BAB 2

602 Kata
Damian sama sekali tidak tidak terpengaruh oleh ancaman Bella apalagi kemarahannya. Pria itu justru bersandar santai pada kursi kebesarannya, menautkan jari-jarinya di atas meja dengan ketenangan yang luar biasa menjengkelkan. Sepasang matanya yang gelap bergerak lambat, menilai raut wajah Bella, perubahan napasnya, hingga ketukan jemari wanita itu yang gelisah di atas lutut. Dia sedang membaca Bella seperti membaca lembar laporan keuangan. Dan Bella membenci fakta itu. "Impulsif," ucap Damian datar, memecah keheningan dengan satu kata yang menghantam harga diri Bella. "Kau bertindak berdasarkan ego, bukan data. Itu kelemahan terbesarmu, Bella. Kau terlalu sibuk memakai perasaan untuk memimpin sebuah bisnis bernilai triliunan." "Aku memakai insting!" sergah Bella, tubuhnya condong ke depan, tangannya mencengkeram tepi meja mahoni Damian. "Insting yang membuat hotel ini bertahan sebelum kau datang dan merebut kursiku dengan manipulasi murahanmu!" "Insting tanpa angka itu namanya bunuh diri," balas Damian, suaranya tetap tenang, bahkan cenderung monoton, seolah dia sedang menceritakan cuaca hari ini. Dia menggeser sebuah tablet digital ke hadapan Bella. Di layarnya, grafik keuntungan Grand Vellara menunjukkan penurunan konsisten dalam dua kuartal terakhir. "Lihat ini. Ini kenyataan yang kau tutupi dengan narasi 'warisan keluarga'. Kau menolak berubah bukan karena setia pada konsep eksklusif, tapi karena kau takut gagal jika melangkah keluar dari zona nyamanmu." Mata Bella menyala. Kata-kata Damian tepat sasaran, merobek pertahanannya, dan itu memicu kemarahan yang membakar dadanya. "Kau tidak tahu apa-apa tentangku, Damian! Kau hanya orang asing yang datang dan entah bagaimana memanipulasi ayahku untuk mengambil alih hotel ini!" Satu alis Damian terangkat. Detik itu, Bella tahu dia baru saja melintasi batas. Sifat impulsifnya lagi-lagi membuat mulutnya bergerak lebih cepat daripada otaknya. Damian tidak membentak. Ekspresi wajahnya bahkan tidak berubah sedikit pun. Namun, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak turun hingga membeku. Damian berdiri perlahan, mengancingkan satu kancing jas abu-abunya dengan gerakan yang teramat rapi dan terkontrol. "Kau baru saja menghina pria yang mendirikan tempat ini, sekaligus menghina keputusannya memilihku," Damian melangkah memutari meja, gerakannya tenang namun terukur, mengurung ruang gerak Bella. "Aku punya pengalaman membalikkan keadaan tiga hotel bangkrut di Eropa dalam waktu kurang dari dua tahun, Bella. Jangan mempertanyakan kemampuanku ketika satu-satunya alasan kau masih duduk di perusahaan ini adalah karena nama belakangmu.” Damian berhenti tepat di samping kursi Bella, membungkuk sedikit hingga suaranya yang berat terdengar langsung di telinga wanita itu. "Kau mau tahu kenapa ayahmu menyerahkan takhta ini padaku dan bukan padamu?" Jantung Bella berdegup liar karena amarah yang tertahan. Dia mendongak, menantang tatapan sedingin es milik Damian dengan keberanian yang berusaha dipertahankan. "Aku tidak percaya —" Damian menyunggingkan seringai tipis, penuh kemenangan. Bella benar-benar tergoda untuk menghancurkan wajah itu dengan tinjunya. Atau cakarnya. "Karena dia tahu, di tanganmu, Grand Vellara akan hancur. Dan sekarang, aku punya satu kejutan kecil dari ayahmu yang akan membuatmu mengerti posisimu yang sebenarnya di sini." Bella menahan napas, tangannya mengepal begitu keras hingga kukunya memutih. "Apa maksudmu?" Damian menegakkan tubuh, menatap Bella dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang paling matang. "Mulai besok pagi, seluruh anggaran operasional untuk divisimu dibekukan, kecuali kau menandatangani persetujuan rebranding yang kuajukan tadi." "Kau gila?!" Bella memekik, langsung berdiri dari kursinya. "Kau tidak bisa melakukan itu! Itu pemerasan!" "Aku bisa," jawab Damian, berbalik memunggungi Bella seolah wanita itu bukan lagi ancaman yang berarti. "Dan aku baru saja melakukannya. Surat kuasanya ditandatangani langsung oleh ayahmu dua jam yang lalu. Pilihannya di tanganmu, Bells. Tunduk padaku, atau lihat divisimu mati kelaparan." Bella mematung, dadanya kembang kempis menahan gejolak emosi yang siap meledak, menyadari bahwa dia baru saja dijebak ke dalam permainan yang sejak awal tidak mungkin dia menangkan. Bella mengerang frustrasi. Kenapa pria kejam ini harus datang ke hidupnya dan menghancurkan segalanya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN