bc

The Princess and the CEO

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
arrogant
boss
drama
bxg
city
office/work place
enimies to lovers
like
intro-logo
Uraian

Ayahku mengirim seorang CEO asing untuk memimpin perusahaan yang seharusnya menjadi milikku.Aku membencinya sampai ke ubun-ubun. Dan aku bersumpah tidak akan berhenti sebelum dia angkat kaki.Tapi enam minggu kemudian, aku membuka surat dari ayahku.Dan ternyata Damian adalah...

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
"Aku tidak setuju dengan konsep yang kau tawarkan," ujar Bella, suaranya sedingin es. "Mengubah total desain logo dan warna perusahaan sama saja membuang identitas yang kita bangun belasan tahun. Kita ini hotel butik mewah, Damian. Bukan jaringan penginapan murah." Damian, CEO baru yang menduduki kursi yang seharusnya milik Bella, hanya mengangkat sebelah alis. Tatapannya meremehkan, tipe ekspresi yang selalu sukses membuat rahang Bella mengeras. Pria itu angkuh, dominan, dan sialnya memiliki otoritas penuh untuk mengacak-ngacak warisan keluarga Bella. "Justru itu masalahnya, Bella," Damian mencondongkan tubuh ke depan meja, mengunci tatapan Bella. "Pemikiranmu terlalu kaku untuk melihat realitas." "Hotel ini harus berkembang. Kita tidak bisa terus-terusan mengemis pada pasar elite yang makin sempit. Kalau kita tetap berpaku pada konsep eksklusivitasmu yang kuno, perusahaan ini stagnan dan mati." Bella mengepalkan tangan kuat-kuat di bawah meja. "Orang datang ke hotel kita justru karena mereka menginginkan pengalaman eksklusif yang tidak bisa dibeli di tempat lain. Kau tidak sedang memperluas pasar, Damian. Kau sedang menurunkan kelas kita." "Dan itulah alasan kenapa pertumbuhan kita tertinggal jauh dari kompetitor," balas Damian, suaranya beralih ke nada rendah yang sarat intimidasi. "Branding yang kau pertahankan itu sudah mati. Pilihannya hanya dua: adaptasi atau tersingkir." "Kau hanya melihat angka di atas kertas tanpa paham jiwa dari merek ini!" Bella berdiri, emosinya menyentak ke permukaan. Damian ikut bangkit dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap sengaja digunakan untuk menekan mental Bella. Ruangan yang ber-AC itu mendadak terasa menyesakkan. Tapi demi harga dirinya, Bella menolak mundur satu inci pun. Di sisi lain, orang-orang yang ikut dalam pertemuan kehendak ini hanya bisa menonton dengan mulut terkatup rapat, seolah satu kata saja salah bisa membuat ruangan meledak. "Aku CEO di sini," ucap Damian, mutlak tanpa celah. "Tugasku adalah memastikan perusahaan ini mendominasi, bukan merawat nostalgia keluargamu. Jika kau tidak bisa sejalan, maka menyingkir." "Kau harus melompatiku dulu kalau ingin menghancurkan tempat ini," desis Bella tajam. Keheningan yang mencekam pecah saat Damian melangkah memutari meja kayu mahoninya. Ketukan sepatunya terdengar seperti hitung mundur ledakan. Dia berhenti tepat di depan Bella, mengikis jarak hingga Bella bisa merasakan d******i mutlak yang memancar dari pria itu. Damian sedikit menunduk, menatap Bella tepat di manik mata. "Aku akan melewatimu, Bells. Dan kau tahu persis aku punya kuasa penuh untuk melakukan itu." *** "b******k!" Bella membanting pintu ruang kerjanya sendiri hingga berdentum keras. Amarahnya meledak. Dia berjalan mondar-mandir di atas karpet tebal, mengabaikan pemandangan kota di balik jendela besarnya. Damian adalah replika dari semua hal yang dia benci: arogan, berdarah dingin, dan sialnya, luar biasa cerdas secara taktis. Bella menghempaskan tubuhnya ke sofa saat pintu ruangannya diketuk. Wajah sekretarisnya muncul dengan ekspresi tegang. "Damian ingin kau ke ruangannya. Sekarang. Katanya mendesak." Bella memijit pelipisnya yang berdenyut. "Daddy masih belum bisa dihubungi?" "Belum, Tuan Vellara benar-benar memutus kontak." Bella mengepalkan tinju. Ayah kandungnya sendiri menyerahkan takhta perusahaan pada orang asing, dan sekarang menghilang tanpa kejelasan. Tapi Bella bersumpah tidak akan membiarkan Damian menang dengan mudah. Saatnya membalikkan keadaan. Dengan langkah tegas, Bella kembali menuju ruang kerja CEO. Sekretaris di depan ruangan hanya mengangguk ngeri melihat aura membunuh yang dibawa Bella. "Damian sudah menunggumu." Bella tidak akan mengakui ini terang-terangan bahkan jika dunia terbalik sekali pun, tapi Damian yang menolak keras dipanggil "Bapak, Sir, atau sebutan hormat lainnya" adalah satu hal yang mengundang rasa hormatnya pada pria itu. Tapi tentu saja Bella tidak akan pernah mengakuinya secara terang-terangan. Bella mendorong pintu hingga terbuka lebar. Di balik meja kerjanya, Damian tampak fokus membedah dokumen di layar komputer. Setelan jas abu-abu gelapnya terlihat rapi tanpa cela, memancarkan aura pemimpin yang kejam dan efisien. Pria itu bahkan tidak mendongak saat Bella masuk. "Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Duduk." Bella menarik kursi di hadapan Damian dengan kasar. "Ada apa?" Damian menutup berkasnya, tatapan cokelat gelapnya menghunus tajam. "Jangan pernah membuat keributan di rapat dewan seperti tadi. Aku tidak suka membuang waktu untuk debat kusir yang tidak perlu." "Aku akan terus menentangmu selama keputusanmu merugikan hotel ini," tantang Bella, membalas tatapan itu dengan keberanian penuh. Seringai sinis terbit di bibir Damian. "Kau tahu kau akan kalah, kan? Berhenti bertingkah kekanakan, Bella. Masih banyak pekerjaan riil yang harus kau selesaikan daripada terus-menerus mencoba menyabotase posisiku." "Aku tidak akan pernah tunduk pada kepemimpinanmu, Damian. Catat itu." Damian menopang dagunya, menatap Bella dengan binar kompetitif yang berbahaya. "Kita lihat saja, Bella. Saat aku membuatmu bertekuk lutut dan mengakui strategiku yang benar, aku akan memastikan kau melihat kekalahanmu dengan jelas." "Jangan mimpi," desis Bella. "Aku akan membuatmu angkat kaki dari perusahaan ini, ingat itu!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
678.8K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
918.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
326.8K
bc

Not just, the Beta

read
329.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook