DY 05 - Unexpected (Long) Night

2036 Kata
Lagu-lagu mengalun. Sesekali Tiana ikut menyanyikan lirik dari lagu yang sedang dimainkan. Acara kesenian sore ini berlangsung meriah hingga malam datang. Orang-orang dari luar kampus pun ikut meramaikan. “Rame juga ya, padahal ini acaranya bukan yang besar banget.” “Hm. Walau nggak dirancang besar, tapi anak kesenian promosinya bagus.” Tiana mengangguk. Ia ingat salah satu teman panitia yang kebetulan tinggal di gedung yang sama dengannya. Rekannya itu benar-benar maksimal dalam melakukan promosi entah di sosial media atau pun secara langsung. Djorka menoleh. “Lo suka band ini, Ti? Lo kayaknya hafal banyak lagu mereka.” “Lumayan suka. Sebenarnya karena playlistnya ada di musiknya Erian sih, jadi sering denger sampai akhirnya familiar.” Djorka menggangguk-angguk kecil. Siapa yang tidak tahu sedekat apa Tiana dan Erian. Kedekatan Tiana dan Erian tidak jauh berbeda dengan kedekatan Tiana dan Ryuu. Ponsel Djorka bergetar. Pria itu melihat layar kemudian pamit menjauh untuk menjawab telfon yang masuk. Tiana memandangi kepergian Djorka sebentar sebelum kembali hanyut dalam lantunan lagu. Tak berapa lama Djorka kembali. Ia sedikit menepuk bahu Tiana untuk menarik perhatian gadis itu. “Lo ada urusan, Djor? Pergi aja nggak apa-apa.” “Lo sama siapa? Mau balik jam berapa?” Tiana melihat jam tangannya. “Bentar lagi, mungkin 10 menitan. Gue balik sendiri aja.” “10 menit? Okey.” Djorka kembali daratkan pantatnya di ujung pegangan kursi, lalu melipat tangan di d**a. “Kenapa duduk lagi?” Tanya Tiana dengan sedikit mengangkat alisnya. “Lo bilang masih 10 menit.” “Ya kan itu gue. Lo kalau mau pergi ya pergi aja.” “Gue diusir?” “Ya enggak. Maksud gue tuh kalau lo ada urusan ya pergi aja.” “Nggak mendesak kok.” “Hah?” Tiana bingung. Jadi maksudnya bagaimana? Tiana tidak mengerti. “Ryuu minta beliin sesuatu.” “Ryuu? Owalah.” Tiana hembuskan napas pelan. Entah Djorka berkata yang sebenarnya atau tidak, sebab ada senyum yang diam-diam ia sembunyikan. 10 menit kemudian mereka meninggalkan area konser. … “Ryuu minta beliin apa?” “Donat.” “Donat? Tumben banget tuh anak minta donat.” Tiana menghentikan langkah. “Udah sampai. Makasih banyak ya Djor udah repot-repot nganter gue balik kos. Sorry ya ngerepotin lo. Aslinya mah nggak apa-apa balik sendiri, udah biasa.” “Santai aja. Lo bawa barang banyak?” “Barang? Barang balik ke rumah? Nggak sih. Cuma koper sebiji sama oleh-oleh.” “Lo bisa bawa turun sendiri?” “Bisa kok, ringan.” “Ya udah, gue tunggu di sini.” Sekali lagi alis Tiana terangkat. “Hah?” Ia terdiam, lalu mengerjapkan mata dua kali. “Bentar, maksudnya gimana? Gue nggak ngerti.” Djorka terlihat sangat santai dan tenang. “Lo ambil barang ke atas, gue tungguin di sini.” “Iya gue denger, maksud gue ngapain lo nunggu gue di sini? Lo langsung pergi aja, nggak usah nungguin gue.” “Lo mau balik pake apa? Taksi? Ojek online?” “Iya, ojek online.” “Nggak usah, nggak aman. Biar gue yang anter.” Tiana melotot. “Hah? Eh nggak usah Djor. Astaga. Udah biasa gue. Nggak enak gue ngerepotin lo.” “Sama sekali nggak ngerepotin. Gue juga mau balik rumah.” “Ya tapi kan jarak rumah lo ke rumah gue jauh.” “Searah kan? Nggak terlalu jauh juga. Pakai mobil juga sebentar sampai. Sekalian aja.” “Nggak enak gue.” “Hmm, anggap aja gue Ryuu. Muka kami kan mirip. Sama Ryuu aja lo bisa biasa, masa sama gue sungkan banget.” YA BEDA LAH BAPAK DJORKA! Tiana memekik di dalam hati. Urusan perasaan itu berbeda, tapi Tiana jelas tak mau merepotkan Djorka atau siapa pun untuk urusan pribadinya. “Udah nggak usah kelamaan mikir. Ntar Ayah sama Ibu makin khawatir kalau lo kemaleman baliknya.” Djorka melihat jamnya. “Nih udah jam segini.” Tiana dilanda keraguan. Ia lebih ingin menolak sebab satu dan lain hal. Tapi… “Ryuu minta donat yang ke arah rumah lo, kok, jadi sekalian.” “Hah?” Tiana melongo. Ia coba-coba mengingat dona apa yang ada di dekat rumahnya. Sejak kapan pula Ryuu suka donat yang ada di sana? “Makin malam, Ti,” ujar Djorka menarik paksa Tiana dari lamunan. “Iya iya sebentar. Duh, gue ambil barang dulu. 3 menit.” “Santai aja, nggak usah lari.” Djorka tersenyum simpul. Tiana langsung ngacir ke dalam lift. Djorka kemudian menyingkirkan diri ke bangku kecil di taman depan gedung kos Tiana. Ia sibuk berkutat dengan ponselnya. “Djorka? Eh bener, gue pikir salah orang. Ngapain lo di sini sendirian?” Djorka menoleh, memasang wajah ramahnya. “Nungguin temen.” “Temen?” Tanya gadis cantik berambut pendek itu. “Di gedung ini?” “Hm..” Djorka masih fokus pada ponselnya. “Gue nggak tau lo punya temen di gedung ini. Selama gue tinggal di sini gue nggak pernah lihat lo. Temen lo siapa? Anak jurusan apa?” Gadis itu terlihat sangat penasaran. Sekali lihat pun bisa diketahui bahwa ia punya ketertarikan pada Djorka. Ia terus memegangi bibirnya dengan malu-malu. Sesekali ia juga merapikan rambutnya yang terlihat sudah sangat rapi. Djorka tak menjawab, kebetulan Tiana pun sudah datang. Si gadis langsung menoleh, memandangi Tiana cukup lama. Ia tidak dekat, tapi cukup mengenal Tiana. Bisa dikatakan hampir seluruh mahasiswa yang tinggal di gedung itu mengenal Tiana. Gadis itu selalu membantu tanpa pandang bulu. “Eh hai, Joyce,” Tiana menyapa. “Hai, Ti..” “Udah?” Djorka langsung bangkit, menyimpan ponsel dan mengambil alih koper Tiana. “Duluan ya,” ujar Tiana berpamitan. Joyce memandangi punggung Tiana dan Djorka yang perlahan menjauh lalu hilang ke dalam mobil Mercedes Benz milik Djorka. … Perjalanan yang tak pernah Tiana bayangkan. Diam-diam Tiana sedikit gugup. Ia sudah sangat hebat mengendalikan dirinya seharian tadi. Tapi sekarang perutnya mulai terasa seperti diaduk. “Canggung banget ya gue nganter lo pulang?” Suara Djorka memecah keheningan. “Uh? Nggak juga. Kenapa lo nanya gitu?” “Dari tadi lo diem aja.” “Oh, gue pikir lo butuh konsentrasi buat nyetir, makanya gue diem.” Untungnya Tiana bisa menemukan alasan, walau terdengar sangat dibuat-buat. Untungnya lagi Djorka tidak memperpanjang topik itu. Mungkin dia mengerti, atau dia memang tidak terlalu peduli saja. “Kayaknya lo nggak terlalu sering ngobrol emang cuma sama gue ya,” ujar Djorka tiba-tiba. Obrolan baru ini entah akan ke mana arahnya. “Sama sepupu-sepupu gue yang lain lo deket banget.” “Hmm,” Tiana membisu sesaat, mencari respon yang tepat untuk kalimat Djorka. “Ya bisa dibilang gitu,” sambung Tiana akhirnya. Ia pun bingung harus mengatakan apa sebab memang begitulah kenyataannya. “Kenapa ya?” KENAPA YA? Ya mana Tiana tahu kenapa. “Menurut lo dulu gue sombong nggak?” “Enggak kok. Kayaknya lo lumayan sering kok ngomong sama gue.” “Masa sih? Tapi kayaknya kita canggung banget. Beda banget kalau lo lagi sama Ryuu atau sepupu-sepupu gue.” Tiana menggaruk kepalanya. “Dulu sama Kak El kenapa bisa kenal?” Sepertinya Tiana sudah menceritakan itu ratusan kali sampai semua keluarga Djorka paham betul akan kisah satu itu. Tapi Djorka jelas pengecualian. Ia punya dunia sendiri dan Tiana memakluminya. Tiana kemudian menceritakan awal mula ia dan Elliot kenal lalu bagaimana mereka bisa menjadi sangat dekat. Entah aslinya Djorka sudah tahu cerita itu atau belum. “Kalau sama yang lain?” Dahi Tiana mengerut. “Lo mau denger ceritanya satu-satu?” Tanyanya kaget. “Iya.” Tiana tergelak. “Ngapain, Djor? Nggak menarik juga,” tawa gadis itu terdengar renyah. “Pengen denger aja langsung dari lo.” “Nggak usahlah, cerita yang lain aja.” “Kalau lo sama Nusa sedekat apa? Kayak Ryuu juga atau dekat jenis lain?” “Nusa?” Tiana menoleh, memandangi Djorka sesaat. Ia sempat terpana, tapi untungnya sadar dengan cepat. “Biasa aja sih. Nggak yang gimana-gimana. Dia teman yang baik.” “Teman?” Tiana menganggap Nusa teman, padahal bisa terlihat jelas kalau Nusa tertarik pada Tiana. Djorka tak terlalu ingin ikut campur, tapi sebagai seorang pria ia bisa melihat jelas niat hati Nusa. “Lo nggak pernah pacaran ya?” Tiana pikir Djorka tipe orang yang masa bodo dan nggak terlalu blak-blakan. Tapi selama 30 menit terakhir mereka bersama, Tiana merasa Djorka semakin “tak tertebak”. “Kenapa?” “Nggak kenapa-kenapa,” sahut Djorka. Sulit untuk mengartikan ekspresi wajahnya. Hening. “Djor..” “Hm?” “Sebenarnya lo disuruh Ryuu kan?” Djorka hembuskan napas pelan. “Dia nggak nyuruh gue, cuma dia emang minta beliin donat yang deket area rumah lo.” Dengan kata lain Ryuu memang meminta Djorka mengantar Tiana pulang secara tidak langsung. “Nggak usah tegang gitu mukanya, Ti,” tawa Djorka. “Nggak enak gue,” timpal Tiana sungkan. Padahal ia sudah beritahu Ryuu untuk tidak merepotkan siapa pun, terutama Djorka. “Lo pernah dianter balik sama Eiro? Atau Kak Renz?” “Lumayan sering.” “Nah itu bisa biasa aja.” “Ya beda, Djor,” akhirnya Tiana kelepasan. “Beda gimana?” Hmm, jadi rumit. “Ya beda. Gue sama mereka emang udah biasa.” “Nan berarti emang kita harus membiasakan diri, Ti.” Tiana melotot. “Lo lagi tertarik sama temen gue yang mana?” Tanya Tiana tiba-tiba. “Hah? Maksudnya?” “Kali aja lo lagi nyogok gue minta comblangin.” Pecah tawa Djorka. “Emang ada yang begitu?” “Ada juga, cuma bukan sepupu-sepupu lo.” Djorka masih tertawa. Pria itu menarik napas dalam, tersenyum simpul. “Enggak lah. Gue kalau suka orang nggak perlu perantara, bisa sendiri.” Ya, tentu saja. Seorang Djorka Gomez. Menjentik jari saja sudah banyak yang mengejar. “Gue boleh nanya, Ti? Sedikit personal. Kalau nggak nyaman nggak usah dijawab.” “Apa?” “Lo pernah suka Ryuu atau Kak El?” “Sampai sekarang juga masih suka,” jawab Tiana enteng. “Sayang banget malah gue sama mereka.” “Dalam konteks lain, Ti.” Tiana paham maksud pertanyaan Djorka. Gadis itu tersenyum hangat, menatap jauh seolah sedang melihat Ryuu dan Elliot di sana. “Sayang gue ke mereka itu lebih ke menghormati. Buat gue mereka berdua lebih dari sekedar teman dan sahabat.” Tiana menjeda. “Rasanya nggak sopan aja kalau gue suka mereka dalam konsep laki-laki dan perempuan.” “Kenapa nggak sopan? Kan normal.” “Hm susah buat gue jelasin, tapi intinya gitu. Mereka juga pasti sama.” “Tau dari mana?” “Adalah.” Hening. “Tapi nggak mereka aja sih, gue juga kagum sama yang lain. Sepupu-sepupu lo juga pada keren-keren. Pada baik banget.” Djorka menghentikan mobilnya. “Kenapa?” “Gue laper. Kita makan dulu. Suka pecel lele nggak?” “Gue mah suka, lo sendiri suka nggak?” “Suka. Ayo turun.” Pada akhirnya Djorka dan Tiana justru beli sate. Memang unexpected. “Pacarnya cantik banget, Mas. Jagain ya, takut ada yang nyulik.” Bapak-bapak random berkomentar. Tiana melotot. “Iya, Pak, aman. Emang banyak yang ngincer ini, makanya saya intilin terus ke mana-mana.” Secara tak terduga Djorka justru merespon perkataan si bapak. “Wah gawat itu, Mas..” “Iya kan, Pak. Hm apa perlu saya kasih tulisan gede pak kalau ini pacar saya? Biar orang-orang nggak berani lagi deketin?” “Wah bisa, Mas. Ide bagus itu.” Masalahnya tempat itu cukup ramai meski didominasi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu. Tiana malu bukan main. Bisa-bisanya si Djorka guyon seperti itu. Bukan seperti Djorka yang biasanya. “Atau bisa diiket aja, Mas,” bapak lainnya memberi saran. “Sembarangan, Pak,” timpal si Ibu yang kemungkinan besar adalah istri si bapak. “Maksudnya pakai tali suci pernikahan, Buk.” Sontak semua terkekeh. Tiana sudah tak bisa berkata-kata. Mukanya merah karena malu. “Tapi kayaknya kalian masih pada muda, ya..” “Masih kuliah, Pak. Pacar saya calon dokter.” “Wah keren banget, Mas. Selesaiin dulu kuliahnya. Nanti kalau udah, baru nikah.” Tiana menghabiskan satenya dengan buru-buru. “Ayo..” ia tarik Djorka pergi. “Yang langgeng ya kalian. Kapan-kapan mampir ke sini lagi.” “Makasih doanya, Pak. Kami pamit dulu.” Rasanya Tiana mau hilang saat itu juga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN