Rahasia Menyakitkan

1086 Kata
Tanganku gemetar menyimpan hasil pemeriksaaan laboratorium ke dalam tas. Seketika aku merasa kosong, benak pun tak mampu berpikir dengan baik. Hasil pemeriksaan yang tertulis di kertas tadi rahasia besar yang melemahkan seluruh sendi-sendi tubuhku. Ingatanku terlempar ke masa lalu, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Kala itu Rafa membawaku berobat, bahkan setiap satu bulan sekali pasti ada obat dari dokter yang diresepkan untukku. Aku sama sekali tak curiga setiap Rafa memberiku obat terus-menerus setiap hari selama enam bulan. Saking muaknya aku diam-diam membuang obat yang dia berikan. Aku berkedip untuk menghalau linangan yang berkumpul di kelopak mata. Semua kata-kata kasar yang aku ujarkan selama beberapa hari ini kembali padaku laksana anak panah. Menyasar jantung menciptakan geletar nyeri yang bertubi-tubi. Selama ini aku merasa paling menderita, ternyata lelaki itu menyimpan dukanya sendiri. "Hampir lupa. Kalau tender ini lolos aku akan membawamu jalan-jalan ke Korea." Rafa meletakkan tas jinjing hitam di atas dashboard. Senyumnya mengembang lebar seolah-olah tak ada beban di hatinya. Dia menoleh padaku setelah menutup pintu mobil. "Kau baik-baik saja?" Sorot matanya terlihat cemas menatapku. Ingin rasanya menangis dan menanyakan mengapa dia menyimpan rahasia sebesar itu sendirian? "Iya, aku baik-baik saja." Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulutku. Ah, betapa pengecutnya diri ini. Ya, aku belum siap mendengar pengakuan Rafa. Lebih tepatnya aku belum siap kekuranganku dikuliti nanti. "Tapi wajahmu pucat sekali." Rafa memegang pipiku dengan lembut. Sejenak aku memejamkan mata untuk menikmati sentuhan lelaki itu. "Tidak apa-apa, mungkin kurang tidur beberapa hari ini." "Kita ke dokter, ya?" Begitulah Rafa, setiap melihat ada yang tidak beres padaku dia sigap membawaku ke dokter. Saat itu aku menjadi wanita paling bahagia, sebab diperhatikan bak ratu. Tanpa aku sadari semua perhatian itu karena dia tahu ada yang tidak beres dengan kesehatanku. Aku menggeleng pelan dan tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa. Sekarang bisa antar aku ke tempat kemarin?" "Tapi ...." "Mas." Aku menyela perkataannya. Ingin mengatakan tak usah lagi mencemaskanku. Satu setengah tahun ini aku memang seorang penyakitan, tetapi aku masih bertahan sampai sekarang. "Obatku masih ada. Nanti aku minum lagi setelah makan siang." Setelah diam sejenak, Rafa mengangguk. Dia menghidupkan mesin mobil lalu membawa kendaraan itu membelah jalan raya yang tidak terlalu ramai. "Kalau ada apa-apa, hubungi aku segera." Rafa masih sempat mengingatkan sebelum aku turun dari mobil. Tanganku urung membuka pintu mobil. Aku menatapnya dengan hati berkecamuk. Haruskah aku bertanya padanya sekarang? "Kenapa?" Rafa mengerutkan dahinya, mungkin dia heran dengan sikapku yang tidak seangkuh kemarin. Aku menggeleng pelan, menelan ludah agar lidah tak ikut kelu. "Mas, apa kamu bahagia menikah dengan Laila?" Hening, rasanya waktu berhenti berputar. Apalagi Rafa tak juga bersuara. "Mas, kamu pasti bahagia, kan? Apalagi sebentar lagi anak kalian akan lahir. Anak yang selama ini kamu nantikan." Aku tersenyum menahan agar suaraku tak bergetar saat bertanya, berusaha menutupi nyeri yang melilit d**a. "Najwa, kau tak akan percaya kalau kukatakan aku mencintaimu. Rasaku tak pernah berubah sedikit pun, hanya saja ...." "Aku tahu, Mas. Sejak tadi aku berpikir, betapa egoisnya aku kalau memintamu memilih antara aku dan Laila, sementara wanita itu sedang mengandung anakmu. Buah hati yang tak bisa aku beri." "Apa maksudmu? Kau hanya kurang sehat. Kau--" "Berhenti membohongiku, Mas!' Nada suaraku meninggi, air mata yang sejak tadi kutahan menetes deras di pipi. "Sampai kapan kau menyimpan rahasia itu? Sampai kapan kau bersikap seolah-olah aku baik-baik saja?" Aku menatap Rafa dengan sorot putus asa. Jangan ditanya seperti apa bentuk hatiku, remuk, patah di seluruh sisi. Aku mengeluarkan surat yang kutemukan di dashboard mobil lalu memberikan padanya. Kelopak mata Rafa melebar, mungkin dia tak mengira aku sudah mengetahui semuanya. "Najwa ...." "Aku mandul, kan? Bukan fisikku yang lemah, tapi rahimku yang bermasalah. Kenapa kau tidak terus terang padaku? Kenapa kau tidak mengatakan aku tak akan pernah bisa memberimu anak?" Tangisku semakin kencang, nafasku menderu menahan gelombang ngilu yang menyeretku ke dalam lautan lara. Rafa menunduk, tangannya meremas kertas itu. "Apa pun kondisimu aku tetap mencintaimu, Najwa." Serak suara Rafa bicara, aku bisa melihat matanya berembun. Untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis. "Aku salah, awalnya tak masalah dengan kondisimu, tapi Bunda tak sepakat. Dia menginginkan cucu dan memintaku menikah lagi. Maafkan, aku kalah dengan keinginanku sendiri. Aku kalah dengan bujukan Bunda." "Karena itu kau menikah lagi tanpa bicara padaku? Andai sejak awal kau menceritakan kelemahanku, mungkin aku bisa menerima alasanmu, tidak harus merasa tersakiti merasa dikhianati." Rafa menggenggam tanganku, mata lelaki itu menatapku sendu. "Apa pun keadaanmu aku tetap mencintaimu. Maafkan sikapku yang tak jujur padamu." Aku mengusap air mata yang terus saja berjatuhan, seolah-olah tak menemukan alasan untuk berhenti. "Aku yang salah, maafkan ketidaksempurnaanku." Rafa menggeleng cepat, dia merengkuh bahuku membawa tubuhku masuk ke dalam pelukannya. "Bagiku kau sempurna. Kau istri yang baik. Tak ada kurangmu di mataku." Alih-alih menenangkan, ucapan Rafa membuat isakku semakin keras. Lelaki yang beberapa hari yang lalu kusematkan label pendusta, ternyata memiliki cinta yang luas untukku. Kalau dia bisa menerima kekuranganku, kenapa aku tak berkorban untuknya? Mungkin dengan adanya Laila di antara kami bisa memberi warna di hidup Rafa. * "Dokter bilang ada parut di rahimmu menyebabkan perlengketan parah. Aku sengaja tidak mengatakan, aku tak ingin kau tertekan dengan vonis itu. Aku yakin penyakitmu masih bisa disembuhkan dengan terapi antibiotik, tapi dokter berkata lain." Penjelasan Rafa menarik ingatanku di tahun pertama pernikahan kami. Entah karena kelelahan aku mengalami pendarahan. Aku terkejut saat dokter mengatakan aku sedang hamil empat bulan. Kabar yang harusnya membahagiakan, tetapi di saat bersama menjadi kabar duka sebab calon bayiku harus dikuret. Aku dan Rafa masih menanam harapan suatu hari nanti kami masih bisa memiliki momongan. Siapa mengira prosedur kuret hari itu menyebabkan rahimku terluka dan rusak. "Jangan kebanyakan melamun. Nanti jeleknya hilang." Aku tersentak, lamunanku pecah seketika. Aku mengangkat pandangan dan melihat Riana mengulurkan teh kemasan untukku. Dia duduk di depanku sembari memperhatikan hasil kerja kami seharian ini. "Tidak salah kau peraih IPK tertinggi saat lulus dulu. Pasti dosen desain interior bangga padamu." Aku tersenyum sembari membuka tutup teh kemasan botol. Aku baru menyadari sejak tadi tak bicara dengan Riana. Kebetulan, ada sesuatu yang mengganjal hatiku sejak semalam. Aku menatap Riana lekat. "Rin, makasih sudah jelasin ke Mas Rafa tentang kegiatan kita." "Iya, di telepon aku jelasin sejelas-jelasnya, biar tidak asal ngamuk." Aku tersenyum tipis. "Oh, ya, kemarin kamu nyebut nama Laila, memangnya kamu kenal dengan wanita itu?" Aku bisa melihat tubuh Riana menegang. Sikapnya terlihat gugup. "Eem, itu, aku salah bicara." Sikap Riana semakin memantik rasa curiga di dadaku. "Apa kau sudah kenal Laila sebelum aku? Apa kau sudah tahu Mas Rafa menikah lagi?" Seketika botol minuman yang dipegang Riana terjatuh ke lantai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN