“Sorry ya, Ti, bikin lo nggak nyaman. Kalau ketemu Bapak-Bapak random gitu kadang gue suka nanggepin.”
“Iya nggak apa-apa, santai aja. Cuma gue nggak nyangka kalau lo aslinya suka asbun juga.”
Djorka tertawa pelan.
“Kenapa? Emang muka gue nggak ada roman-roman asbun ya?”
“Enggak. Lo imagenya tuh serius.”
“Masa sih? Flat banget dong?”
“Hmm..” Tiana hanya bergumam. “Eh donat buat Ryuu gimana?”
“Ada yang jualan donat nggak deket rumah lo?”
“Hm ada sih, cuma nggak tau masih buka apa enggak. Eh kayaknya enggak, soalnya Ibu bilang seminggu yang lalu yang jualan donat itu lahiran.”
“Kemungkinan tutup kalau gitu.”
“Jadi gimana?”
“Yaudah, ntar gue cari di tempat lain aja.”
Tak banyak lagi obrolan di antara Djorka dan Tiana. Si pria fokus mengemudi, si gadis fokus dengan ponselnya. Sepertinya ia tengah berkirim pesan dengan seseorang.
“Hmmm..” Tiana menghela napas. “Kebiasaan.”
Djorka menoleh. “Kenapa?”
Tiana menyimpan ponselnya. “Senior, minta file referensi jurnal. Kebiasaan mintanya pas gue udah balik. Padahal udah seminggu ini dikasih waktu buat minta.”
“Jadi gimana?” Djorka membelok mobilnya. Antara sadar dan tidak, sepertinya Djorka sangat hafal jalan menuju rumah Tiana.
“Ntar hari selasa gue ke kampus lagi. Nggak mungkin besok, gue mau istirahat.”
“Nggak bisa dikirim email atau gdrive?”
Tiana menghela napasnya. “Gede banget filenya, sama file tugas-tugas matkul beberapa tahun terakhir.”
Sepertinya memang tak ada pilihan, Tiana harus ke kampus.
“Eh itu ada donat!” Tiana spontan berteriak, membuat Djorka agak kaget. Tapi pria itu tertawa detik berikutnya.
“Lagi pusing tetep inget donat ya, Ti..”
Tiana ikut terkekeh. Djorka membeli donat cukup banyak.
“Lo borong ya?” Tiana terkejut dengan plastik yang dibawa Djorka.
“Lo cobain donatnya.”
“Minta 1 ya.” Tiana lalu menggigit donat itu. Bola matanya membesar. “Enak banget.”
“Enak kan?”
“Enak. Eh ini kayaknya baru buka deh. Gue nggak pernah lihat sebelumnya.”
“Iya, katanya baru dua mingguan buka. Gue borong karena yang jualan masih kelas 2 SMA.”
Tiana manggut-manggut. Ia memperhatikan keluar jendela. Si penjual terlihat sangat senang. Ia tengah merapikan lapak jualannya dan tampak bersiap pulang. Sepertinya Djorka memborong habis dagangannya.
“Itu satu kantong buat lo.”
“Huh? Berapa?”
“Apanya?”
“Duitnya.”
“Nggak usah. Gratis.”
“Nggak enak gue, Djor. Dari tadi lo terus yang bayarin.”
“Sesekali, Ti. Kapan lagi?”
Iya sih, kapan lagi? Tak apa lah sesekali aji mumpung.
Djorka menoleh, lalu sebuah senyum terbit di sudut bibirnya.
“Cewek ternyata emang gitu ya?”
Alis Tiana terangkat.
“Apa?”
“Kalau makanannya enak pasti kepalanya goyang-goyang.”
Tiana mengerjap dua kali, lalu sadar kalau dia reflek goyang kepala saat makan donat yang memang enak.
“Lo tau juga yang begituan?” Tiana terkekeh. “Asli gue pikir lo nggak perhatiin hal-hal sepele kayak gitu.”
Djorka hanya tersenyum. Nyatanya ada banyak hal yang mungkin tidak Tiana tahu tentang Djorka.
Perjalanan panjang pun berakhir. Mendengar suara mobil, pintu rumah Tiana terbuka. Ibu dan Ayahnya muncul hampir bersamaan.
“Djorka, ayo masuk dulu.”
“Om.” Djorka menyalami Ayah dan Ibu Tiana.
“Aman kan tadi di jalan?”
“Aman, Tan.”
“Maaf ya Nak Djorka sudah merepotkan.”
“Nggak repot kok, Tan. Sekalian beli donat tadi buat Ryuu.”
Ibu dan Ayah Tiana tersenyum ramah. Djorka sempat ditawari singgah untuk minum teh, tapi mengingat pria itu sepertinya masih ada urusan, Djorka akhirnya berjanji akan singgah lain kali. Tiana berterima kasih sekali lagi. Djorka menekan klakson kemudian melaju mobil meninggalkan pekarangan rumah Tiana.
“Capek ya? Anak hebat Ibu akhirnya pulang juga..”
Ayah membawakan koper Tiana. Gadis itu menghembuskan napas panjang, lega sudah sampai di tempat ternyamannya.
“Kangen banget sama masakan Ibu..”
“Itu udah Ibu masakin. Kamu mandi dulu, terus makan.”
“Iya. Huuuu, kangen Ibu sama Ayah..” ketiga orang itu kemudian berpelukan.
…
Tiana sudah hilang ke dalam kamar. Ibu membuka oleh-oleh yang Tiana bawa. Tak lupa Tiana beritahu orang tuanya bahwa donat dan oleh-oleh itu diberikan oleh Djorka.
“Ayah ngerasa aneh nggak?”
“Aneh kenapa, Bu?”
“Banyak anak-anak yang main ke sini, entah Ryuu, Elliot, atau yang lain. Tapi kata-kata Djorka itu berasa beda.”
Dahi Ayah mengerut. “Beda gimana?”
“Hm kayak calon menantu lagi janji sama calon mertuanya.”
“Hush, Ibu sembarangan..”
Ibu tertawa.
“Keluarga mereka memang baik-baik. Nggak anaknya nggak orang tuanya. Mereka nggak permasalahin latar belakang Tiana. Mereka memperlakukan Tiana seperti anak mereka. Tapi,” Ayah menjeda. “Kalau untuk jadi menantu,” pria itu menggeleng. “Ayah nggak mau muluk-muluk bayangin. Terlalu jauh.”
“Tapi kalau semisal benar-benar ada di antara mereka yang suka pada Tiana, bagaimana?”
Ayah menghela napas. “Ayah nggak tahu, nggak bisa jawab.”
Ibu dan Ayah sama-sama terdiam, seperti tenggelam dengan pikiran masing-masing.
…
Tiana baru selesai mandi. Saat mengeringkan rambut dengan handuk, perhatiannya tertuju pada sebuah botol kaca. Tiana meraihnya, memandangi botol itu. Ada gulungan kertas di dalamnya. Tapi sangat sedikit. Sepertinya tidak lebih dari 5.
Tiana menatap botol itu lama. Ia kemudian mengambil kertas kecil di atas meja lalu menuliskan sesuatu di sana. Setelahnya Tiana menggulung kertas itu dan memasukkannya ke dalam botol.
“Ti, ayo makan dulu,” terdengar suara Ibu dari luar. Tiana meletakkan pena lalu bangkit.
“Iya, Bu. Ibu masak apa?” Tiana menutup pintu kamarnya.
…
Mobil Djorka dan Ryuu sampai hampir bersamaan. Tak lama setelah Ryuu turun dari mobil, Djorka pun melakukan hal yang sama.
“Aman?”
Djorka mengangkat jempol. “Ini..”
“Apa?”
“Donat.”
Alis Ryuu terangkat. Keduanya masuk ke dalam rumah.
“Dek, kamu nggak bilang Tiana kalau kamu tadi ke Singapura?”
Ryuu menggeleng. “Tiana nanyain ke Mas?”
“Enggak.”
Sela muncul dari arah barat. Djorka dan Ryuu menyalami dan mencium Bunda mereka. Tak lupa keduanya menanyakan tentang sang Papa.
“Belum pulang, mungkin baru selesai seminar. Kalian mandi dulu. Udah pada makan?”
“Udah, Bun.”
“Ya udah, istirahat.”
“Good night, Bun. Love you,” ucap si kembar hampir bersamaan.
Keduanya berpisah menuju kamar masing-masing. Djorka langsung mandi dan membersihkan dirinya. Saat keluar dari kamar mandi, dering ponsel menarik perhatiannya. Melihat apa yang ada di layar, wajahnya kembali datar. Djorka meletakkan ponsel kembali ke meja, kemudian ia mendaratkan pantatnya di kursi. Komputer di depannya dinyalakan.
Beberapa menit berselancar di komputernya, gerak jari Djorka terhenti. Ia terdiam cukup lama. Matanya tertuju pada satu foto yang ada di layar. Bukan foto baru dan sepertinya juga sudah diambil cukup lama. Tidak bisa dipungkiri, Djorka dan Selena menjalin hubungan cukup lama. Walau berakhir, sisa-sisa kenangan itu pasti ada. Ini bukan masalah apakah masih ada rasa atau tidak. Tapi setiap kenangan punya kisahnya sendiri.
Jari Djorka bergerak.
Klik.
Klik.
Deleted.
***