Bab 10

2857 Kata
Anzor tampak lebih ketakutan lagi, lalu dia mundur dan lari meninggalkanku. Wow, pengecut sekali. "Sedang apa kau disini Liz?" Tanya Aldo. "Sedang apa kau disini?" Balikku bertanya. "Apa kau kesini hanya untuk bermesraan dengannya?" Aldo membentak. Aku melawan. "Memangnya kenapa, apa kau akan menyuruhku lari seratus putaran seperti tadi pagi Al?" Sinisku. Aldo menggertakkan giginya, matanya menatap tajam padaku. Aku balik menatap matanya, mununjukan padanya aku tidak takut padanya. Tapi dia mengalihkan pandangannya dan duduk di pinggir kolam yang terbuat dari batu-batu yang disejejerkan. "Kau tadi bertanya apa yang kulakukan, aku sedang lari." Katanya. Aku melihat celana training hitam dan kaos abu-abu yang basah dibagian d**a dan punggungnya yang dipakai Aldo. Aku menghela napas, dan menyerah. Aku duduk disamping Aldo. "Aku sedang menjernihkan pikiranku." "Bersama Anzor?" Tanyanya. "Tidak, dia mengikutiku kesini." Jawabku. "Dan kalian berciuman?" Tanya Aldo tanpa basa-basi. Aku menggerang jijik. "Kau pasti tidak melihat aku menamparnya." Jawabku. Dia memutar tubuhnya kearahku. "Liz, aku tidak suka kau masuk kelas lapangan." Kata Aldo tanpa tedeng aling-aling. "Tapi kenapa kau membantuku lolos?" Tanyaku putus asa. "Kau tidak mengerti, ini sulit untukku." Dia mengernyit. "Aku mendukung keputusanmu. Tapi sekarang aku adalah gurumu, dan aku tidak bisa pilih kasih. Dan melihatmu tadi pagi, itu bukan sesuatu yang ingin kulihat." "Aku tidak mengerti, kenapa?" "Kenapa kau begitu bodoh." Katanya, memalingkan wajahnya dariku. Aku memukul lengannya keras. "Aku tidak bodoh!" "Ya kau bodoh, nilai tes pengetahuanmu adalah yang terendah. Bukankah sudah kusuruh untuk mencari jawabannya dulu." Kata Aldo. "Sudah kulakukan, sungguh. Memangnya berapa skorku?" Tanyaku penasaran, sekaligus kesal. "98." Jawab Aldo singkat. "Dan berapa skor yang lainnya?" Tanyaku. "100." Aku terperangah. "Apa mereka semua memang sepintar itu?" Tanyaku. "Begitulah, kami memilih yang terbaik." Jawabnya. "Apa ada yang tidak lolos untuk kedua kelas itu?" Tanyaku, mencoba menaikan satu alisku tapi gagal. "Tentu saja ada, sebenarnya cukup banyak untuk tahun ini." "Dan apa yang terjadi dengan mereka?" "Pulang, mereka tidak akan bisa jadi mata-mata." Sontak aku merasa kasihan sekaligus ngeri. Mungkin jika tanpa Aldo, nasibku akan sama seperti mereka. Mungkin Noah juga. Ah sial, aku kembali memikirkannya. "Ada apa?" Tanya Aldo yang menyadari perubahan suasana hatiku. "Kau tahu apa yang terjadi dengan orangtua Noah?" Tanyaku. "Kenapa kau ingin tahu?" Tanya Aldo, tangannya dilipat didepan dadanya. "Noah menceritakannya padaku," aku memutar tubuh Aldo agar benar-benar melihatku. "Dia benar-benar sedih, dia bahkan menangis Al." Menceritakan ini pada orang lain justru membuatku semakin sedih. "Aku tahu cerita itu, tapi kami semua tidak terlalu memikirkan itu. Hal itu biasa terjadi di dunia kita Liz. Lagipula kami sudah memberinya kompensasi, Vagsat Academy akan memberi tanggungan pada Noah sampai dia lulus dari sini." Kata Aldo. "Apa semua mata-mata tidak berperasaan seperti kau?" Tanyaku sinis. "Begitulah, kau juga akan menjadi seperti itu nanti." Kata Aldo. "Tidak akan." Kataku, tapi ketika aku mengatakan hal itu, sesuatu terasa menggelitik telingaku. Aku merinding karena aku tahu apa ini. Ada serangga ditelingaku. "Lihat telingaku." Kataku, tidak membuat pergerakan sedikitpun. Aldo memajukan kepalanya dan melihat ke arah telingaku. "Itu hanya ngengat Liz." Jantungku rasanya copot dan semua darah dikepalaku turun. Aku melotot. "Singkirkan dariku Al." Jeritku. Tangan Aldo terulur, tapi ngengat itu bergerak. Aku bisa merasakan kaki-kaki kecilnya yang berjalan, dan kepakkan sayapnya mengenai pipiku. Aku ketakutan setengah mati, dan tanganku mengibas-ngibas tak tentu arah sambil terus berteriak. "Liz hentikan, para penjaga bisa mendengar kita." Tangan Aldo menutup mulutku. "Hentikan." Aku mengangguk-ngangguk. Aldo melepaskan bekapan tangannya di mulutku. "Sudah pergi?" "Sudah." Aldo tampak menahan tawanya. "Aku lupa kau insectophobia." "Tidak ada yang lucu dari itu." Kataku, masih merinding. "Kau tidak berubah, masih Elise yang dulu." Katanya, tersenyum. Senyuman Aldo berbeda dengan senyuman Noah, ada sesuatu yang aneh pada diriku saat dia tersenyum. Bukan perasaan gembira seperti saat melihat Noah tersenyum, ini sesuatu yang lain. Seakan senyum Aldo mempunyai gaya magnet yang kuat, dan aku tertarik olehnya. "Dan kau berubah, banyak." Kataku. "Tidak sebanyak yang kau pikirkan." Aldo bangun dari duduknya. "Sudah larut, kau harus kembali kekamarmu sebelum penjaga melihatmu." Aku berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang celanaku. "Kau benar, sampai jumpa besok dikelas Mr. Masen." Kataku dan berjalan menjauh darinya. Tapi sebelum terlalu jauh, Aldo memanggilku. Aku menoleh, "Ada apa lagi?" Aldo tersenyum. "Kau tampak cantik saat dipesta kemarin." Katanya. Pipiku memanas. "Thanks." Kataku malu-malu lalu segera pergi dari tempat ini, meninggalkan Aldo. Aku berlari ke kamarku sambil menggigit bibir bawahku dan tersenyum lebar. Saat aku berbelok menuju asrama cewek, aku melihat teman-temanku sedang membuka pintu kamar kami. "Kupikir kau sudah tidur Liz." Kata Renee. "Darimana kau?" Tanya Asyira. "Tadi aku memang sudah tidur, tapi tiba-tiba terbangun. Jadi aku berjalan-jalan sebentar di koridor." Bohongku. Megan membuka pintu kamar, dan kami masuk. Asyira langsung pergi ke ruang pakaian, dan beberapa detik kemudian dia keluar lagi. "Sial, mataku bengkak." "Bagaimana bisa?" Tanyaku. "Asyira menangis saat menonton film." Kata Megan, tertawa. Aku juga ikut tertawa sambil berjalan keranjangku, merebahkan diriku. "Aku tidur duluan." Kataku sambil menutupi tubuhku dengan selimut tebalnya. Bibirku tertarik saat mengingat perkataan Aldo tadi, mengingat bagaimana dia tersenyum ketika mengatakan itu. Aldo adalah cowok pertama yang mengatakan aku cantik sejak pesta kemarin, bahkan Noah tidak mengatakan itu. Aku tidak mengira dia memperhatikan. Aku terus memikirkan itu sampai tertidur. Saat terbangun paginya, entah mengapa aku merasa amat segar. Aku bergegas mandi dan melakukan semua yang harus kulakukan sebelum masuk kelas pertamaku. Sarapan bersama yang lainnya diruang makan dengan roti bakar yang lezat. Kelas pertamaku adalah kelas budaya bersama Profesor Young. Kali ini aku tidak terpisah dari sahabat-sahabatku, karena ini kelas wajib. Saat memasuki kelas, Profesor Young sudah duduk di kursinya didepan kelas, dan aku duduk di barisan nomor dua. Didepanku duduk Renee, Megan duduk disamping Renee, sedangkan aku diapit oleh Asyira dan Ginny. Penampilan Profesor Young sangat berbeda jauh dengan namanya, dia sudah tua, kira-kira mendekati 70 tahunan. Rambutnya disanggul elegan keatas, kacamata yang tipis membingkai matanya yang keriput dan sudah mengendur itu. Pelajaran dimulai, suara Profesor yang pelan membuat kelas ini sangat membosankan. Kulihat Renee sedang asyik mencatat setiap perkataan Profesor Young, dan Ginny sedang menahan kepalanya agar tidak jatuh karena tertidur dikelas. Aku sendiri sudah menguap berkali-kali, mataku berair karena harus menahan kantukku selama dua jam. Saat pelajaran Budaya selesai, semua murid tampak terburu-buru keluar dari kelas. Aku harus membangunkan Ginny dulu sebelum keluar dari kelas. Kelas selanjutnya adalah kelas bahasa, kali ini aku hanya bersama Megan. Ketika aku memasuki kelas, kulihat Noah sudah duduk di kursi paling belakang. Aku dan Megan duduk dibarisan paling depan, dan Noah tiba-tiba berpindah dari kursinya dan duduk di kursi kosong yang ada disampingku. Berhubung Ms. Hayes belum datang, aku dan Noah punya kesempatan untuk mengobrol. Noah memajukan duduknya lebih dekat kepadaku. "Kau tidur nyenyak tadi malam?" Tanyanya. "Lumayan, bagaimana denganmu?" Noah tersenyum. "Lebih baik." "Senang mendengarnya." Lalu Ms. Hayes datang, Noah membenarkan duduknya. Pelajaran dimulai, menghabiskan waktu selama 3 jam. Tidak lupa Ms. Hayes memberi tugas bahasa Jerman dan Mongolia yang kami pelajari dengan singkat tadi. Menjadi mata-mata benar-benar menguras habis otakku, ini lebih parah dari sekolah kedokteran. Aku yakin, dua tahun sekolah disini dan taraf berpikir kami pasti lebih tinggi dari guru di sekolahku dulu. Kami istirahat makan siang, setelah itu baru kelas lapangan. Asyira dan Ginny sudah menyediakan tempat untuk kami, tapi aku tidak melihat Renee. "Mana Renee?" Tanyaku ketika aku duduk. "Perpustakaan." Jawab Asyira. Aku mengambil salad dan apel untuk makan siang. Baru satu sendok, Noah memanggil namaku. "Liz, kenalkan, mereka teman-temanku." Tunjuk Noah pada dua cowok, yang samar-samar aku ingat. Cowok dengan rambut cepak berwarna hitam, tulang pipi yang menonjol, dan bibir yang penuh menjabat tanganku. "Paul." Dan cowok satunya yang bertubuh jangkung, rambut coklat yang gondrong berantakan, dan kacamata bulat yang menghiasi wajahnya dan membingkai mata dengan manik kebiruan itu. "Colin." Katanya. Colin dan Paul tampak bercanda dan saling menyikut pelan. "Boleh kami bergabung?" Tanya Paul. "Tentu saja," jawabku. Paul dan Colin duduk berhadapan denganku, bersebelahan dengan Ginny dan Asyira yang menyapa mereka dengan ramah, Megan juga.  Acara makan siang kami sangat menyenangkan, tapi itu hanya berlangsung  30 menit. Suara ribut-ribut terdengar, beberapa dari mereka memegang kertas ditangan mereka dan menunjukan kertas itu ke yang lainnya. "Ada apa disana?" Tanya Megan. Tiba-tiba Sam bangun dari duduknya, dia berjalan kearahku. Matanya yang bulat menatap tepat kearahku dengan tajam, ditangannya ada kertas. "Dasar p*****r!" Teriaknya kearahku, tangannya di pukulkan dengan keras kemeja. Ginny berdiri dengan marah. "Ada apa denganmu?" Teriaknya. Sam melemparkan kertas ditangannya keatas meja. Ada dua kertas yang sudah agak lusuh, disitu ada gambar. Aku mengambil kedua kertas itu dan melihatnya dengan seksama. Jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat saat melihat apa isi kertas itu. Disalah satu kertas itu  ada fotoku dan Anzor di taman tadi malam, entah bagaimana tapi foto itu tampak memperlihatkan kami sedang berciuman. Dan di kertas yang kedua, fotoku dengan Aldo tadi malam, saat Aldo sedang akan menyingkirkan ngengat dari telingku. "Temanmu adalah perebut kekasih orang sekaligus simpanan guru. Pantas saja dia lolos masuk kelas lapangan, mungkin dia sudah memberikan tubuhnya pada Mr. Masen." Kata-kata Sam membuatku naik pitam. Tapi salah satu kelemahanku adalah, ketika marah, air mataku malah tumpah. Megan menarik kertas-kertas itu dari tanganku, setelah melihat gambarnya, dia menatapku dengan tidak percaya. "Aku tidak melakukan apapun." Kataku dengan suara bergetar. "Dasar murahan." Kata Sam, tangannya terarah ke pipiku. Tapi tangan Noah menahannya sebelum mengenai pipiku. Sedetik kemudian Ginny menyebrangi meja, menerjang Sam dengan kuat sampai mereka terjatuh ke lantai. Mereka berkelahi sampai Anzor datang dan memisahkan mereka. Megan menahan tangan Ginny agar tidak maju dan menerjang Sam lagi. "Liz tidak mungkin melakukan itu." Kata Asyira yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Megan. "Kau masih melindunginya setelah melihat bukti itu?" Sam tampak sangat marah. Rambutnya yang indah berantakan akibat terjangan Ginny yang kuat. Aku melihat Anzor, "Anzorlah yang mengikutiku dan ingin menciumku ketika aku lengah." Sam langsung melihat cowok disebelahnya, memelototinya. Tapi Anzor hanya diam. "Tidak mungkin dia seperti itu." Kata Sam. Kali ini bukan Ginny, tapi Noah. Dia memukul wajah Anzor dengan sangat keras sampai dia terhuyung-huyung kebelakang. Tidak hanya sekali, Noah memukul Anzor sampai tiga kali sehingga timbul darah dari hidung dan bibir Anzor. "Jangan pernah dekati dia." Kata Noah, dari belakang kulihat pundaknya naik turun dengan cepat. Sam berlari kearah Anzor, sementara Paul dan Colin menarik mundur Noah dengan susah payah. "Kau dan teman-temanmu akan membayar semua ini!" Jerit Sam. Lalu Profesor Green muncul, matanya bergerak-gerak menatap kami satu persatu. "Miss. Gadra, tolong berikan kertas itu pada saya." Asyira menyerahkan kertas-kertas pembuat masalah itu pada Profesor Green. Profesor Green melihat kertas-kertas itu dengan mata terbelalak, lalu matanya bergulir melihatku. "Kalian semua ikut denganku." Kami digiring masuk keruang kepala sekolah, Robert langsung terkejut melihat kami semua. Profesor Green menceritakan apa yang dia lihat di ruang makan, tentang perkelahian Noah dengan Anzor. Lalu dia menunjukan foto-foto itu pada Robert, Robert juga terlihat terkejut. "Siapa yang mengambil foto ini?" Tanya Robert. "Sam yang menunjukan ini pada kami, mungkin dia juga yang mengambil foto itu. Dia memata-matai Liz." Ginny buka suara. "Aku tidak melakukan itu, aku baru saja mendapatkan foto itu tadi dari Jane." Kata Sam. "Dan darimana temanmu mendapatkan foto itu Jane mendapatkan ini?" Tanya Robert lagi. "Aku tidak tahu." Sam mundingkan jari telunjuknya kearahku. "Yang jelas dia harus mendapatkan hukuman." "Kami tidak mengurusi urusan percintaan kalian. Tapi Miss. Irsham dan Mr. Ivanov akan mendapat hukuman karena melanggar waktu tidur." Kata Robert. Anzor terlihat sedikit terkejut lalu tampak lega. Sedangkan Sam tampak tidak puas,  dia memicingkan matanya kearahku. "Dan tentang perkelahian tadi, Mr. Turner juga akan mendapatkan hukuman bersama Mr. Ivanov dan Miss. Irsham untuk menghabiskan jam istirahat setelah malam malam menjadi asisten Profesor Howard besok malam di lab selama selama satu hari." Jelas Robert. Suara pintu terbuka terdengar, Aldo masuk keruangan ini. Selama beberapa detik mata kami sempat bertemu. "Yang lain silahkan keluar, aku hanya membutuhkan Miss. Irsham." Mereka semua keluar, termasuk Profesor Green. Asyira sempat melambai kecil kearahku, memberi semangat sebelum keluar melewati pintu. Noah menatapku sebentar lalu ikut keluar juga. Setelah ruangan ini hanya tinggal kami bertiga, Robert bangun dari kursinya dan berjalan-jalan diruangannya. "Kalian punya hubungan spesial?" Tanya Robert langsung. Aldo dengan santainya duduk di sofa panjang di pinggir ruangan. "Ada apa sebenarnya ini?" Tanyanya. "Lis membuat masalah?" Robert menyerahkan salah satu foto itu pada Aldo. "Kalian yang membuat masalah." Aldo melihat foto itu sebentar. "Kami hanya mengobrol." Katanya. "Aku tidak melarang kalau kalian punya sesuatu yang spesial, hanya saja ini bisa menjadi citra buruk untuk academy ini." Kata Robert. "Santailah sedikit Rob." Kata Aldo. "Kau kelihatan lebih tua sekarang." Aku terkekeh, begitu juga Aldo. "Baiklah, ini urusan kalian dan kalian sendiri yang menyelesaikannya." Kata Robert. "Apa hanya ini masalah Liz? Kudengar dia juga membuat masalah di kantin tadi." Kata Aldo. Robert memberikan satu foto lagi pada Aldo, lalu dia duduk kembali di kursinya. "Dia tidak melakukan ini, aku sendiri yang melihatnya." Aldo berkata dengan nada meyakinkan. "Aku tahu." Kata Robert datar, seakan itu tidak menarik baginya. "Apa aku bisa pergi sekarang? Aku masih ada kelas, dan aku sudah terlambat." Kataku, melihat jam dinding. "Tenang saja Liz, gurumu saja masih disini." Kata Aldo. Dia benar, setelah ini aku masuk kelas lapangan. Robert mengibas-ngibaskan tangannya. "Kalian boleh pergi, aku masih ada urusan lain yang lebih penting." Katanya, lebih seperti mengusir daripada mempersilahkan. Aku berjalan keluar dari ruangan Robert bersama dengan Aldo. "Kau jalan lebih dulu, aku akan berjalan lima meter dibelakangmu." Kataku. "Untuk apa itu?" Tanyanya. "Aku tidak mau jadi bahan perbincangan lagi." Jawabku. Aldo memutar matanya, "Kau terlalu memusingkan apa yang dikatakan orang lain padamu, kau harus menghentikan kebiasaan buruk itu Liz." "Mereka pikir aku seorang p*****r Al!" Jeritku. "Dan itu sangat memalukan." Aldo tampak terkejut, matanya membulat. "Semua itu karena foto-foto itu?" Tanyanya. Aku mengangguk,  menggigit bibirku, menahan air mataku agar tidak menetes. "Mereka mengatakan aku perebut pacar orang." "Anzor?" "Dan mereka pikir aku semacam murid simpananmu." Saat mengatakannya, air mataku akhirnya tumpah. Aldo menarik lenganku dengan kasar, "Apa yang kau lakukan?" Aku mencoba menarik tanganku tapi sia-sia, jeratan tangan Aldo sangat kuat. Kami akhirnya sampai di depan ruang kelas lapangan. Aldo melepaskan lenganku, "Hapus air matamu." Suruhnya. Aku menghapus sisa-sisa air mataku dengan punggung tanganku. "Kita tidak boleh menunjukan kalau kita kalah, kita tantang mereka kembali." Kata Aldo. "Bagaimana?" Kali ini dia menggenggam tanganku, menjalin jemarinya dengan jemariku. Dia lalu membuka pintu kelas, kami masuk bersamaan. Murid-murid lainnya, yang tadi sedang ribut sekarang mendadak diam melihat kami masuk bersamaan. Jumlah murid di kelas lapangan ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kelas-kelas umum lainnya, karena itu aku dengan mudah menemukan wajah-wajah yang sudah kukenal. Aku melihat Sam yang memandangku dengan penuh rasa kebencian, aku berpaling. Aku terus mengumpat dalam hati dengan ide Aldo yang bodoh ini. Asyira dan Ginny nyengir lebar melihatku, aku hanya mengangguk kecil pada mereka. Dari semua murid yang memandangiku dengan berbagai ekspresi, hanya Noah yang mengalihkan pandangannya kepada buku dimejanya. Aldo mengantarkanku ke satu-satunya kursi kosong yang ada di paling depan, tepat disebelah Noah. Dia menarik kursinya dan mempersilahkanku duduk. "Sudah nyaman?" Tanyanya ketika aku duduk. Aku mengernyit jijik mendengar itu, aku tidak menjawabnya. Aldo menunduk dan berbisik. "Jangan tunjukan kelemahanmu." Katanya lalu berjalan pergi kedepan kelas. "Maaf saya terlambat, ada urusan yang harus di urus." Aldo duduk diatas mejanya. "Kalian adalah siswa kelas lapangan sekarang, ini bukan kelas yang mudah. Akan ada banyak rintangan menanti, dan akan kupastikan itu tidak akan mudah. Aku tidak perduli kalian siap atau tidak, kalian sudah memilih kelas lapangan dan tidak boleh ada yang mundur." Aldo memandangi kami semua. "Sekarang kita mulai pelajarannya." Selama pelajaran kelas lapangan, aku merasa semua mata memandangku panas atau ini hanya perasaanku saja. Aku tidak berani menoleh kemanapun, aku tidak mau bertemu pandang dengan seseorang yang sedang memperhatikanku. Jadi aku terus saja memandangi Aldo yang sedang menerangkan tentang dasar-dasar menjadi agen lapangan dan metode-metode dasar penyelidikan, terkadang aku membaca bukuku. Kelas lapangan memakan waktu yang lama, sekitar tiga jam. Tapi karena tadi Aldo terlambat, kami hanya belajar dua setengah jam saja. Akhirnya Aldo mengakhiri kelasnya. Aku membereskan bukuku dan memasukannya di loker yang disediakan disetiap kelas. Aku keluar kelas dengan Asyira dan Ginny. "Apa kau dapat hukuman tambahan lagi?" Tanya Ginny, sambil merangkulku. "Tidak, Mr. Masen membelaku tadi." Jawabku. Kami bertemu dengan Renee dan Megan di ujung koridor sayap timur di lantai tiga. Mereka tampak menunggu kami datang, ketika melihat kami Renee langsung berlari kearahku dan memelukku. "Kau tidak apa Liz?" Tanya Renee. Aku tergelak. "Aku baik-baik saja Liz." "Ayo cepat kita kekamar." Kata Asyira, menggiring kami cepat-cepat seperti induk bebek menggiring anak bebek. Aku menghiraukan setiap bisik-bisik ya terdengar setiap aku lewat di depan mereka. Sampai akhirnya kami sampai di dalam kamar asrama kami. "Kau harus menceritakan yang sebenarnya Liz." Kata Asyira. "Sebelumnya aku ingin tahu, apa kalian percaya padaku?" Tanyaku, menatap mata keempat teman-temanku sedalam-dalamnya. "Tentu saja, kami ini sahabatmu Liz." Kata Renee. Dan mereka semua mengangguk dengan mantap. Aku menceritakan semuanya dengan sejujur-jujurnya dari awal, bagaimana aku bisa masuk ke academy ini, hubunganku dengan Aldo, kejadian di taman kemarin malam dan tentang Noah. Aku percaya dengan sahabat-sahabatku, kalau mereka tidak akan menceritakan ini pada siapapun lagi. Mereka tercengang mendengar ceritaku, "Sudah kuduga kau sudah mengenal Mr. Masen sebelumnya." Pekik Ginny. "Benarkah?" Tanyaku tak percaya. "Mr. Masen tidak mengubris kami, kecuali kau." Kata Ginny lagi, tapi dia kelihatan lega karena mengetahui semua ini. "Aku penasaran tentang ruang rahasia yang kau dan Noah temukan." Kata Megan. "Aku bisa menunjukannya sekarang." Kataku. "Kalau kalian mau." "Tentu saja kami mau." Renee terlihat girang. "Nanti malam." Asyira menbenarkan. "Ngomong-ngomong tentang ruang rahasia, aku dan Asyira juga menemukan satu lagi saat kami bersembunyi dari Si Babi Gendut." Kata Ginny, Asyira tertawa saat Ginny mengucapkan Babi Gendut. "Siapa itu Si Babi Gendut?" Tanyaku. "Penjaga ruang penyimpanan makanan. Aku yakin dia sendiri senang mencuri persediaan makanan, makanya tubuhnya jadi sebesar itu." Kata Ginny, dia tertawa dengan keras. "Kuyakin masih banyak ruang rahasia atau jalan rahasia di gedung sebesar ini." Kata Renee. "Aku jadi penasaran." Kata Megan, alisnya di mainkan dengan nakal. "Dimana kita bisa menemukan cetak biru gedung ini?" Tanya Asyira. "Ruang arsip." Jawab Renee. "Apa kalian memikirkan hal yang sama denganku?" Tanya Asyira. "Entahlah, aku memikirkan tentang makan malam." Kata Ginny. Kami semua tertawa. "Sebenarnya siapa sih yang babi gendut?" Tanya Asyira. Ginny tertawa. "Tapi aku juga memikirkan hal lain." Katanya. Asyira melihat kami, dan tahu kami berpikir kearah yang sama dengannya. "Malam ini?" Tanyanya. Aku mengangguk, tersenyum lebar karena bersemangat. "Malam ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN