3. DY - 03

1278 Kata
Tiana sudah kembali. Djorka juga terlihat kembali ke mejanya, lalu sibuk berbincang dengan Andini. Nusa diam-diam memperhatikan. Jujur saja, dia sangat penasaran atas pembicaraan rahasia antara Djorka dan Tiana tadi. Ia tak tahu bahwa Djorka dan Tiana bisa berada di fase “itu”. “Hmm lo kayaknya jadi lebih deket ke Djorka ya sekarang” Sontak Tiana mengangkat wajahnya. “Gue?” Nusa anggukan kepala. Mata sipitnya benar-benar tertuju lurus menatap Tiana, seolah tak ingin menyembunyikan kebenaran bahwa ia memang tertarik pada gadis itu. Hanya saja Tiana tak peka—atau sebenarnya hanya pura-pura tidak tahu saja. “Hmm nggk juga sih. Biasa aja kayaknya.” Nusa terdiam sementara Tiana sudah kembali fokus pada laptopnya. “Ti..” “Ya?” “Pertanyaan gue tadi,” Nusa menjeda. “Lo kenapa nggk punya pacar sampai sekarang? Bahkan gue nggak pernah denger gosip lo deket sama cowok. Selain Ryuu dan Erian ya.” Rambut panjangnya sempat menutupi wajah Tiana sebab gadis itu menunduk. Tiana kemudian menarik rambutnya ke belakang, lalu mengikat secara asal. Ia menutup laptopnya, lalu memandangi Nusa sepenuhnya. “Gue nggak punya cukup waktu untuk itu,” jawab Tiana akhirnya. Ada sedikit kerutan di dahi Nusa. Tiana menarik napas dalam, lalu membuang dengan perlahan dan agak panjang. “Lo tau sendiri kan kondisi gue gimana? Gue kuliah dengan beasiswa. Walau pun Ayah dan Ibu punya tabungan untuk pendidikan gue, tetap aja mereka harus berusaha keras. Gue nggak mau bikin mereka kecewa, lebih nggak mau lagi menyia-nyiakan setiap kesempatan yang udah gue dapatkan.” “Ohh,” Nusa lalu kembali diam, terlihat berpikir. Jelas ada sesuatu di dalam kepalanya, namun lidah Nusa tertahan, tak bisa menyampaikan apa yang sudah berada di ujung lidah. Pada akhirnya, Nusa memilih membicarakan topik lain, tak ingin Tiana merasa risih dan berakhir ilfeel padanya. … Tiana baru saja selesai mandi saat ponselnya bergetar. Ketika ia memeriksa pesan yang masuk, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Tiana menutupi kepalanya dengan handuk, kemudian beranjak membuka pintu. “Djor, ada apa?” Tiana sedikit terkejut mendapati Djorka yang berada di depan pintu kamarnya. Djorka mengangkat tangannya, mengulurkan sebuah paper bag pada Tiana. “Ini apa?” “Buka aja.” Ternyata isi paper bag yang diberikan Djorka adalah kue yang sudah dua hari ini Tiana cari tapi belum berhasil menemukannya. Tempat-tempat yang Tiana biasa datangi selalu kehabisan. “Eh, dapat dari mana? Kok kepikiran ngasih gue ini?” “Kemarin gue nggak sengaja denger obrolan lo sama pegawai toko roti deket kampus.” “Ohh, sebenarnya ini buat oleh-oleh Ibu sama Ayah sih. Makasih banyak ya. Berapa ini totalnya?” Totalan dari harga kue itu jelas hanya angka yang tak berarti bagi seorang Djorka. Tapi.. “Kalau lo ganti pakai yang lain aja gimana, Ti?” “Hah? Apaan?” Djorka terdiam sebentar. “Gue bisa minta temenin nggak besok?” “Temenin? Ke mana?” Besok ada acara kesenian kampus dan Tiana sudah berjanji akan menemani Puput. “Undangan temen gue. Sebenarnya..” Djorka menjelaskan pada Tiana tentang kondisinya. Tiana lantas terdiam sesaat, berpikir. Menemani Djorka? Bukankah itu berarti Tiana akan menghabiskan beberapa waktu bersama Djorka? Tapi.. ah, membingungkan. Di satu sisi Tiana mau saja, tapi di sisi lain ada yang menahannya pergi. “Jam berapa? Soalnya gue udah janji mau nemenin Puput liat acara kampus.” “Jam 9 pagi. Lo mau pergi jam berapa sama Puput? Kalau siang sih masih sempet. Acaranya paling 2 jam.” “Oh, bentar ya.” Selama Tiana fokus dengan ponselnya, Djorka memperhatikan kamar Tiana, sembari sesekali curi-curi pandang pada sahabat baik adiknya itu. Sebenarnya memang banyak perempuan yang jauh lebih cantik daripada Tiana. Tapi jujur saja, Djorka bisa mengerti kenapa Ryuu bisa bertahan bersahabat dengan Tiana begitu lama. Ah, bukan hanya Ryuu saja sebenarnya, tapi mungkin hampir seluruh orang dekat di lingkungannya. Djorka semakin menyadari bahwa memang hanya dia yang tidak sering mengobrol dengan Tiana. Tiana itu hangat. Hangat yang bisa jelas dirasakan, membuktikan bahwa gadis itu memang tulus dalam setiap gerak-geriknya. Bahkan kini pun, Djorka bisa merasakan bahwa Tiana ‘’mungkin” bersedia menemaninya bukan semerta karena Djorka tampan atau pun hebat, tapi memang murni karena Tiana ingin membantunya. Djorka juga tidak melihat ada secuil pun wujud salting dari reaksi Tiana tadi. Djorka juga tak ingin narsis, berpikir semua gadis menyukainya. Jika memang Tiana menyukainya, bukankah akan terlihat jelas? Tapi hampir belasan tahun ia kenal Tiana, tak pernah ia lihat gadis itu menunjukkan gelagat aneh di depannya. Tiana terlalu santai untuk ukuran seseorang yang punya rasa. “Oke Djor, bisa nih. Jam 9 kan?” “Hm. Lo sama Puput pergi jam berapa? Kalau misal mepet, ntar acara di tempat temen gue bisa dikondisikan.” “Santai aja. Puput juga ada urusan dulu besok, mungkin gue ketemu dia jam 2 atau jam 3. Acara bandnya juga malam kan?” “Oh, oke. Besok gue jemput jam 9, ya.” Tiana mengangguk. “Ada dress code nggak?” Dari yang Tiana pelajari, biasanya orang-orang kaya selalu punya dress code untuk acara-acara mereka. “Lo punya baju warna hitam?” “Ada.” “Pake senyaman lo aja. Nggk harus dress.” Tiana mengangguk. Djorka lalu pamit. Tiana menutup pintu kamar kemudian terdiam di belakang pintu. Gadis itu mengatur napasnya. Nyatanya, seterlatih apa pun Tiana mengendalikan perasaannya, ia tetaplah seorang gadis yang punya perasaan. Semakin lama punya rasa kadang tidak membuktikan bahwa kita semakin hebat mengendalikan. Tiana masih bisa berdebar hebat, seolah jantungnya bersiap untuk meninggalkan tempatnya. Rasa suka Tiana pada Djorka masih sebesar itu—lebih tepatnya jauh lebih besar dan terus membesar dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, alasan Tiana tidak pacaran hingga hari ini bukan hanya karena kedua orang tuanya dan juga pendidikannya, tapi juga karena hatinya sudah terlalu terkunci pada satu orang. Apakah Tiana begitu naif? Menyimpan cinta hanya pada satu orang dalam waktu sekian lama? Mungkin bisa dikatakan naif, tapi cinta yang Tiana rasakan pada Djorka itu berbeda, bukan cinta menggebu seperti ia ingin berlari memeluk pria itu. Bukan cinta menggebu seperti ia ingin habiskan waktu berjam-jam bersama Djorka. Atau pun seperti cinta menggebu di mana Tiana ingin Djorka memandanginya dan mengucapkan kalimat-kalimat manis padanya. Tidak. Cinta dan rasa Tiana tidak seperti itu. Kadang bagi Tiana melihat Djorka baik-baik saja sudah cukup. Mengetahui pria itu melewati harinya dengan sedikit senyuman. Melihat Djorka berhasil menyelesaikan pekerjaannya sesuai dengan yang ia harapkan. Bagi Tiana tak perlu berada di sisi Djorka saat pria itu menerima hadiah kemenangannya. Melihatnya dari jauh dan ikut bertepuk tangan pun sudah cukup. Sebab apa? Sebab Tiana menikmati rasa cintanya. Ia menikmati bagaimana ia bertumbuh bersama cinta itu. Ia mencintai Djorka untuk dirinya sendiri, bukan untuk siapa pun. Jadi jangan heran jika tak ada yang bisa menebak bahwa sebenarnya Tiana sudah menyukai Djorka sejak sangat lama, kecuali Ryuu dan Erian. “Tenang, Ti. Jangan kayak orang baru naksir kemarin sore.” Tiana menarik napas dalam. Gadis itu kemudian beranjak untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa. … Tiana memandangi dirinya di depan kaca. Semua sudah sesuai sepertinya. Tiana memutuskan untuk menggerai rambutnya. Ia mengenakkan kemeja hitam dengan celana jeans warna senada. Tiana memastikan lagi penampilannya. Mendengar pintu diketuk, Tiana beranjak untuk membuka. Ternyata Djorka ada di sana. “Eh, kenapa ke sini? Harusnya tadi chat aja, gue turun..” “Gpp..” Djorka tersenyum tipis. “Langsung berangkat?” Djorka mengangguk. Tiana mengambil tas dan mengenakkan sepatunya. Ia dan Djorka meninggalkan kamar gadis itu. Keduanya berjalan menuju parkir mobil. Sesekali mereka berpapasan dengan mahasiswa lain. Ada yang terlihat terkejut dan ada juga yang tersenyum menggoda keduanya. Djorka dan Tiana terlihat matching dengan pakaian serba hitam. Djorka melaju mobil setelah memastikan Tiana mengenakan sabuk pengaman. Mobil itu menjauh, kemudian melaju membelah jalan raya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN