Bab 9

2128 Kata
Ruang makan sudah ramai, hampir semua murid yang lolos di kelas lapangan merayakannya disini, kami juga begitu. Megan, berhasil masuk kelas analis tanpa perlu mencontek sama sekali. Bukannya dia sok suci, dia hanya takut ketahuan. "Kau harus makan, kau kelihatan sangat pucat." Kata Renee, manjatuhkan setumpuk daging cincang di atas piringku. "Hei Liz, kau kelihatan kacau." Kata satu cewek yang berjalan melewatiku bersama dua teman ceweknya sambil tertawa-tawa. "Siapa mereka?" Tanyaku. "Ashley, Kate dan Jenna." Jawab Asyira. "Mereka benar, kau tampak kacau Liz." Kata Ginny, sambil menyuap sup jagungnya. Jemari Noah menyelipkan beberapa helai rambutku kebelakang telingaku. "Kau masih cantik." Katanya. Megan menyemburkan minumannya, dan aku tersedak pasta saat mendengar perkataan Noah. "Terimakasih ejekannya." Kataku, berusaha membuat suasana tidak lebih memalukan untukku. Noah hanya tersenyum dan kembali memakan santap siangnya. "Itu ejekan yang indah." Kata Megan, melirik nakal pada Ginny dan Renee. Aku memutar mataku dan kembali makan. Waktu jam makan siang sudah habis, dan karena hari ini adalah hari pertama jadi kami mendapatkan sedikit kelonggaran. Setelah makan siang, jam pelajaran dikosongkan dan kami bisa istirahat untuk pelajaran mata-mata yang sesungguhnya besok. "Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Renee saat kami berjalan menuju asrama. "Aku akan mandi." Kata Megan sambil lari. Ginny dan Asyira berbisik-bisik dan tertawa. "Kami akan mencuri beberapa snack, Lily mengadakan acara nonton bersama dikamarnya." Kata Asyira. "Mereka selalu menyimpannya di gudang makanan. Kau ikut?" Tanya Ginny, senyum nakalnya tidak hilang. "Ikut denganku saja." Kata Renee. "Kemana?" Tanyaku. "Perpustakaan." Jawab Renee. Ginny dan Asyira menahan tawanya, tapi Ginny bablas. "Lebih baik ikut dengan kami Liz, ayolah pasti asik." Ajak Ginny. "Liz ada urusan denganku," kata Noah, dia menatapku penuh arti. "Iya kan Liz." Aku mengangguk. "Hampir saja aku lupa." Mereka mengiyakan, Ginny dan Asyira segera melesat pergi. Renee juga pergi meninggalkanku berdua dengan Noah. "Apa rencana dadakannya?" Tanyaku. "Ayo ikut aku." Noah menarik pergelangan tanganku. Walau kepalaku masih sedikit pening dan tulang punggungku masih sangat nyeri, aku mau saja diajaknya. Kami berlarian di koridor, dan tertawa saat Noah menabrak salah satu senior cowok jepang ketika berbelok. Aku mendengar u*****n senior itu dibelakang kami. "Gudang?" Tanyaku, ketika kami sampai di koridor sayap utara dilantai dua, tempat ini sepi dan tidak ada seorangpun yang kelihatan. Noah masuk lebih dulu, aku ragu-ragu diambang pintunya. "Kau yakin, apa yang kita lakukan disini?" Tanyaku. "Kau ikut apa tidak?" Tanyanya, aku bergeming. "Kudengar, lantai di bagian ini berhantu." Katanya, menyeringai. Mendengar itu, aku melesat masuk ke gudang. "Jangan berkata yang aneh-aneh." Kataku, memukul kepala belakangnya. Noah meringis. "Kenapa kau tidak memukul Yuki seperti ini tadi?" Tanyanya, mengusap kepala belakangnya. "Jangan bicarakan itu. Sekarang apa?" Tanyaku. "Bantu aku mendorong ini." Kata Noah, menunjuk lemari kayu tua. Aku menurutinya, dan ternyata lemari ini cukup berat. Ketika kami berhasil mendorongnya, terdapat sebuah pintu kecil dari kayu yang tersembunyi dibelakangnya. Noah membuka pintu itu, "Ayo, kau duluan." Katanya, mempersilahkanku masuk lebih dulu. Aku melihat kebalik pintu, ada sebuah lorong yang gelap, lembab, kotor dan sangat kecil. Aku masuk sambil berjalan merangkak, Noah merangkak dibelakangku dan terdengar suara kecil pintu ditutup. Semakin lama lorong ini semakin kecil, tapi aku dan Noah masih bisa melewatinya. Kuyakin orang berbadan besar seperti Brock tidak akan muat masuk kesini. Karena gelap, aku tidak bisa melihat jalan, jadi aku menabrang dinding karena seharusnya aku belok kekanan. Dan setelah berjalan beberapa menit, tanganku terantuk sesuatu. "Itu anak tangga, naiklah." Kata Noah. Ketika menaiki anak tangga, kami bisa berdiri. Tangga ini terbuat dari kayu dan sudah mulai rapuh dan berputar-putar. Kuyakin kami sudah sampai di lantai empat atau lima sekarang ini, karena tangga ini sangat panjang. Sampai diujung anak tangga teratas, diatas kepalaku terdapat sebuah pintu lagi. Aku mendorongnya agar terbuka, dan udara segar langsung menyambutku. Aku naik sekali lagi dan sampailah aku disebuah ruangan yang semuanya dinding dan lantainya dari kayu. "Ini loteng?" Kataku, tidak percaya. Noah mengangguk, dia berjalan kesebuah jendela bulat, membukanya lalu memandang keluar. "Kau bisa melihat sekeliling dari sini." Katanya. Rambutnya yang berwarna coklat terang dan agak sedikit gondrong itu tertiup angin yang berhembus, matanya terpejam. Aku berjalan kesisinya, dan terperangah melihat pemandangan diluar. Aku bisa melihat taman Vagsat Academy yang indah dari atas sini, aku juga bisa melihat gedung-gedung tinggi dikejauhan. "Indah sekali." Kataku. Aku ikut memejamkan mataku, menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku dan menerbangkan rambut ikalku. "Tidak akan yang ada yang tahu kita disini, karena satu-satunya jalan masuk kesini hanya jalur yang kita lewati tadi. Kecuali jika ada yang mau repot-repot memanjat lewat jendela ini." Katanya. "Dan bagaimana kau bisa tahu ruangan ini?" Tanyaku. "Aku sampai lebih cepat dari jadwal yang seharusnya, dan tidak ada yang bisa kuajak bicara. Jadi aku menjelajah, dan menemukan tempat ini." Dia menatapku dan menaikan sebelah alisnya. "Hebat bukan?" Katanya, tersenyum bangga. "Harus kuakui, kau mudah membuatku terkesan." Kataku. Kami terus berdiri, memandangi pamandangan. Melihat beberapa murid yang sedang berjalan-jalan di taman atau hanya sekedar duduk-duduk dibawah pepohohan yang rindang, ada juga yang sedang santai duduk di batu besar dekat kolam ikan. Noah menunjuk dua cowok yang berjalan santai, blazer abu-abu mereka di gantung diatas bahu. "Teman sekamarku, Paul dan Colin. Kalau ada kesempatan, akan kuperkenalkan kau dengan mereka." Katanya. "Kelas apa yang mereka ambil?" Tanyaku. "Analis. Colin semacam gila dengan teknologi, dia sudah menghack beberapa situs terkenal dengan mudah." Cerita Noah. "Ceritakan tentang kehidupanmu sebelum kau jadi murid disini." Kata Noah. "Biasa saja, sekolah, les, main, sama sekali tidak ada hubungannya dengan mata-mata." Kataku. "Dan kau?" "Kurang lebih sama. Bagaimana orangtuamu?" Tanyanya. Aku tercekat. Aku teringat tentang perkataan Ginny, kalau jangan sampai Sam tahu aku bukan dari keluarga mata-mata. Tapi ini Noah, aku yakin dia bisa menjaga rahasia. "Kalau kau tidak mau menceritakannya juga tidak apa, rahasia mata-mata." Katanya, mengerling. "Tapi sayangnya, keluargaku sama sekali tidak ada yang menjadi mata-mata." "Lalu bagaimana kau bisa masuk kesini?" Tanyaku. "Vagsat Academy menampungku, karena orangtuaku sudah meninggal. Seorang mata-mata menembak orangtuaku, ternyata mereka salah sasaran. Mereka pikir ayah dan ibuku seorang teroris, mereka ditembak langsung di rumah kami." Air wajah Noah mendadak berubah sedih, wajah bahagia yang selalu dia tampilkan kini menghilang. Aku mengambil tangannya, menepuk-nepuk punggung tangannya. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang." Katanya. "Masih ada aku." Kataku, mencoba menghiburnya. Noah mengangguk, tapi kepalanya tertunduk. Satu tetes air terjatuh ke lantai kayu yang berdebu, Noah menggosok matanya. Aku terkesiap melihat Noah yang benar-benar bersedih, tanpa berpikir lagi aku langsung memeluknya. Tubuhnya bergetar saat memelukku balik, terdengar suara tersedu yang sesekali keluar tertahan dari mulut Noah. Aku mengusap-ngusap punggung Noah. "Tumpahkan saja, tidak apa. Kita bisa terus berada disini sampai kau kembali tenang." Kataku. Noah melepaskan pelukankan kami, kepalanya masih tertunduk dan dia tampak sedang mengatur napasnya. Setelah napasnya kembali normal, dia mendongak. Matanya terlihat memerah namun bibirnya tertarik membentuk senyuman khas Noah. "Thanks." Katanya, aku mengangguk. Kami tidak langsung keluar dari ruangan ini, kami duduk di lantai kayu tepat dibawah jendela. Noah menyandarkan kepalanya di bahuku, matanya terpejam, tanganku di genggamnya dengan erat. Aku tidak keberatan sama sekali, Noah benar-benar sedang membutuhkan seseorang disampingnya saat ini. Tadinya aku juga ingin mengatakan kalau aku juga bukan dari keluarga mata-mata, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau suasananya akan berubah seperti ini. Kami terus berada disini sampai tiba waktu makan malam, angin malam yang dingin juga sudah mulai menyelinap masuk lewat jendela yang terbuka. "Kau kedinginan." Kata Noah yang melihat bulu kuduk di lenganku meremang. "Ayo kita keluar sekarang." Ajaknya. "Kau sudah merasa lebih baik?" Tanyaku. Noah mengangguk, menambahkan senyumnya yang hangat itu. "Aku tidak mau kau ketinggalan makan malammu." Katanya. Dan kami keluar dari loteng kesedihan itu. Masih memakai pakaian olah raga dan bau keringat ditambah celana kotor penuh debu, kami duduk dimeja makan. Renee langsung terkejut saat aku tiba-tiba muncul dan meminum s**u digelasnya. "Astaga Liz, darimana saja kau?" Tanyanya. "Ada apa dengan Noah?" Bisik Megan padaku dari seberang meja. Aku melirik Noah yang duduk disampingku, dia hanya menunduk memandangi gelasnya yang kosong. Diam-diam dari bawah meja, tanganku mencari-cari tangan Noah. Tangannya sedang mengepal dengan keras diatas pahanya, aku bisa merasakan buku-buku jarinya menonjol. Aku menyentuh tangannya, melepaskan kepalannya. Noah yang merasakan tanganku, menggenggamnya dengan erat. "Dia baik-baik saja." Jawabku pada Megan. "Kau akan baik-baik saja." Bisikku pada Noah. Jam makan malam selesai, kami harus kembali ke asrama. Aku sama sekali tidak menyentuh makananku, begitu juga Noah. Ini seperti perasaan yang Noah sedang rasakan, aku juga jadi ikut merasakannya.  Saat berada di persimpangan asrama, tautan tangan kami terlepas. Aku memandangi Noah yang berjalan di koridor asrama cowok dan masuk kekamarnya. Akupun berjalan masuk kekamarku dan pergi mandi. Aku menyalakan air hangat dan berendam di bathtub cukup lama, tapi bahkan mandi tidak bisa menghilangkan rasa gelisahku. Apa sebegini besarnya pengaruh Noah padaku? Aku tidak bisa berhenti memikirkannya, aku sangat mengkhawatirkannya. Saat selesai mandi, Asyira dan Ginny menahanku. "Kau ikut tidak?" Tanya Asyira. "Ah, acara nonton bersama di kamar Lily." Kataku, mendadak ingat. "Bagaimana?" Mata Ginny sudah membulat didepan wajahku. Kupikir-kupikir ini adalah ide yang bagus untuk menghilangkan pemikiran tentang Noah. "Aku ikut." Kami semua, aku, Asyira, Ginny, Renee, dan Megan masuk kekamar Lily yang sudah ramai. Aku kenal dengan Lily, tapi tidak dengan sisanya. Jadi kami sibuk berkenalan selama beberapa menit, tapi anehnya mereka tahu siapa aku sedangkan aku tidak mengenal mereka. "Kau terkenal sejak pesta penyambutan Liz." Kata Emily. "Betapa inginnya aku jadi kau Liz. Bagaimana rasanya tangan Mr. Masen?" Tanya Zoe. "Astaga, yang benar saja." Kataku. "Kau tidak menyukai Mr. Masen Liz?" Tanya Lily. "Well, dia memang tampan." Kataku. "Aku tahu." Pekik Irina, dan langsung tersipu malu saat kami memandanginya dengan tatapan geli. "Tapi kau sudah punya pasangan, benar?" Tanya Jade. Aku menggeleng, "Aku belum punya siapa-siapa." Jawabku. "Tapi aku sering melihatmu dengan cowok Australia yang imut itu," Jade melihat kearah Lily meminta pertolongan. "Siapa namanya?" Lily menggeleng. "Noah maksudmu?" Tanya Megan. "Ya, Noah!" Jade tampak lega. "Aku dan Noah hanya teman." Kataku. "Tentu kami percaya." Kata Emily, ekspresinya seperti membalikan perkataannya. "Hey, ayolah putar filmnya." Kata Ginny, tangannya sudah sibuk membuka bungkus snacknya. Aku mengambil duduk dilantai, diatas karpet tebal warna ungu, menyandarkan kepalaku di kaki ranjang dekat dengan kaki Renee yang tergantung kebawah. Lily mengeluarkan sebuah CD dan mengutak-ngatik pemutar filmnya. "Film apa ini?" "Romantis kurasa, ini film thailand. Judulnya 'Crazy Little Thing Called Love." Jawab Lily. Selama setengah filmnya, aku cukup menikmatinya. Tertawa saat ada yang lucu, marah saat ada adegan yang menjengkelkan, atau mengeluarkan air mata saat ada adegan sedih. Tapi semakin lama aku menontonnya, pikiranku mulai kembali pada Noah. Mata pemeran utama prianya mirip sekali dengan Noah, begitu juga caranya terasenyum. Dudukku mulai gelisah, dan akhirnya aku menyerah. Aku bangun dari dudukku dan berjalan ke pintu. "Mau kemana Liz?" Tanya Asyira. "Aku mengantuk, aku akan tidur lebih dulu. Terimakasih untuk filmnya Lily." Kataku, keluar dari kamar Lily. Ketika aku mau masuk kedalam kamarku, kupikir aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Aku ingin ke loteng, tapi itu akan semakin membuatku teringat dengan Noah. Tapi aku masuk kekamar dulu untuk memamai sepatu, dan kuputuskan akan ke taman. Jadi aku mengendap-ngendap keluar dari lorong asrama, dan berjalan ke pintu utama. Tapi pintu utama terkunci, jadi aku memutar kearah sayap barat yang mungkin bisa menemukan pintu keluar lainnya. Suasana sekolah sangat sepi, tidak ada satu murid atau guru yang berlalu lalang. Ketika aku sampai di sayap barat yang gelap, aku mencari di lorong paling belakang. Ada dua pintu disitu, yang satu ruang janitor, dan yang satu lagi tanpa nama. Jadi aku membuka pintu yang tidak terkunci dan dibaliknya terpampang sebuah halaman yang luas. Aku menutup pintu dibelakangku dan berjalan di halaman sekolah yang luas menuju taman. Aku memakai tudung jaketku, karena angin malam yang bertiup membuat telinga dan pipiku dingin. "Liz." Seseorang memegang pundakku. Dengan cepat aku membalikan tubuhku dan terkejut karena orang itu adalah Anzor. Dia memakai celana pendek merah dan kaos putih polos yang tipis, dan kuyakin dia  kedinginan sekarang. "Kenapa ada kau?" Anzor terlihat sedikit takut. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya, masih dengan logat Rusianya yang kental. "Aku butuh udara segar." Jawabku, melanjutkan jalan-jalanku tanpa memperdulikan dia. Ternyata Anzor tetap mengikutiku, dia berjalan disebelahku. "Apa dari tadi kau mengikutiku?" "Aku melihatmu berjalan keluar dari lorong asrama, aku penasaran." Jawabnya. Aku bahkan tidak tahu ada orang yang mengikutiku, aku juga tidak mendengar langkah kaki dibelakangku. Anzor memang calon mata-mata yang hebat. Aku duduk di batu besar samping kolam ikan, cahaya lampu taman adalah satu-satunya penerangan disini. Aku memandangi ikan-ikan berenang, tampak indah dan anggun. Suara gemericik air mancur jadi lagu yang sangat indah untuk malam ini, aku memejamkan mataku dan menikmatinya. Mencoba melupakan Noah sebentar dan hanya berada pada pikiranku sendiri. Aku membayangkan wajah kedua orangtuaku dan Bayu, mengingat masa-masa bahagia kami yang sangat sedikit dan jarang itu. Tapi muncul juga wajah Aldo, bagaimana kami bermain bersama saat kecil. Bagaimana dia menenangkanku saat aku terjatuh dan terluka. Aku menggerang saat membayangkan itu, dan mataku terbuka mendadak. Aku lebih terkejut lagi saat melihat wajah Anzor tepat didepan wajahku, hanya berjarak lima centimeter. Karena terkejut, dudukku jadi tergelincir. Tapi tangan Anzor yang kekar itu menarik jaketku, membuatku kembali mendekat padanya. Dan hal berikutnya yang terjadi adalah, Anzor mendekatkan wajahnya ke wajahku lebih dekat lagi, mendekatkan bibirnya ke bibirku. Belum sempat bibir kami bertemu, telapak tanganku sudah bertemu lebih dulu dengan pipi Anzor. Aku menamparnya dengan keras. "Kau gila?" Teriakku. "Maafkan aku Liz." Kata Anzor, masih berusaha mendekatkan wajahnya padaku. Tapi aku mendorong tubuhnya menjauh dariku. "Kalian tidak seharusnya disini." Terdengar suara lain lagi. Aku melihat kebelakangku, Aldo sudah berdiri menjulang disitu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN