Sepanjang perjalanan, Djorka dan Tiana tak banyak memngobrol. Keduanya seperti lebih fokus menikmati musik yang berputar. Tapi diam-diam Djorka memandangi Tiana. Gadis itu terlihat begitu santai, tenang dan seperti sangat menikmati. Ia tidak terlihat gugup atau pun canggung.
Ini memang bukan pertama kalinya mereka berada di mobil yang sama. Tapi Djorka baru memperhatikan Tiana secara seksama sekarang. Biasanya Djorka benar-benar tak memikirkan apa dan bagaimana Tiana. Anehnya sekarang ia seperti tersadar. Entahlah. Apa mungkin karena dia punya cukup waktu untuk memperhatikan Tiana? Atau mungkin karena mereka kini lebih sering bertemu
Apakah mungkin ini alasan sepupu-sepupunya begitu dekat dengan Tiana? Gadis ini bisa menempatkan dirinya. Semua porsinya terlihat pas dan tidak berlebihan.
Mereka sampai pada tujuan. Djorka membawa Tiana bertemu teman-temannya. Awalnya terasa sedikit aneh karena orang-orang memandangi sedikit lebih lama, tapi perlahan suasana menjadi lebih bersahabat dan hangat. Tiana bukannya baru pada lingkungan ini. Ia memang tidak mengenal semuanya, tapi setidaknya Tiana tahu 3 hingga 4 orang di acara ini. Ia pernah bertemu mereka entah di rumah Djorka atau di tempat lain.
“Pacar baru Djorka?” Pertanyaan yang tak bisa dihindari, meski Tiana tak berekspektasi juga akan mendapat pertanyaan itu.
“Jangan salah paham ya, gue tanya gini bukan karena gue salty,” si gadis lebih dulu membuat pembelaan. “Aslinya sih nggak semua pasangan di sini adalah pasangan kekasih. Normal juga buat bawa temen cewek bisa buat jadi pasangan. Cuma-“ ada jeda, gadis itu memandangi Djorka dengan sedikit cibiran. “Si Djorka kan nggak pernah bawa perempuan sembarangan. Kayaknya lo cewek kedua yang gue temui bareng sama dia.”
Tiana tersenyum tenang. “Bukan kok, kita juga cuma temen biasa.”
“Bener, Djor?” Tanya si gadis lagi, penuh selidik dan sedikit nada menggoda.
“Iya,” jawab Djorka santai.
“Dih. Nggak meyakinkan banget,” cibir gadis itu. “Sorry ya Tiana, dia tuh soalnya nggak banyak ngomong jadi kadang kita harus lihat dari aksinya. Gue beneran nggak salty ya. By the way, gue Elana, salam kenal.”
“Tiana..”
“Gue pinjem Tiana ya, Djor, kayaknya orangnya asik.” Elana menggaet lengan Tiana dan membawa gadis itu ke perkumpulan teman-temannya yang lain.
“Jangan diusilin, Lan..”
“Iya Pak Bos, aman.”
“Itu sahabatnya Ryuu kan?”
Djorka mengangguk. Ia meneguk minumnya, sesekali melirik ke arah Tiana. Gadis itu berkumpul bersama teman-teman Djorka dan ia terlihat membaur dengan baik di sana. Tiana sepertinya memang sosial butterfly. Ia mudah berteman dan juga menyenangkan.
“Cantik ya,” celetuk teman Djorka. Entah apa maksud nada suaranya. Pria itu lalu terkekeh pelan.
“Kayaknya orangnya asik.”
“Hm..” Djorka mengiyakan. Bukan asal mengiyakan, tapi dia memang setuju. Lihatlah, bahkan orang yang baru kenal Tiana pun bisa merasakan kalau gadis itu orang yang easy going. Tapi kenapa selama ini Djorka tak tahu?
…
“Udah dicariin Puput ya?” Tanya Djorka membuyarkan lamunan Tiana.
“Hah? Oh enggak. Puput ngabarin dia bakal telat, masih belum beres katanya.”
“Jadi lo mau ke mana dulu?”
“Gatau, balik asrama kayaknya.”
Hening. Tiana memandangi ponselnya.
“Gue lagi nggak ada kegiatan juga. Mau lihat bazar nggak, Ti?”
Jujur, kali ini Tiana sedikit tertegun. Tubuhnya agak membeku—terkejut. Semoga pipinya tidak memberikan reaksi berlebihan karena Tiana memang sedikit salting sekarang.
“Bazar?”
“Hm. Gue traktir jajan karena tadi lo udah nemenin gue.”
“Kemarin lo udah ngasih gue oleh-oleh. Boleh deh ke bazar tapi nggk usah traktir gue. Rugi banyak lo ntar..” Tiana tertawa.
Tiana memang manis.
Djorka ikut tersenyum, meski tipis.
“Emang lo makannya banyak?”
“Banyak.”
“Perasaan tiap di rumah lo makannya dikit. Berarti malu-malu?”
Tiana mengerutkan dahi sembari menoleh, tidak terima dikatai malu-malu.
“Siapa yang malu-malu? Gue nggak pernah makan dikit, lo aja yang nggak lihat.” Ya, mana mungkin Djorka melihatnya. Pria itu sudah sibuk dengan dunianya.. dan Selena.
“Masa sih? Tapi badan lo kecil.” Djorka menjeda. “Tapi kayaknya kita emang nggak pernah makan bareng ya, padahal lo sering di rumah gue. Kadang malah lo lebih kayak anak kembar sama Ryuu ketimbang gue.”
Tiana tersenyum. “Lo nggak cemburu kan?”
Djorka tertegun, menoleh secara refleks.
“Karena gue lebih deket dan lebih sering sama Ryuu ketimbang lo sama Ryuu?” Tiana melanjutkan. Sayangnya Tiana tak sadar efek ucapannya barusan. Harusnya ia melihat bagaimana terkejutnya Djorka.
“Enggak, gue malah makasih sama lo, Ti. Selama ini lo selalu ada buat Ryuu. Makasih udah bisa selalu diandalkan.” Dan sekali lagi Djorka baru menyadari bahwa Ryuu dan Tiana sangat dekat, benar-benar dekat. Mungkin hampir seluruh rahasia Ryuu ada pada Tiana. Dan hampir setiap titik terendah Ryuu ada Tiana di sana. Mungkin Tiana adalah gadis yang paling banyak mendengar Ryuu bicara.
“Nggak perlu makasih,” suara Tiana memelan, masij cukup hagat didengar. “Ryuu juga banyak bantuin gue.” Dan Ryuu pun pastinya tau banyak rahasia Tiana, meski tanpa bertanya, pria itu seolah sudah tau tanpa Tiana bicara.
“Gue jadi penasaran, dulu pas pertama lo ketemu Ryuu, kesan lo ke dia gimana?”
Tiana menarik kedua sudut bibirnya. Salah satu cerita yang paling Tiana sukai adalah pertemuan pertamanya dan Ryuu.
“Hangat. Ryuu itu orang yang hangat.”
Djorka melirik lagi, tersenyum. “Di antara banyak orang yang gue temui, cuma lo satu-satunya orang yang punya kesan hangat sama Ryuu di pertemuan pertama.”
Itu tidak aneh. Ryuu memang dingin, siapa yang tidak tahu.
“Gue juga nggak tau. Kalau diingat-ingat, gue emang nggak dapetin kesan dingin Ryuu sama sekali hari itu. Mukanya emang datar, tapi suara dia tuh kerasa banget tulusnya. Gue dan temen-temen di kampung sama sekali nggak ngerasain nada sinis dari dia, padahal itu pertemuan pertama dan kami tau dia itu orang kaya.”
“Karena Ryuu itu percaya banget sama Kak El.”
“Apa mungkin El udah baik-baikin gue ya ke Ryuu sebelum kami ketemu?” Tiana tertawa lagi.
Djorka hanya tersenyum. Selain Ryuu, di antara sepupunya yang lain Tiana memang paling dekat dengan Elliot. Tiana bahkan sudah seperti adik kandung El. Terbesit di dalam pikiran Djorka, apakah sebenarnya Tiana dan Elliot punya rasa? Atau mungkin salah satu dari mereka?
…
Kampus masih ramai meski sudah masuk libur semester. Agaknya masih banyak mahasiswa bertahan di kampus, menunda libur demi melihat acara kesenian.
Dan Tiana tidak berbohong saat mengatakan bahwa dirinya adalah pemakan besar. Selama 10 menit mereka sudah singgah di 3 stand dan Tiana sudah menghabiskan setidaknya 3 jenis makanan. Djorka hendak membayar tapi Tiana bersikeras menolak.
“Gue yang bayar,” Djorka sudah lebih dulu menyerahkan kartunya.
“Makasih..” keduanya menerima minuman dari penjual. Penjaga stand saling bisik, pastinya terkejut mendapati idola kampus mereka bersama seorang perempuan. Bukannya Djorka tak pernah jalan dengan perempuan lain, tapi biasanya selalu urusan pekerjaan. Baru kali ini ia bersama seorang perempuan mendatangi bazar. Bukankah ini hampir seperti ‘ngedate’?
“Lo nggak mau?” Tiana menawarkan.
Djorka sebenarnya kenyang, tapi makanan Tiana terlihat enak.
“Minta satu..”
“Ambil aja. Yang sebelah sini belum gue pegang.”
Ponsel Tiana bergetar. Ia merogoh kantong celana, lalu menjawab telfon. Gadis itu menghela napas pelan.
“Kenapa?”
“Puput nggak jadi ke sini.” Puput sepertinya sedang ada masalah, jadi dia langsung pulang ke rumah. Dia terdengar sangat kesal tadi.
“Lo duluan aja, Djor. Pasti lo banyak urusan.”
“Lo mau ke mana?”
“Hm, muter-muter bentar terus balik ke asrama. Mau siap-siap balik ke rumah.”
“Lanjut aja, gue nggak ada kerjaan.”
Alis Tiana terangkat.
“Tuh kayaknya makanannya enak. Mau nggak?”
Tiana mengedip dua kali. Rasanya aneh dan membingungkan. Tapi akhirnya Tiana ikuti langkah Djorka. Cukup menyenangkan. Anggap saja hari ini Tuhan sedang memberikan Tiana keberkahan. Ini memang bukan ngedate, tapi menghabiskan waktu bersama Djorka nyatanya memang membuat hati Tiana terasa hangat.
***