Rasa kasur yang empuk ini membuat tulang punggungku jadi lebih baik. Orang yang menyelamatkanku terlihat sedang mondar-mandir di ruangan ini, dia seperti mencari sesuatu. Suasana kamar yang remang-remang mempersulit pandanganku. Aku mencoba untuk bangun, setidaknya duduk. Saat perutku tertekuk, aku merintih karena rasa perihnya. Orang itu mendengar rintihan nyaringku dan langsung menghampiri. “Kenapa kau bangun?” tanyanya, dengan sedikit membentak. Aku ingin membentaknya balik, dia beruntung karena aku masih lemah. Samar-samar indera pendengaranku mulai kembali, terdengar suara beling saling berbenturan kecil manjadi latar musik disini. Semua inderaku mulai kembali berfungsi, perlahan-lahan rasa kebas itu hilang. Mataku mulai bisa mengenali benda-benda di sekelilingku. Ini kamar, ada m

