Eight. Love at first sight

1750 Kata
Kata kebanyakan orang sih jatuh cinta itu berjuta rasanya, apalagi pandangan pertama di saat jumpa si dia banyak rasa di tubuh ini yang jadi nggak nyaman yang mules lah, deg deg-an, panas-dingin trus gemeteran pas megang apa aja, salting, gugup, ah apa aku sedang jatuh cinta yaa, entahlaaah??? Aaarghh.....teriakku dalam hati tanpa keluar suara dari mulutku. Beberapa waktu yang lalu tepatnya saat acara pesta ulang tahun Noel, pacarnya Agustin aku bertemu sosok yang menawan hati tepatnya saat alunan suara petikan gitar solo yang dimainkan oleh seorang pria di depan stage yang memang telah disiapkan bagi siapa saja yang ingin unjuk kebisaan. Dan dari situlah keresahanku muncul, kepincut seorang makhluk Tuhan yang namanya cowok hanya karena pesonanya yang bisa main gitar. Aku bahkan berandai-andai jika cowok yang aku tau namanya Nugie itu akan memainkan sebuah lagu dengan petikan gitar untukku, Awwaww romantis nggak sih. Hari sudah malam dan sebelum tidur aku mulai menyiapkan keperluanku untuk sekolah esoknya. Entah kenapa aku kembali membolak-balikkan badanku di atas tempat tidur karena kembali ingat akan wajahnya yang cool banget menurutku sih. Tapi kayaknya para kaum hawa setuju deh sama aku kalo paras nugie itu tampan apalagi saat sedang main gitarnya, beeuhh kadarnya meningkat dari 18 karat jadi 24 karat guanteng maksimal. ujarku dalam hati seolah bicara dengan batin ini. Tapi sayang banget aku belum boleh pacaran sama mama papa, jadi yaa semampuku hanya bisa mengagumimu mas Nugie. Idiih mas kayak siapanya aja mesra banget panggilnya. Ucapku dalam hati dengan senyuman geli dan rona merah di wajahku yang mungkin jika ketauan mommy pasti deh nebaknya aku baru jatuh cinta. Flashback on Alunan musik yang dimainkan oleh seorang dj di triumph café membawa setiap pendengarnya dapat ikut bergerak entah hanya sekedar menggoyang kepala ringan ada yang sampai badan, tangan atau sekedar kaki yang bergoyang mengikuti irama musik. Sedang aku dan Agustin di pojok mengedarkan seluruh pandangan sambil seolah olah menyeleksi para cowok yang hadir di pesta itu. "Tia, liat deh arah jam 9 kiri lo, cooollll banget tuh cowok beb, bikin baper aja jadinya." bisik Agustin sambil melirik ke arah jam 9. Tia pun pura-pura menoleh ke samping kiri seakan-akan mencari sambil menjawab Agustin "Cakep sih tapi noohh di sebelahnya udah ada trek gandengnya, lo ngincer yang single dong jangan yang bawa gandengan, males kan ngecenginnya." ujar Tia sambil mencet hidung Agustin gemas. "Kan cuci mata mah bebas beb, lagian baru gandengan ini bisa diputus kan." elaknya nggak terima kalo dianggap salah pilih gebetan. “Gilaak lo yaa mau jadi pelakor lo, gw mah ogah nyari yang single aja masih banyak kayak nggak ada yang lain aja lo, lo mau Noel direbut cewek lain, nangis kejer lo.” umpat Tia dan kembali melanjutkan obrolan mereka di space yang memang dikhususkan Noel untuk mereka berdua. Aneka macam mini cake dan cemilan ringan lainnya dan juga minuman segar pun menemani mereka berdua yang sedang bercakap dan tertawa riang hingga waktu berjalan tanpa terasa. Saat mereka sedang asyik berbincang dan bercanda kemudian MC acara mendadak menghentikan musik yang dimainkan DJ tadi dan memberi tau jika ada teman baik Noel yang akan unjuk kebolehan dengan permainan gitar solo sebagai hadiah untuk ulang tahun Noel. Dan segera pemain utama yang telah disebutkan oleh MC tadi menuju ke tengah tepatnya di mini stage untuk segera memulai kebolehannya. dengan rasa ingin tau yang tinggi Tia berdiri dari tempat duduknya untuk melihat seperti apa seseorang yang akan bermain solo gitar itu, karena sebenarnya Tia sangat kagum pada siapa pun yang bisa memainkan instrumen petik tersebut. Tia sedikit berjinjit karena tidak dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah pemain gitar itu. Pemain gitar tersebut memperkenalkan diri sebelum memulai memainkan gitarnya. "Selamat malam semua" sapanya kepada seluruh pengunjung café dengan suaran ngebass suara khas cowok tapi agak serak serak merdu gimana gitu, duhhh bingung deh gambarinnya. "Saya Nugie temen yang punya gawe hari ini, Hai Noel hepi bday bro, wish you all the best and this present for you dan buat yang hadir di sini tentunya" ucapnya sambil memutar tuner gitar untuk mulai menyetelnya. Noel yang mendengar dari kejauhan tampak mengacungkan jempolnya tanda ucapan terima kasih untuk persembahan lagu yang diberikan. Aku pun sedikit mendekat karena posisiku yang nggak bisa liat gitaris yang saat ini tengah memainkan sebuah lagu. Aku memandangi sosok yang cool tapi mempesona. Nggak tau ya kenapa aku selalu mengagumi cowok yang bisa memainkan alat musik apalagi gitar, rasanya ehmmm kayak mau meninggal, hehehe canda meninggal. Iya seorang pria bisa terlihat meningkat kadar ketampanannya bila sudah memainkan alat musik, huuh pacaran aja sono ama pengamen sekalian hahaha tertawaku sendiri dalam hati. "Woiii kedip! Woi sadar dong tia, napa sih, kesambet jin iprit lo sampe nggak kedip sama sekali." teriak Agustin tepat di sebelah telingaku hingga membuat bunyi ngiiing dalam telinga yang tentu saja mengejutkanku saat sedang terpesona oleh gitaris yang nggak lain adalah sahabat Noel. "Iiihh apaan sih gus, kaget tauu." balasku sambil kututup telingaku karena teriakan Agustin sangat membuat telingaku sakit. “Nggak bisa apa liat temen lo seneng dikit." kesalku dengan menoyor jidatnya pelan. "Habisnya lo freezing kayak kesambet jin, makanya gw teriakin biar jin nya nggak betah lama-lama di badan lo. Apaan sih Tia liatnya segitu banget emang cakep yaah sampe nggak kedip gitu?" tanyanya sambil ikut berjinjit coba melihat sosok yang sedang aku tatap di sela-sela penonton. Yah walaupun hanya sedikit bisa terlihat olehku tapi itu sudah lebih dari cukup hanya untuk membayangkan jika cowok itu adalah seseorang yang sedang memainkan lagu untukku. Ngayaaal nya kejauhan kali tia, kataku pada diriku sendiri. Ya cowok itu sahabat Noel dan setelah dia selesai perform Noel memanggilnya dan bicara sejenak di telinga Nugie dan dia kemudian melihat ke arahku dan di situlah pandangan kita, aku dan Nugie bertemu. Karena ketauan diam diam mengamatinya aku cepat-cepat mengalihkan arah pandangku ke sudut lain yah walaupun sebenarnya udah ketauan sih kalo memang aku lagi curi pandang. dan tepat di sebelahku ada Agustin pula, tentu saja dia tau dan siap-siap deh dibully sampe lelah lebih tepatnya dia yang capek karena aku pasti akan mengabaikannya. Agustin menyenggol lenganku sambil alisnya naik turun menggodaku, dan demi keamanan hatiku biar nggak terlalu keliatan banget ngegebet ya udah aku sikut balik aja dia. "Cieeeehh, yang ketauan, ehem..ehemmm naksir bilang dong, keduluan yang lain aja ntar mewek." ejek Agustin sambil senyum senyum mengejekku. Puas deh lo puas ucapku dalam hati dan entah perasaan apa ini kenapa jantungku pun nggak bisa diajak tenang semakin membuatku keliatan banget kalo sedang salah tingkah. "Apaan sih, gw tinggal balik nih kalo lo nggak bisa diem." ancamku sambil segera bangkit dari dudukku menuju pintu keluar. Namun tangan Agustin menawanku dan sambil ketawa puas melihatku yang lagi salah tingkah. "Dih ngambek gitu aja, mau gw kenalin nggak, mumpung tuh baru deket posisinya sama Noel." tunjuknya dan kembali Agustin menggodaku yang rasanya buat aku jadi bimbang antara nerima atau nolak tawaran darinya. Kulihat kembali ke arahnya dan eh buseeet dia masih liatin gw lagi, duuh gimana nih kan keliatan malu banget nih ketauan nyolong liat-liat wajahnya yang cute. Tak lama kulihat Noel pun melambaikan tangannya kearah Agustin dan aku, dan Agustin memastikan dengan menunjuk balik ke arahnya kalo memang kita diminta untuk datang kearah Noel dan Nugie berada. Mampus nih, gw harus gimana dong. Agustin yang melihat kepanikan di mukaku kembali tertawa senang dan tentu saja dia ikut menenangkanku agar tidak panik. "Santai aja kalik beb, noh kita disuruh ke sono, yuk sekalian kenalan, itung-itung pdkt." ujarnya dengan menarik tanganku pelan menuju kearah Noel dan Nugie berada. "Eh.. lho kok gini sih jadinya aturan dia dong yang cowok, yang dateng." sahutku seolah menolak tapi dalam hati hayuuk aja lebih cepet kenal lebih baik. Tanpa mau mendengar alasanku Agustin nggak menghentikan langkahnya untuk mendatangi tempat dimana Noel dan Nugie sedang berada. Dan di sinilah, finally aku bener-bener bisa liat wajahnya dekat banget dan you know what cuaaakeeep bener kayak mau meninggal itulah yang kesan yang aku dapat di awal pandangan kita sedekat ini. Lalu Noel membuka obrolan dengan berdehem karena memang sejak tadi kita hanya memandang tanpa membuka obrolan, ya iyalah aku merasa bingung mau mulai darimana, ya kalik gw yang mulai gengsi dong aturan kan cowok yang mulai duluan. Egoku yang buat akhirnya jadi gini deh saling liat liatan nggak jelas dan masing-masing salah tingkah kalo aja nggak ada Noel mungkin bisa sampe besok deh kita hanya saling pandang nggak guna. "EhemeheEm!" Noel berdehem untuk mencairkan suasana canggung diantara aku dan Nugie. Dan akhirnya aku dan Nugie sadar kalo kita sedang bingung mau ngapain. And Finally Nugie mengulurkan tangannya padaku sambil memperkenalkan diri. "Hai gw Nugie, sohibnya Noel. ucapnya yang ditelingaku terdengar manis banget dan bikin aku sudah blushing dan itu keliatan banget sama Agustin dan Noel. Sehingga mereka pun hanya bisa menahan tawa di belakang Aku dan Nugie. Bisa nggak sih temen lagi ketauan malu gini malah nggak dibelain malah dibiarin tambah malu. Duuh rasanya pengen ngumpet deh di belahan planet lain, tapi jauh kalo kangen. dih ini napa sih aku jadi salah tingkah nggak karuan gini. trus aku bingung nih freens mau jawab apa mau menyambut uluran tangannya. Ah bodo' amat masak udah mau nyalamin malah dicuekin nggak sopan dong. "Ha-hai Juga gw Tia sahabat Agustin." Ucapku terbata-bata gugup, dan tanganku juga menyambut jabatan tangannya. "Lo sakit ya, napa tangan lo dingin banget?" tanya nugie sambil menangkup uluran tanganku. "Hah.. apa nggak kok, emang iya tangan gw dingin?" aku mastiin tanganku dengan menariknya kembali. Eh iya dong tanganku mendadak sedingin es, efek apaan coba pegang minuman dingin nggak, kena AC ruangan juga nggak terlalu, trus kenapa nih gw, tanyaku pada diriku sendiri. Dan bisa ditebak raut mukaku antara malu gugup dan aneh semua jadi satu, gini apa ya rasanya falling in love at the first sight. Ah bodo' amat deh bingung aku jadinya. "Emmhm mungkin nervous aja kali karena baru pertama kenalan ama cowok cakep." jawabku ngasal dan Nugie pun ikutan mesem-mesem dan parahnya hati ini tambah jedag jedug dong ngalahin bunyi musik di café malam itu. Flashback end Hingga saat ini aku masih aja kepikiran Nugie tapi kalo malem doang sih karena kalo sehari harinya maksudku kalo siang mungkin ketutup sama aktifitas harian sekolah dan kegiatan OSIS. Oya selain aku jadi sekretaris di kelas bantuin Indra sang ketua aku juga nyoba ikutan OSIS gitu biar dapet banyak temen sama pengalaman organisasi kata mommyku. Bisa ditebak dong kalo sahabatku Agustin juga gabung di OSIS kalo dia ikutan biar famous katanya. Ngakak sih sebenernya denger alasan dia, kalo aku sih nggak masalah juga, so far so fun and good and nggak ganggu belajarku yaa aku mah hayuuk aja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN