Malam menjelang setelah semua masuk kamar masing-masing, Tia di kamarnya sendiri begitu pula papa dan mamanya. Setelah membersihkan diri mulai dari mengusapkan cairan pembersih ke wajah mama Tia dan berlanjut krim malam yang disapukan merata adalah ritual menjelang tidur seorang perempuan berkepala 3 yang masih terlihat fresh dan muda walopun anak sudah SMA, hehe tentu saja karena paket perawatan wajah yang tak pernah absen untuk menjaga penampilannya. Papa Tia sudah bersandar di kepala ranjang sambil menunggu istrinya menyelesaikan kebiasaannya sebelum tidur. "Maaah, ehehem, papa boleh minta sesuatu nggak?" Aditya (papah Tia) memulai percakapannya sambil membetulkan letak selimut. Anna (mama Tia) yang sudah paham gelagat suaminya sengaja menggodanya dengan berucap, "Inget umur pah, anak juga udah gede, iih masih aja genit." "Emang tau papah mau minta apaan, sini dong kalo emang udah tau yuuk segera laksanakan!" Ternyata aditya balas menggoda Anna. Saat menuju ke ranjang berukuran king size mereka pun sebelumnya bernegosiasi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Mas tapi aku udah hampir kepala 4 lho bahaya nggak sih sebenernya?" cemas Anna sambil bersandar di d**a suaminya yang nyaman. "Apa sebaiknya kita konsultasi ke dokter aja ya sebelum muncul adiknya Tia, terus terang Ma situ kasihan liat Tia seorang diri ya walopun sejauh ini tidak pernah tampak sedih kalo dia seorang anak tunggal, kadang-kadang aja nyentil kita biar dia bisa punya adik." jelas Aditya kepada istrinya. "Bener juga sih mas tapi aku baca beberapa artikel emang oke oke aja sih hamil di usia sepertiku ini, hanya sedikit beresiko. Apa besok kita ke dokter dulu aja ya mas biar kita nggak berprasangka, malah ntar nggak jadi lagi." ungkap mama Tia kepada suaminya. "Ehhm tapi pemanasan dulu bisa kalee mam, biar nggak kaget." smirk wajah Aditya ke Anna sudah tak tertahan ingin menyalurkan hasratnya. "ihh Mas apaan sihh kan tiap hari udah." sambil menarik selimut akhirnya Aditya bergelung di bawah selimut beserta istrinya.
Keesokkan harinya rutinitas seperti biasa dalam keluarga Tia berlangsung, namun karena Mama dan papa Tia yang akan pergi ke dokter kandungan membuat mereka tidak beraktifitas seperti biasa. Mereka akan mengantar Tia sekalian ke sekolah dan berlanjut untuk pergi ke rumah sakit. sampai di rumah sakit Aditya dan Anna segera mendaftar untuk periksa ke poly obgyn. Kebetulan karena masih pagi maka Anna mendapatkan no.urut awal agar dapat diperiksa oleh dokter. Sambil menunggu kedatangan dokter karena masih pagi Aditya dan Anna saling bercakap tentang rencananya untuk memberi adik untuk Tia. Kalo dipikir kenapa baru sekarang kedua orangtua Tia baru berencana untuk memberikan adik ke Tia, karena memang ada alasan yang berkaitan dengan kesehatan terutama bagi Anna. Setelah Tia lahir dokter sempat mendiagnosa jika Anna akan sulit kembali memiliki anak karena ada gangguan di saluran reproduksinya, oleh sebab itu kenapa adik Tia tak kunjung muncul. No wonder juga sih untuk mendapatkan Tia dalam keluarga Aditya dan Anna pun mereka harus berjuang sekuat tenaga karena alasan tersebut, hingga pada akhirnya mereka dianugerahi seorang putri cantik membawa kebahagiaan yang tak terkira. Sampai- sampai untuk kembali memberikan adik bagi Tia pun tak terlintas di benak mereka berdua, kalau bukan karena Tia yang selalu nyindir atau bertanya kenapa sih dia nggak punya adik atau berandai-andai kalo punya adik baru Aditya dan Anna mulai sedikit berpikir kearah sana yang tak lain dan tak bukan memberikan adik buat Tia. Dan di sinilah mereka berdua di poli kandungan untuk berkonsultasi pada dokter obgyn.
"Itu pah, dokternya seperti baru saja masuk ke ruang praktek." tunjuk mama Tia kearah datangnya seseorang. tak lama kemudian nama Anna dipanggil untuk segera masuk ke ruang periksa. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan dan sessi konsultasi dari dokter spesialis kandungan, Aditya dan Anna pun keluar dari ruang periksa dengan wajah kelegaan dan ada secercah harapan yang mengiringi rencana mereka selanjutnya.
"Tuh kan mah, jangan terlalu overthinking dan mama juga sehat dan masih memungkinkan untuk bisa kasih Tia Adik mah." ujar Aditya. "Iya iya pah, kita tetap berdoa ya pah semoga aja adik Tia bisa on process." jawabnya sambil bergelayut pada lengan suaminya. Setelah mengantar pulang istrinya ke rumah, Aditya kembali melanjutkan aktifitasnya ke kantor, kalo mama Tia ini seorang Psikolog freelance jadi bisa buka praktek sendiri di rumah selain masih ada beberapa kesempatan mengisi seminar perkembangan anak di sekolah sekolah. Sejak fokus untuk merawat Tia dari bayi sampai sebesar sekarang ini Anna memang tidak berkantor dengan alasan ingin mencurahkan seluruh kasih sayang untuk putrinya tersayang. Namun karena mama Tia sering mengisi rubrik tanya-jawab di suatu majalah keluarga tentang seputar perkembangan anak dan problematikanya maka undangan seminar pun sering ia terima untuk menjadi pembicara ataupun moderator. Setelah masuk kembali ke rumah dan membersihkan diri, Anna beristirahat sejenak sambil membuka phonecellnya dan mengecek baik email atau beberapa notifikasi dan aplikasi WA. Dan benar saja ada tagihan dari majalah keluarga untuk mengisi artikel tentang psikologi remaja dengan tema pubertas. Dahinya berkerut lalu mengetikkan sesuatu untuk menjawab notifikasi tersebut, sambil mendesah lega Anna membuka laptopnya untuk segera meyelesaikan artikel yang telah ditagih oleh majalah keluarga barusan.
Di lain tempat yaitu di sekolah Tia aktifitas sekolah pun sedang berjalan seperti biasa, walopun masih pekan MOS jadi Tia tidak terlalu lama di sekolah.
"Nih apusan lo." Tia memberikan penghapus Agustin yang kemarin terbawa Tia. "Ahahha makasih bebeb sayangku ternyata lo nggak lupa ya, kalo lupa gw suruh lo pulang sekarang juga, ini kan apusan miki mos sayangnya akuuuhh."
"Idih ogaah banget timbang gara gara apusan gw harus gitu pulang buat ambil, mending sekalian kagak gw balikin tuh apusan gw embat aja sekalian." jawab Tia sambil mendengus ke Agustin.
"Heh enak aja lo embat berani mati apa, pasang badan gw kalo sampai miki mos gw ilang di tangan lo!" delik Agustin, namun Tia hanya terkekeh riang karena berhasil bikin Agustin emosi. "Heh brisiiik kalian berdua bisa diem nggak!" Tiba-tiba sebuah suara menghardik memperingatkan Agustin dan Tia yang sedang berdebat. Indra yang sedang konsen mengerjakan tugas dari guru merasa terganggu dengan ulah mereka berdua yang kebetulan duduk di belakang Agustin dan Tia, tak urung Agustin dan Tia saling bertatapan terkejut dengan suara itu.
"Dih napa mulut-mulut gw, kalo nggak mau brisik di hutan no sono nyepi lo!" tukas Agustin. "Udah lah ngapain sih lo tanggepin jadi makin ribut kan." lerai Tia agar mereka tidak semakin brisik. "Lagian gw aja kagak ngerasa brisik-brisik amat nah dia nya nyolot." ujar Agustin sebal. Tia hanya menggelengkan kepala heran dengan tingkah sahabatnya yang nggak mau ngalah. "Sorry ya Ndra kalo kita ribut." ucap Tia ke Indra yang bikin Agustin nggak terima karena sesudahnya Ia melotot ke Tia sambil mencubit pelan lengan Tia. "Hemm" Indra hanya berdehem tak membalas permintaan maaf Tia. Hal itu membuat Tia jadi sebal dan menggerutu, "Bukannya di jawab malah cuma heem doang" Tia jadi bad mood karena kejadian barusan, dia paling tidak suka kalo sudah merasa mengalah tapi nggak ditanggepi. Lalu ia mencoba meminta maaf kembali dengan suara sedikit meninggi,
"Maaf yaa Indra, kalo kita bikin ribut depan lo." sambil berteriak tepat di muka Indra. Indra pun kaget dan spontan menjawab,
"Iya iya gw nggak budeg kalii, gitu aja ngegas."
"Lagian gw kan udah say sorry tapi lo nya malah cuma hemm doang lo kate gw apaan heh, nggak paham lo gw bilang sorry, gw bilang maaf baru lo jawab." Sambil menutup buku tugas yang belum selesai disampul dengan keras, Tia berdiri mau ijin ke toilet.
"Eloo sih, singa betina lo bangunin." bisik Agustin ke Indra agar tidak membuat kelas semakin ribut. "Heh gw nggak nyangka kalo Tia galak juga, padahal keliatannya kalem loh." terlihat Indra kaget dengan sikap Tia barusan. "Makanya lo jangan mancing-mancing emosi orang dong, lo kan juga bisa bilang baek-baek ke kita kalo emang lo terganggu. "gw aja sohibnya kaget doi kayak gtu, apalagi lo yang baru kemarin sore, bisa ae lo buammbang bikin keki orang." ujar Agustin panjang lebar ke Indra. Yang dijelasin Cuma bisa melongo heran sambil membatin,
"PMS kali ya dia gtu aja sewot, huh!" Indra juga mendengus kesal. Sekembalinya Tia dari toilet dia menyelesaikan tugas dari guru untuk memberi sampul pada buku-buku tugas yang akan dipakai belajar nantinya. Berhubung hari ini memang belum ada pelajaran maka tanggung jawab kelas sepenuhnya dipegang oleh ketua kelas yaitu Indra. Mungkin karena tanggung jawab itulah yang membuat Indra harus menjaga ketenangan kelas sehingga Ia perlu mengingatkan Agustin dan Tia agar tidak ribut. Namun sebenarnya Tia juga sudah minta maaf namun karena Indra terlalu cuek jadi Tia merasa kesal. Kebayang nggak sih Indra sebagai ketua kelas dan Tia sekretarisnya yang diawali dengan Indra yang membuat Tia kesal, bakalan gimana coba ke depannya? Bisa nggak mereka bekerja sama atau malah akan sering ribut karena keduanya sama-sama stubborn, hopefuly they can work together. Itulah yang tertanam dipikiran Agustin, walopun yang biasanya bar-bar itu dia tapi Agustin sangat kenal akan sifat sahabatnya ini jika kesenggol aja sedikit yang berkaitan dengan prinsipnya dia bisa aja ngegas. Setelah semua siswa kelas Tia selesai mengerjakan tugas dari guru dan telah disimpan di laci mereka masing-masing sedetik kemudian bel tanda usai sekolah berbunyi dan guru kembali ke kelas untuk menutup sessi hari ini. Sebelumnya Bu Sarah juga mengingatkan kembali untuk tugas esok hari sebagai hari terakhir masa orientasi sekolah dan tak lupa untuk mengecek apakah tugas hari ini sudah benar-benar selesai kepada ketua kelas. "Indra, bagaimana hari ini apakah semua teman-temanmu sudah menyelesaikan tugas yang ibu berikan?" tanya bu Sarah ke Indra. "Setelah saya cek sudah semua bu, dan sudah mereka simpan di laci mereka masing-masing." jawab Indra sopan kepada bu Sarah. "Baik, kalo begitu kalian boleh pulang jangan lupa tugas kalian untuk esok hari."
"Baik bu, selamat siang bu Sarah." serempak mereka memberi salam pada wali klas mereka dan beranjak keluar dari kelas untuk pulang.
"Ehm, Indra, Tia." panggil Bu Sarah ke mereka berdua. "Gw tunggu lo di luar ya." kata Agustin ke Tia. Tia mengangguk dan melangkah menuju ke bu Sarah bersamaan dengan Indra. Terlihat bu sarah berdiskusi dengan mereka berdua dan tak lupa Tia mencatat yang disampaikan oleh bu Sarah. Indra pun beberapa kali menjawab dan menyampaikan beberapa hal yang perlu diketahui oleh bu Sarah.
"Oke kalo begitu kalian bisa pulang." ucap bu Sarah ke tia dan Indra.
"Baik bu." Lalu bu Sarah meninggalkan mereka berdua. Memang tidak terlalu lama diskusi antar mereka bertiga karena hanya membahas seputar lomba menghias kelas untuk bulan depan. Indra dan Tia lalu kembali ke mejanya yang berdekatan dan menghampiri Tia untuk meminta maaf atas sikapnya tadi yang bikin Tia kesal.
"Tia....." panggilnya sambil mendekat.
"Sorry ya yang tadi, gw kesel and bentak lo ama Agustin."
"Iya nggak apa-apa Ndra udahlah.... udah lewat ini gw juga lagi kesel aja kalik tadi, mungkin mau PMS. jawab Tia ngasal.
"Lain kali lo bisa kok tegur kita baek baek" jawab Tia sambil menggendong tasnya dan bergegas untuk pulang.
"Iya Maaf nggak gitu lagi deh laen kali, gw shock banget ama reaksi lo yang ngegas kayak tadi, hhehe soalnya looksnya kan dari luar kalem ternyata bisa galak juga." Tampak Indra berusaha mencairkan suasana.
"Makanya don't judge the book from the cover. balas Tia.
"Udah yuk pulang!" ajak Tia keluar kelas. Agustin yang melihat mereka berdua keluar dari kelas sambil senyum-senyum jadi usil dengan menggoda Tia.
"Cieee baikan nih yee." Ejek Agustin sambil mengiringi langkah Tia menuju gerbang sekolah.
"Nggak baik lagi musuhan lama-lama capek tauk." jawab Tia dan tak lupa pamit ke Indra "Yukk ndra kita pulang duluan yaa, byee." pamit kedua gadis itu ke Indra, dan dibalas dengan lambaian tangan Indra dan mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing.