Takdirkah?

1057 Kata
Aku terbangun ketika merasakan sesuatu menghimpit perutku. Aku menoleh ke sebelah ketika dengkur halus terdengar di telinga. Sejenak tertegun melihat wajah Rafa dekat sekali denganku. Bahkan, napasnya hangat menerpa mukaku. Aku bisa melihat dengan jelas raut lelaki itu. Rafa memiliki fitur wajah yang nyaris sempurna. Dahinya tidak terlalu lebar, tulang hidung tinggi, dan bentuk rahang tegas semakin membuatnya terlihat tampan. Tak salah rasanya banyak wanita yang terpesona saat menatapnya. Apalagi sifat ringan tangan dan ramah, tentu menjadi nilai tambah untuknya. Aku menyingkirkan tangan Rafa yang melingkar di pinggang, entah kapan lelaki itu naik ke tempat tidur. Kupikir dia akan tidur di ruang tengah atau kamar tamu. Bahkan aku sempat mengira dia akan kembali ke rumah Laila. Perlahan dadaku menghangat menyadari Rafa merendahkan egonya dan tidur sambil memelukku. Aku menatap wajah lelaki itu lamat-lamat. Maafkan aku, Mas, sikapku sekarang karena cintaku yang terlalu besar padamu. Benar perkataan orang bijak, semakin dalam cinta maka akan semakin sulit seseorang memaafkan bila terluka. Tuhan, ampuni aku .... Inikah cara-Mu menegurku? Cinta yang terlalu besar pada Rafa membuatku akhir-akhir ini lalai. Harusnya tak boleh menanam harapan berlebihan kepada manusia, sebab yang akan didapat hanyalah kecewa. Aku turun dari tempat tidur perlahan. Sejak dusta Rafa terkuak, baru malam ini hatiku tergerak salat malam. Dengan langkah pelan aku berjalan ke kamar mandi hendak berwuduk. Tangisku pecah setelah salam. Gemetar bibirku berucap lirih, Tuhan, aku kembali padamu dengan setumpuk luka dan kecewa yang menyesakkan d**a. Tolong aku .... * Dering weker membangunkanku. Setelah puas mengadu kepada-Nya semalaman aku tertidur. Meski keadaan tidak akan berubah setidaknya lega mulai hadir menyapa d**a. Aku menoleh ke samping dan mengembuskan napas pelan ketika tidak melihat sosok Rafa di sana. Lelaki itu pergi tanpa pamit. Pasti dia mendatangi rumah Laila, sebab setelah perdebatan semalam aku mendengar ponselnya terus berdering. Aku tidak habis pikir apa yang dinginkan wanita itu? Tidak puaskah dia menyakiti hatiku, sekarang ingin menguasai lelaki itu sepenuhnya. Dering ponsel membuyarkan lamunanku. Nama Riana tampil di layar ponsel, pasti gadis itu akan mengingatkan rencana kami hari ini. Aku menyibak selimut setelah menekan ikon hijau untuk menjawab panggilan Riana. "Ya, Rin, gimana?" Aku bertanya setelah mengucap salam. "Kamu tidak lupa, kan, janji kita hari ini?" Terdengar suara Riana ditingkahi alunan kicau burung. Aku yakin gadis itu sedang berada di halaman belakang rumahnya. Papa Riana penggemar burung-burung bersuara merdu, seperti burung Jalak, Kucer, dan Murai batu. "Aku ingat, ini mau mandi. Jam sepuluh kita ketemu di tempat kemarin." "Oke." Riana diam sejenak. "Em, Najwa, kemarin Mas Rafa telepon, aku sudah jelaskan semua. Apa dia masih marah padamu?" "Makasih, ya. Kami baik-baik saja." Aku tersenyum sumir. Mana mungkin akan baik-baik saja setelah Rafa melontarkan kata-kata menyakitkan di depan umum. "Ya, sudah kalau begitu. Em, satu lagi, kamu sudah ketemu sama Laila?" Dahiku berkerut, Riana tahu Laila dari mana? Belum sempat bertanya Riana bicara lagi. "Papa manggil, udah dulu, ya. Sampai jumpa di sana." Lalu Riana memutuskan panggilan telepon begitu saja, sementara aku terdiam menatap layar ponsel yang sudah menghitam. Satu pertanyaan belum terjawab di benakku, apakah Rafa sudah menceritakan siapa Laila kepada Riana sebelum padaku? Aku mencoba menepis prasangka buruk yang mencoba menerobos kepalaku. Tidak, Riana tak mungkin tega bersekongkol untuk menyakitiku. Aku meletakkan ponsel di atas meja, sepertinya mengguyur kepala dengan air dingin bisa menyegarkan tubuh dan pikiranku. * Dahiku berkerut ketika mencium aroma masakan dari dapur. Aku berjalan ke ruang makan melewati ruang tengah. Lagi-lagi kejutan membuatku terpana, di atas meja sudah terhidang sarapan dan minuman. Yang membuatku tak bisa berkata-kata, Rafa keluar dari dapur sembari menenteng piring berisi ayam goreng. "Sudah bangun?" Rafa meletakkan piring tadi ke atas meja lalu menghampiriku. "Sudah lama aku tidak memasak untukmu. Ayo sarapan, aku sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu." Aku seperti terhipnotis menurut saat Rafa menarik tanganku lalu memintaku duduk di sampingnya. Rasanya seperti mimpi lelaki itu melayaniku seperti di awal-awal pernikahan. Sebelum Rafa mendua, dia memang bersikap sangat manis, seperti membuatkan sarapan atau sekadar menyeduh teh hangat saat jadwal menstruasiku datang. Bahkan kami selalu memasak berdua sambil bercanda. Mataku memanas mengingat masa lalu, begitu banyak hal-hal manis yang telah kami lalui. Rafa laki-laki yang baik dan suami bertanggung jawab, tetapi satu kekhilafannya menghancurkan hatiku. "Malah melamun. Ayo, sarapan. Riana bilang kalian ada proyek untuk anak-anak jalanan." Aku menatap Rafa. Jadi dia sudah tahu agendaku hari ini? Ternyata butuh Riana untuk menjelaskan kesalahpahaman kemarin. "Aku tidak lapar," jawabku singkat. Entah mengapa mengetahui Rafa lebih percaya perjelasan orang lain membuat selera makanku menghilang. "Sayang, aku minta maaf. Aku sadar sudah menyakiti hatimu, maafkan aku. Aku janji tidak akan berubah sedikit pun. Saat aku bersamamu tidak akan ada Laila, tapi aku juga mohon padamu untuk menerima apa yang sudah terjadi." Aku menunduk mendengar permintaan Rafa. Suara lelaki itu begitu lembut, wajahnya pun tampak lelah. Aku juga lelah sebenarnya, letih dengan perdebatan yang tak ada habisnya. Apakah aku harus menerima pernikahan kedua Rafa? Apakah memang ini takdir yang dipilihkan Tuhan untukku? Rafa menggenggam tanganku erat. "Aku janji akan adil. Kalau nanti kau merasa aku tak memberikan hakmu dengan baik, aku pasrah apa pun yang kau inginkan, tapi untuk saat ini ayo kita coba." Aku berkedip membuat air mataku lolos seketika. Perih sekali membayangkan harus berbagi cinta, tubuh, dan waktu. Apakah aku mampu terus berada di bahtera yang sedang terombang-ambing? Mendengar janji Rafa tak ada salahnya mencoba. Mungkin dengan cara ini Tuhan akan mengangkat derajatku. * Selesai sarapan, Rafa menawarkan diri mengantarku ke tempat kemarin. Sepertinya dia ingin membuktikan ucapan. Dia juga mengabaikan panggilan telepon dari Laila, sesuai janjinya, tidak ada wanita itu selagi kami berdua. "Astaga, aku lupa sesuatu. Sebentar, ya." Rafa baru saja menutup pintu mobil kembali keluar setengah berlari masuk ke dalam rumah. Aku mengangguk dan memperhatikan punggung Rafa. Tubuh lelaki itu proporsional, dengan bahu lebar dan punggung tegap membuatnya terlihat gagah. Sosok Rafa menghilang di balik pintu, aku mengalihkan perhatian ke laci dashboard mobil yang tidak tertutup rapat. Aku bermaksud menutup laci itu, tetapi melihat kertas-kertas berantakan tanganku gatal ingin membersihkan. Karcis tol, bon belanja, stuk ATM aku kumpulkan dan memasukkan ke dalam tong sampah kecil di dekat kakiku. Ketika hendak menutup mataku tertumbuk ke amplop surat berlogo rumah sakit. Didorong rasa penasaran aku mengeluarkan kertas di dalam amlop. Di sana tertera surat itu tahun dikeluarkan satu setengah tahun yang lalu. Dahiku berkerut membaca isinya adalah hasil pemeriksaan laboratorium. Tanganku gemetar, dadaku ngilu membaca nama siapa yang tertera di saja. Inikah alasan Rafa menduakanku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN