Seperti biasa, alarm Asyira selalu membangunkan kami di pagi hari. Tapi yang tidak biasa adalah, Ginny yang bangun pertama kali. Senyumnya terkembang ketika duduk di pinggir ranjangnya dan memeriksa ponselnya, lalu dia berdiri dan melompat-lompat. Rambutnya yang bergelombang dan masih berantakan berterbangan, membuat Ginny tampak seperti hantu yang kebanyakan menghisap g***a.
“Ginny kenapa?” tanya Renee sambil menguap.
Kami semua memandangi Ginny dengan aneh, sampai dia berhenti melompat-lompat. “Periksa ponsel kalian, sepertinya Anna dan Alex bekerja lembur tadi malam.” Kata Ginny.
Aku mencari-cari ponselku didalam laci meja kecil disamping ranjangnya, ketika menemukannya aku langsung memeriksa vice noteku. Benar saja, ada kiriman dari Anna. Ketika aku mendengarkannya, aku bisa mendengar suara Anzor dan suaraku disitu. Astaga, aku tidak menyangka akan berlangsung secepat ini.
“Pembalasan yang manis kan Liz?” tanya Megan, mengangkat sebelah alisnya.
Aku tersenyum setengah, “Sangat manis.”
Kami pergi mandi terburu-terburu, ada sesuatu yang sangat ingin kami lihat secepatnya. Siapa lagi kalau bukan Sam. Saat kami keluar dari kamar asrama dan ingin makan siang, suara bisik-bisik terdengar lagi. Tapi kali ini berbeda dari yang terkahir kudengar, mereka membicarakan betapa menyedihkannya hidup Sam.
Emily dan Lily menghampiri kami saat dimeja makan, Lily memelukku senang. “Selamat Liz.” Katanya, walau aku tidak mengerti arti selamat yang dia katakan.
“Senang juga ada yang melakukan itu pada Sam.” Kata Emily.
Jade dan Irina datang bersamaan menghampiri kami. “Kalian tahu siapa yang melakukan ini?” tanya Irina dengan wajah polosnya.
Jade memutar matanya, “Aku tahu kalian merencanakan sesuatu, tapi aku tidak menyangka akan sehebat ini.” Jade memukul-mukul punggungku dengan cara yang halus.
“Ini ide mereka, aku hanya korban.” Kataku, tertawa.
“Menurutmu ini terlalu terlihat jelas?” tanya Asyira, ada sedikit nada takut di suaranya.
Jade menggeleng. “Kurasa tidak, aku tahu karena aku mengenal kalian sedikit lebih baik daripada mereka.” Katanya.
Jade, Lily, Emily dan Irina duduk bersama kami. “Menurut kalian Sam masih sanggup mengangkat kepalanya?” tanya Emily.
Ginny tertawa besar-besar. “Kupikir dia tidak akan masuk hari ini.”
“Setidaknya ada yang membalaskan dendam Ella.” Kata Lily.
Asyira tiba-tiba tertegun. “Kuharap kejadian yang pernah terjadi pada Ella tidak pernah terulang lagi.” Asyira menatapku.
Mata Renee membulat. “Oh astaga.” Dia menutup mulutnya.
Semua mata mengikuti kemana arah mata Renee melihat dan aku melihat Sam yang masuk keruang makan. Dia tidak menuju mejanya, bersama Jane dan Eva mereka menghampiri meja kami. Mata Sam terlihat sangat marah, dia mengumpat dengan nyaring dan jelas sekali itu diarahkan padaku. Ketika dia sampai padaku, tangannya menarik blazerku sehingga aku terseret dari kursiku.
“Kau p*****r menjijikan.” Jeritnya didepan wajahku.
Aku berusaha melepaskan tangannya dari blazerku, “Kau lebih menyedihkan dariku Sam.” Desisku. “Terima saja, kau kalah. Seharusnya kau sadar, tidak semuanya menginginkanmu atau memujamu Sam.” Kataku tajam. Sam terlihat kaget mendengar perkataanku. “Kau sudah tahu itu.”
Mendengar itu, tangan Sam terangkat. Tapi sebelum tinju Sam membuat memar di wajahku, aku mendorongnya sehingga dia terhuyung-huyung kebelakang. Mendapat sedikit jarak dari amukan Sam, aku membenarkan seragamku dan mengambil napas. Eva dan Jane membantu Sam agar berdiri tegak, “Kau tidak apa?” tanya Jane pada Sam.
“Asal kau tahu, aku sudah membuktikan bahwa cowok yang selalu kau bela,” aku menunjuk Anzor yang sedang berdiri mematung, menonton kami bertengkar. “dia sama sekali tidak pernah menyukaimu. Bukan aku pelacurnya disini Sam, aku tidak pernah mengejar-ngejar cinta Anzor. Dia yang mengejarku. Siapa pelacurnya disini, siapa yang mengejar seorang cowok yang bahkan tidak mencitainya? Kau, Sam. Kau lah p*****r yang sebenarnya disini.” Kataku, terdengar berani dan menantang.
Sam menjerit, dia berlari kearahku dan menghamtamku. Kurasakan lututnya di perutku dan tangannya yang menarik rambutku dengan sangat keras. Aku jatuh tersungkur kebawah dengan tubuh Sam menindihku, aku mendorongnya sekuat tenaga hingga aku bisa bangun. Renee membantuku berdiri, dia dan Asyira memegangi lenganku. Sementara Ginny berdiri didepanku dan Megan berdiri disamping Renee. Aku merasa lebih kuat sekarang, karena aku tahu teman-temanku akan selalu membantu dan melindungku.
“Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan Sam, sekarang pergilah dari hadapan kami.” Kata Ginny tanpa sedikitpun terdengar ragu atau takut yang terselip disetiap katanya.
Kulihat Noah juga telah bergabung disini, dia terlihat terkejut dengan pemandangan ini. Noah melepaskan tangan Asyira yang menopangku, dia menggantikannya dan membawaku pergi dari ruangan ini. “Demi tuhan Liz, kenapa kau selalu menjadi biang keributan di ruang makan?” tanya Noah sambil terus membawaku.
“Aku tidak menyulut keributan, tapi Sam.” Kataku, membela diri.
“Tentu saja dia marah.” Katanya.
“Kau menerimanya juga?” tanyaku kaget.
“Aku mendengarnya dari ponsel Paul.” Dia mendudukannku disebuah kursi santai di lorong, aku tidak tahu lorong mana ini dan aku tidak perduli. Noah merapihkan rambutku yang kusut dibeberapa bagian. “Jadi ini yang kau dan teman-temanmu rencanakan, membuat Sam marah?”
“Kami hanya ingin membuatnya malu, itu saja.” Kataku.
“Tapi tidak seperti ini caranya, Liz.”
“Aku tidak memintamu untuk setuju atau mendukung apapun yang aku lakukan Noah. Tidak perlu menasihatiku, aku muak selalu dinasihati.” Kataku, menepis jemarinya dari rambutku.
“Yang ingin kulakukan adalah menjauhkanmu dari masalah. Tapi dengan semua yang kaulakukan, kaulah masalahnya Liz.” Noah menarik napas dalam.
“Terimakasih.” Kataku, bangun dan hendak meninggalkannya.
“Liz,” Noah menarik pergelangan tanganku sebelum aku sempat melangkah. “Kumohon, duduk dulu sebentar disini.”
“Untuk apa, mendengarmu memarahiku?” kataku.
“Bersamamu membuatku tenang, kumohon.” Katanya.
Aku menggerang. “Baiklah.” Aku duduk.
“Aku tidak perduli kau ini pembuat masalah atau bukan, yang jelas aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Ini bukan tentang janjiku, sekalipun aku tidak berjanji aku akan selalu tetap bersamamu. Kau membuat pikiranku jernih walaupun kutahu pikiranmu sama sekali tidak pernah jernih.” Dia menunjuk pelipisku dengan jari telunjuknya sambil tertawa.
“Hentikan.” Aku ikut terkekeh.
“Hanya saja, tolong kurangi sedikit keonaranmu. Aku khawatir aku tidak disana saat kau membutuhkanku.” Katanya.
Aku menghembuskan napas. “Akan kucoba.”
Noah ragu-ragu, “Liz.” Panggilnya.
“Hmm?”
“Jadi kau tidak sungguhan dengan Anzor?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Tidak. Dan maaf tidak memberitahumu yang sebenarnya tentang itu, aku membuatmu khawatir ya?”
“Sekarang sudah tidak.” Jawabnya.
Aku menaruh kepalaku di bahunya, satu hal yang senang kulakukan saat bersamanya. Dan ketika aku melihat Profesor Green datang, dia berdeham saat melihat kami. “Miss. Irsham, Mr. Turner, bukankah kalian ada kelas untuk dihadiri sekarang?”
Kami lantas berdiri dan mengangguk kecil. “Kami akan segera pergi, permisi Profesor.” Kata Noah dan menarikku pergi dari hadapan Profesor Green, yang agak menyeramkan kalau sedang marah.
Hari ini dikelas, Sam selalu melihatku dengan tatapan kematiannya. Aku mengabaikannya, begitu juga dengan para sahabatku. Walaupun Ginny dan Megan sempat menyindir Sam dengan terang-terangan seusai kelas Sains.
Dan akhirnya tiba saatnya untuk kelas lapangan, yang aku sama sekali tidak tahu kalau materi hari ini adalah seni bertarung. Kami mengganti pakaian dengan pakaian olah raga, duduk melingkari sebuah matras hitam. Aldo berdiri ditengah-tengah, tampak gagah dan tampan dengan kemeja putihnya yang lengannya digulung. Tangan Aldo dimasukan di saku celananya, dan mulai mengoceh tentang pelajaran.
Dan sampai akhirnya Aldo mulai memanggil nama kami satu persatu-persatu, bertarung satu lawan satu. Ginny bisa dibilang adalah murid terpandai dalam bidang ini, dia sudah mengalahkan Jane dan Logan. Jane harus dibawa keruang perawatan setelah bertarung dua menit dengan Ginny, mungkin ada tulang yang bergeser. Jelas Ginny tidak bisa kukalahkan dan aku tidak ingin macam-macam dengannya, tapi aku juga merasa aman jika bersamanya.
Saat Asyira harus melawan Eva, dia kalah dengan beberapa luka memar dibagian wajah. Asyira memang tidak terlalu suka dengan bertarung, dia sedikit lembut untuk jadi mata-mata. Asyira kembali duduk dengan napas yang tersenggal-senggal, tapi dia masih bisa tersenyum kearahku menandakan dia baik-baik saja.
Dan ketika Anzor melawan Edward, Anzor babak belur. Anzor mendapat pukulan telak berkali-berkali, dan berkali-kali pula dia jatuh. Aku tidak tahu apa yang terjadi, karena yang kutahu Anzor juga salah satu petarung terbaik di kelas. Anzor tidak fokus, dia tidak perduli dengan pertarungannya ataupun kondisi tubuhnya yang hampir jadi perkedel. Dan saat Aldo menghentikannya, aku merasa lega. Aku tidak bisa lagi melihat Anzor dipukul, ditendang atau dibanting. Ada perasaan bersalah pada diriku, atau pikiran negatif yang terus menerus mengatakan kalau ini semua salahku. Anzor di habisi di oleh Edward karena kesalahanku. Dan ketika Anzor duduk dan melihatku, aku memalingkan wajahku.
Aku mencoba mengenyahkan pemikiran itu dan kembali fokus pada pertarungan yang terjadi didepanku. Pertarungan antara Noah dan Caleb, menurutku adalah yang paling keren. Noah sangat sulit dikalahkan, tapi Caleb juga bukan orang yang gampang menyerah. Mereka saling menarik dan saling memukul dengan gerakan yang sangat cepat, berputar mencari celah dimana mereka bisa menjatuhkan lawan didepannya. Pertarungan dihentikan, mereka seri.
Dan saat namaku dipanggil, begitu juga dengan nama Jacob. Aku sedikit takut saat tahu harus berhadapan dengan Jacob, dia cowok yang kuat. Tapi tiba-tiba Sam mengangkat tangannya dan mengajukan diri menjadi lawanku kali ini. Ketika Aldo menyetujuinya, aku benar-benar takut. Sam akan mencincangku dan menjadikanku lasagna yang baru keluar dari oven.
Bukan hanya aku yang ketakutan, wajah Asyira sudah memucat. Saat Aldo memulai pertarungannya, aku hanya bisa percaya dengan kemampuanku yang sebenarnya payah. Aku melirik kearah Noah, berharap bisa menumbuhkan semangatku ketika melihat wajahnya. Noah sedang melihat kearahku, bahunya kelihatan naik turun mungkin karena lelah. Saat melihat Noah, aku tidak sadar kalau Sam sedang melayangkan pukulannya. Aku mengangkat tanganku hendak menangkisnya, tapi terlambat. Tinju Sam mengenai wajahku, aku terjerembab kebawah.
Sam tidak berhenti sampai disitu, dia menarikku sampai aku berdiri dan menendangku dibagian perut dan membantingku sampai aku jatuh lagi. Aku mengambil napas dengan susah payah, susah payah juga untuk bangkit lagi. Aku melihat wajah Sam yang penuh dengan kemarahan, aku tahu dia sedang melampiaskan kemarahannya sekarang. Tapi aku tidak ingin menjadi samsak hidup untuk Sam, jadi kali ini aku menyerangnya.
“Ayo Liz.” Terdengar teriakan dari Ginny. Aku melayangkan pukulan ke perutnya. Tapi Sam hebat dan lebih berpengalaman dariku, dia menghindar dan menarik bajuku. Lalu dengan keras dia memukul kepalaku dengan sikutnya, telingaku berdenging medapat pukulan keras dan telak darinya. Penglihatanku berputar dan pandanganku kabur, aku mencoba menyerang dengan membabi buta dan tidak ada satupun yang mengenainya. Sam memukuliku dengan mudah, menendangku dengan keras sampai dia menjatuhkanku lagi.
Aku mencium bau amis garam dan besi berkarat, sesuatu yang hangat dan kental terasa keluar dari hidungku. Aku menyekanya dan melihat banyak darah di tanganku, aku tercekat sekaligus ngeri. Kepalaku berputar dan aku tidak bisa bangkit lagi. Samar-samar aku melihat Sam mengangkat kakinya, dan menginjak kakiku. Terdengar suara berderak yang cukup keras, disusul dengan rasa sakit yang teramat sangat di kakiku. Aku menjerit dengan nyaring, hampir menangis juga. Lalu kulihat Aldo masuk ke arena, berjongkok di sampingku. Bukan aku saja, Noah, Ginny, Asyira bahkan Jade juga langsung menghampiriku. Aku mendengar namaku dipanggil-panggil tapi semakin lama pandanganku semakin gelap.
Seseorang menggendong tubuhku, membawaku. “Liz, bertahanlah.” Itu suara Aldo. Kakiku yang terayun-ayun terasa sangat sakit, begitu juga dengan hidungku yang terasa seperti terbakar.
“Bawa dia ke UGD.” Teriak seseorang yang suaranya tidak bisa kukenali.
Aku menggerang kesakitan, tanganku mencengkram kemeja Aldo. “Bertahanlah, kau akan baik-baik saja.” Suara Aldo lagi.
Ketika aku ditaruh disebuah benda yang empuk, terdengar banyak suara langkah kaki yang mendekat kearahku. Tangan-tangan dingin mulai menyentuhku dan sesuatu yang tajam menembus kulit ditanganku. Kesadaranku mulai hilang timbul sampai aku benar-benar tidak sadarkan diri.
***
Suara hembusan napas di sampingku benar-benar menganggu, suaranya tepat di telingaku. Aku memaksakan mataku agar terbuka, perlahan-lahan. Dan yang kulihat adalah sebuah langit-langit berwarna putih, didepanku ada tirai warna kuning pucat. Jelas sekali aku berada di ruang perawatan. Aku menyentuh kepalaku yag terasa gatal, merasakan sebuah kain yang melilit kepalaku. Aku menekan-nekan beberapa bagian kepalaku dan menggerang tertahan saat menemukan beberapa titik sakitnya. Aku juga menyadari pakaian olahragaku sudah digantikan dengan pakaian rumah sakit yang tipis dan beraroma alkohol khas rumah sakit.
Aku menggerakkan leherku kesamping dan menemukan seorang cowok yang tertidur, wajahmya ditutupi oleh tangannya yang dijadikan bantal. “Noah?” panggilku.
Aku menyentuh rambut cowok ini, membuatnya terbangun. Aku terkejut dia bukan Noah, tapi Aldo. Aldo terbangun tapi matanya masih setengah terpejam, bibirnya masih mengendur dan menganga. Dia mengerjap beberapa kali dan akhirnya bisa sadar sepenuhnya. “Astaga Liz, kau sudah sadar?”
“Jam berapa ini?” tanyaku.
Aldo melihat arloji ditangannya. “Satu malam.”
Aku menghitung dalam hati. “Yang benar? Aku pingsan selama itu?”
“Kau tidak pingsan Liz, kau hampir kritis tadi.” Katanya.
Aku terkejut dan ketika hendak duduk, aku merasa ada yang aneh pada kakiku. “Aku tidak bisa merasakan kakiku.” Aku menyibakan selimut yang menutupi tubuhku dan melihat balutan gips yang melilit kaki kananku.
“Tulang keringmu patah cukup parah hingga menembus kulitmu, dan ada beberapa luka dalam dikepala dan tulang rusuk.” Jelas Aldo.
“Tolong katakan aku tidak lumpuh.”
Aldo tersenyum. “Tidak akan. Kami punya obat yang hebat, yang tidak akan kau temukan di rumah sakit umum. Kau akan sembuh dalam waktu tiga hari dan selama tiga hari itu kau harus disini.”
“Tapi aku harus masuk kelas.” Kataku.
“Tenang saja-“ saat Aldo bicara, aku merasakan sesuatu yang terasa aneh pada kakiku. Rasanya sangat perih seperti dicabik-dicabik, semakin lama rasa itu semakin parah. Aku menggerang, menahan jeritanku yang akan kusesali jika keluar dari mulutku. Aku mencengkram tangan Aldo yang berada di samping, mencengkramnya sampai mendengar Aldo menggerang pelan karena kesakitan juga. “Ini efek obatnya, kau mungkin akan merasakannya terus sampai tiga hari kedepan.” Katanya.
Ingin sekali aku menjambak rambut Aldo saat mendengarnya mengatakan itu dengan santainya. “Kau bercanda. Obat ini tidak membuatku sembuh tapi malah membuatku semakin sakit. Mereka gila atau apa?!” kataku dengan setiap gerangan kesakitan disetiap akhir kalimat. Rasa sakit itu semakin parah setiap detiknya, aku sampai berkeringat karena menahan sakitnya. Ini lebih parah daripada sakit bisul di b****g, aku pernah merasakannya dua kali.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Aldo, dia sedikit panik. “Akan kupanggilkan dokter.”
Aku menahannya, “Jangan, ini sudah malam. Mereka pasti sedang tidur, aku tidak mau menganggu mereka.”
“Itu memang sudah kewajiban mereka, biarkan saja mereka terganggu.” Aldo memutar matanya. “Kenapa kau itu terlalu baik?” katanya, kembali duduk.
“Kau tidak mau aku jadi cewek baik-baik?” tanyaku.
“Tentu saja mau, tapi tidak terlalu baik.”
Aku memunculkan ekspresi kesal terbaikku. “Kalau begitu aku akan menganggumu saja malam ini.”
“Menyusahkan saja.”
“Jadi kau tidak mau?” tanyaku, membuang tangannya.
Aldo terkekeh. “Apa kau masih harus bertanya? Menurutmu untuk apa aku disini sekarang? Aku sudah disini sejak mereka selesai mengobatimu, aku bahkan belum mandi dan melewatkan jam makan malamku.” Dan terdengar sedikit kesal diakhirnya. Aku melihat kemeja yang dipakai Aldo memang masih sama, kemeja putih yang dia pakai saat mengajar tadi. Tapi sekarang kemeja itu sudah tampak sangat lusuh dan ada noda darah dibagian d**a, kuyakin itu salahku.
“Benarkah? Untuk apa kau melakukan itu?”
“Untuk menjagamu tentu saja.” Dia mengambil kembali jemariku, menautkan jemarinya di jemariku. Tangan yang satunya membelai rambutku. “Beristirahatlah, aku akan disini.”
“Tidak bisa, aku sudah tidur lebih dari sepuluh jam. Dan dengan rasa sakit seperti ini, mana mungkin aku bisa memejamkan mataku.” Kataku, menempelkan punggung tangan Aldo yang hangat ke pipiku yang dingin.
“Lalu apa yang ingin kau lakukan?” tanya Aldo.
“Teruslah bicara, itu mengalihkanku dari sakitnya.” Jawabku.
“Apa yang ingin kau dengar dariku?” tanyanya lagi.
Aku berpikir sejenak. “Ceritakan pengalamanmu saat masih sekolah disini.”
Pandangan Aldo beralih sebentar dariku, seperti mencoba mengingat-ngingat kembali. “Aku selalu jadi murid terbaik.” Katanya dengan nada bangga yang dibuat-buat.
Aku mendengus, “Yang benar saja.”
Aldo menyentil ujung hidungku dengan telunjuknya. “Kenapa kau tidak percaya begitu?”
Aku mengernyit, “Tentu saja tidak, kau kan dulu bodoh. Aku bahkan tidak menyangka kau bisa lulus, pasti kau menyogok mereka.”
“Heh, yang bodoh itu kau.”
“Aku juga tidak menyangka kau menjadi guru disini.” Kataku.
“Aku melakukan ini untukmu,” katanya dan aku langsung tertegun mendengarnya. “Aku hanya ingin jadi orang yang melatihmu, yang bisa terus-menerus melihat perkembanganmu menjadi cewek yang lebih kuat. Dan aku juga hanya ingin memastikan kau aman. Jadi aku menyuruh Rob –lebih tepatnya memaksa dan mengancam Rob untuk memindahkan guru kelas lapangan yang lama kesekolah yang lain.”
“Aku tidak mengerti kenapa kau melakukan ini?”
Aldo terdiam untuk beberapa saat. “Kurasa karena aku merindukanmu Elise.”
Aku mengangguk. “Sudah cukup lama juga kita tidak bertemu.”
“Empat tahun.” Kata Aldo.
“Ya. Dan pertemuan pertama kita setelah empat tahun tidak bertemu adalah kau menembak mati seseorang dan menyetir ugal-ugalan. Bukan awal yang baik sih sebenarnya,” aku menatap mata Aldo dalam-dalam, “tapi aku senang bisa melihatmu lagi.”
“Aku juga.” Katanya. “Kau masih seperti dulu, hanya saja rambutmu sudah lebih panjang dan lebih rapih. Sebenarnya aku merindukan ular-ular medusa yang selalu bersarang dikepalamu.” Aldo mengacak-ngacak rambutku sambil terkekeh.
Aku memukul tangannya, “Oke hentikan.” Aku merapikan rambutku asal-asalan. “Dan kau jadi jauh-“ aku terdiam dan memperhatikan Aldo selekat-lekatnya. “Tidak, wajahmu masih saja terlihat menyebalkan. Aku benci sekali saat kau menaikan sebelah alismu.” Kataku.
Aldo dengan sengaja menaikan sebelah alisnya. “Seperti ini?”
“Ya, seperti itu.” Aku menyentuh wajahnya dan mengacak-ngacaknya dengan telapak tanganku. Kami tertawa. Seperti tombol lampu yang dinyalakan, aku tersadar akan sesuatu hal pada diri Aldo. “Kenapa kau ramah sekali padaku sekarang? Aku masih ingat kau membanting pintu kamarku diirumah baruku, di hari pertama kita bertemu lagi. Dan sikapmu sangat dingin padaku semenjak hari pertama aku disini, kau bahkan menyuruhku lari lebih banyak dari yang lainnya dan membiarkanku babak belur saat tes.”
“Disini aku adalah guru Liz, aku tidak bisa memanjakanmu karena akan menimbulkan kecemburuan pada murid yang lain. Seharusnya kau sudah tahu itu.” Katanya.
“Entahlah, kupikir karena kau tidak menginkan aku disini atau masuk ke kelasmu. Kau pernah mengatakan itu padaku, ingat?” aku merengut.
“Sampai saat ini aku masih tidak ingin kau masuk ke sekolah ini atau ikut kelasku.” Aldo menunjuk kakiku lalu menyentuh perban dikepalaku. “Lihat apa yang terjadi padamu Liz, bahkan di punggungmu ada memar besar.”
“Sejak kapan kau melihat punggungku? Kenapa kau melihat punggungku?” tanyaku.
“Bukan itu masalahnya,” Aldo menghela napas. “Sudahlah lupakan saja. Mulai sekarang aku akan coba mengikhlaskanmu menjadi mata-mata dan aku akan melatihmu dengan benar sampai kau jadi benar-benar hebat, sehingga kemungkinan kau terluka akan berkurang.”
“Kau akan melatihku, sungguh?”
“Sebenarnya agak sulit, kau ini kan tidak bisa diajarkan.”
Aku memukul lengannya dengan keras, sekeras yang tenagaku bisa keluarkan saat ini. “Berhenti mengejekku. Kau akan terkejut nanti.”
“Ngomong-ngomong Liz, aku memperhatikanmu belakangan ini. Kau bersama dengan Noah ya?” tanya Aldo.
Aku menggeleng kecil. “Tidak, kami hanya teman dekat. Kenapa memangnya?”
“Tidak, hanya penasaran. Kau sering pergi berdua dengannya, kelihatan sangat dekat.” Katanya, menaikan bahunya terlihat acuh.
“Kami memang dekat. Noah cowok yang baik, aku merasa nyaman berada disekitarnya.” Aku melirik Aldo. “Kau cemburu?”
Aldo tertawa keras. “Cemburu padamu? Masih banyak pekerjaanku yang lain selain cemburu padamu.”
“Jadi, kau sudah punya cewek yang sangat kau cintai?” tanyaku.
Aldo mengangguk. “Sudah.” Jawabnya.
Aku terbelalak. “Sungguh? Apa dia cantik? Sexy? Dimana kalian bertemu dan sejak kapan kau jatuh cinta padanya?” aku menyerangnya dengan perkataanku, Aldo terlihat tidak keberatan dengan pertanyaanku yang banyak itu.
Pandangan Aldo tampak mengawang-ngawang, dia bahkan tersenyum-senyum sendiri. “Dia cantik, sangat cantik. Dia juga manis, terlebih saat tertawa. Aku menyukai matanya, terlebih pada senyumnya. Aku pernah melihatnya dalam balutan gaun, dan ya, dia juga sexy.” Aldo terkekeh. “Aku mengenalnya cukup lama, tapi aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya.”
“Ceritakan lagi tentang cewek itu.” desakku.
“Aku menyukai setiap belaian tangannya yang lembut, leluconnya yang buruk dan rengekannya saat dia takut atau sedih. Aku juga sangat menikmati membelai rambutnya atau merasakan hembusan napasnya menerpa kulitku.” Cerita Aldo.
Aku terkesima mendengarnya, tidak pernah dalam seumur hidupku, melihat dan merasakan ada cowok yang sangat jatuh cinta pada seorang cewek. Dan Aldo sangat mencintai cewek itu, aku bisa melihat itu di matanya dan merasakannya dalam setiap perkataannya. “Apa hubungan kalian akan terus berlanjut?”
Aldo tersenyum, “Kami bahkan belum memiliki hubungan apapun selain dua orang yang saling mengenal.”
“Kau belum mengutarakan perasaanmu padanya?” tanyaku.
“Belum.”
“Kenapa?”
Aldo mengambil napas dalam. “Aku tidak yakin dia menyukaiku.”
“Omong kosong. Oke untuk sekali ini saja aku akan jujur padamu, kau tampan. Hampir seluruh cewek yang kukenal disini mengidolakanmu, bahkan memimpikanmu.” Aku menyisir rambut Aldo dengan jemariku, “Dengan rambutmu,” aku membelai wajahnya, “dengan wajahmu,” aku menyapukan jemariku di bibirnya, “dan dengan bibirmu yang merah ini, mana ada cewek yang tidak menginginkanmu.” Aku mengambil kedua tangannya, merengkuhnya dengan kedua tanganku. “Jadi percayalah, dia tidak akan menolakmu.”
Aldo menatap kedua mataku, menatapnya sangat dalam. “Kau membuatku mencintainya lebih lagi, lebih dari yang sebelumnya Liz.”
Aku tertawa bangga. “Aku memang dokter cinta yang handal. Lain kali aku akan menarik tarif darimu, berhubung kau kaya, aku akan menarik tarif lebih padamu.”
Aldo tertawa. “Dokter apanya?” dia menjitakku pelan. “Ngomong-ngomong soal dokter, bagaimana kabar Bayu? Terakhir bertemu, aku belum sempat bercakap-cakap dengannya.”
“Terakhir bertemu denganmu dirumah baru, dia menganggapmu menyebalkan dengan sikap acuhmu itu.” Kataku.
“Benarkah? Saat itu aku sedang banyak pikiran, jadi wajar saja kalau sikapku jadi menjengkelkan.” Katanya, membela dirinya sendiri.
“Kau memang dari dulu juga sudah menjengkelkan. Ingat tidak kau pernah mendorongku dari sepeda, lututku berdarah dan kau malah kabur. Dan saat kau menginap dirumahku dan main monopoly dikamarku, saat itu kau kentut bau sekali. Dan saat ulang tahun Bayu yang ke-sepuluh, kau memakan setengah kuenya sebelum pesta dimulai.” Kataku, menceritakan beberapa pengalaman menyebalkan tentang Aldo saat kita masih kecil dulu.
“Aku tidak ingat pernah melakukan itu semua. Yang kuingat, kau pernah menangis karena menginjak kotoran kucing yang kutaruh di sepatumu.” Katanya, tertawa.
Aku diam, tidak menanggapi Aldo lagi karena rasa sakit itu datang lagi. Dan yang kali ini lebih parah dari yang sebelumnya, aku menjerit tertahan bahkan sampai air mataku tumpah. Aldo melihatku, terkejut dan panik sebentar lalu akhirnya bangun dari kursinya dengan terburu-buru sampai kursi itu terjatuh. Aku hendak menarik tangannya atau bajunya tapi terlambat, dia sudah berlari pergi keluar dari ruang perawatan. Tidak sampai berapa menit, Aldo datang bersama satu perawat.
Aldo mencengkaram erat tanganku saat suster itu menyuntikku dibagian lipatan lengan, ketika selesai suster itu langsung pergi tanpa berkata apapun yang menenangkan untukku. “Kau akan merasa baikan setelah ini, kau akan baik-baik saja. Tenanglah, aku disini. Aku akan selalu ada untukmu.” Dia membelai-belai rambutku, mengusapkan jemarinya yang hangat di pipiku dan menghapus satu tetes air mata yang mengalir. Perlahan-lahan rasa sakitnya mereda, tapi yang timbul adalah rasa kantuk. Kelopak mataku semakin berat dan semakin berat. “Istirahatlah Liz.” Kata Aldo. Aku memejamkan mataku dan terlelap.