Cukup lama aku berdiam diri. Baik Rafa maupun Laila tidak berminat berbincang sepatah kata pun. Baguslah, sebab setiap mendengar wanita itu bicara dadaku terasa terbakar, seolah-olah api unggun sedang menyala di dalam sana. Aku melirik Rafa sekilas ketika mobil berhenti di depan bangunan bercat putih. Lelaki itu turun tanpa bicara lalu berlari-lari kecil masuk ke pekarangan rumah.
"Bagus, kan, rumah kami? Mas Rafa membelikannya satu tahun yang lalu."
Aku memejamkan kelopak mata mendengar Laila bicara, kata-kata wanita itu berhasil menggores hatiku. Aku bisa mengira-ngira Rafa setahun ini menduakanku atau mungkin bisa lebih lama dari itu.
"Kau pikir aku peduli?" Lidahku tak tahan menjawab provokasi Laila.
"Tentu kau harus peduli, setelah mendengar aku hamil Mas Rafa langsung membeli rumah yang lebih besar. Dan kau tahu setiap hari dia selalu bertanya apa yang aku butuhkan."
Kedua telapak tanganku terkepal mendengar balasan Laila. Aku tahu dia sengaja memancing emosiku. Entah apa yang ada di pikirannya? Tidakkah dia memiliki empati sedikit saja? Jelas-jelas akulah korban di sini. Tak ada sedikit pun terlihat rasa bersalah di wajahnya telah mencuri kebahagiaanku.
Aku berbalik untuk menantang matanya. Aku tak ingin dia terus menerus memprovokasiku. "Katakan apa maumu sebenarnya?" Aku bertanya tanpa basa-basi.
"Mauku sudah jelas. Lepaskan Mas Rafa, biarkan kami hidup bahagia."
"Apa?" Aku tertawa mendengar permintaan Laila. Apa dia sadar dengan permintaannya? Ternyata apa yang dikatakan orang-orang benar adanya. Jadi pelakor tak harus pintar, cukup tidak tahu malu dan bermuka tembok. "Sebaiknya kau tanyakan ke Mas Rafa apa dia mau menceraikan aku atau tidak. Jangan terlalu percaya diri hanya karena kau hamil anaknya. Mungkin saja kau cuma dijadikan pabrik anak saja, sementara cintanya masih padaku."
Aku puas melihat raut Laila merah padam mendengar kata-kataku. Jahat memang, tetapi wanita itu pantas mendapatkannya. Mungkin Rafa tidak mengira kalau istri mudanya memiliki lidah yang sangat tajam, ternyata wajah cantik tidak menjamin seseorang itu memiliki hati yang baik. Aku tahu Laila pasti ingin membalasku,
"Kau lihat itu, Mas Rafa sangat perhatian padaku. Dia tidak rela aku terkena hujan."
Apa yang dikatakan Laila benar. Aku melihat Rafa berlari-lari kecil menghampiri mobil sambil membawa payung membuat dadaku nyeri. Mungkin apa yang dikatakan wanita itu benar, Rafa lebih condong padanya.
"Tunggu sebentar, aku antar Laila masuk."
Rafa berpesan padaku sebelum menutup pintu mobil kembali. Aku tak menjawab, sebab hatiku sibuk menambal luka demi luka yang dihadirkan Rafa. Panas meradiasi mata melihat Rafa terlihat sangat perhatian, dia sepertinya takut Laila terjatuh sehingga membiarkan wanita itu memegang pinggangnya.
Menit demi menit berlalu dan aku seperti orang bodoh menunggu di dalam mobil. Entah apa yang keduanya lakukan dalam rumah sehingga harus membuatku menunggu begitu lama. Aku tersenyum kecut mengingat hati Rafa benar-benar telah mati untukku. Buktinya, tidak sedikit pun dia memikirkan perasaanku yang menunggu di dalam mobil. Mungkin saja keduanya sedang memadu kasih di sana sementara aku terkurung di sini membohongi diri sendiri dengan mengatakan aku baik-baik saja.
Aku menghapus air mata saat melihat Rafa berlari-lari kecil keluar dari pekarangan rumah. Aku juga melihat Laila berdiri di depan pintu mengawasi lelaki itu.
"Maaf, ada sesuatu yang aku urus."
Tanpa diminta lelaki itu menjelaskan seperti aku peduli saja. Aku diam tak merspon ucapan Rafa, terserah apa yang dia lakukan dengan Laila. Mulai sekarang aku akan belajar mematikan hati untuknya agar tidak lagi merasakan sakit setiap kali dia bersama Laila
*
"Ya, sudah, terima kasih."
Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika mendengar Rafa bicara dengan seseorang. Aku memilih tidak peduli dan melanjutkan mengeringkan rambut dengan handuk. Dari sudut mata aku melihat lelaki itu menatapku.
"Najwa ...." Rafa mendekat. Dia berdiri di belakangku.
Aku menatap pantulan Rafa dari kaca meja rias. Aku masih diam menunggu apa yang hendak dia katakan.
"Tadi Riana, dia sudah menjelaskan semua padaku."
Aku mengembuskan napas kasar. Baguslah Rafa sudah tahu kebenarannya.
Tubuhku menegang ketika Rafa merunduk lalu memelukku dari belakang. "Aku minta maaf sudah menuduhmu yang tidak-tidak." Suaranya lirih terdengar di telingaku.
Aku diam, tidak berminat membalas perkataannya. Tudingannya tadi kembali terngiang di benak membuat mataku memanas.
"Jangan marah, aku sudah minta maaf. Hatiku panas melihat kau bersama lelaki lain. Harusnya aku tidak mendengar ucapan Laila tadi."
Aku mendengkus keras, melepaskan tangan Rafa dari tubuhku lalu bangkit menghadapnya. "Lalu bagaimana dengan aku? Kau pikir hatiku batu hingga tak bisa merasakan apa pun? Baru melihat aku bersisian dengan lelaki lain hatimu panas. Bagaimana dengan aku yang mengetahui kau berbagi hati dan tubuh dengan wanita lain?"
"Aku sudah minta maaf, apa itu kurang?"
Aku tertawa sumbang mendengar jawaban Rafa. "Apa dengan minta maaf semua selesai? Apa dengan minta maaf kau bisa mengembalikan hatiku seperti dulu? Kalau dengan meminta maaf semua perkara selesai, maka tak perlu ada penjara untuk seorang pencu-ri."
Rafa mengusap wajahnya kasar. "Ada denganmu, Najwa? Kenapa kau jadi sekeras ini?" Sepertinya dia frustrasi dengan sikapku yang kini selalu menentangnya. Jangan salahkan aku, kaulah yang membuat aku seperti ini, kaulah yang membangkitkan sisi kerasku.
"Tanyakan pada dirimu sendiri, Mas. Kenapa aku jadi seperti ini."
"Aku mencintaimu, tapi aku juga tak bisa meninggalkan Laila, tolong pahami aku."
Aku mengeleng pelan mendengar permohonan Rafa. Dia pikir semudah itu memaafkan dustanya?
"Sekarang kau minta dipahami, lalu siapa yang memahami hatiku? Siapa yang mengerti rasa sakit di sini?" Aku menunjuk dadaku dengan keras agar dia tahu seberapa keras usahaku meredam nyeri. Genangan yang sejak tadi berlinang di kelopak mata rebas seketika bak banjir bandang. Berhari-hari menahan hati, memilih diam menerima perlakuan Rafa, kini dengan enteng dia meminta agar aku memaafkannya.
Aku menepis tangan Rafa yang mencoba memegang tanganku. Ngilu di d**a membuatku tak sudi disentuh lelaki itu walaupun dia masih suamiku.
"Biarkan aku berpikir hendak dibawa ke mana rumah tangga kita. Aku tak sesabar wanita-wanita mulia yang sering kamu ceritakan. Meskipun Ayah tak kurang-kurang menjejali ilmu agama, tapi untuk ikhlas aku belum mampu."
Kelopak mata Rafa melebar mendengar perkataanku. Tak ada gentar di nada suaraku. Lebih baik berpisah daripada bersama, tetapi membuatku mati perlahan.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Aku tahu salah tak jujur padamu. Aku akui sikapku akhir-akhir ini tak adil padamu, tapi percayalah cintaku tak sedikit pun berubah. Kau tetap yang utama."
"Tetap yang utama?" Aku tersenyum mengejek. "Bersamaku kau mengatakan ini, tapi saat bersama Laila kau mengatakan yang sebaliknya. Kaulah manusia munafik, bukan aku!"
Bagaimana rasanya tudingan tadi aku kembalikan padamu, Mas? Sakit? Belum seberapa dengan luka yang kau berikan.