Penjelasan dari Andrew

1355 Kata
Natalie masih menunggu Andrew di dalam ruangan atasannya itu. Lelaki itu menyuruh Natalie menemuinya di ruangannya, tetapi Andrew belum juga datang. Natalie mulai kesal. Ia berpikir jika Andrew masih sibuk dengan wanita yang ia lihat tengah berbincang dengan atasannya itu. Mereka terlihat bercanda dan Andrew selalu saja mengulum senyum di hadapan wanita tersebut. Seolah Natalie tidak ada artinya saat lewat di hadapan mereka. Jika bisa memilih, rasanya Natalie ingin menarik Andrew dan menjauhkannya dari wanita yang berasal dari departemen keuangan tersebut. Ia terlihat begitu genit dan merayu. Setiap lelaki pasti akan tertarik dengan wajah cantik dan tutur katanya yang begitu menggoda. Andrew tampak masuk dan langsung menutup pintu. Lelaki itu menunjukkan sejuta pesonanya dengan menebar senyum agar membuat Natalie menjadi luluh. Ia paham apa yang sedang terjadi. Gadis itu cemburu dan menunjukkan rasa possesivenya. “Kamu masih marah?” Andrew duduk di samping Natalie. Akan tetapi sang kekasih menggeser duduknya. Andrew tersenyum. Ia menarik tangan Natalie hingga wanitanya mendekat. “Katakan apa maumu? Aku akan menuruti semuanya sekarang.” Andrew berkata lirih. Ucapannya begitu lembut. Jauh berbeda dari sebelumnya. Ucapannya terkesan kasar pada Natalie. Ia tidak ingin berbasa-basi seperti membujuk anak kecil. “Jangan merayuku! Aku tidak butuh rayuanmu.” Natalie masih kesal. “Aku tidak merayumu. Pertanyaanku cukup simple. Kamu masih marah?” “Apa aku terlihat bercanda?” Tanpa basa-basi Natalie menunjukkan rasa kesalnya. Ia tidak ingin Andrew meremehkannya meskipun dirinya adalah bawahannya. Ia harus tetap menunjukkan ketegasan. Andrew langsung menarik tangan Natalie dan mencium punggung tangannya perlahan. Lelaki masih gencar melakukan usaha agar sang kekasih barunya mau memaafkannya. Ia tidak mau banyak berkata dan membuat mereka bertengkar karena hal sepele. “Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku tahu aku salah, itu semua aku lakukan agar mereka tidak curiga.” Andrew kembali mengecup tangan Natalie perlahan. “Jangan marah lagi. Aku enggak mau hari kita menjadi berantakan hanya karena salah paham.” Perkataannya cukup menohok. Natalie seolah menjadi biang kerok dari pertengkaran mereka. “Kenapa kamu enggak kasih kabar?” Natalie meminta penjelasan soal dirinya yang menghilang dan tidak memberi kabar. Lelaki itu berjanji akan menghubunginya, tetapi Andrew tidak menghubunginya dan justru malah susah dihubungi. Hal itulah yang membuat Natalie merasa gila. Ia tidak pernah begitu disepelekan oleh seorang lelaki. Mereka semua tunduk dengan perkataannya. Bahkan Natalie yang selalu memegang kendali. “Ah, waktu itu aku terlalu sibuk hingga lupa membawa ponselku. “Kamu enggak bohong, kan?” Natalie menyelidik. Raut wajahnya mulai mengendur. Ia berharap perkataan Andrew benar. “Bohong? Kamu tidak percaya padaku? Apa untungnya aku berbohong padamu.” “Aku....” “Jangan pernah meragukanku. Sepulang kerja kita keluar. Aku akan mengajakmu makan malam romantis. Setidaknya menghibur hati pacarku yang cantik ini.” “Nah, kan, ngegombal lagi.” Natalie tersipu malu. Suasana hatinya kembali membaik. Semua terasa begitu mudah untuk memaafkan Andrew.. Andrew merasa senang karena tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk meluluhkan hati Natalie. Bawahannya itu dengan mudah melupakan semua yang terjadi. Andrew merasa Natalie begitu mudah ia taklukkan. Gadis itu terlihat begitu terobsesi dan menganggap semuanya serius. Setelah masalah dengan Andrew selesai, Natalie meminta izin keluar ruangan. Ia tidak ingin para staf mencarinya dan menaruh curiga padanya. Mereka pasti menanyakan dokumen yang pagi tadi dititipkan padanya. “Nath, apa kamu tidak melupakan sesuatu?” Andrew menahan pintu ruangannya. Lelaki tersenyum penuh arti. Gadis cantik berpenampilan stylish itu tidak mengerti apa yang dimaksud Andrew. Seingatnya dirinya telah membawa semua dokumen yang telah ditandatangani Andrew. “Jangan terlalu serius. Santai saja, aku hanya sangat merindukanmu.” Andrew berbisik. Ucapannya terasa mengandung makna. “Lantas?” “Kamu rileks.” Andrew memegang kedua bahu gadis di depannya. “pejamkan matamu.” Andrew berujar pelan. Natalie pun mengikuti permintaannya. Lelaki langsung mencium kening Natalie. Ia masih terasa santai dan tidak terlihat begitu agresif. Membuat Natalie tersenyum karena perlakuannya. Sang kekasih terasa sangat manis memperlakukannya. “Bukalah matamu.” Andrew melepas ciuman di kening dan kembali tersenyum. Wajahnya yang terlihat tampan dan karismatik membuat Natalie benar-benar semakin jatuh cinta. Ia merasa lelaki di depannya memang serius dengan perasaannya. “Kamu enggak marah, kan?” Natalie menggeleng pelan. Jelas dia tidak marah. Ia malah senang dengan perlakuan Andrew barusan. Lelaki itu mampu meluluhkan hatinya yang sempat koyak karena kata-kata kasar Andrew. “Oh, ya, sepertinya pertemuan kita dengan Kevin bisa kita tunda dulu. Kamu bisa mengganti dengan jadwal lain yang lebih mendesak.” “Kenapa?” Mendengar nama Kevin Natalie menjadi penasaran. Lelaki itu yang selalu membuatnya mati gaya dan kesal saat mereka bertemu. “Apa itu penting?” Andrew terdengar tidak suka. “Ah, tidak. Aku hanya ingin memastikan untuk menjadwal ulang lagi di waktu yang tepat.” Natalie beralasan. Ia mendengar nada cemburu dari ucapan Andrew . Ia tidak ingin mengubah suasana yang telah membaik. "Baiklah, aku terima alasanmu. Kevin masih ada kepentingan di Jakarta. Di masih menyelesaikan pekerjaannya di sana. Sekitar dua hari lagi dia akan kembali ke Bandung. Apa kamu senang mendengarnya?” Andrew menunjukkan rasa tidak sukanya. Natalie hanya tersenyum. Mendengar ucapan Andrew cukup membuatnya paham apa yang harus ia lakukan saat bertemu Kevin. Ia tidak ingin membuat atasannya itu cemburu dan salah paham. Ada rasa suka sekaligus aneh saat melihat Andrew. Suka karena melihat Andrew cemburu. Serta aneh karena Andrew tampak tidak suka dengan Kevin. Padahal mereka berteman akrab. Namun, Natalie menepis semuanya. Toh, Kevin bukanlah seseorang yang penting baginya. Ia tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi. Yang terpenting Andrew menyayanginya layaknya sepasang kekasih. Itu lebih dari cukup. Ditambah ketampanan dan kedudukannya merupakan hal wajib. *** Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya. Natalie berpikir pergi ke pantry untuk membuat dua cangkir kopi. Sau untuknya dan satu lagi untuk kekasihnya tersayang. Dua jam bergelut dengan dokumen membuat matanya lelah. Apa lagi jam makan siang telah lewat. Ia terlalu asik hingga melupakan jam makan siang. Sementara Andrew memang berpesan pada Natalie agar tidak menggagunya selama dua jam. Ia beralasan sedang mengerjakan file penting yang harus ia teliti. “Sudah dua jam lebih sepuluh menit. Aku pikir tidak masalah jika aku mengganggunya. Toh, tidak akan ada yang curiga jika aku membuatkannya kopi.” Natalie berbicara pada dirinya sendiri. Ia merapikan semu dokumen dan memasukkannya ke dalam arsip file. Ia menaruh pada tempatnya dan menutup laptopnya. Ia pikir ingin memberi kejutan pada Andrew dengan mengantar kopi ke ruangannya. Wanita itu beranjak dan segera berjalan menuju pantry. Suasana hatinya tengah senang. Semua lagu cinta terasa indah baginya. Ia tidak pernah jatuh cinta begitu dalam. Namun, entah bagaimana ia bisa begitu menggilai Andrew. Sampai di pantry ia melihat satf bagian keuangan yang mengobrol dengan Andrew tengah duduk di pantry. Wanita itu tengah mengobrol dengan Nadia. Sekilas Natalie mendengar wanita yang biasa dipanggil kristi itu menyebut nama Andrew. Natalie merasa penasaran apa yang tengah mereka bahas. Ia mendengar Kristi tertawa dan menyebut nama Andrew berulang kali. Ah, rasanya Natalie merasa salah waktu dan tempat. Tidak seharusnya dia ke pantry jika harus kembali panas hatinya. “Mbak Natalie mau buat kopi untuk Pak Andrew?” tanya Nadia yang melihat Natalie mencari kopi di lemari. Office girl itu paham jika Natalie tengah mendengarkan pembicaraannya dengan Kirsti. Ia menghentikan obrolan mereka dan menyapa Natalie. “Kalau mau buat kopi untuk Andrew. Jangan terlalu manis. Dia itu tidak suka manis, tapi juga tidak suka pahit.” Kristi ikut menimpali. Wanita itu terdengar begitu mengenal Andrew. “Oh, begitu, ya?” “Iya, Mbak. Pak Andrew itu paling suka kopi buatan Mbak Kristi. Padahal selama ini beliau tidak pernah meminum kopi dari siapapun kecuali buatan Mbak Kristi.” Nadia ikut menambahkan. Ia bertujuan agar Natalie bisa menentukan kadar gula dan kopi yang pas. “Baiklah. Aku paham.” Melihat Natalie yang mulai mengambil kopi dan gula. Kristi langsung beranjak dan langsung merebut sendok Natalie. Wanita itu langsung mengambil gula dan kopi sesuai takarannya. Tiak lupa ia menambahkan krimer sebagai pelengkapnya agar Andrew menyukainya. Kristi memang dikenal wanita yang paling dekat dengan Andrew di kantor. Hal itu baru saja Natalie ketahui dari Nadia saat Kristi menyeduh kopi untuk Andrew. Kesal? Jelas! Natalie merasa kesal dan berusaha menahannya. Wanita itu berlaku seolah dirinyalah kekasih Andrew. Padahal kenyataannya tidak. Natalie lh yang berstatus sebagai pacarnya. “Jangan lupa salam sayang dari Kristi untuk Andrew sayang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN