“Natalie, tunggu!” Andrew menyusul Natalie yang berjalan terlebih dahulu.
Gadis itu masih saja berjalan tanpa mengabaikan Andrew. Ia masih kesal karena sikap Andrew yang menurutnya terasa sangat kasar. Sebagai seorang perempuan, ia tidak ingin diperlakukan seperti itu. Meskipun dengan orang yang ia sayang. Apa pun alasannya, Natalie tidak menyukainya.
Melihat perlakuan ayahnya kepada ibunya saat masih hidup membuat Natalie benci. Ia marah karena ibunya sama sekali tidak mau melawan karena alasan sayang dan patuh. Rasa sayang seolah membuat pikiran ibunya tidak logis, mau disiksa jika pada akhirnya ayahnya berkhianat dan meninggalkan mereka dalam hidup kesusahan.
Natalie tidak mau hal itu menimpanya karena hatinya yang terlalu lemah. Ia suka pada Andrew. Bahkan ia sempat gila karena seharian tidak mendapat kabar dari lelaki tersebut, tetapi Andrew juga tidak berhak berkata kasar meskipun secara profesional dia adalah atasannya.
“Nath, ayolah, tunggu aku.” Andrew mulai mendekat. Ia berhasil menahan tangan Natalie hingga membuat gadisnya berhenti.
Wajahnya terlihat sangat kesal. Ia terasa enggan berhadapan dengan Andrew. Natalie menghindari tatapan mata Andrew yang terus saja mengejar ekor matanya.
Koridor yang tampak lengang membuat Andrew berani menggenggam tangan Natalie. Lelaki itu menarik tubuh Natalie hingga mereka berhadapan. Raut wajah Andrew menjadi lebih santai tidak seperti sebelum meeting. Lelaki itu terus saja tersenyum berusaha meluluhkan hati wanita di depannya.
“Maaf, aku benar-benar minta maaf.” Andrew terdengar memohon. Ia memasang wajah memelas agar Natalie mau memaafkannya.
Natalie masih tidak mau menjawab. Ia merasa lelaki itu terasa tidak tulus.
“Aku hanya ingin membuat posisi kita senatural mungkin. Aku tidak ingin seisi kantor curiga dengan hubungan kita.” Andrew menjelaskan soal sikapnya.
“Sampai kapan kita akan seperti ini? Aku lelah, aku capek, aku bisa gila kalau kamu terus saja memerlakukanku seperti tadi.” Natalie masih menunjukkan sikap kesalnya.
“Kita baru sehari menjalin hubungan. Apa kamu mau merusaknya dengan bersikap seperti ini?”
“Kamu beneran bikin aku gila! Aku enggak suka lihat kamu selalu tebar pesona dengan yang lain.”
Andrew malah tersenyum mendengar Natalie yang cemburu. Lelaki itu melepas tangannya dan mendekatkan wajahnya.
“Aku tunggu kamu di ruanganku.” Andrew berbisik dan beralih meninggalkan Natalie.
Lelaki itu berjalan lurus dan mengilang di persimpangan koridor menuju ruangannya. Natalie masih tidak percaya dengan cara Andrew memperlakukannya. Bahkan ia belum menjelaskan alasannya tidak bisa dihubungi dan memberi kabar.
“Apa maumu?” Natalie berjalan pelan. Ia terus saja berjalan hingga di persimpangan ia melihat beberapa staf sengaja mendekati Andrew.
Mereka menghadang Andrew dan terlihat menggodanya. Natalie merasa cemburu dan semakin kesal. Padahal ia telah membayangkan jika Andrew akan membujuknya agar tidak marah. Nyatanya atasannya itu malah tersenyum lebar dengan gadis lainnya.
Natalie terus saja berjalan melewati mereka. Ia tidak ingin membuat Andrew semakin percaya diri karena merasa Natalie menggilainya. Natalie berusaha menahan diri meskipun hatinya terbakar dan terasa sangat panas. Jika bisa, Natalie ingin menjambak semua staff yang terlihat sok akrab mendekati Andrew.
***
Kevin masih asik dengan ponselnya. Ia mencari tahu tentang kegiatan Natalie melalu akun instagramnya. Ia batu sadar jika Natalie telah mengikuti akunnya. Ia tersenyum karena merasa Natalie penasaran dengan kehidupannya.
Saat masih sibuk dengan ponselnya, seorang wanita baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita bertubuh sintal dan berparas indo-prancis itu duduk mendekati Kevin yang masih bertelanjang d**a. Kesenangan sisa semalam masih terlihat jelas pada raut wajah wanita tersebut. Ia seolah ingin mengulangi kejadian yang sama dengan Kevin. Lelaki yang membuat malamnya benar-benar begitu menyenangkan.
“Kamu yakin mau kembali ke Bandung sekarang?” Wanita itu masih bergelut dengan Kevin. Aroma maskulin yang khas membuatnya tak ingin melepas Kevin begitu saja.
Pria kaya itu seolah memberi harapan padanya bisa hidup lebih baik jika berhasil mendapatkannya. Mereka mengenal satu sama lain satu bulan yang lalu. Tepat saat wanita blesteran prancis itu menjadi model pengganti di sebuah project iklan milik perusahaan Adrian.
Mereka kenal satu sama lain dan akhirnya sering menghabiskan waktu bersama. Saat berada di Jakarta mereka selalu bersama dan pergi ke club bersama.
“Setelah ini kamu bisa langsung pulang. Aku mau istirahat sebelum kembali ke Bandung.” Kevin melepas tangan Adelle. Ia beranjak dan mengambil handuk putih miliknya.
“Kevin, kita sudah lama tidak bertemu. Apa kamu melupakan yang terjadi di antara kita. Aku masih kangen.” Adelle merengek manja. Berharap Kevin luluh dengan ucapannya.
“Bukankah memang kita tidak mempunyai ikatan yang jelas? Kita melakukannya suka sama suka dan saling membutuhkan. Aku kira kamu tidak punya hak atas diriku.”
Adelle merasa tersinggung. Ia merasa Kevin hanya mempermainkannya. Ia mengambil tas dan sepatunya dan pegi keluar kamar tanpa sepatah kata apa pun. Ia merasa bodoh karena berharap pada lelaki seperti Kevin. Lelaki yang tidak pernah serius pada siapapun. Ia merasa menjadi wanita bodoh yang terlalu berharap pada Kevin. Ia pikir sifat Kevin tidak akan jauh berbeda dengan Adrian. Sahabat Kevin yang Adelle kenal sebagai mantan suami Nikita.
“Wanita sekarang selalu ada banyak trik untuk menjerat. Dia pikir aku akan luluh dengan wanita yang telah berhubungan dengan lelaki manapun. Aku juga masih waras untuk tidak menikahinya. Masih banyak gadis yang masih virgin dan lebih menyenangkan.” Kevin masih tidak habis pikir dengan arah tujuan pembicaraan Adelle barusan. Ia hanya menangkap ada sinyal pengharapan dari wanita tersebut.
Saat hendak masuk ke kamar mandi. Tiba-tiba saja bel berbunyi. Andrew meletakkan handuk dan mengambil kaus putih. Ia berjalan ke arah pintu dan melihat siapa yang datang ke apartemen miliknya.
“Ah, Adrian. Mau apa dia datang ke sini?” Kevin segera membuka pintu karena sahabatnya yang datang.
“Eh, cacing kamu apain si Adelle sampai terlihat kesal saat aku berpapasan dengannya?” Adrian langsung masuk ke dalam tanpa izin dari Kevin.
Kevin hanya menggaruk kepalanya karena bisa dipastikan Adrian akan menasehatinya panjang kali lebar.
“Udah enggak penting bahas wanita baper itu. Salah sendiri terllu memakai hati.”
“Daar playboy cacing!” Adrian memukul lengan Kevin. Ia tidak habis pikir dengan sikap sahabatnya itu yang tidak pernah berubah. Selalu mempermainkan hati perempuan.
Pernikahan mantan kekasihnya seolah tidak membuat Kevin jera dan memperbaiki dirinya lebih baik. Ia masih saja bermain dengan wanita yang menurutnya menarik. Hal yang Selalu Kevin lakukan saat mempunyai waktu luang.
“Udah enggak usah ceramah. Katakan apa maumu datang ke sini?
Adrian terlihat menghela napas. Ia tampak memiliki beban berat yang dipikul. Masalah uang atau pekerjaan bisa dipastikan sama sekali tidak ada masalah karena Kevin telah membereskan semuanya sebelum dia kembali menetap d Bandung.
Ia tetap menjalankan kewajibannya dan menuntaskan semua pekerjaannya agar Adrian tidak bermasalah ke depannya.
“Aku bingung. Aku harus bagaimana?”
“Apanya?”
“Seira udah nikah.”
“Apa? Kamu serius?”
Adrian mengangguk. Lelaki itu tampak lemah dan tidak bersemangat.
“Ha ha ha ternyata kita senasib.” Kevin tertawa.
“Ish, enggak, lah! Beda! Itu karena kamu playboy dan suka mainin perempuan. Makanya Michelle memilih ayahmu.”
“Dasar Michelle-nya aja yang murahannn!”
“Kamu juga, katanya kemarin nemuin wanita yang pas. Kenapa sekarang malah berhubungan dengan Adelle? Dasar sinting kamu! Suka mainin perasaan wanita!”
Kevin tergelak tertawa mendengar ucapan Adrian. IA merasa sIA merasa sejak mengenal Seira, sahabatnya itu terdengar sok bijak dan selalu menasihatinya.
“Hidup itu indah loh, banyak keindahan yang enggak boleh aku lewatin.”
“Dasar!”
“Ya iyalah, buat apa patah hati karena ditinggal kawin. Kamu aja yang patah hati. Aku ogah!”
“Seira itu jelas beda dengan Michelle.”
“Bedanya apa? Sama-sama perempuan. Sama-sama ninggalin kita kawin.” Kevin beranjak dan mengambil minuman di dapur. Ia menuangkan segelas air dingin yang hanya tersedia di kulkas. “Lagian apa yang kamu sesalkan. Berdoa aja dia hamil anak kamu terus cerai dari suaminya karena mengandung anak lelaki lain.”
“Dasar sinting! Otaknya gak pernah disaring! Aku bertemu dengannya barusan dan dia terlihat tidak bahagia. Aku khawatir.”
“Kalau khawatir bantu dia buat lepas dari suaminya.”
“Enggak semudah itu. Dia tetap bersikukuh tidak ingin pergi dari Aldo meski lelaki itu menyiksanya sekali pun.”
“Ah, kalian itu emang rumit. Bodo ah, terserah! Aku mau mandi. Gadisku yang imut menantikanku kepulanganku di Bandung.”
“Kamu mau pulang sekarang? Ayolah bantu aku dulu mencari informasi tentang Aldo dan Seira. Aku ingin tahu di mana ia tinggal.”
Kevin menarik napas. Ia merasa heran Adrian berubah menjadi lelaki yang menggilai wanitanya. Satu hal yang ia dapati saat Nikita meninggalkan sahabatnya itu. Terlebih perasannya dengan Seira lebih parah.
“Enggak ada gadis lain yang masih single yang harus kamu kejar?”
“No! Udah kamu bantu aku dulu. Setelah itu aku pasti akan membantumu.” Adrian terdengar memohon. Baginya hanya Kevin satu-satunya harapannya.
“Kalau aku terlalu lama di sini. Aku bisa kalah start dari si Andrew. Dia juga mengincar wanita incaranku.”
“Andrew? Dia?”
“Iya, enggak aku sangka dia malah menggaet wanita incaranku. Sial! Apes hidupku!”
Adrian berganti tertawa. Ia melihat sahabatnya terlihat kesal karena selalu didahului Andrew soal percintaan. Lelaki itu terlihat lebih lembut dan slow. Tidak seperti Kevin yang selalu terburu-buru dan terkesan lebih mesumm.
“Makanya buruan insyaf! Biar cepat dapat jodoh!”