Keesokan paginya saat mengikuti kelas lapangan, Aldo sempat membahas kejadian tadi malam didepan kelas. Tentu saja tanpa menyebutkan nama kami, walaupun dia sempat melirik kearahku saat memberi ancaman tentang hukuman. Tapi ada yang lebih buruk dari ancaman Aldo, Noah sama sekali tidak menyapaku hari ini. Saat pelajaran di kelas lapangan berakhir, dia langsung keluar kelas tanpa melihatku.
Saat makan siang, aku sudah jarang mendengarkan namaku disebut-disebut. Para mata yang memandangku dengan kesal juga mulai berkurang, mereka hanya memandang. Dan sekali lagi, aku tidak menemukan Noah saat makan siang.
Saat menuju kelas Psikologi, aku berpapasan dengan Colin. "Hai Colin, apa kau bersama Noah saat makan siang tadi?"
"Tidak." Jawabnya.
"Sikap dia jadi agak aneh semenjak insiden kemarin, kau tahu apa yang terjadi dengannya?" Tanyaku.
Colin membetulkan letak kacamatanya. "Aku tidak tahu, mungkin dia hanya sibuk Liz." Dia melihat jam tangannya. "Aku buru-buru, sampai jumpa Liz." Katanya dan pergi.
Mungkinkah Noah marah karena mendapat ikut mendapat hukuman? Atau dia juga mengira aku ini cewek seperti yang dibicarakan dan karena itu dia menjauhiku? Aku bertekad untuk bicara padanya setelah kelas hari ini berakhir.
Selama pelajaran Psikologi berlangsung, aku sama sekali tidak memperhatikan. Pikiranku hanya tertuju pada Noah, yang sekarang sedang duduk dibarisan paling belakang. Aku menahan dengan sekuat tenaga agar kepalaku tidak menoleh padanya, atau kakiku segera menghampiri mejanya saat ini juga.
Dan ketika pelajaran berakhir, seperti sudah kuduga, Noah langsung bergegas keluar dari kelas. Aku mengejarnya dan menarik blazernya.
"Kenapa kau bertingkah aneh Noah?" Tanyaku.
Noah berhenti dan berbalik badan melihatku. Dia menatapku beberapa detik, lalu melepaskan tanganku dari blazernya. Dia langsung pergi lagi. Aku mematung, melihat punggung Noah yang semakin lama semakin jauh dan menghilang saat dia menuruni tangga.
Dan setelah makan malam, aku harus menjalani hukumanku. Saat yang lainnya kembali kekamar untuk istirahat, aku harus pergi ke lab. Menaiki anak tangga yang panjang sampai di lantai lima, suasana di lantai ini sudah sepi sekali. Aku mengintip lewat kaca kecil yang ada didepan pintu lab, Noah sudah datang tapi aku tidak melihat Anzor.
Aku mendorong pintu berat ini, Noah dan Profesor Howard langsung menoleh kearahku dengan waktu yang hampir bersamaan.
"Oh Miss. Irsham, silahkan pakai jas labnya." Katanya, menunjuk beberapa jas lab putih yang digantung. Aku mencari ukuranku dan langsung memakainya, merasa tidak perlu untuk mengancingkannya.
Di lab ini penuh dengan gelas kaca yang diisi dengan cairan yang berwarna-warni, papan tulis yang penuh dengan angka dan huruf-huruf yang tidak beraturan, teleskop besar yang sangat canggih, beberapa laptop, hewan-hewan seperti kelinci, kadal, kodok dan kera, dan benda-benda aneh lainnya. Aku menghampiri kandang kelinci. "Boleh kuberi makan?" Tanyaku.
Profesor Howard yang sedang menulis di mejanya tertawa, "Silahkan, aku tahu kau pasti tertarik dengan hewan-hewan itu."
"Hanya kelincinya saja sebenarnya." Kataku, mengambil wortel yang ada di pinggir kandangnya. Ketika aku memasukan wortel itu kekandang si kelici yang berbulu putih, kelinci itu langsung menghampiri dan menggerogoti ujung wortelnya. Aku membelai tubuh kelincinya, merasakan bulu-bulu lembutnya.
Setelah puas bermain dengan kelinci, aku menghampiri Profesor Howard. "Ada hal lain yang bisa kubantu selain memberi makan hewan?" Tanyaku.
"Sebenarnya tidak banyak yang bisa kalian lakukan, kau bisa mencuci barang-barang yang habis dipakai. Tapi jangan lupa menggunakan sarung tangan, mungkin ada sisa-sisa cairan yang berbahaya." Katanya, dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
Aku melihat tempat pencuciannya, sudah ada beberapa gelas kimia atau tabung-tabung. Aku mencucinya dengan hati-hati agar tidak memecahkannya, menggosoknya sampai bersih lalu mengeringkannya.
"Kau ketinggalan ini." Noah muncul disampingku, membawa dua gelas ukur di tangannya.
Aku memandanginya, tidak tahu harus bicara apa. Tapi Noah juga tidak berbasa-basi, dia langsung menaruh gelas itu dan pergi. Aku menghela napas, entah mengapa ini terasa menyedihkan.
"Oh Mr. Ivanov, silahkan bergabung dengan Mr. Turner." Suara Profesor Howard mengagetkanku, gelas ukur yang sedang kucuci hampir tergelincir. Aku melihat Anzor yang masuk dengan enggan, dan saat dia melihatku, aku memalingkan wajahku.
Anzor membantu Noah membereskan meja, dan aku tidak tahu apa lagi yang harus kukerjakan. Aku menghampiri Profesor Howard, "Ada lagi yang bisa kulakukan?" Tanyaku.
Profesor Howard melirik hasil kerjaku dari balik kaca mata bulatnya yang melorot ke hidungnya. "Kau bisa pergi sekarang Miss. Irsham, hukumanmu sudah selesai." Katanya.
"Terimakasih Profesor." Kataku, dia hanya mengangguk sekali.
Aku menggantung jas labku di tempat aku mengambilnya tadi lalu melangkah keluar, meninggalkan para cowok-cowok. Tapi ketika aku sampai dilantai dua, aku berhenti. Ada perasaan yang bergejolak, yang menyuruhku untuk pergi ketempat lain. Aku berlari menuju koridor sayap utara, dan sampai didepan gudang.
Aku masuk kedalamnya, dan melihat lemari yang menutupi pintu kecilnya sudah tergeser. Tercetak debu-debu dilantai, tanda lemari ini pernah digeser sebelumnya. Kuyakin Noah habis kemari, tapi lupa menutup lemarinya kembali. Aku membuka pintu kecil dari kayu itu dan masuk kedalamnya tanpa ragu sedikitpun, merangkak seakan sudah menghafal jalur ini diluar kepala. Aku menaiki tangga kayu, mendorong sebuah pintu diatasku sampai terbuka, aku melangkah keluar.
Suasana loteng yang gelap membuatku sulit melihat, sehingga kakiku terbentur kardus-kardus. Aku mencari saklar listrik, dan menemukannya tergantung didepan wajahku. Aku menariknya, dan seketika lampu yang temaram menyala. Aku mulai bisa membiasakan mataku ditengah pencahayan yang minim ini, berjalan menuju satu-satunya jendela di ruangan ini. Aku mendorong jendela itu sampai terbuka, angin malam yang dingin langsung masuk dan membelai wajahku.
Aku melihat pemandangan diluar, lampu-lampu jalanan dan lampu-lampu mobil. Suara klakson terdengar di kejauhan, menambah kenikmatannya.
Rasanya berbeda, datang kemari tanpa Noah. Seperti masuk kerumah orang tanpa izin, dan tahu suatu saat pasti akan diusir juga. Dan sepertinya, dengan sikap Noah yang sekarang, jelas sekali dia bahkan tidak mau menerimaku. Memikirkannya yang sekarang sudah tidak ingin bicara lagi padaku, entah karena apa, rasanya seperti rongga dadaku dikosongkan secara paksa. Aku hanya tidak menyangka dengan perubahan sikapnya yang mendadak, dan betapa konyolnya aku yang selalu mengkhawatirkannya, padahal dia sama sekali tidak mengkhawatirkanku.
Ini semua karena foto-foto itu. Aku menendang tembok didepanku dengan sangat keras, dan malah membuatku kesakitan. Aku terduduk, mengusap-usap kakiku yang memerah. "Bodoh." Kataku.
"Kenapa kau menendang temboknya Liz?" Suara yang terdengar tiba-tiba membuatku menjerit seperti anak perempuan.
"Siapa itu?" Teriakku. Aku melihat seseorang berdiri dibawah bayang-bayang. Tapi kupikir tidak ada yang tahu tempat ini selain aku dan Noah.
Orang itu berjalan kearahku, perlahan-lahan aku bisa mengenali wajahnya. Noah berjalan mendekatiku, melihatku yang terduduk memegangi kakiku.
Aku langsung bangun. "Maafkan aku, aku akan segera pergi." Kataku.
"Kau tidak perlu pergi." Katanya.
"Kupikir kau tidak mau bicara denganku." Desisku.
Noah menunduk, "Bukannya tidak ingin, tapi tidak bisa."
"Kenapa?" Tanyaku.
"Karena aku pasti sudah merengek didepanmu, memintamu untuk menjauhi Anzor." Noah mengatakan itu dengan nada marah, tapi wajahnya lebih seperti memohon.
"Tidak pernah terlintas di benakku, sedetikpun tidak pernah untuk mendekatinya." Kataku. "Kau tidak perlu melakukan ini, ini membuat perasaanku semakin buruk."
"Maafkan aku Liz, aku hanya tidak tahu bagaimana harus menghadapi situasi ini." Katanya, mengambil tanganku dan digenggamnya. "Maafkan aku?"
"Tapi kau harus berjanji satu hal padaku." Kataku.
"Apa?"
"Jangan pernah kau jauh dariku." Kataku, mengacungkan jari kelingkingku. "Janji?"
Noah tertawa mendengarnya. "Itu saja?" Dia mengaitkan jari kelingkingnya. "Aku janji."
Kami berdua berjalan kearah jendela, dan Noah selalu memejamkan matanya saat menikmati angin yang berhembus.
"Kau tahu, sedetik aku berpikir, kau akan mengusirku secara paksa dari sini tadi." Kataku.
Noah langsung membuka matanya. "Benarkah? Apa kau pikir aku tega melakukan itu padamu?"
"Mungkin saja." Aku menyikutnya.
Noah memejamkan matanya. "Aku berjanji tidak akan menyakitimu dalam hal apapun lagi." Katanya yang seperti berbisik.
"Itu janji yang berat." Kataku, berbisik tepat di telinganya, Noah hanya tersenyum dengan mata yang masih terpejam.
Kami sama-sama menikmati angin malam, tanpa bicara, dan tangan kami masih saling berpautan. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, dalam perasaan masing-masing. Sampai Noah tersadar, "Sudah larut." Katanya. "Kau tidak mengantuk Liz?"
"Belum." Kataku berbohong, sesungguhnya aku masih ingin berada disini lebih lama lagi, bersama Noah.
"Tapi kita harus kembali keasrama, aku tidak ingin kau mendapat masalah lagi." Ajaknya, menarik lembut tanganku.
Kami keluar dari ruangan ini, masuk kedalam lorong sempit, kotor dan gelap itu. Aku merangkak didepan Noah. "Jangan mengintip." Kataku. Karena aku masih menggunakan seragam sekolah, dan roknya agak terlalu pendek menurutku. Hanya saja rasanya risik merangkak seperti ini didepan seorang cowok dengan rok mini, yang aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang.
Noah tertawa kencang-kencang, menimbulkan gaung disekitar kami. "Celana dalammu lucu sekali Liz." Candanya.
"Hentikan, atau kutendang wajahmu." Kataku.
"Oke oke." Katanya, tapi masih terus tertawa.
Ketika keluar dari lorong, kami menutup kembali pintu kecil itu dengan lemari. Dan berlarian keluar gudang.
Ketika sampai di lantai asrama, penjaga yang berjaga melihat kami. "Darimana kalian?" Tanyanya.
"Kelas hukuman di lab." Bohong Noah, aku mengangguk-ngangguk mendukung kebohongan Noah.
Penjaga itu diam dan menilai. "Baiklah." Katanya, mempersilahkan kami lewat.
"Secara teknis aku tidak berbohong." Katanya.
"Benar sekali." Dan kami berdua tertawa.
"Sampai jumpa besok Liz." Katanya, ketika kami sampai dipersimpangan asrama cowok dan cewek.
"Sampai jumpa Noah." Kataku.
"Mimpi indah." Katanya.
"Kau juga." Dan aku berlari menuju kamar asramaku. Sahabat-sahabatku tidak ada yang menanyaiku habis dari mana, karena mereka pikir aku sedang dihukum tadi. Dan mereka sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ginny dan Megan sedang mewarnai kuku mereka, Megan warna merah sedangkan Ginny warna ungu terang. Renee sedang tertidur memeluk buku tebal, aku mengintip buku apa yang dia baca, 'Spionase Lanjutan edisi ke-11'. Asyira sedang sibuk dengan ponselnya, dan tersenyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.
Aku pergi mandi, membersihkan lutut dan sikutku yang penuh debu. Setelah mandi dan berganti baju dengan piyama, aku berbaring di ranjangku yang nyaman. Aku menguap dan mataku mulai berat, aku tertidur dengan nyenyak sekali.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan segar. Menjalani kelas-kelasku tanpa pelanggaran sama sekali, mengerjakan semua tugasku, nilai-nilai kuisku juga cukup mengesankan.
Seminggu bersekolah disini membuat kemajuan pada diriku, membuatku berpikir lebih kreatif, berpikir lebih keras. Dan hampir semua murid melupakan peristiwa dikantin tempo hari, melupakan foto-foto mengerikan itu. Hampir semuanya, kecuali Sam. Dan Ginny terus menakutiku, bahwa suatu saat dia akan melakukan sesuatu yang buruk padaku. Ginny dan Asyira menyuruhku untuk berhati-hati. Tapi aku sedikit tenang, karena sahabat-sahabatku selalu mengawasi gerak-gerak Sam. Seakan punya firasat buruk, atau mereka memang punya kecenderungan beranggapan buruk pada Sam. Tapi bahkan Noah pun khawatir dengan keadaan ini, dia juga berpikiran yang sama dengan sahabat-sahabatku yang lain. Karena itu dia tidak pernah melepaskanku, atau aku hilang dari pandangannya. Aku merasa tidak enak padanya, aku tidak berniat menyusahkannya.
Bahkan di hari Sabtu dan Minggu, Noah menghabiskan waktunya denganku. Lari pagi, atau sekedar membaca buku di perpustakaan. Ketika aku ke perpustakaan, aku selalu menemukan Renee sedang sibuk membaca, buku-buku tebalnya ditumpuk diatas mejanya, hampir menutupi wajahnya.
Renee memang cewek yang pintar, dia salah satu murid tercerdas dikelas. Megan juga tidak kalah cerdasnya dengan Renee, mereka berdua pasti bisa memenangkan lomba cerdas cermat tingkat internasional walau hanya berdua.
Liburan di hari Sabtu dan Minggu dengan cepat berakhir, dan keesokan harinya kami harus kembali ke kehidupan mata-mata.
Kami semua sudah ingin tidur, tapi lampu tidur Renee masih saja menyala. "Demi tuhan, bisa kau matikan itu." Teriak Megan.
Renee terkekeh, "Maaf." Lampunya mati. "Selamat tidur."