Aku baru tidur satu jam, dan terbangun karena mendengar suara pintu terbuka. Samar-samar kulihat seseorang berdiri diambang pintunya. Aku menyalakan lampu tidurku, Asyira yang juga terbangun melakukan hal yang sama. Penerangan ini cukup untukku mengetahui siapa dia, Aldo. "Ganti baju, tes mendadak." Katanya lalu pergi.
Aku mengerjap-ngerjap, "Ini mimpi atau nyata?" Tanyaku setengah sadar.
Asyira tertawa. "Tentu saja nyata Liz." Asyira bangun dari ranjangnya, beralih ke ranjang Ginny. Asyira mengguncang-guncang Ginny dengan keras sampai terbangun, bibirnya masih terbuka dan wajahnya tampak terkejut. "Tes mendadak." Ginny mendengus lemah, membanting kepalanya lagi kebantal.
Aku duduk di pinggir ranjangku, menggosok-gosok mataku yang masih mengantuk. Selama beberapa detik aku mencoba menyadarkan diriku sendiri, lalu beranjak untuk berganti pakaian dan menyisir rambutku.
Asyira meminta bantuanku membangunkan Ginny, kami menarik tangannya dengan susah payah sampai dia terduduk di ranjangnya. Ginny menggeram sampai akhirnya dia mau bangun dan mengganti piyamanya. Tidak butuh lama, kami bertiga sudah siap. Kulihat Renee dan Megan masih tertidur pulas.
Seseorang mengetuk pintu kamar, Asyira membukanya. Tiga cowok yang tidak kami kenal, dua orang berperawakan tinggi besar, yang satu lagi agak lebih pendek dari yang lainnya, berdiri diambang pintu. "Siapa kalian?" Tanya Asyira.
Cowok yang bertubuh agak pendek mengeluarkan sebuah kantung kain hitam dari dalam kantung jaketnya. "Jangan melawan." Katanya sambil tersenyum, lalu menutupi kepala Asyira dengan kantung tersebut. Dua cowok lainnya melakukan hal yang sama padaku dan Ginny.
Aku digiring tanpa bisa melihat apapun, dan hanya bisa mempercayai cowok ini. Aku mendengar banyak langkah kaki di sekelilingku, menabrakku atau menginjak kakiku. "Maaf." Kata seorang cewek ketika menabrakku dari belakang. Dan sekarang aku tahu, semua murid di kelas lapangan sedang buta untuk beberapa saat.
Aku tidak tahu dibawa kemana, tapi angin dingin yang tiba-tiba berhembus memberi petunjuk kalau aku berada di luar gedung academy.
"Masuk." Kata cowok yang menuntunku, "awas kepalamu." Katanya.
Aku duduk disebuah kursi empuk, disebelah kanan dan kiriku duduk seseorang yang tidak kutahu siapa. Aku tahu aku sedang berada didalam mobil, atau mungkin sebuah van, aku bisa merasakan kalau benda ini berjalan.
"Siapa disebelahku?" Bisik seseorang yang duduk disampingku. Dari suaranya aku tahu itu Asyira.
"Asyira? Ini aku Liz." Balasku berbisik.
"Benarkah? Syukurlah." Katanya.
"Mana Ginny?"
"Tidak tahu."
"Kau tahu mau dibawa kemana kita?" Tanyaku.
"Seandainya aku tahu Liz." Jawabnya.
Ini semacam pembicaraan orang buta saja, tidak bisa melihat ekspresi orang yang sedang bicara denganku rasanya sangat menjengkelkan. Aku biasanya menilai, tapi kali ini hanya gelap.
Aku mendengar suara klakson dari luar, suaranya saling bersahutan. Diluar sana pasti ramai, berarti kami berada di tengah-tengah kota. Setelah perjalanan yang cukup lama, mobil terasa berhenti. Kami semua dipaksa turun, masih dengan mata tertutup.
Asyira menggandeng tanganku, tapi seseorang sengaja melepaskan tangan kami. Aku sedikit panik, juga takut. Aku berjalan, kali ini rasanya sangat sepi. Aku tidak mendengar suara langkah kaki banyak seperti tadi, hanya langkah kakiku dan satu orang lagi yang aku tidak tahu siapa.
Setelah berjalan cukup lama, aku dipaksa untuk masuk kembali kedalam mobil. "Asyira? Ginny? Ada kalian?" Tidak ada yang menjawab. "Siapapun?" Lagi-lagi sunyi.
Tanganku membuka penutup kepalaku, dan melihat wajah cowok asing didepanku. Aku melihat sekelilingku, tidak ada siapa-siapa selain aku dan cowok asing ini dan supir. "Mana yang lainnya?" Tanyaku.
"Disuatu tempat." Jawabnya.
"Tes macam apa ini?" Tanyaku.
Cowok itu hanya tersenyum, memberikan sebuah kotak kecil dari beludru berwarna hitam. Aku membukanya, didalamnya ada sebuah benda bulat kecil sebesar biji kacang hijau, berwarna hitam.
"Ini adalah black dot, semacam pemancar." Jelas cowok itu. "Setiap black dot berbeda-beda pemancarnya, dan ini khusus pemancarmu. Kau harus menempelkan black dot ini kepada teman-temanmu, dan mereka yang tempeli black dot akan langsung keluar. Begitu juga denganmu, kalau seseorang menempeli black dotnya padamu, kau keluar." Katanya.
Aku hanya memandang kosong padanya.
"Kau mengerti?" Tanyanya.
Aku hanya mengangguk seperti orang bodoh.
"Jadilah bunglon, jangan sampai terlihat teman-temanmu yang lain. Berbaurlah, lakukan apapun agar kau tidak keluar dari tes." Cowok itu menepuk pundakku. "Kau calon agen favoriteku, jadi berjuanglah." Katanya, menggeser pintu mobil sampai terbuka. "Pergilah, kami akan memantau kalian dari jauh."
Aku keluar dari mobil, dan mobil itu langsung pergi menjauh. Aku melihat sekelilingku, aku berdiri di trotoar pinggir jalan. Sial, aku harus bagaimana sekarang? Aku melihat kotak hitam berisi black dot itu, lalu buru-buru memasukannya ke saku jaket jeansku.
Aku berusaha mengingat perkataan cowok tadi. Tempelkan black dot ini, tapi jangan sampai aku yang tertempel. Membaur, ya, aku harus membaur.
Aku berjalan bersama para pejalan kaki lainnya, suasana masih sangat ramai. Walau begitu, jantungku berdegup sangat cepat. Mataku bergerak-gerak kesana kemari, mencari seseorang yang kukenal. Aku merekam semua wajah yang melewatiku, mengingat pakaian mereka dan apa yang mereka bawa.
Lalu aku berdiri diam, melihat air mancur besar di tengah jalan. Di sekeliling air mancur itu, banyak orang sedang duduk, berkumpul bersama teman-teman mereka memakan jajanan pinggir jalan. Sejauh ini aku belum bisa menemukan satu orangpun dari murid kelas lapangan. Aku berjalan kearah etalase-etalase di pinggir jalan, yang berjejer sepanjang jalan. Aku berharap bisa menemukan Asyira atau Ginny, kuyakin mereka akan membantu sekarang.
Aku terus saja berjalan sampai seseorang menepuk bahuku, refleks aku berbalik. Jantungku rasanya mau copot saat melihat Ginny dibelakangku, nyengir lebar.memperlihatkan deretan giginya.
"Sudah berapa orang yang kau singkirkan?" Tanyanya.
"Belum seorangpun." Jawabku.
Ginny tertawa. "Benarkah? Aku sudah menyingkirkan Grace dan Jane tadi."
"Benarkah?" Aku terkejut. Tidak diragukan lagi, Ginny akan menjadi agen mata-mata yang hebat. "Kau belum menempelkannya padaku kan?"
"Tentu saja tidak." Jawabnya. "Aku mengincar Sam." Katanya.
"Aku hanya ingin tidak keluar dari tes ini." Kataku.
"Kau lihat cewek dengan jaket ungu diseberang jalan sana?" Tunjuk Ginny.
Aku mengangguk. "Aku melihatnya."
"Itu Yuki." Kata Ginny. "Sepertinya dia hanya hebat dalam hal bertarung, kau lihat dia tampak kebingungan."
"Kau benar."
"Dia mangsamu Liz, tangkap dia. Aku harus pergi, kita tidak bisa terlihat bersama." Katanya.
"Thanks." Kataku, dan Ginny pergi.
Aku menyebrangi jalanan, menghampiri Yuki. Dia bahkan tidak menyadariku yang mengikutinya dari belakang. Aku menyiapkan black dotku, mendekatkan jarakku dengannya. Semakin dekat, makin dekat. Black dotku berhasil menempel dengan mulus di lengan jaket Yuki, "Sorry." Bisikku ketika kami bersebelahan. Yuki memandangku dengan kesal, matanya yang sipit semakin menyipit.
Sebuah van hitam berhenti tepat didepan kami, seseorang keluar dari dalam mobil untuk membawa Yuki. Aku dapat satu point, sekaligus pembalasan dendam. Rasanya menyenangkan.
Aku melanjutkan tesku, merasa semakin ahli dalam hal ini. Aku mengikuti Edward masuk kedalam salah satu restoran siap saji, dia duduk dan tampak mengatur napasnya. Sepertinya dia habis kabur dari seseorang, dan berhasil lolos. Aku melihat sekeliling, tidak ada seorangpun murid kelas lapangan disini. Jadi aku berjalan mendekatinya, dan menempelkan black dotku di kerah kemejanya.
Aku keluar dari restoran, melihat Edward dari jendela, masih duduk tanpa menyadari apa yang kulakukan padanya. Dua point.
Aku kembali berjalan ditrotoar, berjarak beberapa meter ada Brock sedang berjalan kearahku. Aku tidak boleh lari. Berbaur. Jadi bunglon Liz! Aku merapat pada segerombolan cowok yang berjalan didepanku.
"Hai cantik." Kata cowok dengan kulit wajah bermasalah, rambut lepek dan celana jeans kumal.
Aku melihat Brock semakin dekat. "Hai juga." Kataku. Mataku tetap terfokus pada Brock, tidak peduli dengan para cowok-cowok aneh yang terus bersorak-sorak karena aku berjalan ditengah-tengah mereka.
Dan ketika aku dan Brock saling bersebelahan, dengan gerakan cepat dan halus, aku menempelkan black dotku pada tangan Brock. Aku mendesah lega. Tiga point.
Aku menjauh dari gerombolan cowok-cowok itu dan berbelok kearah jalan yang agak sepi, berdiri dibawah bayang-bayang pohon dengan punggung menempel dengan tembok. Aku melihat Eva yang berjarak beberapa toko dariku, mata kami saling bertemu. Jantungku berdegup cepat, dan tanganku dingin. Yang aku pikirkan saat ini adalah lari darinya, menjauh dari pandangannya.
Aku berjalan kesebuah jalanan yang banyak para pedagangnya, dan mencari-cari Eva. Untuk sesaat aku berpikir aku berhasil kabur, tapi Eva muncul dari salah satu belokan dan menemukanku lagi. Sial. Eva berlari, mengejarku dengan terang-terangan. Aku berlari, menjauhinya. Masuk ke taman, bersembunyi seperti pengecut dibalik patung monumen. Aku mengatur napasku, mengistirahatkan kakiku.
Beberapa menit aku bersitirahat, tapi mataku masih tetap waspada, takut-takut Eva muncul entah darimana. Saat itulah aku melihat Noah, menggunakan jaket abu-abu. Berjalan sendirian dengan santai diatas trotoar. Aku mengehela napas lega melihatnya belum keluar dari tes ini.
Aku bangkit, berjalan hendak menyusulnya. Aku berjalan lebih cepat dan menabrak seseorang, "Maaf." Kataku. Aku melihat Noah berjalan dikerumunan orang melintasi zebra cross saat lampu telah merah, setelah itu dia menghilang. Tidak mungkin dia menghilang begitu saja, padahal mataku tidak pernah lepas sedetikpun darinya.
Aku hendak menyebrang jalan juga, tapi langkahku berhenti karena van hitam menghalangi jalanku. Pintu van itu bergeser terbuka, didalamnya terlihat beberapa temanku dari kelas lapangan. Aldo keluar dari dalam van, "Kau keluar."
"Apa?" Teriakku tidak percaya. Seseorang belum menemukanku selain Eva, tapi aku sudah berhasil kabur darinya. Aku mengingat-ngingat kejadian tadi, apa yang terlewat dariku. Astaga, orang yang menabrakku tadi. Aku melihat bahu kananku, sebuah black dot sudah menempel. Aku mengumpat. Dari kejauhan aku melihat Sam, tersenyum menang. Dengan kesal aku masuk kedalam van, didalamnya sudah ada Asyira, Grace, Yuki, Jane, Logan, Ricardo, Edward dan Jade. Sisanya masih berusaha diluar sana.
Aku duduk disamping Asyira, "Siapa yang mengeluarkanmu?" Tanyaku.
"Jane." Jawabnya singkat.
Aku melirik kearah Jane, Jane menatap sinis kearahku. Aku mendengus kesal. "Berapa pointmu?" Tanyaku.
"Dua." Asyira menepuk paha Jade yang duduk disampingnya. "Jade dan Logan."
Jade menjulurkan kepalanya melewati Asyira. "Siapa yang mengeluarkanmu?"
"Sam." Jawabku.
Jane dan Grace tertawa mendengarku. "Setidaknya aku bertahan lebih lama dari mereka." Kataku pada Jade, menyentakan daguku kearah Jane dan Grace, mereka berhenti tertawa.
Kami masih menunggu yang keluar dari tes, aku menunggu dengan kesal sambil berharap semoga Ginny dan Noah bertahan sampai akhir.
"Siapa diantara kalian yang mengeluarkanku?" Tanya Edward.
Aku tersentak kaget, "Aku." Jawabku, tertawa canggung.
"Benarkah?" Edward tertawa. "Aku tidak melihatmu sama sekali Liz."
"Aku mengikutimu masuk ke restoran." Kataku.
Edward tersenyum kagum. "Aku masuk kesitu karena kabur dari Noah, aku berhasil kabur darinya. Ternyata aku malah dikeluarkan oleh pacarnya. Kau hebat juga Liz."
Aku tersedak udara dan terbatuk. "Pacarnya?"
Belum sempat Edward bicara lagi, pintu van terbuka. Taylor dan Alex masuk bersamaan, dari yang kudengar, mereka dikeluarkan oleh Noah. Tidak berselang lama, kami berhenti untuk menjemput seseorang lagi. Caleb yang dikeluarkan oleh Ginny, dan dia masih kesal karena dikeluarkan oleh anak cewek.
Itu berarti tinggal Ginny, Noah, Anzor dan Sam. "Ginny sangat mengincar Sam." Kata Asyira.
"Semoga dia berhasil."
Kami menunggu dan menunggu cukup lama sampai pintu van akhirnya terbuka, Anzor melangkah masuk. Baju Anzor kotor dengan tanah, dan aku bisa melihat memar diujung dagunya dan setitik noda darah di bajunya yang berwarna putih.
Anzor tampak kesal, sesekali dia meringis kesakitan. "Apa Ginny juga yang mengeluarkanmu?" Tanya Caleb.
"Bukan." Jawab Anzor dengan nada marahnya.
Kalau bukan Ginny yang melakukannya, berarti antara Noah dan Sam. Tapi Sam tidak mungkin mengeluarkan Anzor, dan itu berarti Noah yang melakukannya. Dan di lihat dari memar Anzor, Noah melakukan hal lebih padanya. Anzor bertemu pandang denganku, tapi langsung mengalihkannya.
Jantungku semakin berdebar kencang, Asyira sama tidak tenangnya denganku. Setelah menunggu lama, akhirnya van berheti dan pintunya terbuka. Asyira mencengkram tanganku dengan keras. Ternyata Noah yang masuk.
Noah menggeser Ricardo yang duduk disampingku, dan menggantikannya. "Jangan bilang Sam." Kataku.
Noah tertawa keras-keras. "Ginny benar-benar hebat." Katanya. "Aku tidak melihatnya sama sekali, bahkan aku yang mencarinya tapi malah dia yang mendapatkanku."
"Dia memang hebat." Kataku.
"Berarti tinggal dia dan Sam." Kata Asyira.
"Seandainya saja kita bisa menonton mereka, pasti seru sekali." Kata Jade.
"Kuharap Ginny berhasil." Bisikku.
"Pasti dia yang berhasil, aku yakin sekali." Kata Noah.
Dan ketika pintu van terbuka, tampak Ginny dan Sam masuk. Kami semua memandangi mereka berdua, Ginny duduk tampa menunjukan ekspresi apapun. Tapi Sam tersenyum puas.
"Selamat pada Sam." Kata Aldo.
Noah tampak terkejut, begitu juga dengan Asyira dan Jade. Jane dan Grace bersorak-sorak dengan ramai, mengucapkan selamat berkali-kali pada Sam.
Akhirnya kami pergi dari sini, pulang ke Vagsat Academy. Ketika kami sampai, sudah pukul tiga pagi. Ginny membanting pintu kamar dengan keras, itu membangunkan Renee dan Megan.
Ginny duduk di lantai samping ranjangnya, tangannya mengepal karena kesal. Dia mengumpat berkali-kali, wajahnya memerah. Asyira mencoba menenangkannya, "Kita akan mengalahkannya lain kali."
"Siapa yang mengeluarkanmu?" Tanya Ginny pada Asyira.
"Jane."
"Kau?" Tanya Ginny padaku.
Aku melirik Asyira sebentar, ragu apakah harus kujawab jujur apa tidak. Tapi Asyira tidak merespon. "Sam." Ginny terlihat semakin kesal.
Megan dan Renee juga sudah ikut berkumpul. "Darimana kalian?" Tanya Megan dengan wajah mengantuknya.
Aku menceritakan yang terjadi pada Megan dan Renee, mereka mengangguk mengerti dan Megan jadi ikut-ikutan kesal.
"Kita harus membalasnya." Kata Megan.
"Benar, kita harus mengalahkannya lain kali." Kata Ginny.