Tiana baru selesai mandi saat mendengar suara orang mengobrol di luar. Itu bukan suara ayahnya. Lalu dengan siapa ibunya mengobrol sepagi ini? Tiana menyisir rambut, menyelesaikan dandanannya. Hari ini dia harus ke kampus untuk bertemu dengan sang senior.
“Bu, Tante..” Tiana menyapa tamunya ramah. Awalnya ia sedikit terkejut, tapi akhirnya ia sunggingkan senyum ramah.
“Wah Tiana, udah lama ya kita nggak ketemu? Gimana kabarnya?”
“Baik, Tante. Tante apa kabar?”
“Baik. Ayo sini duduk, ngobrol.”
Tiana duduk di sebelah Ibunya. Di sana tak hanya ada mereka bertiga, tapi ada seorang pria muda juga. Tiana mengingatnya, walau pun tidak terlalu kenal.
“Hai, Tiana,” pria itu menyapa agak kikuk. Ia tampak malu-malu.
“Hai,” sapa Tiana.
“Malu-malu gitu. Tiana cantik ya?” Si Ibu menggoda anaknya. “Aslinya dia nggak sepemalu ini, Tiana. Tapi tiap nyebut Tiana dia langsung begini.”
Tiana hanya tersenyum simpul.
“Sana ngobrol di depan. Anak muda kayak kalian pasti obrolannya beda. Ini Tia, Randy mau nanya-nanya seputar kampus sama Tia,” ucap si Ibu lagi seolah tengah berusaha “menjalin hubungan” lain dengan Tiana.
Ibu Randy melirik ke luar, tersenyum penuh makna. Bukan terlihat jelas bahwa ia punya agenda?
“Kalau dilihat-lihat mereka cocok ya,” celetuknya sambil tertawa pelan.
Ibu Tiana hanya tersenyum tipis.
“Randy kerjanya sebenarnya udah stabil. Cuma katanya nggak setara kalau dia nggak kuliah. Apalagi Tiana kan anak kedokteran.” Ia tertawa lagi. “Katanya nanti takut malu-maluin. Makanya dia mau kuliah juga, untuk nambah pengalaman.”
“Iya, Randy keren. Masih muda udah bagus karirnya. Tiana jalannya masih panjang.”
“Itu mah gampang, jeng. Yang penting duitnya aman. Randy bisa dipercaya kok. Pasti bisa membiayai..”
Ibu Tiana tak memberikan tanggapan, hanya tersenyum tipis. Apakah ini semacam lamaran?
Tiana melirik jam tangannya. Masih ada sedikit waktu. Tiana dan pria bernama Randy itu berjalan ke teras rumah. Begitu sampai, Tiana tak berbasa-basi.
“Mau tanya apa, Ran?”
“Ehmm, maaf ya aku ganggu waktu libur kamu.”
“Enggak kok, santai aja.”
“Kamu makin cantik, eh maksud aku makin keren. Sekarang udah semester 6 ya?”
“Hmm, mau semester 7.”
“Iya, semester 7. Nggak berasa ya, sebentar lagi udah mau selesai kuliahnya. Aku jadi malu, aku baru mau kuliah, sedangkan kamu udah mau beres.”
“Tapi kamu kan udah kerja duluan. Udah bagus juga jabatannya.”
“Eh kamu tau?” Randy malu-malu, menggaruk tengkuk agak salah tingkah.
“Tante Yayuk pernah cerita.”
“Ohh.” Randy terdiam. Ia tampak seperti tengah memikirkan sesuatu yang sangat penting.
“Tadi kamu mau tanya soal apa?” Tiana melirik jam tangannya.
“Hmm, kamu sibuk nggak hari ini? Hmm aku mau ngajakin kamu makan di luar biar ngobrolnya lebih enak. Aku nggak enak kalau nanya kamu tapi nggak ngasih apa-apa.”
“Santai aja, Ran. Nggak usah sungkan. Tanya aja, nggak perlu traktir atau bayar.”
Randy kembali terdiam. Jelas ia tampak ingin mengajak Tiana pergi.
“Kamu udah ada janji ya? Sama pacar?”
Tepat saat Tiana hendak menjawab, sebuah mobil yang cukup familiar berhenti di depan rumahnya. Dahi Tiana mengerut. Ia lebih bingung lagi saat melihat siapa yang turun dari mobil itu.
Tiana langsung bangkit.
“Ayah..” Tiana menyalami sang ayah. “Djor..”
“Pagi, Ti..”
“Hmm. Kok Ayah bisa sama Djorka?”
“Tadi Ayah ada urusan sama Pak Kepling di simpang depan, eh Djorka lewat. Ya udah sekalian aja pulang.”
“Itu Djorka bikinin minum, jangan bengong aja di si ni. Djorka belum sarapan juga itu.”
“Om..” Randy menyapa.
“Randy ya? Udah lama?”
“Baru kok, Om.”
“Kalian ngobrol aja, Om masuk dulu.”
“Djor, mau teh apa kopi?”
“Nggak usah, Ti. Ntar aja di jalan.”
“Lo mau ke mana?”
“Ke kampus. Lo udah siap?”
“Hah?”
“Lo udah siap belum?”
Tiana bengong sebentar. “U-udah. Eh, lo mau ke kampus? Kampus kita?
“Ya kampus kita, masa kampus tetangga?”
“Hah? Terus lo ke sini ngapain? Jauh banget muternya.”
“Ya gue jemput lo. Kan lo bilang mau ke kampus.”
Tiana melongo lagi, loading.
“Bentar, duh gue nggak ngerti. Maksudnya gimana?”
“Lo siap-siap dulu. Udah jam segini takut macet.”
“Djorka, masuk dulu. Ini ada sarapan!” Ibu Tiana memanggil dari dalam.
Djorka kemudian masuk. Tiana menoleh pada Randy sebentar.
“Gue masuk dulu, Ran. Maaf ya, gue ada urusan mau ke kampus. Nanti kita ngobrol lagi.”
“Iya, Ti..” Randy memaksa sudut bibirnya tersenyum.
Tiana keluar kamar dengan tampilan yang sudah lebih rapi. Tas selempang tersampir di bahu dan tangannya memegang totebag ukuran sedang. Terlihat berisi buku dan kertas. Randy dan Ibunya masih di sana.
Djorka muncul dari arah belakang bersama Ayah Tiana.
“Hati-hati ya.”
“Iya, Om. Pamit ya, Om, Tan..”
“Iya, hati-hati. Jangan ngebut ya.”
“Iy, Tan, aman.”
“Pamit, Yah, Bu.” Tiana menyalami orang tuanya. “Permisi Tante.”
Ibu Randy mengangguk pelan, tersenyum tipis. Tiana dan Djorka meninggalkan rumah.
…
“Kok lo bisa sampai sini?“ Tiana benar-benar tak tahan untuk segera bertanya begitu mobil sudah melaju.
“Ya bisa. Mobilnya gue gas.”
“Gue serius, Djor. Ada urusan deket sini?”
“Ya jemput lo, Ti.”
“Jemput gue? Ngapain?”
“Kok ngapain? Kan lo mau ke kampus.”
“Ya gue tau, Djor. Maksud gue apa urusannya gue mau ke kampus sama lo?”
Hening.
“Ya urusannya gue yang jemput dan anter lo ke kampus.”
Tiana mengerutkan dahi yang sudah berkerut karena bingung.
“Disuruh Ryuu lagi?” Tebaknya.
Cukup lama Djorka diam. Tiana menghembuskan napas pelan, sudah menebak. Ia sudah bersiap membuka room chatnya dan Ryuu, melayangkan protes. Tapi..
“Gue yang mau. Nggak ada hubungannya sama Ryuu.”
Hening.
Jari Tiana tertahan di udara.
“Yang tadi siapa?”
“Uh? Yang mana?”
“Yang tadi ngobrol sama lo, di teras.”
“Randy?”
Mana Djorka tahu siapa nama pria itu.
“Orang komplek sebelah. Ibunya kenal sama Ibu, mampir.”
“Ngapain?”
“Tadi katanya Randy mau tanya-tanya soal kuliah.”
“Dia belum kuliah?”
Tiana refleks menoleh. Bertahun-tahun kenal Djorka, jika diakumulasikan kata yang dia ucapkan, mungkin tak lebih dari sepertiga kata yang ia ucapkan pada Tiana selama setengah jam terakhir. SIAPA SANGKA DJORKA BISA BEGITU BANYAK BICARA!
“Belum, soalnya dia kerja dulu.”
“Lo berarti deket sama dia?”
“Nggak juga. Ibu pernah cerita beberapa kali terus ibunya juga sering mampir ke rumah.”
“Oh. Terus dia nanyain apa?”
Belum sempat, batin Tiana. Sebab Tiana keburu syok melihat Djorka tiba-tiba muncul bersama ayahnya.
“Nggak ada.”
Hening lagi.
“Nggak enak gue ngerepotin lo.”
“Santai aja. Gue lagi nggak ada kerjaan.” Tak lama dering ponsel Djorka berbunyi. Pria itu menjawab lewat layar mobilnya. Karena di speaker, Tiana bisa mendengar obrolan itu.
“Lo sibuk nggak, Djor? Sorry gue nelpon pagi begini?”
“Kenapa, Din?”
“Proposal yang dari beberapa tahun kemarin bisa tolong kirim nggak? Gue mau lihat buat jadi referensi.”
“Udah gue kasih ke Agas. Minta ke Agas aja.”
“Ohh, oke. Lo lagi di mana?”
“Jalan.”
“Oh. Lagi sibuk ya? Sendiri?”
“Sama temen gue.”
“Ohh. Oke. Maaf ya ganggu. Thanks, Djorka.”
“Hm..” sambungan terputus.
Tiana sebisa mungkin bersikap biasa, tak ingin terlihat seperti orang kepo.
“Lo udah sarapan?”
“Udah.”
“Mau minuman nggak?”
“Hmm boleh deh.”
Djorka menepikan mobilnya. “Tunggu di sini aja. Lo mau apa?”
“Hot chocolate deh. Gulanya 50% aja.”
Djorka kemudian turun. Sepuluh menit kemudian ia kembali.
“Ini rotinya masih fresh banget, baru keluar dari oven.”
“Thanks. Berapa?”
“Apa?” Djorka meletakkan cup minumannya kemudian melaju mobil kembali.
“Minuman gue?”
“Gampang, ntar aja.”
“Nggak mau gue, ntar lupa, jadi hutang.”
Djorka tertawa pelan. “Takut banget ada hutang. Kayak nggak bakal ketemu lagi aja sama gue.”
Sial. Kali ini Tiana tak bisa mengendalikan debar di dadanya. Jantungnya berpacu sangat cepat.
“Ya hutang mau gimana juga hutang, Djor.”
“Ya udah kali ini gue traktir, jadi jatuhnya bukan hutang.”
“Hm—“
“Ntar makan lo yang bayar. Adil, kan?” Djorka lebih dulu memotong.
Tiana terdiam bisu. Akhirnya mengiyakan antara sadar dan tidak.
“Sama Ryuu lo nggak enakan gini juga?” Tanya Djorka tiba-tiba.
“Nggak.”
“Nah itu sama Ryuu bisa biasa. Ke gue juga bisa harusnya.”
Beda! Tiana hanya bisa membatin.
Sepanjang jalan Tiana berkali-kali beristighfar. Apakah pertahannya selama bertahun-tahun ini akan runtuh? Ternyata melihat Djorka dari jauh dan berada dekat dengan pria itu dalam durasi lama dan ‘sering’ rasanya sangat berbeda. Tiana mulai kesulitan mengendalikan hati dan perasaannya.
…
Tiana menemui seniornya di taman dekat kantin fakultas. Sementara Djorka duduk di kantin entah melakukan apa. Hampir dua puluh menit bersama sang senior, akhirnya Tiana menghampiri Djorka yang tampak berkutat dengan ponselnya. Minumannya sudah hampir habis.
“Sorry ya, agak lama. Harusnya tadi lo pergi aja, nggak usah nungguin di sini.”
“Udah beres?” Djorka langsung menyimpan ponselnya. Sepertinya memang tak ada yang penting. Djorka hanya bermain dengan ponselnya untuk menghabiskan waktu.
Kampus masih cukup ramai. Beberapa pengunjung kantin terus mengawasi sejak tadi. Djorka memang terkenal, kan?
“Udah.”
“Mau ke mana lagi?” Djorka bangkit dari duduknya.
“Gue mau ke fakultas sebentar.”
“Ayo..”
keduanya meninggalkan kantin. Djorka terlihat tidak begitu peduli pada mata-mata yang memandanginya.
…
“Kak Djorka..” junior Tiana menyapa dengan hormat.
Djorka balas tersenyum.
“Makasih ya Kak Tiana..”
“Iya. Dipelajari bener-bener.”
“Siap, Bos..”
“Permisi Kak Djorka..”
Djorka mengangguk pelan. Tiana menghampiri.
“Itu tahun berapa?”
“Masuk tahun ketiga.”
“Kayaknya lo senior favorit ya di kedokteran..”
“Enggak juga.”
Keduanya berjalan meninggalkan fakultas Tiana.
“Dulu gue pengen jadi dokter juga waktu kecil.”
“Kenapa berubah pikiran?” Sejujurnya Tiana tahu tentang cerita ini.
Djorka menatap jauh ke depan. “Ceritanya panjang. Lo mau denger?”
***