Beberapa ratus meter lagi Tia sampai di sekolahnya. Gedung yang menjulang tiga tingkat, halaman yang luas di bagian depan untuk parkir mobil pengantar dan dilengkapi beberapa pohon peneduh sepanjang gerbang masuk hingga lobby sekolah. Ini memang bukan kali pertama Tia datang ke tempat ini, sebelumnya Tia datang untuk fitting seragam sekolah sekaligus classroom tour, setidaknya Tia sudah tau letak beberapa ruangan agar tidak kebingungan. Sambil memandang ke depan dari dalam mobil Tia cengar cengir seolah imajinasinya bermain, akan ada kisah-kisah yang nantinya menjadi kenangan indah. Seperti kata mommynya jika masa SMA adalah masa yang indah, penuh memori yang tak terlupakan. Beside high school story, this time those students will decide for their future, belajar untuk memulai menjadi dewasa baik dalam berpikir, bertindak dan berkata-kata akan terjadi di tahap ini. apakah akan terjadi juga pada Tia??wait and see. Ketika tepukan di pundak Tia dari Sang papa seolah membuyar lamunannya. Papa Tia memandang sesaat putrinya setelah tiba di depan lobby sekolah tepatnya drop zone area, belajar yang bener ya sayang ini awal yang baru di grade yang tentu tak mudah, pesannya disertai anggukan sang putri. Nanti papa usahain jemput ya, kalo ndak mama, kabari ya, selamat belajar kesayangan papa dan kecupan penuh kasih mendarat di kepala Tia. Tia sekolah ya pah jawabnya dan membalas kecupan papanya di pipi kanan kiri. Tia turun dari mobil dan tak lupa melambaikan tangan ke arah papanya yang melajukan mobilnya segera karena tentu saja tak boleh berlama-lama di area drop zone.
Turun dari mobil Tia segera melangkah memasuki lobby sekolah, Namun bunyi klakson mobil dan teriakan nama Tia terdengar melengking di telinganya. tiin.tin.tin, Tiaaaaaa, waiiitt for mee. Tia sejenak menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang di mana sumber suara itu muncul, dan tepat seperti yang ia duga sahabatnya Agustin dari SMP pun baru tiba. Yaa benar mereka satu sekolah akibat janji kelingking yang dibuat setelah lulus dari SMP.
Sekilas tentang mereka berdua, sebenarnya mereka berdua punya kepribadian yang beda tapi mereka saling melengkapi dan mempengaruhi, kalo Tia dengan pembawaan tenang namun pada saat tertentu bila ada yang mengena logikanya dia akan berubah cerewet melebihi petasan banting, dan Tia adalah seorang pendengar yang baik, makanya Agustin betah sahabatan karena hanya Tia yang selalu setia mendengar ocehannya baik keluh kesah, obrolan tentang model baju baru atau gebetan yang baru dikejarnya. Meski lebih sering Agustin yang bercerita ke sana kemari, Tia tetap dengan setia mendengarnya. Pernah sekali mereka marahan karena berdebat tentang cowok Agustin yang pernah ketauan Tia sedang jalan dengan cewek lain, tapi Agustin tidak percaya, membuat mereka berdua tidak bertegur sapa hingga satu minggu. Tetap aja Tia nggak betah dan akhirnya lebih memilih untuk minta maaf duluan dan mengaku kalo rindu dengan ocehannya. Dan Agustin pun mengaku salah tidak mempercayai sahabatnya itu, karena memang benar adanya kalo cowok Agustin jalan dengan cewek lain. Begitulah persahabatan mereka kadang akur dan juga ribut menjadi bumbu eratnya pertemanan mereka.
Heiii,,, my beb (panggilan Agustin ke Tia)buru-buru amat sih tungguin aku dong, karena sejatinya begitu tau yang berteriak Agustin Tia sengaja mempercepat langkahnya dan terjadilah kejar mengejar antar dua gadis SMA itu. Tia..Tiaa heh lo sengaja ya ninggalin gw ya, makinya setelah berhasil mencekal tangan Tia. hehehe heeh bener banget habisnya suara lo bikin kuping gw pengeng tauk. emang gak bisa apa panggil nama gw yang cantik gitu. idiih ogah gw mah, itu tandanya kuping lo masih berfungsi dengan wajar jika masih bisa denger teriakan gw, sahut agustin beriringan dengan kaki mereka berdua menuju kelas. Maap-maap kate yee telinga gw masih normal alias nggak tuli, so do not shout on me, got it. peringat Tia kepada best friendnya itu. Agustin mendengus tanda kesal harus dengerin perintah Tia. ihhh Tia nyebelin deh. tapi sayang kan goda Tia sambil menggandeng Agustin memasuki kelas mereka.
Hari pertama mereka sekolah memang diawali dengan perkenalan antar guru dan siswa dan juga pengenalan tentang lingkungan sekolah. Beruntung mereka berdua bisa satu kelas, karena menurut Tia, dia akan merasa nyaman bila ada paling tidak satu orang yang bisa dikenalnya untuk dapat memulai berteman dengan yang lain. Dan benar aja, karena Agustin adalah anak yang mudah bergaul sehingga tak sulit untuk Tia mulai beradaptasi dengan kelas baru beserta seluruh isinya. Lucky banget gw karena ada lo, jadi gw nggak merasa minder gitu buat kenalan sama yang lain, ucap Tia sambil pasang puppy eyes di wajahnya. Of course, gw kan selalu jadi dewi fortuna buat elo, jadi deket selalu ama gw biar lo selalu beruntung, kekeh Agustin. Bisa ae lo, Tia mencebikkan mulutnya. Pandangannya mulai terarah ke tiap sudut kelas dan Tia merasa kalo kelasnya sangat nyaman untuk belajar dan teman-teman barunya terlihat friendly dengan sesam siswa penghuni kelas ini. Ini yang tentu membuat Tia agak cemas karena takut jika peristiwa di junior high schoolnya terulang kembali, dimana Tia mengalami bullying dan hanya Agustin yang menolongnya dan membuatnya bersahabat erat hingga sekarang. pada dasarnya Tia memang anak sedikit tertutup namun saat mulai berteman dengan Agustin dia mulai sedikit open minded dengan sekitarnya dan mulai berani melawan jika itu memang tidak sesuai dengan kata hatinya. Terhenyak dari ingatannya di masa lalu saat Tia menyadari jika sahabatnya sudah beredar ke sana kemari untuk tebar pesona dengan teman barunya. Bel tanda masuk memang belum berbunyi sehingga para siswa menggunakan waktu mereka di hari pertama ini untuk saling menyapa dan berkenalan. Tia pun akhirnya turut mengikuti jejak Agustin untuk mulai memperkenalkan diri dengan yang lain. Mama Tia berpesan saat sebelum masuk sekolah, agar Tia bisa belajar mempunyai banyak teman sehingga Tia tidak merasa sendirian. Memang Tia merasa kesepian karena dia adalah anak tunggal dengan sifatnya yang tertutup, namun ia berjanji ingin berubah untuk lebih terbuka dan punya banyak teman.
Tak lama setelah acara kenal mengenal berlangsung bel tanda masuk pun terdengar dan para siswa pun segera menempati bangku mereka masing-masing. Masih terdengar suara para siswa siswi yang berbisik-bisik dengan teman sebangku mereka, ada yang saling bertanya eh entar wali kelas kita gimana ya tebak mereka, dan ada pula yang duh, kalo udah SMA susah nggak sih pelajarannya dan masih banyak segudang tanya dari para siswa baru. Pintu kelas pun berderit dan seorang perempuan usia 40an memasuki ruang kelas mereka. Selamat pagi anak-anak. sapa perempuan itu yang bisa jadi adalah seorang guru wali kelas mereka nantinya. Pagi buuuuuu semua siswa membalas sapaan guru mereka. Setelah mendengar balasan tersebut guru tersebut mempekelakan diri dengan nama bu Sarah dan menjelaskan jika beliau akan menjadi supervisor class(wali kelas) untuk kelas mereka. Dan Bu Sarah mulai menjelaskan apa saja Do and Dont di kelas Tia dan berbagai macam penjelasan tentang buku dan pernak perniknya yang harus para siswa ikuti. Tia mencatat apa saja yang telah dijelaskan oleh bu Sarah, seperti tata tertib, seragam, sampul buku dsb. Agustin berbisik kepada Tia, pulang sekolah ke gramed yuk . Ngapain? Sahut Tia, yaelah yaaa beli stationary dan printilannya laahh, gimana sih lo, iya iya, siap boss. idiih! Boss apain sih beb, “yaa lo kan suka maksa jawab Tia. EHEmm tolong dengarkan dulu saat ibu sedang jelaskan di depan kalian ya, tak ada berita ulang jadi kalo ada yang salah dengan tugas kalian ibu tidak mau tau. Maaf bu ucap Tia sambil meringis. Eloo sih! sikut Tia kepada Agustin. Jari telunjuk dan tengah membentuk tanda peace terangkat dari tangan Agustin. baik sekian penjelasan dari saya, ada yang mau ditanyakan? apakah cukup jelas? Jelass buuuu. Buu tanya dong, ibu sudah married beloom udah punya anak beloom rumahnya dimana bu. dan berbagai macam silly questions dari para siswa yang rata-rata dari siswa cowok. HUUUUUU.kami semua pun menyoraki berbagai pertanyaan yang tidak ada hubungannya dengan penjelasan Bu Sarah barusan. Kepoo lo ada pula yang jawab kayak gitu. Bu Sarah hanya sedikit tersenyum sambil geleng kepala. Jika tidak ada pertanyaan lagi jadi ibu anggap kali sudah jelas ya. sekarang kalian silakan berdiskusi untuk membentuk organisasi kelas tentukan siapa yang akan jadi ketua, wakil, sekeretaris dan bendahara, dan tiap divisi yang kalian perlukan di kelas kalian, sudah mengrti. Mengerti buu. oke kalo begitu ibu beri waktu sekitar 30 menit dan saya tunggu di ruang guru. Silakan kalian berdemokrasi, selamat pagi. Bu sarah lalu meninggalkan kelas untuk memberi waktu kepada para siswa berdiskusi. inilah kerennya di high School kita diminta untuk dapat mandiri memilih dan mengambil keputusan sendiri untuk kepentingan bersama. Wow cool, batin Tia setelah selesai mendengar arahan bu Sarah.
Setelah 20 menit berlalu akhirnya kelas kami telah menetapkan pejabat kelas, ceilee pejabat DPR kalik dan sang Ketua kelas membawa hasil diskusi kepada Bu Sarah di ruang guru. Setelah itu Bu Sarah kembali ke kelas bersama dengan ketua untuk menutup sessi pertama kelas Tia hari ini. Yuup betul sekali jika hari pertama memang belum ada jadwal pelajaran hingga 2 hari lagi untuk masa orientasi siswa baru. Jadi hari ini Tia dan Agustin bisa pulang cepat.