Ia hanya ingin mereka berhenti berbincang dan Andrew meminta maaf padanya. Hingga Nadia datanng membawa copian dan menaruh di setiap meja di ruangan.
Kedatangan Direktur utama pada meeting kali ini membuat seisi ruangan hening. Semua berdiri menyambut kedatangan pria paruh baya yang masih terlihat karismatik. Pemimpin perusahaan itu terlihat sangat berwibawa dan disegani semua yang hadir.
“Senyum, jangan tunjukkan muka masammu.” Andrew berbisik. Ia tidak ingin bawahannya terlihat jelek di hadapan pemimpin perusahaan.
Natalie memalingkan mukanya dan mengabaikan ucapan Andrew. Ia masih saja tersenyum tipis karena suasana hati yang buruk. Acara meeting pun segera di mulai. Departemen terkait mulai menyiapkan bahan untuk presentasi. Termasuk Andrew, lelaki itu langsung gerak cepat mempresentasikann konsep yang ia ajukan untuk sarana pemasaran produk tahun depan.
Produk baru yang akan diuncurkan bulan depan akan menjadi prioritas perusahaan. Dana yang dikeluarkan untuk anggaran event launching dan promo di tahun depan tidak main-main. Perusahaan tidak masalah mengeluarkan budget yang fantastis asal hasil yang didapat melebihi target.
Departemen keuangan pun menjabarkan kondisi keuangan dan segala profit yang didapat jika peluncuran produk mereka mendapat respon baik dari masyarakat tanah air. Style sepatu kets yang casual dengan model yang unik membuat kemungkinan jenis sepatu terbaru mereka akan booming. Model yang dipakai untuk promo iklan pun tidak tanggung-tanggung. Mereka menyewa seorang model remaja yang tengah naik daun untuk menjadi brand ambassador.
“Fokus.” Andrew kembali berbisik saat melihat Natalie hanya mencorat-coret kertas di depannya. Ia sama sekali belum mencatat apa pun dari pemaparan bagian konsep produk dan bagian anggaran.
“Ini juga sudah fokus.” Natalie tak kalah sengit. Ingin rasannya ia berteriak dan segera keluar ruangan. Hanya saja ia terlalu malu jika benar-benar melakukannya.
“Setelah ini kita berbicara di ruanganku.”
“Terserah.”
Mereka kembali fokus pada jalannya meeting. Andrew kembali menanggapi setiap argumen atau pendapat yang keluar dari departemen lainnya. Ia berusaha memilah dan menimbang apa yang harus ia masukkan dalam konsep pemasarannya. Hingga pada akhirnya satu keputusan final didapat. Meeting selesai dan semua staf keluar ruangan.
Natalie memilih terlebih dahulu pergi meninggalkan Andrew. Ia tidak peduli jika Andrew marah atau kesal karena perilakunya yang sangat mencolok di hadapan staf lainnya. Natalie hanya ingin balas dendam dan membuat Andrew merasakan apa yang tengah Natalie rasakan.