bc

BALAS DENDAM PUTRI GANGSTER

book_age18+
42
IKUTI
1K
BACA
dark
HE
badboy
brave
bxg
campus
rebirth/reborn
musclebear
bodyguard
like
intro-logo
Uraian

"Apakah kau pernah mencintaiku?" tanya Rie penasaran. Perlakuan Kenji selama ini padanya, membuat Rie percaya bahwa Kenji tulus mencintainya.

"Dalam posisiku, wanita adalah nomor sekian, jadi matilah," ucap Kenji dengan dingin.

***

Rie menikah dengan Kenji dalam sebuah pernikahan aliansi untuk menyelamatkan organisasi ayahnya, pemimpin geng motor Fujiomi, yang baru saja meninggal. Awalnya, pernikahan ini tanpa cinta, tetapi perhatian dan kebaikan Kenji perlahan membuat Rie jatuh cinta pada suaminya. Namun, Rie tidak pernah menyangka bahwa semua itu hanyalah bagian dari rencana Kenji untuk mengambil alih geng motor Fujiomi.

Saat Rie akhirnya mengetahui kenyataan tersebut, Kenji berusaha membunuhnya. Rie dilindungi oleh Ryu, anggota geng motor Fujiomi. Dalam upaya menyelamatkan Rie, Ryu tewas. Sebelum meninggal, Ryu mengungkapkan perasaannya kepada Rie. Meski telah diselamatkan, Rie akhirnya tetap dibunuh oleh Kenji.

Takdir seakan memberi Rie kesempatan kedua. Dia terbangun kembali di masa lalu, sebelum ayahnya meninggal.

Dapatkah Rie mengubah takdirnya?

Lalu, bagaimana dengan kisah cintanya?

Siapa yang akan menjadi pilihan Rie?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Pernikahan Aliansi
"Apakah kau pernah mencintaiku?" tanya Rie penasaran. Perlakuan Kenji selama ini padanya, membuat Rie percaya bahwa Kenji tulus mencintainya. "Dalam posisiku, wanita adalah nomor sekian, jadi matilah," ucap Kenji dengan dingin. "Aku bersumpah tidak akan melepaskanmu, kau akan mendapatkan karmamu!" pekik Rie, air mata terus mengalir tanpa henti. "Aku tidak peduli." Kenji melepaskan tembakan tepat di kening Rie. Seketika Rie terjatuh ke belakang. *** Satu Tahun yang lalu. Seorang gadis cantik tengah menatap deretan tas-tas bermerek di depannya. Wajahnya terlihat bingung saat dia mencoba memutuskan mana yang akan dibelinya. Pelayan toko, yang sudah hampir satu jam meladeni gadis itu, mulai kehilangan kesabaran. Matanya sesekali melirik ke arah jam di dinding, berharap waktu akan bergerak lebih cepat. "Ryu, mana yang lebih bagus?" Gadis itu akhirnya memecah keheningan dengan menunjuk dua tas yang sedang dipertimbangkannya. Pria bernama Ryu, yang berdiri tak jauh darinya, hanya mengangkat bahu tanpa ekspresi. Jelas sekali bahwa dia tidak mengerti masalah tas atau fashion wanita. "Kau ini, pria dingin yang tidak bisa diandalkan," ejek gadis itu dengan nada yang setengah bercanda, setengah kesal. Dia mengerling ke arah Ryu, pengawal setianya yang tampak tak tergoyahkan dalam sikap dinginnya. Ryu adalah salah satu anggota geng motor yang dipimpin oleh ayah gadis itu. Hari ini, dia ditugaskan untuk mengawal gadis yang dikenal dengan nama Rie ini. Biasanya, tugas ini lebih sering jatuh pada anggota lain, tapi kali ini Ryu yang harus melakukannya. "Rie!" tegur Ryu, tak suka dengan ejekan gadis itu. "Pilih saja salah satu atau beli keduanya, lalu segera pergi dari sini," ucapnya tegas. Nada suaranya menunjukkan kebosanan yang tidak bisa disembunyikan. Ryu tidak pernah suka menemani Rie saat berbelanja, terutama ketika gadis itu tak henti-hentinya ragu dalam mengambil keputusan. Rie, putri dari pemimpin geng motor Fujiomi, dikenal dengan kegemarannya berbelanja. Apapun yang diinginkannya hampir selalu terpenuhi. Kehidupan mewah dan penuh kenyamanan adalah hal yang biasa baginya. Saat itu, ponsel Ryu berdering, mengganggu pikirannya. Dia segera mengangkat panggilan tersebut dengan raut wajah serius. "Apa? Baik, kami segera ke sana," jawab Ryu singkat, sebelum mematikan panggilan. "Ada apa?" Rie merasa cemas melihat ekspresi Ryu yang tiba-tiba berubah setelah menerima telepon. "Kita harus ke rumah sakit," kata Ryu, kali ini dengan nada yang tidak bisa ditawar. Dia segera menarik tangan Rie, mengajaknya meninggalkan pusat perbelanjaan tanpa menunggu persetujuan darinya. Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam ketika mereka melangkah keluar dari toko. Sesampainya di rumah sakit, Rie turun dari mobil dengan perasaan yang bercampur aduk. Sepanjang perjalanan, dia terus bertanya-tanya kepada Ryu siapa yang sakit, namun pria itu hanya diam, tidak memberikan penjelasan apapun. Mereka memasuki salah satu kamar di rumah sakit, dan Rie segera menyadari bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. "Nona Rie!" sapa salah satu anak buah ayahnya, yang berdiri di depan pintu kamar. Rie melangkah masuk dan langsung melihat ayahnya terbaring di atas brankar, tubuhnya bersimbah darah. Gadis itu segera berlari dan memeluk tubuh ayahnya yang tak bergerak. "Papa, apa yang terjadi? Jangan tinggalkan Rie!" isak Rie, suara tangisannya memenuhi ruangan. Dia mengguncang tubuh lemah ayahnya, berharap sang ayah akan terbangun, namun usahanya sia-sia. Rie tidak bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya telah tiada. "Tuan telah meninggal," sahut seorang pria yang berada di sana, mengkonfirmasi hal yang paling ditakuti Rie. Tangis Rie semakin pecah. Dunia terasa runtuh di sekitarnya. Bagaimana dia akan menjalani hidup tanpa ayahnya, sosok yang selama ini selalu memenuhi semua keinginannya? Dia terbiasa hidup di bawah perlindungan ayahnya, dan sekarang semua itu seakan menghilang dalam sekejap. Ryu, yang berdiri di dekatnya, melihat kondisi Rie yang terpukul. "Ayo, kita harus melaksanakan pemakamannya besok pagi. Sekarang sebaiknya kau istirahat," bujuk Ryu dengan lembut. Namun, tubuh Rie tetap tidak bergerak, seakan jiwanya telah ikut pergi bersama ayahnya. Akhirnya, dengan penuh kesabaran, Ryu menggendong tubuh Rie yang lemah dan membawanya pulang. Keesokan harinya, pemakaman dilakukan dengan penuh kesedihan. Rie berdiri di depan makam ayahnya, air mata masih terus mengalir di pipinya. Baru setelah prosesi selesai, dia diberitahu tentang penyebab kematian ayahnya. Ternyata, ayahnya meninggal karena pertempuran antara geng motor Fujiomi yang dipimpin langsung ileh ayahnya melawan geng motor Kobayashi. Banyak anggota geng yang mati dan terluka dalam pertempuran tersebut. "Kenapa Papa harus terjun langsung?" tanya Rie dengan suara bergetar kepada Jiro, pria paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai pamannya sendiri. "Kau tahu bagaimana watak papamu. Dia tidak suka diremehkan," balas Jiro, yang merupakan tangan kanan ayah Rie. "Biasanya, Papa selalu mengutus yang lain untuk memimpin. Lalu, mengapa sekarang harus turun tangan?" Rie masih tidak bisa memahami keputusan ayahnya. Air mata kembali mengalir di pipinya saat dia duduk lemah di depan foto ayahnya. Para pelayat datang silih berganti, menyampaikan belasungkawa, namun Rie merasa hatinya kosong. "Mereka memang meminta Tuan langsung yang turun tangan," sahut Jiro, yang juga merasakan kehilangan mendalam. Dia ingat bagaimana dia berusaha membujuk ayah Rie untuk tidak memimpin langsung pertempuran itu, namun usahanya sia-sia. Saat itu, seorang pria masuk ke ruangan dan membisikkan sesuatu kepada Jiro. Pria paruh baya itu kemudian meminta izin kepada Rie untuk meninggalkannya sebentar. Jiro dan pria itu berbicara sejenak, sebelum Jiro kembali dengan wajah yang lebih serius. Ryu yang sudah berada di ruangan itu ikut bergabung. "Tenanglah, Rie. Aku akan menjagamu," ucap Ryu sambil meraih tangan Rie, berusaha memberikan kekuatan kepada putri bosnya itu. "Terima kasih, Ryu. Kau memang selalu baik," jawab Rie dengan suara yang lemah. Namun, suasana tenang itu tidak berlangsung lama. Jiro, yang kini duduk di depan Rie, mengangkat pandangannya. "Rie, kita ada masalah," katanya pelan namun tegas. "Paman, apa tidak sebaiknya nanti saja kita membicarakan masalahnya? Rie masih syok dengan kematian ayahnya," sahut Ryu, yang sudah menduga bahwa masalah besar akan datang. Dia sempat mendengar percakapan Jiro dengan pria tadi dan tahu bahwa situasi geng motor Fujiomi sedang dalam krisis. "Tapi, ini harus dibicarakan segera," ujar Jiro dengan nada yang tidak bisa ditolak. "Ada apa, Paman?" Rie merasa perasaannya semakin tidak tenang. Melihat Jiro yang tampak sangat khawatir membuatnya lebih cemas. Dia bisa merasakan bahwa masalah yang akan dibicarakan ini bukanlah hal kecil. Rie mendesak, "Katakan saja, Paman. Apa hal terburuk yang bisa terjadi selain kematian Papa?" Jiro menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengungkapkan hal yang paling tidak ingin didengarnya, "Nona harus menikah dengan putra kedua dari geng motor Nakamura." "Apa?" serempak Rie dan Ryu, terkejut mendengar ucapan itu. Baik Rie maupun Ryu tidak menyukai ide tersebut. Bagaimana mungkin Rie menikah dengan pria yang tidak dicintainya, bahkan belum pernah ditemuinya? "Kenapa harus menikah?" Rie bertanya dengan suara yang penuh keterkejutan. "Hanya itu satu-satunya cara agar geng motor Fujiomi keluar dari krisis. Jika tidak, organisasi akan musnah," lanjut Jiro tanpa ragu. Rie merasa hatinya semakin berat. Di satu sisi, dia belum siap untuk menikah, apalagi menikah dengan pria yang tidak dikenalnya. Di sisi lain, dia tidak tega melihat organisasi yang telah dibangun ayahnya hancur. Membiarkan itu terjadi akan menjadi penyesalan seumur hidupnya. "Jadi ini pernikahan aliansi?" tanya Rie, suaranya bergetar. "Ya," jawab Jiro singkat. Dia tahu betapa berat keputusan ini bagi Rie. Namun, dia juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan organisasi. "Baiklah," putus Rie akhirnya, meskipun hatinya penuh dengan keraguan dan kecemasan. "Rie! Kau tak perlu melakukan itu, kita akan mencari cara agar situasi ini kembali normal," bujuk Ryu. Dia tidak rela jika Rie, gadis yang diam-diam disukainya harus menikah dengan Kenji, putra dari geng motor Nakamura. Ryu tahu Kenji bukan pria yang baik untuk Rienya dan memang tidak ada pria baik yang pantas selain dirinya. Juga Ryu mencium sesuatu yang aneh dengan kematian ketua geng motor. "Jangan ikut campur, Ryu. Kau tidak tahu apa-apa. Ini adalah jalan terbaik yang harus dilakukan nona Rie." Jiro mematahkan perkataan Ryu. Mereka harus menyelamatkan organisasi dan hanya ini caranya. "Tapi, Paman. Rie masih muda, dia tidak mengerti dengan organisasi. Apa tidak sebaiknya, kita mencari tahu permasalahannya dulu." Ryu mencoba membujuk Jiro. Bagaimana mungkin dia membiarkan gadis yang dicintainya menjadi korban. "Tenanglah, Ryu.! Aku akan baik-baik saja. Aku akan menyelamatkan organisasi. Aku tidak akan membiarkan apa yang telah dibangun papa hancur begitu saja," putus Rie. Dia berdiri dan meninggalkan ruang kerja ayahnya. Rie telah memantapkan hati untuk menikah dengan pria asing itu yang bahkan namanya saja belum diketahui oleh Rie. -TBC-

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Wolf Alliance Series : The Path of Conquest

read
42.4K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.9K
bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
8.8K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.0K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

TERNODA

read
201.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook