Tuduhan Tak Berdasar

1031 Kata
Telingaku berdenging ketika mendengar teguran keras seseorang. Aku menoleh ke arah suara dan melihat Rafa sedang menatap ke arahku dengan tajam, seolah-olah aku sedang melakukan kejahatan besar. Dadaku semakin terasa sesak ketika melihat Laila berdiri di samping lelaki itu. Saat tatapan kami beradu, dia semakin mengeratkan pegangannya di lengan Rafa, seakan-akan mengatakan kalau dia sudah memiliki lelaki itu sepenuhnya. "Ternyata kerudung yang kamu gunakan hanya topeng. Saat suami tidak di rumah kamu malah kelayapan bersama lelaki lain." Lagi, Rafa mencercaku dengan lidahnya yang tajam. Aku melirik Bastian yang diam memperhatikan Rafa. Raut lelaki itu kembali terlihat datar. Mukaku memerah mendengar tudingan tidak berdasar lelaki tersebut, sampai hati dia menuduhku sekeji itu. "Mas, jangan marah, mungkin kita salah paham. Tidak mungkin, kan, putri ustad terkenal perilakunya sama dengan wanita murahan." Kali ini Laila yang bicara sembari mengulas senyum licik. Di mataku wanita tersebut terlihat seperti rubah berbulu domba. Eh, tidak domba masih ada gunanya, terlalu bagus untuknya, rubah kutuan saja! "Kamu salah paham. Sebaiknya cek ponselmu. Aku sudah mengirimkan pesan padamu, tetapi sepertinya kau sangat sibuk sehingga tak punya waktu membacanya." Aku menjawab dengan tenang. Aku tidak akan diam dipermalukan di depan orang lain. Salah besar kalau Laila berpikir aku membiarkan Rafa menginjak harga diriku. "Alasan! Jelas-jelas aku melihatmu bersama lelaki ini. Lihat saja, akan kuadukan pada Ayah. Aku ingin tahu apa reaksinya mengetahui putrinya yang sholeha berselingkuh." Aku geleng-geleng kepala mendengar kata-kata Rafa. Apakah di hati lelaki itu tidak ada secuil pun cinta untukku? Mengapa begitu cepat dia berubah? Atau menang seperti itu sifat aslinya. "Maaf, Anda siapa?" Bastian menyela. "Aku suami Najwa. Kenapa? Apa kau ingin membela diri? Jelas-jelas aku melihat kalian." Bastian tertawa kecil mendengar jawaban Rafa. Dia bersidekap dan menantang balik lelaki itu membuatku ketar-ketir, jangan sampai terjadi keributan yang pasti memancing perhatian orang banyak. "Melihat apa? Apa Anda melihat kamu bermesraan? Pegangan tangan atau hal lain yang int1m?" Rafa tersenyum mengejek. Dia menatapku dengan sorot meremehkan. "Benar-benar tidak tahu malu, sudah ketahuan masih juga menyangkal." Aku menghela napas dalam. Andai dia bukan suamiku, sudah dari tadi kutam-par mulutnya yang terus mengeluarkan ra-cun berbisa. "Mas, kau lihat di mana kami? Apa kau pikir selingkuh bisa di tempat seramai ini? Lagipula aku tidak berduaan dengan Bastian. Jangan menuduh kebiasaanmu padaku." Wajah Rafa memerah mendengar jawabanku. Baguslah kalau dia peka kalau aku menyindirnya. "Itu benar." Bastian menimpali. Dia menatap Laila dan Rafa bergantian. "Kalau aku dan Najwa selingkuh tak mungkin kami bertemu di tempat ramai seperti ini. Entah Anda yang bodoh atau apa, masak tidak bisa membaca bahasa tubuh orang lain?" Rafa terlihat geram mendengar balasan telak dari Bastian. Sebenarnya aku kasihan melihatnya balik dipermalukan, tetapi dia pantas mendapatkannya. Belum hilang sakit hatiku karena dustanya, kini enak saja menuduhku yang tidak-tidak. "Maaf, lama, ya, toiletnya antri. Aku ...." Riana yang datang tergopoh-gopoh tak jadi melanjutkan kata-katanya. Dia menatap kami semua bergantian. Baguslah gadis itu datang, kini aku punya bukti untuk mementalkan tuduhan Rafa. "Ini Riana, silakan tanya sendiri padanya kami sedang apa di sini. Kamu tidak mungkin tidak percaya sama dia, kan?" Aku menantang mata Rafa. Tentu dia akan percaya Riana, sebab gadis itu masih saudara jauhnya. Aku kembali menatap Bastian. "Pak, aku minta maaf atas salah paham ini. Besok kita lanjutkan, aku pulang dulu." Bastian mengangguk. "Aku antar," ucapnya menahan langkahku. Belum sempat aku menjawab, Rafa lebih dulu memegang lenganku. "Tidak perlu, aku suaminya. Ayo!" "Mas!" Laila berseru ketika Rafa menarik lenganku mengikutinya. "Aku gimana?" "Aku antar pulang sekalian." Rafa melirik Riana, "Mas tunggu penjelasanmu di telepon nanti." Aku masih sempat melihat Riana mengangguk sebelum Rafa memaksaku mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa. Tidak hanya aku, Laila juga kesulitan mengekori kami dengan perut besarnya. Melihat itu dadaku mengilu. Aku tidak sempat bertanya sudah beberapa lama keduanya menikah, melihat perut Laila aku kira kandungannya sekitar enam atau tujuh bulan. "Kok, dia duduk di depan?" Laila memprotes ketika Rafa membuka pintu mobil untukku. "Aku akan mengantarmu dulu, masuklah!" Rafa menjawab dengan tegas membuat Laila memanyunkan bibirnya. "Tidak mau, kenapa Mas harus ngantar dia, sih? Suruh saja naik taksi!" "Najwa istriku, Laila! Sekarang masuk atau kamu aku tinggal." Aku tersenyum dalam hati mendengar perdebatan kedua orang itu. Sejenak ada hangat hadir di dadaku mendengar Rafa menyebutku, istri. Baguslah dia masih ingat siapa aku, setidaknya menyadarkan Laila kalau aku punya hak yang sama dengannya. Aku mengikuti Rafa masuk ke dalam mobil, sementara Laila masih merajuk. Mungkin dia berharap Rafa akan membujuknya, tetapi sepertinya lelaki itu tidak berminat berbasa-basi. Dia menyalakan mesin mobil membuat Laila terpaksa masuk lalu mengempaskan pintu mobil dengan keras. "Kamu sudah makan?" Aku refleks menoleh dengan cepat ketika mendengar Rafa bertanya, tumben dia memperhatikan apakah aku sudah makan atau belum? "Terserah dia, Mas sudah makan atau belum." Tanpa diminta justru si ular kadut yang menjawab pertanyaan Rafa, membuat aku tersenyum tipis. Baru menanyakan keadaanku saja sudah membuatnya kepanasan, apalagi kalau aku mengarahkan seluruh kemampuanku untuk merebut perhatian Rafa, mungkin dia kalang-kabut. "Sudah, tadi makan di rumah singgah," jawabku pelan. Aku melirik Rafa sekilas, rautnya tak sekeras tadi. Apakah dia menyesal sudah menuduhku yang tidak-tidak? "Aku minta maaf, aku lupa narok hp di mana. Jadi, tidak tahu kamu ngirim pesan." Aku hanya menggangguk. Rasanya malas menjawab, sebab aku bisa merasakan tatapan Laila tajam ke arahku. Hening, Rafa tidak lagi bersuara, hanya suara klakson dari kendaraan lain yang menyela. Aku menatap keluar kaca mobil, gerimis mulai turun perlahan, sebentar saja menjadi hujan deras. Memang memasuki bulan Desember udara tak bisa diprediksi. Dulu, aku dan Rafa sering menghabiskan waktu di akhir pekan mengelilingi kota dengan mobil di waktu malam untuk mencari camilan. Favorit kami adalah jagung dan pisang bakar. Membeli beberapa buah lalu menikmati berdua, begitu saja sudah membuat kami tertawa. Aku tersenyum getir sembari mengusap air mata yang menetes begitu saja di pipi. Sakit sekali menyadari kalau kenangan itu tak berarti lagi, ke mana lelaki itu campakkan kenangan kami? Dulu anak tak pernah jadi alasan, kenapa setelah enam tahun baru dia mengungkit? "Mas, nanti kamu tidur di rumah lagi, kan? Aku takut tidur sendirian." Terdengar suara Laila merajuk dengan nada manja membuatku muak. "Mas!" Laila memanggil Rafa lebih keras, karena lelaki itu tidak bereaksi. Aku menoleh ke arah Rafa dan melihat lelaki itu seperti menahan kesal. Apa dia marah pada Laila? Tidak mungkin, kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN