Aku duduk di danau, angin membawa tetesan air garam ke pipiku. Cahaya bulan membuat danau tidak terlalu gelap, tapi aku tetap tersandung dan jatuh dua kali di hutan saat melewati jalan setapak. Aku berdarah di bagian lutut dan telapak tanganku, tapi aku tidak peduli. Aku mati rasa. Aku menggigil. Aku tidak bisa bergerak. Aku sudah mengerahkan semua kekuatanku untuk bisa sampai di sini dan sekarang aku seperti patung di atas pasir. Patung sebagai monumen lambang kebodohan. Aku terisak sambil memeluk lututku. Air mata mengalir membasahi bibirku dan jatuh dari daguku. Bodoh. Kenapa aku begitu bodoh? Aku tidak sempat menjawab pertanyaanku sendiri, karena aku terganggu oleh suara mesin yang keras. Setelah suara itu hilang, aku masih duduk, tak bergerak sambil menatap ke arah tempat yang koso

