Bab 16

1987 Kata
Aku memeluk tubuh Aldo, anehnya aku merasa sangat nyaman. Tubuh Aldo hangat ditengah-tengah angin dingin malam yang kami belah dengan kecepatan motor ini. Aku juga bisa merasakan lekukan-lekukan perut Aldo dari balik kaos tipis abu-abu yang dia kenakan sekarang.  “Kau kedinginan Al?” tanyaku. “Cari Noah disalah satu taxi Liz.” Katanya, mengabaikan pertanyaanku. Aku mendengus kesal tapi langsung menuruti perkataan Aldo, kali ini Noah lebih penting. Mataku memandang kesetiap taxi yang kami lewati, mencoba menembus kaca mobilnya. Beberapa mata penumpang terlihat kesal karena aku memandangi mereka, aku mengabaikannya. Beberapa taxi sudah aku periksa tapi tidak juga menemukan Noah sedang duduk didalamnya, sampai akhirnya kami tiba disebuah pabrik pengepakan barang muatan. Ada banyak truk yang sedang membokar barang bawaan mereka, dan banyak juga wajah-wajah jelek dan menyeramkan disini. “Kau yakin Noah kesini?” tanyaku. “Turun.” Suruh Aldo, dan aku turun. Aldo memakirkan motornya di sebuah tempat gelap dibawah pohon yang tidak terjangkau penglihatan lalu berlari lagi kearahku. “Ikuti aku.” Aku mengikuti Aldo, mengacu mataku pada punggung Aldo yang tampak indah jika dipandang dari belakang seperti ini. Kami berhenti da bersembunyi saat mendengar suara beberapa cowok sedang tertawa, setelah yakin aman Aldo menyuruh untuk berjalan lagi. Kami berjalan sembunyi-sembunyi diantara kontainer-kontainer atau tumpukan barang-barang. Aldo berhenti, “Tunggu disini.” Katanya. Aku melihat Aldo berjalan, menyebrangi jalanan yang terbuka dan tanpa perlindungan apapun. Lalu dia mulai berlari, menerjang seseorang yang juga sedang mengendap-ngendap. Aku melihat Aldo menahan tubuh cowok itu dibawahnya, tapi cowok itu melawan. Aku menyipitkan mataku untuk melihat lebih jelas, dan jantungku langsung berhenti saat tahu yang diterjang oleh Aldo adalah Noah. Aldo dan Noah tampak seperti sedang bertengkar, Aldo berusaha menahan Noah ditempat tapi Noah terus saja melawan. Aku harus membantu Aldo dan menolong Noah dari perbuatan tololnya dan memperpanjang umurnya. Aku berlari melewati jalanan terbuka itu kearah dua cowok itu. Dan saat tiba disamping mereka berdua, aku mendorong lengan Aldo yang menahan Noah. “Noah jangan lakukan ini.” Kataku, langsung memeluknya. “Liz?” katanya masih dalam pelukanku. Dan saat pelukan kami terlepas, mata Noah terbelalak terkejut melihatku. “Liz, apa yang kau lakukan disini?” Aku memukul lengannya. “Dasar bodoh, tentu saja untuk menyeretmu pulang.” “Sial, apa dia yang mengajakmu?” tanya Noah, menujuk Aldo yang berdiri dibelakangku sambil memasukan tangannya di saku celananya. Aku mengangguk. “Kau tidak ingin aku menjemputmu ya?” Noah mendengus kesal. “Bukan seperti itu. Dia tahu aku tidak akan mau disuruh pulang kalau dengannya, makanya dia mengajakmu.” Aku melirik Aldo sebentar lalu fokus lagi pada Noah. “Baiklah, aku disini sekarang. Jadi kau mau pulang?” Noah mengehembuskan napas lemah. “Baiklah.” Kami berlari keluar dari tempat ini, aku dan Noah meneruskan lari kami sementara Aldo mengambil motornya dulu. Aku dan Noah berniat pulang ke academy dengan taxi, karena tidak akan muat kami bertiga di motor Aldo. Kami menunggu taxi yang lewat, Aldo juga ikut menunggu. Angin malam yang terus saja berhembus membuatku mengigil. “Kau kedinginan.” Kata Noah, memberikan jaket yang sedang dia pakai tadi kepadaku. Aku menerima dan langsung memakainya. “Thanks.” Aku memasukan tanganku di saku jaket, merasa lebih hangat sekarang. Tapi Noah merangkulku, menarikku lebih dekat dan mendekapku di pelukannya. Dia mengusap-ngusap lenganku, aku menyandarkan kepalaku di pundaknya. “Kenapa kau melakukan ini?” tanyaku pada Noah. “Aku hanya penasaran, itu saja.” Jawabnya. Aku menyikut perutnya, dia mengaduh. “Tapi ini perbuatan bodoh. Mereka bisa saja menangkapmu lalu menyiksamu, atau yang lebih buruk membunuhmu.” “Apa aku akan mendapat masalah di academy nanti?” tanyanya. Aku melirik Aldo yang duduk diatas motornya sedang memandang kearah lain. “Kuharap tidak.” Kataku. Angin dingin bertiup lagi, aku semakin merapatkan tubuhku pada Noah. Aku mendengar geraman kecil dari Aldo. “Aku akan menelpon taxinya.” Dia mengeluarkan ponselnya, menekan nomor dan menempelkannya di telinganya. Setelah Aldo memesan taxi, dua puluh menit kemudian taxinya datang. Aku dan Noah langsung masuk kedalamnya, sementara Aldo menaiki motornya dan mengikuti kami dari belakang. “Liz?” panggil Noah saat didalam taxi. Aku menegakkan dudukku. “Ya.” “Boleh aku bertanya sesuatu?” Aku mengangguk kecil. “Tanyakan saja.” Noah berdeham, “Apa kau berpacaran dengan Anzor?” Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya menatap mata Anzor selama beberapa detik, mencari-cari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu. “Dia belum mengungkapkan perasaannya padaku.” Lalu Noah terlihat lega, bahunya merileks. Tapi beberapa detik kemudian bahunya kembali menegang, “Tapi apa kau menunggu dia mengungkapkannya?” tanyanya. “Begitulah.” Noah menggertakan giginya. “Tapi kupikir kau membencinya dan kau pernah mengatakan-“ Aku memotong, “Aku tahu apa yang kukatakan, aku masih bisa mengingatnya. Tapi maafkan aku Noah, aku tahu kau tidak menyukai Anzor.” Noah menggertakan giginya lagi, aku melihat tangannya mengepal dengan sangat keras. “Tapi aku sudah berjanji padamu.” Katanya dengan suara yang sangat kecil. Aku ingat janji Noah padaku, dan janji itu cukup berat menurutku. “Lupakan saja janjinya, tidak apa.” aku meraih jemarinya yang terkepal, melepaskan kepalan itu dengan lembut. Noah menatapku dengan sangat dalam dan sedetik kemudian dia mencium keningku. “Aku menyayangimu.” Katanya, masih mencium keningku. “Aku juga.” Aku menjatuhkan kepalaku di dadanya, memeluk Noah. Aku menyandarkan kepalaku di d**a Noah sampai taxi berhenti tepat didepan gerbang academy. Kami berdua turun, Aldo yang membayar taxinya. Kami berjalan memutar kebelakang kearah gerbang kecil tempat aku dan Aldo keluar tadi, mesin motor Aldo dimatikan dan dia mendorong motornya sendirian sementara aku dan Noah berjalan berduaan dibelakangnya. Kami kembali berjalan, menyelinap dalam gelap. Aldo menyuruh kami untuk masuk lebih dulu kedalam gedung academy dan langsung menuju kamar asrama kami masing-masing sementara Aldo menaruh motornya. Noah menggiringku dengan sangat cekatan untuk menghindar dari para penjaga yang masih saja berjaga. Kalau dipikir-pikir, penjagaan di sini sangat longgar. Buktinya murid tahun pertama saja bisa menembus penjagaan mereka dengan sangat mudah, berkali-kali. Saat di tiba dipersimpangan antara asrama cowok dan cewek, kami berpisah. “Selamat tidurLiz.” Kata Noah. Aku tersenyum. “Mimpi indah Noah.” Kataku, lalu berlari menuju kamarku. Saat aku masuk kekamar, yang lainnya sudah tertidur pulas. Aku berjalan menuju ranjangku, duduk meringkuk diatasnya. Aku baru sadar kalau masih memakai jaket Noah, aroma Noah masih dapat kucium dari jaketnya. Aromanya menenangkan tapi juga membuatku sedih. Aku berpikir tidak ingin menyakiti Noah lagi, dengan cara apapun. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku melakukan ini demi Noah, rasanya selalu saja menyakitkan kalau melihat Noah bersedih. Aku tidak tidur semalaman hanya untuk berpikir dan menimbang-nimbang, apakah aku harus mengehentikan rencana bodoh yang sedang aku jalankan ini. Aku terus-terusan berbohong pada Noah, bahkan juga pada Anzor. Saat alarm pagi milik Asyira berbunyi, saat itu juga aku memutuskan akan menyudahi misi dengan Anzor. Asyira yang bangun pertama terkejut saat melihatku. “Kapan kau kembali?” tanyanya. Aku mengedikan bahuku. “Tidak tahu, aku tidak sempat melihat jam.” “Bagaimana pestanya tadi malam?” tanya Asyira. “Mereka hampir memperkosaku.” Jawabku tanpa emosi apapun. Mata Asyira membulat. “Astaga Liz, tapi kau baik-baik saja kan?” Aku mengangguk. “Aldo –maksudku Mr. Masen datang dan membubarkan pesta sebelum itu terjadi.” Asyira terlihat lega. “Syukurlah.” Katanya. Asyira duduk di ranjangnya, menguncir rambutnya dengan salah satu ikat rambut yang tergeletak di meja kecil samping ranjangnya. “Kupikir kita harus menyudahi ini sekarang, aku merasa tidak enak.” Kataku. Asyira mengangguk setuju. “Dari awal aku juga sudah tidak setuju kan?” Kami berdua setuju untuk menyudahi misi ini dan menunggu sampai semuanya bangun baru memberitahu yang lain tentang keputusan kami berdua. Renee yang bangun kedua, disusul dengan Megan. Ginny masih saja terus menggeliat di ranjangnya, tapi akhirnya bangun. Setelah yakin mereka semua sudah tersadar sepenuhnya, aku menceritakan apa yang terjadi di pesta. Dan mereka semua terkejut, benar-benar terkejut. Untuk Renee, dia bukan hanya terkejut tapi juga khawatir. Lalu aku membicarakan dengan keputusanku untuk mengehentikan rencana balas dendam pada Sam yang didukung oleh Asyira, Renee akhirnya juga ikut mendukungku. Megan masih berpikir tapi akhirnya setuju. Hanya tinggal Ginny yang masih sedikit keberatan, dia belum bisa setuju. Tapi Asyira punya ide. “Kita paksa Anzor mengakui mencinta Liz, kita rekam dan rekamannya diberikan pada Sam. Setelah itu semuanya kita hentikan. Bagaimana?” tanya Asyira. Ginny mengangguk setuju. Kami kembali memikirkan saat yang tepat untuk melakukan itu, dan dimana letaknya. Kami sepakat melakukan itu saat jam pelajaran berakhir, di lorong sayap barat yang sepi. Ketika kami semua sudah siap untuk masuk kelas pertama hari ini, Renee memberikan alat perekam suara mini yang hanya seukuran ibu jari pria dewasa. Aku memasukan alat perekam itu di saku kemejaku, menyimpannya baik-baik. Saat sarapan, Anzor kembali makan bersama di meja yang biasa aku dan teman-temanku duduki. “Liz, maafkan aku tentang semalam.” Anzor menggenggam tanganku didepan teman-temanku. Aku mencoba tenang dalam memainkan peran terakhirku. “Tidak apa, aku tidak terlalu memikirkannya.” Kataku, memasang senyum palsu terbaikku. Padahal aku sangat ingin memendamkan kepala Anzor di mangkuk sup didepanku. Dan Anzor tampak lega dan langsung memakan sarapannya. Setelah sarapan seperti biasa, kami masuk kelas bersama-sama. Anzor tidak pernah melepaskan tanganku dari genggamannya saat berjalan. Dan aku selalu mencoba melepasnya saat ada Noah, takut dia melihat ini. Disetiap pelajaran yang aku masuki, aku selu menguap berlebihan akibat tidak tidur semalaman. Mataku memeraih dan berair dengan berlebihan saat pelajaran Budaya yang membosankan, tapi senang juga karena ini pelajaran terakhir hari ini. Saat pelajaran hampir berakhir dan hanya menyisakan beberapa menit lagi, aku menyalakan alat perekamnya. Dan ketika pelajaran akhirnya benar-benar berakhir, Anzor sudah menarikku dan menggenggam tanganku lagi.  “Aku ingin bicara padamu.” Anzor terlihat langsung waspada. “Ada apa Liz?” Aku terkekeh, “Jangan tegang begitu. Aku ingin membicarakan ini ditempat yang sepi.” Aku menarik tangannya. “Ikut aku.” Ajakku. Aku membawanya ke koridor sayap barat lantai dua. Suasananya sepi sekali, tidak ada murid yang lalu lalang disini. “Anzor, aku tahu hanya ingin kau tahu kalau aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu.” Kataku. Anzor menatapku dengan terkejut. “Aku juga menyukaimu Liz, kau sudah tahu itu kan.” Aku mengangguk. “Tapi aku ingin tahu, apakah kau lebih dari menyukaiku. Apa kau mencintaiku Anzor?” Aku mengangguk dengan cepat-cepat. “Aku sangat mencintaimu Elise, sangat mencintaimu. Apakah kau ingin jadi pacarku?” Kali ini aku yang terkejut, aku tidak menyangka dia akan menanyakan hal itu saat ini. “Tapi sebelum itu aku ingin tahu perasaanmu dengan Sam.” “Sam?” Anzor tertawa besar-besar. “Dia hanya cewek sombong yang menganggap dirinya lebih baik dari siapapun. Kau melebihi dia dari segala hal Liz, kau baik, cantik dan lebih seksi darinya.” “Terimakasih dengan pujiannya Anzor.” Kataku, menghilangkan senyuman dari bibirku. Aku sudah mendapatkan apa yang kumau. “Lalu bagaimana, kau ingin menjadi pacarku?” tanyanya antusias. Aku menggeleng, melepaskan tautan jemarinya dari jemariku. “Maafkan aku, aku tidak bisa. Sepertinya kita harus mengehntikan hubungan ini sebelum terlalu jauh, aku juga tidak ingin kita dekat lagi.” “Kenapa?” Anzor menahan lenganku, menguncang-guncangkan tubuhku dengan kasar. “Kau menolakku setelah semua yang terjadi diantara kita?” Aku mencoba menahan Anzor dan melepaskan cengkraman Aldo. “Tidak pernah ada apapun  yang terjadi diantara kita.” Anzor sudah kelihatan sangat marah saat aku mengatakan hal itu, wajahnya memerah dan napasnya menggebu-gebu. Dia hampir melemparku ke dinding kalau saja teman-temanku tidak datang dan menahan lengan Anzor, Ginny memiting lengan Anzor dengan mudah walau ukurannya lebih besar dari tangan Ginny. “Semuanya sudah berakhir Anzor. Dan asal kau tahu, aku tidak akan pernah melupakan perbuatanmu di pesta tadi malam, bahkan tidak akan pernah kumaafkan.” Kataku dengan lantang. Anzor berontak. “Lepaskan aku.” Katanya pada Ginny, Ginny melepaskan pitingannya. “Kau tidak sungguh-sungguh kan Liz?” “Aku. Bersungguh-sungguh.” Kataku, menekan setiap katanya. Aku berbalik badan dan meninggalkan Anzor yang masih saja diam membeku. Aku memberika alat perekam itu pada Renee saat sudah sampai di kamar. Ginny dan Megan saling melompat kegirangan diatas kasur Asyira, sementara Asyira sibuk mengusir mereka dari kasurnya yang tadinya rapih. Renee sibuk mengedit pembicaraan yang terekam di laptopnya, hany butuh lima menit bagi Renee untuk menyelesaikannya. Renee menyalakan rekaman yang sudah direkam itu dari laptopnya, kami semua diam mendengarkan. ‘Aku sangat mencintaimu Elise, sangat mencintaimu. Apakah kau ingin jadi pacarku?’ ‘Sam? Dia hanya cewek sombong yang menganggap dirinya lebih baik dari siapapun. Kau melebihi dia dari segala hal Liz, kau baik, cantik dan lebih seksi darinya.’ Ginny menjerit girang. “Ini sempurna.” “Langsung saja kita kirim ini pada Sam.” Kata Megan. “Aku punya ide yang lebih baik. Menurut kalian, siapa biang gosip di academy ini?” tanya Ginny. “Anna dan Alex, mereka ikut dikelas analis bersamaku.” Jawab Renee. “Dan mereka juga teman sekamar, kan?” tanya Asyira. Ginny tersenyum sadis, “Ayo kita kirim pada mereka.” Renee menjadikan rekaman itu sebuah CD. Ketika waktu tidur hampir tiba dan memastikan tidak ada seorangpun yang lewat di koridor asrama, Ginny yang ditemani olehku mengendap-ngendap menuju kamar Anna dan  Alex. Ginny memasukan kepingan CD itu lewat celah dibawah pintu kamar, dan langsung kabur setelah itu. “Sekarang tinggal kita tunggu saja berita hebohnya.” Kata Ginny ketika kami sampai dikamar. Kami sibuk membayangkan apa yang akan terjadi besok, dan betapa malunya Sam. Megan tidak henti-hentinya membuat lelucon dengan wajah Anzor tadi, kami tertawa sampai terguling-guling. Setelah lelah tertawa, kami pergi tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN