Six. Rencana Cari Gebetan

1396 Kata
Agustin mengantar pulang Tia ke rumah, berhubung masih siang Agustin mampir ke rumah Tia untuk sekedar chit chat alias ngerumpi ala cewek, dan pastinya Agustin penasaran dengan kejadian after class antara Tia dan Indra. Karena selama di dalam mobil perjalanan dari sekolah ke rumah Tia, Agustin tidak berhasil mengorek info apa yang bikin Tia dan Indra akhirnya baikan dan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Tia sengaja membuat Agustin penasaran karena di saat seperti itu Agustin akan mencak-mencak nggak jelas sampai dia harus berhasil mendapat apa yang dia mau, entah pakai menyebar ancaman nggak mau temenan lah, nggak mau ngomong lagi sama Tia dan berbagai macam cara yang dilakukan Agustin agar Tia mau bicara. Namun tersangka utama yang enggan untuk diinterogasi tak mau ngaku sambil ketawa ngakak melihat ekspresi Agustin yang sudah kehilangan kesabaran. "Ihhh Tia nyebelin deh, apaan sih pake main rahasia rahasiaan segala ama gw, crita dong, jangan bilang kalo lo suka ama Indra yaa?" todong Agustin ke Tia dan tetap berharap tia bercerita. "Nggak ya enak aja, naksir- naksir nggak nggak ada gw suka ama Indra, ya tadi kita baikan karena Indra yang say sorry ke gw, trus gw maafin lah ngapain juga berantem kelamaan, lagian aku ama dia kan harus bisa kerja bareng secara kita pengurus kelas." Jelas Tia sambil membuka pintu mobil karena tak terasa mereka sudah sampai di rumah Tia. Begitu dengan Agustin yang turun serta mengikuti Tia masuk ke dalam rumah melanjutkan obrolan mereka sebelumnya di mobil. "Oh kirain lo suka ama Indra, udah seneng aja gw coz jadi ada temen nih kalo mau ngedate." Agustin ber o ria sambil melepas sepatu di teras rumah Tia. "Gila lo bisa ilang duit jajan gw selamanya kalo ketauan pacaran, mau lo nanggung jajan gw tiap hari." ketus Tia ke Agustin sambil melangkah masuk ke dalam rumah. "Mom, I'm home" tanpa menunggu balasan dari mamanya yang sedang berada di dapur Tia dan Agustin langsung berjalan naik ke atas menuju kamar Tia. Anna yang melongokkan kepalanya mencari sumber suara hanya menggeleng kepalanya karena tingkah anak gadisnya. "Kemana orangnya kok nggak ada, perasaan tadi denger suaranya." batin Anna lalu mengedikkan bahunya sambil meneruskan masakannya. Di dalam kamar mereka berdua saling bercakap apa saja yaa layaknya girls talk yang tak jauh dari teenagers, boys, fashion or make up and another conversation related with girls. Triiiing......triiing, telpon Agustin berdering dan nama Noel di HPnya memanggil. "Hai No, apaan?gw baru di rumah Tia, masih pulang siang soalnya." jawab Agustin ke Noel. "Sayang, sabtu depan aku kan mau adain birthday party aku nih sama temen-temen di resto papah, kamu ajak Agustin deh, biar kamu ada temen. Dari seberang Noel terdengar memberi tau Agustin tentang sesuatu. "Bentar gw nanya orangnya dulu bisa nggak, eh beb lo sabtu depan ada acara nggak, Noel nih undang lo ke party nya dia, bisa kagak?" "Eh busyeet bokin siapa nape gw ikutan diundang?" tanya Tia terheran, Ya meskipun gw kenal sama Noel tapi agak aneh juga ikutan diundang party pacar lo, takut ganggu moment nantinya. “Santai beb kan lo nemenin gw juga biar gw nggak akward di sono, maklum kan hampir semuanya anak kuliahan la gw SMA sendiri kan aneh jadinya kalo mau ngobrol even ada kakak gw”.FYI Noel ini adalah sahabat kakaknya Agustin kak Januar jadi udah pasti ada di sana. "Ntar aku kabarin lagi ya No bisa nggak nya Tia, biasa doi minta ijin dulu ke nyokapnya." "Iya sayang, jangan kesorean dari rumah Tia, nanti malem aku ke rumah ya kangen nih" "Iya iya bawel, bye see you." Agustin menyudahi panggilan telepon dari Noel "Idiih pacar sendiri dikatain bawel, dosa Lo." "Yang penting kan sayang" ucap Agustin seolah membuat Tia iri. "Jam berapa sih party nya?" tanya Tia sambil beberes barang-barang yang ada di tasnya, sedang Agustin dengan santainya berbaring terlentang serasa kasur milik dia sorangan. "Mulainya sih jam 7 malem paling mentok lo dibolehin sama nyokap sampe jam 10 malem kan, ya udah jam segitu entar lo ama gw pulang duluan aja." jelas Agustin sambil membalikkan badannya menjadi tengkurap. "Iya deh gw ikut, lagian bosen gw malming di rumah mulu, cuci mata lah siapa tau dapet yang bening gitu." Agustin terkejut sampe melongo dengan ucapan Tia barusan karena biasanya dia paling males bahas urusan cowok. "Eh beneran lo pengen dapet gebetan, emang udah boleh sama bokap nyokap lo?" lirikan Agustin penuh tanya ke Tia. "Kan yang penting gebet dulu jadian ntar aja belakangan sambil nunggu SIM gw terbit." jawab Tia sekenanya. Agustin yang mendengar ucapan Tia tertawa dan melempar bantal yang ada di kasur ke muka Tia, karena Tia merasa nggak terima terjadilah perang pukul-pukulan bantal di kamar Tia hingga membuat keributan yang terdengar sampai ke ruang makan. Mama Tia yang mendengar kegaduhan tersebut mulai naik ke atas menuju kamar Tia. Setelah membuka pintu kamar Tia untuk mengecek apa yang terjadi dengan para gadis yang mengusik rumah Tia yang biasanya penuh ketenangan dan alangkah terkejutnya melihat kamar Tia sudah berantakan. “ Omaigat girls what happened, udah ayo berhenti kalian berdua kekanakkan, ingat kalian udah gadis you know, ada apa sih sampai berantakan begini?" mama Tia masuk kamar Tia sambil berkacak pinggang. "We fight, mom." jawab Tia sambil cekikikan bersama Agustin. "Tante Tia mau cari gebetan ini loo." Adu Agustin ke mama Tia. Agustin yang tau kalo Tia memang belum boleh pacaran seperti dirinya, sengaja mengadu ke mama Tia. “Hey, stop it, shut of your mouth!" teriak Tia sambil berusaha membungkam mulut Agustin. Anna tampaknya sudah mendengar apa yang telah diadukan oleh Agustin dan hanya menggeleng melihat tingkah para gadis di depannya yang masih bergelung tanpa mengindahkan peringatan dari mama Tia. "Udah-udah hentikan kalian ini ya nggak inget umur juga, ayo turun tante udah buatin puding mangga kesukaanmu Agustin, kamu sih lama nggak kesini tante sering buat lo, karena masih musim mangga." "Ah tante Anna emang terbaeeeeekkkk deh, ayo tante biarin Tia kita tinggalin aja yuk!" lalu Agustin menggandeng tangan Anna keluar dari kamar Tia. "Hey wait for me, aku kan juga suka puding mangga mom." teriak Tia sambil memasang wajah cemberut. Di meja makan Anna telah menyiapkan makan siang karena tau anak gadisnya masih pulang siang minggu pertama masuk sekolah. Dan puding mangga buatan Anna memang the best menurut tia dan Agustin dan menjadi favorit mereka berdua. Sambil makan Tia menyampaikan ajakan Agustin di hari sabtu depan. "Mom boleh nggak sabtu depan Tia pergi ke birthday party nya Noel, itu loo cowoknya Agustin?" pintanya "Iya Tante nanti pergi dan pulangnya bareng aku kok tan sama kak Januar." Agustin ikut serta memohon dengan maksud agar diijinkan. "Iya boleh kok, tapi pulangnya jangan malem malem ya paling nggak jam10 udah pulang." Akhirnya mama Tia memberikan ijin begitu tau perginya sama Agustin. Anna sudah percaya pada Agustin yang menjadi sahabat Tia sejak SMP dan kebetulan orang tua mereka juga saling kenal sehingga tidak masalah apabila mereka pergi malam bersama. "Thank you mom, my beloved mom and the most beautiful mom in the world." ucapnya sambil cium punggung tangan mama Tia. "Kamu ini kalo udah dapet maunya baru bilang mama cantik, hah dasar anak manja." “Mau cari gebetan tuh tan, katanya nanti di sana mau cuci mata biar dapet yang bening bening." Masih saja Agustin mengadu ke mama Tia sambil menjulurkan lidahnya mengejek ke Tia. "Hey you, udah gw bilang diem bisa nggak sih nggak usah ngadu ngadu ke nyokap." di bawah tangan Tia menyubit paha Agustin dengan kesal. "Tia sakit tauu" teriak Agustin dan terlihat meringis pedih akibat cubitan Tia. "Abisnya lo nggak bisa diem juga , ngadu terus ke nyokap." "Udah udah makan dulu malah bertengkar terus nggak brenti-brenti deh, nggak masalah juga Tia cari yang bening-bening kan buat cari temen sebanyak-banyaknya bukan buat dipacarin." ucap mama Tia sambil memencet hidung Tia gemas. "Tuh kan boleh lo nya aja parno an mulu sih" ujar Agustin sambil menunjuk kepala Tia. "Jadi boleh ya mom pacaran?" tanya Tia memastikan. "No at all" tolak mama Tia kembali menegaskan. "Bukan untuk pacaran Tia iih ni anak masih aja usaha , berteman sebanyak yang kamu dapet jadi bisa nambah wawasan banyak teman ngobrol nggak cuma sama Agustin aja, nggak bosen apa kalian berdua ke sana kemari." “Enggak" jawab mereka berdua bersamaan sambil ketawa cengengesan. "Ahh kalian ini memang paling suka bikin gemes mama deh" keluh sayang mama Tia sambil mencium pipi mereka berdua kanan-kiri dari tengah. Anna sangat bersyukur Tia punya sahabat seperti Agustin sehingga menganggap Agustin pun layaknya putri mereka sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN