Bab 3. Kenyataan Pahit

1315 Kata
Setelah upacara pernikahan, Rie langsung diboyong oleh Kenji ke apartemennya. Ruangan itu mencerminkan kesan maskulin yang kuat, dengan dinding bercat abu-abu dan sprei yang senada. Aroma khas kayu dan kulit mengisi udara, menegaskan bahwa tempat ini sepenuhnya milik seorang lelaki. Kenji berpamitan kepada Rie, mengatakan bahwa ia harus menerima telepon dari ayahnya. Rie hanya mengangguk, lalu mulai memperhatikan sekitar, mencoba memahami dunia yang baru saja ia masuki. Pikiran Rie berkelana, bertanya-tanya mengapa Kenji bersedia menikahinya. Pertanyaan itu membuat hatinya tidak tenang. Mungkinkah Kenji memiliki seorang kekasih yang dirahasiakan? Rie merasakan kecemasan kecil yang mengusik di dalam dirinya. Dia membuka kopernya, mencari pakaian yang nyaman untuk dikenakan. Pernikahan mereka terlalu mendadak; Rie bahkan belum sempat mempersiapkan pakaian untuk malam pertama mereka. Gadis itu menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran yang mengganggu. Dia belum mengenal Kenji dengan baik, dan ide untuk berbagi malam pertama dengan pria yang hampir asing baginya terasa sangat memberatkan. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, Rie keluar dan mendapati bahwa Kenji masih belum kembali ke kamar. Dia mengenakan baju tidur sederhana yang dimilikinya, merasa belum siap untuk memasukkan pakaiannya ke dalam lemari Kenji. Meskipun mereka telah menikah, Rie merasa perlu untuk meminta izin terlebih dahulu. Dia tidak ingin terlihat tidak sopan. Lelah setelah hari yang panjang, Rie akhirnya memejamkan mata dan mencoba tidur. Namun, baru saja kantuk menyerangnya, pintu kamar terbuka, dan Kenji masuk ke dalam. Rie membuka matanya lagi dan duduk bersandar di kepala tempat tidur. "Oh, maaf, apakah aku mengganggu tidurmu?" Kenji bertanya, nada suaranya terdengar menyesal saat dia menutup pintu dengan pelan. "Tidak, aku belum tertidur," jawab Rie sambil mencoba bangkit dari ranjang. "Jika kau lelah, tidurlah saja. Aku akan mandi dan segera tidur juga." Kenji mencegah Rie untuk bangkit, tangannya terulur lembut, memberi isyarat agar Rie tetap beristirahat. "Tidak apa-apa, aku akan menyiapkan pakaianmu," Rie bersikeras, menurunkan kakinya ke lantai dan berdiri. "Tidak perlu. Kau pasti belum terbiasa. Kali ini biar aku saja yang mengurus. Besok aku akan membawamu berkeliling apartemen," Kenji menjelaskan dengan tenang sambil mengambil pakaian dari lemari serta handuk bersih. Dia kemudian langsung menuju kamar mandi. Sementara menunggu, Rie kembali naik ke ranjang dan mengambil sebuah novel dari kopernya. Dia membolak-balik halaman tanpa benar-benar membaca, pikirannya terus melayang pada situasi yang kini dihadapinya. Tidak lama kemudian, Kenji keluar dari kamar mandi dengan mengenakan piyama tidurnya, rambutnya masih basah. Dia meletakkan handuk ke dalam keranjang pakaian kotor, semua gerakannya diamati oleh Rie tanpa sadar. Kenji melangkah mendekati ranjang, duduk di tepinya dan menghadap ke arah Rie. "Aku tahu kita belum saling mengenal dengan baik, mungkin kau merasa tidak nyaman berada di dekatku. Jadi, aku putuskan kita tidak akan melakukan malam pertama sampai kau siap," ucap Kenji dengan lembut, suaranya penuh perhatian. Dia mengusap lembut jemari tangan Rie. Rie mengangguk, merasakan ketulusan dalam sikap suaminya. Dia menilai Kenji sebagai pria yang menghormati wanita dan penuh perhatian. Rasa syukur muncul di dalam hatinya. "Terima kasih," ucap Rie pelan. "Untuk sementara waktu, aku akan tidur di kamar lain, agar kau bisa memiliki privasi sendiri. Perlahan kita akan saling mengenal dan, siapa tahu, mungkin saling jatuh cinta," Kenji tersenyum lembut ke arah Rie, tangannya mengusap pucuk kepala Rie dengan penuh kasih. Melihat senyuman dan perhatian Kenji, membuat Rie merasa nyaman. Ternyata pria yang dinikahinya tidak seburuk yang ia bayangkan. Rie mulai merasa bersyukur karena telah dinikahkan dengan Kenji. Setelah itu, Kenji keluar dari kamar dan tidur di kamar lain. Rie menatap pintu yang tertutup dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lega, tetapi juga ada sedikit kekosongan yang tidak bisa ia jelaskan. *** Satu tahun telah berlalu sejak pernikahan Rie dan Kenji. Meskipun mereka masih tidur terpisah, hubungan mereka berkembang seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Kenji selalu memperlakukan Rie dengan lembut, seperti wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati. Setiap bulan, Kenji tidak pernah lupa untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka dengan memberikan hadiah spesial untuk Rie. Perhatian Kenji yang luar biasa membuat Rie akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya menerima perannya sebagai istri yang baik dan calon ibu. Geng motor Fujiomi juga kini berada di bawah kendali Kenji, memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan lancar. Namun, di tengah kebahagiaannya, Rie mulai merasakan kehadiran kekosongan. Sejak menikah, dia tidak pernah lagi bertemu dengan Ryu. Setiap kali Rie mengunjungi rumah lamanya, Ryu selalu tidak ada di sana. Pikiran itu terus menghantuinya, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Ryu dan ke mana pria itu pergi. Rie merasa rindu pada kehadiran sahabat masa kecilnya itu, meskipun dia mencoba untuk menepis perasaan itu. Malam ini tepat satu tahun sejak pernikahan mereka, dan Rie telah siap memberikan seluruh hati dan tubuhnya kepada sang suami. Rie mempersiapkan makan malam yang ia masak sendiri, menata meja dengan rapi dan hangat. Ia berencana memberikan kejutan manis kepada Kenji. Bel apartemen berbunyi, dan senyum menghiasi wajah Rie. Dia yakin yang datang adalah suaminya. Namun, saat dia melihat layar interkom, alisnya terangkat. Yang datang bukanlah Kenji, melainkan Ryu. Meskipun tidak sesuai dengan yang diharapkannya, perasaan senang tetap mengalir dalam dirinya. Sudah satu tahun sejak terakhir kali ia bertemu dengan Ryu. Dengan cepat, Rie membukakan pintu dan tanpa ragu, ia memeluk Ryu erat. "Aku rindu padamu. Mengapa kau menghilang?" Rie berkata sambil melepaskan pelukannya. "Maaf, aku hanya sedang sibuk mencari bukti," jawab Ryu dengan nada serius, matanya penuh dengan tekad. Ia tahu bahwa Kenji tidak ada di rumah, sehingga ia bisa berbicara lebih leluasa dengan Rie. "Ayo masuk!" ajak Rie, menarik Ryu masuk ke dalam apartemen. Ryu memperhatikan penampilan Rie malam ini. Gadis itu terlihat begitu cantik dengan pakaian yang ia kenakan. Sebenarnya, di mata Ryu, Rie selalu tampil menawan, tak peduli dalam keadaan apa pun. Mereka duduk di ruang tamu, Rie di kursi utama, sementara Ryu di sampingnya. Rie tak dapat menahan diri untuk memasang wajah cemberut. "Ke mana saja kau selama ini?" tanyanya. "Rie, dengar! Aku menghilang karena aku ingin mencari tahu penyebab kematian Paman Ryoto." Suara Ryu tegas, meskipun ia masih merasa berat untuk mengatakan yang sebenarnya. "Apa kau mendapatkan informasi tentang itu?" Rie menatap Ryu dengan intens, menunggu jawaban. "Ya, kematian Paman Ryoto telah direncanakan." Ryu menggantungkan ucapannya, membiarkan ketegangan menguasai ruangan sejenak. "Kau percaya padaku, bukan?" lanjut Ryu, suaranya lebih lembut. "Tentu saja," jawab Rie tanpa ragu. "Dalang di balik pembunuhan itu adalah suamimu. Kenji bekerja sama dengan geng motor Kobayashi untuk mengambil alih Fujiomi," ungkap Ryu dengan nada penuh kepedihan. Rie membeku, menatap Ryu tanpa berkedip. "Tidak, itu tidak benar," ucapnya dengan suara bergetar. Bagaimana mungkin Kenji, suami yang begitu perhatian dan baik padanya, bisa melakukan hal sekeji itu? "Lihat ini," Ryu merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen serta sebuah ponsel. "Aku menghilang untuk mencari bukti-bukti ini." Ryu menunjukkan bukti-bukti kejahatan Kenji, termasuk rekaman video Kenji dan ayahnya yang sedang membicarakan rencana untuk menikahi Rie hanya demi mengambil alih geng motor Fujiomi. Rekaman itu menunjukkan bahwa Kenji tidak bisa mengambil alih tanpa menikahi putri pemimpin geng tersebut. Rie merasa dunia seolah berputar di sekelilingnya. Tangannya gemetar saat mengambil ponsel dari tangan Ryu dan mendengar percakapan Kenji dan ayah mertuanya. "Aku akan menemui Kenji." Rie berjalan keluar dengan marah membawa bukti-bukti tersebut ke kantor Kenji. "Aku akan mengantarmu." Sesampai di kantor Kenji. Rie langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. "Rie ada apa?" tanya Kenji heran dengan kedatangan Rie yang penuh amarah. Rie melempar bukti-bukti tersebut ke atas meja kerja Kenji. Pria itu melihat apa yang diberikan Rie. Wanita itu masih berharap bahwa Kenji akan menyangkalnya. "Jadi kau telah mengetahuinya?" Senyum mengejek dari Kenji. "Apa?" Rie tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Kebahagiaan yang sempat dia rasakan seketika runtuh mendengar kejujuran Kenji. "Sayang sekali, padahal jika kau tidak mengetahuinya, kita pasti akan hidup bahagia," jujur Kenji karena selama berpura-pura mencintai Rie, tanpa Kenji sadari dia telah jatuh cinta kepada Rie. Namun, organisasi dan kekuasaan lebih penting daripada seorang wanita. "Karena kau telah tahu, maka kau tidak dibutuhkan lagi." Ucapan Kenji membuat kesadaran Rie kembali. "Apa maksudmu?" Rie menjauh dari Kenji. "Bukankah kau menyayangi ayahmu? Aku akan mebawamu padanya." -TBC-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN