Saved twice

2284 Kata
" Hey, wait for me!" Charlie dengan cepat mengekor di belakang Jillian. Tapi Jillian tidak memperdulikan suara Charlie. Dia dengan serius menatap ombak dan kembali duduk di atas papan selancarnya. Lalu dengan cepat menelungkupkan tubuhnya dan mendayung ke tengah laut dengan tangannya. Ombak besar yang datang kali ini disambut dengan semangat oleh Jillian. Ia berdiri dengan sempurna diatas papan seluncurnya. Jillian berdiri lalu menari-nari diatas papan selancarnya dengan lincah. Namun entah kenapa, Jillian tiba-tiba kembali kehilangan keseimbangan dan ia kembali tercebur ke dalam laut. Namun tangannya masih sanggup menggapai papan selancarnya. Namun ombak kembali datang dan membuat tangan kecilnya melepaskan papan itu. "Jillian!!!!" Selena yang melihat itu jadi berlari ke arah laut. Namun Cruise segera mencekal tangan adiknya itu. "Tunggu di sini!" Cruise menatap adiknya dengan tatapan penuh perintah. Selena jadi membeku ditatap kakaknya seperti itu. Cruise dengan cepat menuju laut tempat Jillian tenggelam. Dalam hitungan detik, tubuh kekar Cruise sudah hilang ditelan air laut. Jillian berkali-kali meminum air asin akibat terjangan ombak, posisinya sudah setengah mati karena jaraknya dengan pantai masih sangat jauh. Sementara papan selancarnya juga sudah hilang entah kemana. Ia terus berenang berusaha melepaskan diri dari ombak yang terus menyeretnya ke tengah. Sebuah tangan yang kuat kembali menangkapnya dan mengajaknya berenang menuju pantai. "Apakah kamu masih kuat?" tanya Cruise menatap Jillian seperti sudah kelelahan. "Masih ... Aku masih kuat ...!" Ucap Jillian sambil terengah-engah. "Jika kamu tidak kuat, lingkarkan tanganmu di leherku," kata Cruise sambil terus berenang. "Tidak perlu... aku masih kuat ... hanya saja, aku ... butuh pegangan untuk ... menghalau ombak ..." Jillian berusaha mengatur tenaganya. Cruise meraih lengan Julian dan dengan paksa melingkarkan di lehernya lalu keduanya berenang menuju pantai. Cruise meletakkan tubuh Jillian yang terlihat lemas di atas pasir pantai yang putih. "Jillian!! Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Selena yang melihat Jillian seperti kelelahan. Sementara wajah Selena terlihat cemas. Jillian memejamkan mata dan berusaha mengatur nafasnya. "Akuh ... baik-baik saja, Selena! Thanks, Cruise!" ucap Jillian tanpa membuka matanya. "Hhh ... Ok! Aku sudah menyelamatkanmu dua kali! Apa imbalannya bagiku?" Cruise duduk sambil memeluk lututnya. Ia menatap Jillian yang masih terengah-engah mengatur nafas. "Cruise!!" Selena mendelik ke kakaknya itu. "Hey! Apa salahku?" Cruise membalas tatapan adiknya dengan tampang tak bersalah. "Kamu ini! Mana boleh begitu? Menolong dengan pamrih!!" Selena memukul bahu kakaknya dengan gemas. "Emangnya kenapa? Sesekali boleh dong minta imbalan. Lagian taruhannya nyawa! Gimana kalo aku dimakan hiu tadi?" Cruise seolah tak peduli dengan keberatan adiknya. "Aish!! You're so overreacting, Cruise!"  Selena memutar bola matanya mendengar ucapan Cruise yang dirasanya terlalu lebay. "Ah! Sudah-sudah. Baiklah! Aku akan mentraktir kalian nanti malam." Jillian menyela perdebatan antara kakak beradik itu. "Wah! Serius?" Sekarang malah Selena yang terlihat ambisius, sementara wajah Cruise malah datar saja menanggapi ucapan Jillian. "Iya, pilih saja kalian mau makan di mana!" Kata Jillian sambil duduk. "Cruise?" Selena menyenggol tubuh kakaknya itu. "Terserah! Atur saja," kata Cruise sambil bangkit berdiri. "Hey! Kamu mau kemana? Aku mau mampir ke resort Jillian!!!" Selena berteriak ke arah Cruise yang sudah berlalu. "Pergilah! Aku tunggu di hotel!" Balas Cruise tanpa menatap keduanya. Selena kembali menatap Jillian yang terdiam. "Sudahlah, biarkan saja! Dia memang agak aneh!" kata Selena. "So, apakah kamu jadi mengajakku untuk mampir ke resortmu?" tanya Selena lagi. "Tentu saja! Dan aku harus kehilangan papan selancarku kali ini!" keluh Jillian. "Hihi, mungkin kamu memang dilarang untuk ber-selancar oleh alam," hibur Selena. Selena menggandeng tangan Jillian lalu mereka berdua berjalan bersama menuju resort. Resort tempat Jillian menginap memiliki view yang bagus. Suasana alam dan asri sangat terasa di sana. Ada banyak pot bunga dari tanah liat yang berukuran besar menghiasi jalan setapak berpaving dari lobby menuju cottage tempat Jillian menginap. Sementara di belakang bunga-bunga yang berjejer itu juga disediakan gazebo untuk tempat wisatawan bersantai dengan alas rumput hijau yang menghiasi seluruh halaman resort itu. Gerbang masuk menuju cottage  Jillian ditandai dengan bangunan berbentuk pura yang berwarna hitam dengan dua patung adat Bali di depannya. Patung itu berlilitkan kain kotak-kotak berwarna hitam dan putih yang melilit di setengah badan patung, sehingga kesan sakral sangat terasa. Sementara di depan patung tersebut ada dupa dan bunga-bunga seperti sesajen. "Aku suka pemandangan di cottage ini. Keliatannya aku akan betah di sini." Selena melayangkan pandangannya ke seluruh wilayah cottage. "Pindahlah kemari kalau begitu," undang Jillian. "Hehe, aku harus mendiskusikannya dengan Cruise terlebih dahulu. Dia sukanya penginapan ala backpacker. Beda denganku yang menyukai kenyamanan dan keindahan alam." Mata Selena berputar ke atas setiap kali ia menyebut nama Cruise. Seakan-akan Cruise adalah bayi yang merepotkan baginya. Jillian tertawa kecil melihat ekspresi Selena. "Bukankah kamu bilang, dia sangat baik?" goda Jillian. "Hatinya baik, tapi mulutnya enggak!" Nada Selena terdengar sengit. "Haha! Belajarlah melihat kebaikannya! Bagaimanapun dia adalah kakakmu. Pasti dia sangat menyayangimu, ya kan?" Selena tidak menjawab dan hanya mengangkat bahunya. Mereka sudah sampai di depan pintu cottage. "Ayo, masuk!" ajak Jillian sambil membuka pintu. Kamar Jillian berukuran sekitar 25m2. Dengan satu ranjang berukuran besar. Sebuah sofa dengan meja kaca terdapat juga di ruangan itu sebagai tempat untuk bersantai. Suasananya sangat nyaman apalagi bangunan itu terbuat dari kayu berbahan premium. "Jadi apa rencanamu selanjutnya, Jill?" tanya Selena sambil merebahkan dirinya di sofa berbahan kulit itu. "Entahlah! Aku belum tau, bisa melewati satu hari ini saja aku sudah sangat bersyukur," jawab Jillian sambil mengambil pakaian dari suitcasenya. "Bagaimana reaksi orangtuamu ketika kamu tadi pergi?" Selena menatap Jillian yang hendak pergi ke kamar mandi. Mendengar pertanyaan Selena, Jillian mengurungkan niatnya untuk mandi. Ia duduk di samping Selena sambil meletakkan pakaiannya di atas meja kaca. "Aku ... pergi tanpa pamit." Wajah Jillian seperti menunjukkan sebuah penyesalan. "Pernikahanmu gagal lalu kamu pergi meninggalkan mereka begitu saja? Apakah menurutmu mereka tidak ikut merasakan kesedihanmu?" Selena berusaha membuka pikiran Jillian. Jillian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia seperti menyadari bahwa sikapnya sangat tidak adil terhadap kedua orangtuanya. "Sebaiknya kamu menghubungi orangtuamu, Jill. Mereka pasti akan sangat khawatir memikirkanmu." Selena memeluk bahu Jillian. Jillian kembali teringat peristiwa yang menyakitkan itu. Airmata kembali membasahi wajahnya yang putih. Ia masih ingat wajah mamanya yang tadi pagi menangis di pelukan papanya. Apa yang dipikirkan oleh mamanya ketika mengetahui anak gadis satu-satunya menghilang tanpa kabar? Mamanya pasti memikirkan hal yang macam-macam tentang dirinya demikian juga papanya. Dan Julian? Selama ini Julian sangat sayang padanya! Julian juga pasti sangat cemas sekarang. Yang dikatakan Selena memang benar, mama dan papanya pasti sangat mengkhawatirkannya. Sementara ia dengan egois meninggalkan mereka begitu saja. "Tenangkan dirimu dan hubungi mereka, Jill," saran Selena sambil memeluk tubuh Jillian. "Kamu benar, Selena. Aku pikir aku memang harus menghubungi mereka," kata Jillian akhirnya. Ia menghapus jejak airmata di wajahnya. "Mandilah dahulu, setelah itu, kita telpon orang tuamu," kata Selena sambil mengambil pakaian Jillian di atas meja dan meletakkannya di pangkuan Jillian. Jillian bangkit dan membersihkan tubuhnya dari air laut yang sangat lengket. "Ayo, aku akan mentraktir kalian. Kamu mau makan dimana?" tanya Jillian setelah ia selesai mandi. "Kali ini kamu harus mampir ke penginapanku terlebih dahulu, karena aku belum mandi dan masih bau airlaut." Selena berdiri dan menatap Jillian yang sudah rapi dan cantik. Jillian mengenakan kaos longgar berwarna pink yang membungkus tubuh kecilnya dikombinasikan dengan celana jeans belelnya. "Oh! Baiklah! Ayo kita ke penginapanmu," sambut Jillian dan mereka pun keluar meninggalkan cottage. Suasana diluar mulai sedikit redup karena matahari yang sudah turun. Pencahayaan di cottage itu mulai dinyalakan. Lampu berwarna kuning berjajar rapi di sepanjang jalan setapak yang mereka lewati. Jarak antara cottage tempat Jillian menginap dan Selena ditempuh selama 15 menit dengan berjalan kaki. Dan sesampainya di sana, Cruise ternyata sudah mandi dan berbaring di ranjangnya yang berukuran single. Kamar Selena tidak sebesar kamar Jillian, ranjangnya ada dua berukuran single, satu untuk Cruise dan satu untuk Selena. Tidak ada meja dan hanya ada sofa saja beserta dengan meja rias kecil. TV flat berukuran 32 inch terdapat di atas meja di depan ranjang. "Hai, Cruise," sapa Jillian sambil duduk di ranjang milik Selena. "Hai," balas Cruise singkat. "Jill, sebaiknya kamu menghubungi orangtuamu sekarang," kata Selena mengingatkan. "Ehm! Aku ... tidak punya ponsel, semuanya aku tinggalkan di hotelkul tadi pagi. Mungkin besok saja aku akan membeli yang baru dan menghubungi mereka," dalih Jillian sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ya sebenarnya bisa saja ia membeli ponsel, tapi untuk saat ini, ia merasa belum membutuhkannya. Ia sedang ingin sendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapapun. "Oh! Kamu bisa pakai ponselku dulu kalo begitu." Selena mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dan memasukkan passwordnya. "Pakai ini," katanya sambil menyerahkan ponsel itu ke tangan Jillian. Jillian dengan ragu menerimanya. "Aku mandi dulu ya!" Selena berlalu dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Jillian memencet nomor Julian tapi ketika ia ingin menyentuh tombol call, hatinya kembali ragu. Apa yang akan Julian katakan nanti? Apakah dia akan memarahinya karena pergi tanpa pamit? "Panggilan itu takkan tersambung hanya dengan kamu pandangi saja." Suara Cruise membuyarkan lamunan Jillian. "Hh! Kamu!" Jillian memutar bola matanya ke atas. "Sebenarnya ada apa sih dengan dirimu?" Cruise melompat dari posisi berbaringnya dan ia duduk menghadap Jillian. Jillian menatap Cruise tanpa ekspresi. "Mana suamimu? Kamu baru menikah, 'kan?" tanya Cruise melihat Jillian hanya menatapnya dengan tatapan kosong. "Aku ... sedang tidak ingin membicarakannya, Cruise." Jillian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Cruise kembali membaringkan tubuhnya mendengar jawaban Jillian yang jauh dari kata memuaskan. Jillian kembali menatap layar ponsel di tangannya. Dan dengan nekad ia memencet tombol call sambil memejamkan matanya. Ia meletakkan ponsel itu di telinganya dan mendengar suara panggilan beberapa kali di seberang sana. Hatinya berdebar menunggu sang kakak menjawab panggilannya. Namun beberapa kali deringan berbunyi, Julian tidak juga mengangkatnya sampai akhirnya panggilan itu terputus dengan sendirinya. Hati yang tadinya berdebar kembali tenang mengetahui bahwa Julian tidak menjawab panggilannya. 'Ah, besok saja aku akan menelponnya,' batin Jillian sambil meletakkan ponsel itu di kasur. Namun baru saja ia bernafas lega, ponsel Selena tiba-tiba berdering dan nomor Julian muncul di sana. Hati Jillian kembali cemas namun dengan cepat ia pun mengangkatnya. "Hello?" sapa Jillian. "Ya? Siapa ini?" Suara Julian terdengar tegas dari seberang sana. "Hey, Jul! This is ... me!"  Suara Jillian terdengar lirih. "Jill? Is that you?" Suara Julian tiba-tiba melunak. "Yeah." "Jill, tell me where are you? Are you okay? Share your location and I'll pick you up! " Suara Julian terdengar cemas ketika ia sudah yakin bahwa itu memang Jillian. "How's mom?" Jillian tidak merespon ucapan kakaknya. "Mom and Dad so worry about you! We thought that we'll lose you for good. Please, tell me where you are, Jill? We will face it together!  I'm still your brother, right? " Nada Julian terdengar memelas. "Aku sedang ingin sendiri, Jul. Katakan pada mom and dad bahwa aku baik-baik saja. Kalian pulanglah terlebih dahulu. Nanti aku akan menyusul," kata Jillian dengan suara lirih. "Tidak, Jill! Aku akan menjemputmu. Kita pulang bersama." Julian keliatan bersikeras. "Aku akan menghubungimu besok, Jul. Ini adalah nomor temanku. Aku akan membeli ponsel baru besok dan langsung menghubungimu," janji Jillian. "Katakan dulu kamu ada di mana, Jill. Jangan membuatku khawatir." Nada Julian masih terdengar cemas. "Aku ada di pantai Nyang Nyang. Pantai tempat kita ber-selancar terakhir kali," jawab Jillian akhirnya. "Oh! Okay! Besok aku akan menjemputmu di sana," kata Julian. "Okay, bye!." Jillian menutup panggilannya. Suara Julian di sebrang sana terdengar sangat khawatir. Kakaknya itu memang terlalu protektif padanya.  Dan meninggalkannya tanpa kabar seperti ini jelas membuatnya panik. Apalagi setelah kejadian menyakitkan yang barusan dialami oleh Jillian. Cruise menatap Jillian yang kembali termenung. "Keliatannya kamu sedang dalam masalah, jika kamu tidak bisa bercerita padaku, ceritalah kepada Selena. Dia bisa menyimpan rahasia. Tidak baik menyimpan beban hidupmu sendirian. Percayalah, berbagi jauh lebih baik." Kata-kata Cruise terdengar penuh kepedulian. "Yeah, aku tau.Thanks  buat kebaikan kalian," ucap Jillian dengan tulus. "Bagaimana, Jill? Apakah kamu sudah menelpon orang tuamu?" Selena yang baru keluar dari kamar mandi duduk di sisi Jillian. "Sudah, thanks! Ayo, aku traktir kalian makan! Pilih saja mau makan di mana," ajak Jillian sambil bangkit berdiri. "Cruise?" Selena menatap Cruise yang masih berbaring dengan kedua tangannya sebagai bantal. "Yeah! Okay! Aku ikut! Bagaimana jika kita makan di Sky Bar?" usul Cruise kemudian. "Boleh! Aku suka pemandangannya," seru Selena. "Dimana itu? Kalian tunjukkan saja tempatnya. Karena aku tidak tau." Jillian mengangkat bahunya. "Ya udah ayo, kita berangkat," ajak Selena sambil menarik tangan Jillian. Mereka bertiga memesan taxi dan menuju restaurant yang dimaksud. Begitu sampai, Jillian langsung mengagumi keindahan panorama yang disajikan oleh restaurant itu. "Kalian benar-benar memiliki selera yang bagus!" puji Jillian dengan wajah terkagum-kagum. Dari restaurant outdoor yang berada di atas atap itu, mereka bisa menikmati tapas dan pemandangan laut yang indah dengan bias  sunset yang masih samar. Pengunjung restaurant itu cukup banyak di jam segini dan semuanya rata-rata datang bersama dengan keluarga dan juga pasangan. Meja restaurant yang ada disana diberi kain penutup berwarna putih menimbulkan kesan hangat dan romantis ditambah lagi dengan cahaya lilin yang diletakkan di atas meja. Suasana temaram sangat cocok bagi orang yang ingin memadu kasih. Sayangnya, Jillian tidak lagi memiliki seorang kekasih. Jillian melayangkan pandangannya ke seluruh restaurant itu dan akhirnya memilih sebuah tempat di sudut sementara Selena dan Cruise hanya mengekor saja. Makanan yang tersedia di sana ada macam-macam, mulai dari western, chinese dan Indonesian food. "Jill, aku ke belakang dulu, ya? Kalian pesan saja duluan. Cruise, kamu tau kesukaanku, 'kan?" Selena bangkit dari kursinya lalu pergi meninggalkan Jillian dan Cruise. Jillian mengangguk. "Aku dan Selena mau babi guling saja." Cruise menunjuk menu yang dimaksud. "Hm, itu adalah menu khas bali, keliatannya memang patut dicoba! Aku juga mau ah," timpal Jillian. "Oh! Jadi ternyata kamu pura-pura menyerahkan Elton padaku karena kamu pun memiliki kekasih gelap! Ya 'kan?!" ***** Next : "Jangan basa-basi, Jillian! Kamu sudah mempermalukan diriku di depan banyak orang padahal kelakuanmu pun tidak jauh beda dengan w************n di luar sana!!!" Tangan Mea dengan cepat melayang dan ... PLAKKKK!!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN