Rasanya aku baru tidur beberapa detik sampai Megan berteriak di telingaku. "Kau harus menjalani tes hari ini Liz, bangunlah."
"Masa bodo dengan tesnya." Kataku, menarik selimut dan menutupi kepalaku.
Selimut disingkap seseorang, tanganku di tarik-tarik, dan mataku dipaksa dibuka. Wajah Ginny terpampang didepanku. "Apa yang terjadi semalam Liz, ceritakan pada kita."
Aku melihat jam dinding, aku tidur tidak lebih dari lima menit. Aku menggosok-gosok mataku dan merenggangkan tubuhku. "Cerita apa?" Tanyaku, bingung.
"Hampir semua orang di pesta membicarakanmu, kau jadi topik panas." Kata Asyira.
"Kau gila kalau berani mendekati Anzor." Kata Asyira.
"Anzor siapa?" Tanyaku.
"Cowok Rusia yang kau ajak bicara tadi malam, dia mempunyai hubungan dengan Sam. Kami tidak tahu apa mereka pacaran, yang jelas Sam tidak suka kalau ada yang mendekati Anzor." Cerita Asyira.
Aku mencoba menarik ingatanku tentang wajah-wajah yang kutemui di pesta tadi malam, dan aku bisa mengingat wajah Anzor yang tampan itu. "Hei, aku tidak mendekatinya. Dia yang mulai bicara padaku. Dan aku bahkan tidak tahu dia pacar Sam, atau apalah kalian menyebutnya itu." Aku masih setengah sadar, dan sudah diserang dengan gosip.
Ginny mendekatkan wajahnya kewajahku, memelototiku. "Kau punya hubungan apa dengan Mr. Masen?" Tanyanya.
Aku memundurkan kepalaku, menggeleng dengan cepat. "Tidak ada, sama sekali tidak ada."
"Kau membuat semua cewek iri tadi malam." Kata Renee.
"Aku tidak bermaksud, sungguh." Aku benar tentang ini, aku tidak mau jadi bulan-bulanan murid cewek disini.
"Aku penasaran Liz," kata Megan, berdiri di ujung ranjangku dengan ragu-ragu. "Bagaimana rasanya b******u dengan Noah?"
"Apa?" Pekikku.
"Noah pasti membawamu kesuatu tempat tadi malam." Kata Megan.
"Ini rumit dan panjang sekali ceritanya. Aku akan mendapat masalah kalau aku menceritakannya pada kalian, kuharap kalian mengerti." Kataku. "Dan aku sama sekali tidak melakukan apa-apa dengan Noah, kami bahkan tidak punya hubungan apapun. Dia hanya teman, itu saja."
Ginny tampak kesal. "Padahal aku ingin, aku yang menjadi pusat perhatian di pesta tadi."
Asyira tertawa geli. "Ginny benar-benar berusaha tadi malam."
"Liz, aku mau hari ini kau tidak terlalu menarik perhatian, hindari Anzor." Kata Renee.
Asyira yang tadi masih tertawa geli langsung berubah serius lagi. "Renee benar, kau tidak ingin bermasalah dengan Sam."
Aku mengangguk mengerti.
Akhirnya kami bersiap-siap untuk hari pertama sekolah. Aku mandi dengan air hangat, menyegarkan kembali kepalaku. Aku memakai seragamku, dan menyisir rambutku.
Kami harus pergi ke aula lagi sekarang, kali ini kami pergi bersama para murid yang lainnya. Kami dipisah menjadi dua bagian, murid lanjutan dan murid baru.
"Semoga berhasil Liz." Kata Renne sesaat sebelum kami berpisah. Aku menggandeng tangan Megan menuju barisan yang disediakan untuk kami, tangan Megan terasa dingin dan berkeringat. Dia gugup, sangat.
Aku mengeluarkan kertas bocoran pertanyaan itu dari saku kemejaku. "Meg, ambil ini." Aku memberikan kertas itu padanya.
"Apa ini?" Tanyanya bingung.
"Diam-diam." Suruhku, "Itu semua jawaban untuk tes pengetahuan nanti."
Mulut Megan membuka lebar. "Bagaimana kau bisa mendapatkan ini?"
"Akan kuceritakan nanti." Kataku, karena Mr. Hall dan Prof. Green sudah menyuruh barisan para murid baru untuk mengikuti mereka.
Asyira, Ginny dan Renee yang masih berbaris melambai padaku dan Megan, kami melambai balik pada mereka.
Kami menuju ke koridor kelas, Prof. Green memanggil nama kami satu persatu dan mengarahkan kami masuk kedalam kelas. Kelas yang kumasuki bertuliskan Psikologi Umum, sudah tersedia meja dan kursinya. Aku mencari kursi di paling belakang, Megan tidak berada diruangan yang sama denganku. Berbeda dua meja dariku, di barisan paling kanan, Noah duduk dan melambai padaku. Dia tersenyum lebar, walaupun matanya berkantung. Kuharap Megan bisa mengerjakannya, kuharap Noah masih ingat dengan jawabannya, kuharap aku juga.
Tes dimulai, suasana mencekam. Semua kepala tertunduk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mengerikan. Aku sempat tertahan di beberapa soal, tapi dapat melaluinya dengan baik. Waktu yang diberikan hanya 30 menit, sangat sedikit memang, tapi aku sudah menyelesaikannya.
Noah berjalan disampingku ketika kami disuruh meninggalkan ruangan. "Bagaimana?" Tanyanya.
"Lancar." Jawabku.
Kami kembali dibariskan di koridor sayap barat lantai dua, Prof. Green dan Mr. Hall tidak terlihat. Aldo dan Miss. Rogers berdiri didepan, "Untuk kalian yang ingin masuk kelas lapangan, ganti seragam kalian dengan seragam olahraga, dan berkumpul lagi dilapangan dalam lima menit. Untuk yang menginginkan kelas analis, ikuti Miss. Rogers." Kata Aldo.
Aku melihat Megan dan beberapa anak lainnya mengikuti Miss. Rogers dari belakang, sisanya berhamburan. Aku berlari ke asramaku untuk ganti baju dengan cepat, tapi aku tidak bisa menemukan ikat rambutku. Aku tidak bisa jika olahraga tapi rambutku tergerai. Waktu lima menit yang diberikan sudah hampir habis, dan aku tetap tidak bisa menemukannya.
Seseorang mengetuk pintu asramaku, aku membukanya dan melihat Noah berdiri didepanku. "Aku menunggumu dipersimpangan tapi kau tidak muncul juga, jadi aku menjemputmu disini."
"Ini asrama perempuan, kau tidak boleh disini." Kataku.
"Aku tahu, sekarang ayo." Noah menarikku, membawaku lari ke lapangan di sisi gedung bagian kanan. Saat kami masuk kelapangan yang berumput dan sangat luas itu, Aldo sudah berdiri ditengah lapangan bersama yang lainnya. Aldo memakai kaos abu-abu dan celana jeans hitam, tangannya ditekuk didadanya. Jumlah murid yang mengikuti tes untuk kelas lapangan ini cukup banyak, dan kemungkinan aku gagal pun semakin besar.
Aku berdiri tegap bersama murid yang lainnya, kami semua diam. Wajah Aldo tampak dingin, dia tidak tersenyum sama sekali pada kami. "Kalian terlambat, silahkan masuk kelas analis."
Jantungku berhenti saat mendengar Aldo bicara seperti itu, aku dan Noah memang datang terakhir. Tapi untungnya bukan kami, dua cewek dan satu cowok yang baru datang itulah yang dibicarakan Aldo. Aku belum mengenal mereka, jadi aku tidak ambil pusing, selama bukan aku.
"Aku tidak ingin melihat ada yang mengeluh, semua keputusan ada padaku. Sekarang lari keliling lapangan." Suruh Aldo. Dan tanpa berpikir lagi, aku berlari. Kami semua berlari mengelilingi lapangan.
Luas lapangan ini lebih besar dari lapangan bola, dan kami sudah berlari delapan putaran. "Sampai berapa putaran lagi?" Tanya Noah dengan napas tersenggal-senggal.
Aku tidak bisa menjawab Noah, karena tenggorokanku sudah seperti tersumbat. Matahari yang bersinar terik menambah kesengsaraan hari ini. Diputaran ke dua belas, dadaku rasanya seperti terbakar dan kakiku mati rasa. Sudah dua murid tumbang, aku hanya mengenal salah satunya saja. Zoe, Asyira yang mengenalkannya padaku saat makan siang kemarin. Zoe pingsan diputaran ke sebelas, dia diangkut oleh tim medis. Aku menatap Aldo dengan kesal saat melewatinya, tidak ada raut kasihan sama sekali diwajahnya. Ingin sekali aku memukul kepalanya dan menendang selangkangannya.
Saat putaran ke tiga puluh sembilan, sudah sepuluh murid yang pingsan, dua muntah-muntah. Aku berhenti berlari, berjalan menyebrangi lapangan kearah Aldo. "Kau ingin membunuh kami semua?" Teriakku didepan wajah Aldo.
"Semuanya berhenti." Teriak Aldo. Aldo menatapku dalam, "Kau masih ingin masuk kelas lapangan? Kalau iya, lari lagi sepuluh putaran. Kalau tidak, silahkan pergi."
"Apa? Kau tega melakukan ini padaku Al?" Tanyaku, tidak percaya dia melakukan ini padaku. Tapi Aldo diam. "Baiklah Mr. Masen." Kataku sinis.
Aku kembali berlari saat yang lainnya beristirahat di pinggir lapangan. Aku melihat wajah mereka yang kelelahan, beberapa cewek yang kelihatannya hampir mau pingsan mengucapkan terimakasih padaku.
"Kau benar-benar ingin mati." Kata Noah yang tiba-tiba ikut berlari disampingku.
"Kau yang gila, apa yang kau lakukan?" Tanyaku, terkejut setengah mati dengan tindaka Noah. Aku melirik kearah Aldo yang melihat kami berlari, ekspresinya sulit ditebak. "Aku tidak ingin kau mendapat masalah."
"Biar saja, aku tidak tega melihatmu dihukum sendirian." Katanya. "Lagipula, kalau hanya begini aku masih kuat." Dia berbicara begitu dengan napas terpotong-potong.
Mataku berkunang-kunang, telingaku berdenging. Aku bahkan belum sarapan. Aku sudah ingin pingsan, aku mencengkram lengan Noah agar tidak terjerembab ke rumput. "Kau bisa melanjutkan ini?" Tanya Noah.
Aku menggeleng. Kakiku melemah, dan penglihatanku menggelap. Aku akan tumbang, aku akan gagal. Itulah yang terus menerus kupikirkan. "Oke, berhenti." Teriak Aldo. Dan aku tumbang.
Aku berbaring di rumput yang lembut. "Liz?" Suara Noah terdengar sama-samar. Aku membuka mataku perlahan, dan melihat wajah Noah yang tampak sangat khawatir. Keningnya berkerut-kerut, dan matanya terbelalak. Tapi wajah lain muncul, "Jangan membantahku lagi." Kata Aldo.
Noah membantuku duduk, "Liz, kau harus tetap sadar." Kata Noah. "Minum ini." Noah memberikan air mineral dalam botol.
"Thanks," aku meminumnya. Rasanya sangat menyegarkan, kepalaku mulai dingin. "Darimana kau mendapatkan ini?" Tanyaku.
"Kau tidak lihat Mr. Masen memberikannya tadi?" Noah malah balik bertanya.
Aku menggeleng lalu menegak sekali lagi air mineralnya, aku bisa berdiri lagi sekarang. Tidak ada waktu untuk istirahat, seperti penyiksaan yang tidak ada hentinya. Aldo menyuruh kami kelapangan indoor, didalamnya sudah tersedia matras.
"Tes bertarung, yang pertama memukul sampai tiga kali pada lawannya dia yang akan lolos." Jelas Aldo.
Semua murid saling bertukar pandang. Sedangkan jantungku rasanya mau copot, keringat dingin sudah mengucur deras di pelipis, di tengkukku dan turun ke punggungku.
"Austin dan Luis," panggil Aldo, tanpa merasa perlu memanggil nama belakang mereka. Aku tidak terkejut, Aldo memang tidak punya etika.
Murid yang namanya disebut Aldo tadi maju ketengah-tengah, berdiri diatas matras yang disedikan. Disudut ruangan, beberapa paramedis sudah bersiap.
"Mulai." Kata Aldo, Austin dan Luis mengambil posisi. Aku tidak tahu yang mana Austin atau Luis, aku belum mengenal semua murid disini, dan tidak berniat untuk itu.
"Ayo Luis!" Teriak seseorang, menyemangati.
Belum ada adegan saling pukul, mereka hanya bertatap-tatapan dan berjalan melingkar. Austin dan Luis tampak takut, Aldo terlihat bosan, "Kalian berdua gagal." Dan kata-kata Aldo mengejutkan kami semua. Mereka keluar ruangan dengan langkah berat, dan kami sisanya jadi semakin takut.
"Noah dan Brock." Kata Aldo.
Seseorang bertubuh tinggi besar, dengan otot bisep yang kekar, maju dengan sombongnya. Aku mencengkram lengan Noah, ngeri melihat siapa yang menjadi lawannya. Noah menyingkirkan cengkramanku dengan lembut, dia mengangguk meyakinkanku. "Aku akan menang." Katanya.
Noah maju, berhadapan dengan Brock. Brock melakukan perenggangan, sementara Noah hanya nyengir seperti orang bodoh. Saat Aldo mengatakan mulai, saat itu juga tinju Brock mengayun dengan cepat tepat kewajah Noah. Tapi Noah menunduk, menghindar. Dan dengan cepat membalas Brock dengan pukulan tepat kearah dagu Brock. Noah satu, Brock kosong.
"Yeah Noah!" Reflek aku berteriak.
Setiap kali tinju Brock melayang, aku menggigit bibirku. Takut jika tinju yang besar itu mengenai wajah Noah. Tapi Noah sangat gesit, dia seperti bisa membaca semua pergerakan Brock sebelum dia melangkah sehingga tidak ada satupun pukulannya yang mengenai Noah. Dan pada akhirnya, Noah yang memenangkan pertandingan.
"Kau luar biasa, aku terkesan." Kataku pada Noah ketika dia kembali duduk disampingku.
"Thanks." Kata Noah dengan nada bangga.
Pertandingan terus berlanjut, aku menonton dan memperhatikan dengan seksama murid-murid yang bertanding sebelumku. Aku memperlajari semua gerakan mereka, mengingatnya didalam otakku. Dan saat namaku dipanggil, pikiranku mendadak kosong.
"Kau bisa Liz." Bisik Noah ditelingaku, kata-kata semangat darinya membuatku kembali berpikir jernih.
Aku maju ke tengah-tengah, berhadapan dengan cewek yang bernama Yuki. Dia tampak seperti cewek-cewek Jepang yang bisa karate, dan aku akan dihajarnya.
Saat pertandingan dimulai, aku mengambil posisi menyerang, begitu juga Yuki. Tubuh Yuki lebih pendek beberapa centimeter dariku, jadi aku berinisiatif untuk menyerangnya lebih dulu. Aku melayangkan tinjuku kearah perutnya, kupikir kesempatanku terbuka, ternyata tidak. Yuki dengan mudah menahan tanganku, mencengkram pergelangan tanganku dan memelintirnya,lalu dia membalikan tubuhku dan memitingku. Lalu yang kurasakan selanjutnya adalah pukulan keras di punggungku, tendangan di perut dan pukulan di rahang. Aku pingsan.
~~~
Aku terbangun diruangan yang terang benderang, di kasur yang keras dan selimut yang kasar. Aroma alkohol seperti bau rumah sakit menyergap indera penciumanku dengan kasar. Sial, aku berada diruang perawatan. Wajah teman-temanku menyambutku, juga Noah.
"Hai tukang tidur." Sapa Asyira dari pinggir ranjang.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Renee.
"Membaik." Jawabku. "Berapa jam aku pingsan?"
Ginny melihat jam tangan mewahnya. "Tiga jam."
"Mau kuambilkan sesuatu?" Tanya Megan.
Aku menggeleng, "Tidak usah." Lalu aku teringat dengan tesnya, mendadak perasaanku jadi sedih. Aku memandang Noah yang daritadi hanya duduk diam di samping ranjangku. "Bagaimana tesnya, aku gagal kan?"
Noah tersenyum. "Professor Green sudah membacakan hasil tesnya, dan kita berhasil masuk kelas lapangan." Dia memberiku secarik kertas. "Jadwal kelasmu."
"Benarkah?" Jeritku, Noah mengangguk membenarkan. Aku mengambil jadwal itu daritangannya.
"Walaupun kau berada di peringkat paling akhir Liz." Kata Megan.
"Bagaimana mungkin? Tapi aku gagal di tes terakhir." Kataku tidak percaya, dan aku tidak memperdulikan tentang peringkat itu.
"Kelas lapangan kekurangan murid, jadi kau dan Brock dimasukan lagi." Jawab Noah.
"Ini benar-benar sebuah mukjizat!"
Pekikku.
"Tes kali ini lebih mudah daripada tahun-tahun kemarin, kalian berdua memang beruntung." Kata Asyira.
"Kita rayakan dengan makan siang, bagaimana?" Tanya Ginny dengan senyum sumringah.
Aku mengangguk. "Bantu aku berdiri." Pintaku. Tangan Noah dan Renee dengan sigap memapahku. Walaupun kepalaku masih terasa sedikit pening, tapi kegembiraanku mengalahkan rasa sakitku.
Ketika aku hendak berjalan keluar dari ruang perawatan, aku melewati ranjang-ranjang yang ditempati beberapa murid. Mereka murid-murid yang gagal masuk ke kelas lapangan, terbaring dengan ekspresi sedih, kecewa dan kesal. Aku terkikik sambil merangkul Renee dan Noah, aku memang sedang beruntung.