Pembuktian Diri

1308 Kata
Keluar dari pinggiran hutan, Ellyora kembali ke penginapan. "Ellyora? Kenapa wajahmu memerah?" Ellyora tersentak. Ia baru saja sampai di pelataran, dan terkejut saat Roseanne tiba-tiba bertanya perihal wajahnya yang memerah. Entah dari arah mana wanita berselendang biru itu muncul, atau memang sudah sejak tadi Roseanne duduk di kursi bawah pohon Willow, Ellyora tidak begitu memperhatikan karena pikirannya sedang tidak fokus. Roseanne memasang senyum hangat seperti biasanya, tapi tentu saja Ellyora enggan mengatakan bahwa penyebabnya tak lain akibat pelukan Kai Xavier. "Benarkah? Oh, mungkin karena tadi terkena panas matahari," kata Ellyora berusaha nampak baik-baik saja, meski yang muncul di wajahnya adalah senyuman canggung.  Roseanne mengerutkan kening sambil melihat sinar matahari yang tertutup awan. Tidak ingin pembahasan ini berlanjut, Ellyora lantas langsung menuju kamar penginapan. Langkahnya terhenti di ambang pintu. Pandangan gadis itu menelusur, mencoba mencari Kai siapa tahu ketua The Keepers itu belum berangkat. Tetapi kamar dalam keadaan kosong. Barang-barang milik Kai yang sebelumnya ada di atas meja dekat ranjang pun sudah tidak ada. Ellyora masuk dalam kamar dan duduk di tepian ranjang dengan wajah melemas. Ia menyesal karena tadi terlalu banyak berpikir, sehingga tidak sempat menyusul Kai. Padahal ia ingin mengatakan sesuatu pada ketua The Keepers itu. "Boleh aku masuk?" Roseanne berdiri di ambang pintu kamar, menunggu persetujuan Ellyora.  "Silakan," balas Ellyora lalu membiarkan Roseanne duduk di tepian ranjang bersebelahan dengannya. "Kau terlihat sangat gelisah," komentar Roseanne. "Kalau kau percaya, kau bisa menjadikanku teman bicara." Ellyora menoleh pada Roseanne yang sedang menatapnya hangat. Wanita berselendang biru itu telah banyak membantu keluarga Bright, Ellyora menyadari hal itu. Akan tetapi, saat ini ia belum bisa mempercayai siapa pun, termasuk Roseanne. Apalagi setelah ingatan kebersamaannya dengan Kai terungkap, ia jadi memikirkan kemungkinan lain. Bisa saja ada kenangan lain yang juga terlupakan.  Hal terakhir yang berhasil Ellyora ingat usai kebersamaannya dengan Kai delapan tahun lalu adalah dirinya pingsan di bawah pohon willow. Tapi ia tidak bisa mengingat penyebabnya dan kejadian setelahnya kecuali kejadian saat dirinya bertemu Neneknya.  Mungkinkah ada peristiwa lain yang terlewatkan? Bagaimana bisa ia tidak bisa mengingatnya? Hidupnya yang semula biasa-biasa saja sekarang mendadak penuh misteri. "Aku bisa mengerti," tutur Roseanne begitu melihat Ellyora melamun, alih-alih menanggapinya. "Pasti tidak mudah bagimu memutuskan pergi ke pulau Tannin." "Kurasa semua gadis Albara merasa khawatir saat tahu dirinya akan pergi ke sarang penyihir."  "Ya. Kau benar. Tapi, kalau aku bilang tidak semua yang tinggal di pulau Tannin itu kejam, apa kekhawatiranmu akan berkurang?" "Mungkin iya. Tapi apa jaminannya bahwa perkataan Anda benar?" Ellyora mengangkat wajah untuk menemukan tatapan Roseanne, lalu bibirnya yang mungil membentuk senyuman tipis.  "Aku hanya pernah mendengarnya dari seseorang. Dan setelah kupikir-pikir, mungkin kabar itu tidak sepenuhnya salah. Keluarga Kinsey adalah penguasa kekuatan sihir hitam. Meski begitu, bagaimana pun juga bukankah mereka tetaplah manusia yang hatinya mengolah perasaan? Bisa saja benar, salah satu dari mereka masih memiliki hati nurani." "Aku bersyukur kalau apa yang Anda katakan terbukti benar. Yang kukhawatirkan, bagaimana kalau rencana ini gagal? Maksudku, aku khawatir tidak bisa melakukan tugasku dengan baik." "Yakinlah kalau rencana ini akan berhasil. Perisai sihir yang mengalir dalam darahmu pasti memiliki alasan dan tujuannya. Aku yakin melalui rencana inilah perisai sihirmu akan mengantarkan kita pada perdamaian. Ellyora Bright, kau gadis yang kuat. Aku percaya padamu." Ellyora berusaha tersenyum. "Terima kasih ... karena telah mempercayaiku." Roseanne menghela napas, lalu bangkit dari duduknya. "Sekarang, beristirahatlah. Nanti aku akan menemuimu lagi setelah mendapat kabar dari Ramseya."  Ellyora mengangguk, lalu menatap sepasang mata biru milik Roseanne. Wanita berselendang biru itu kini sedang tersenyum padanya.  Mengapa mata itu terlihat familier? Apakah di masa lalu aku juga pernah bertemu Roseanne? *** "Tuan muda?" Mata Alcott melebar tatkala masuk ke kamar Edbert dan melihat Tuannya sedang rebahan di ranjang. "Tuan Muda?" panggil Alcott lagi. "Saya sudah menjadwalkan pertemuan mediasi untuk nanti malam. Beberapa perwakilan keluarga Kinsey dan perwakilan demonstran sudah menyetujuinya." Edbert terlonjak duduk. "Apa?! Kenapa malam ini?" "Itu … sesuai yang tadi siang Anda perintahkan, Tuan." Alcott tampak kebingungan. Edbert memegangi kepalanya frustrasi, wajahnya penuh akan penyesalan. Ia menyesal kenapa tadi terlalu bersemangat sehingga memerintahkan Alcott menjadwalkan mediasi malam ini. Kini ia sadar keputusan yang ia ambil terlalu tergesa-gesa. “Berita rencana pernikahan Anda sudah menyebar, Tuan," lanjut Alcott. "Entah dari mana, tapi para demonstran itu tahu kalau Anda berencana menjemput sendiri gadis Albara itu sebagai tanda keseriusan Anda. Karena sampai dengan saat ini Anda belum juga menepatinya, maka hal itu semakin memicu keraguan pihak-pihak yang menentang Anda, Tuan.”    “Argh! Ini memusingkan! Aku ingin hidup nyamanku kembali!" gerutu Edbert lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan posisi kedua tangan terlentang. Ia menoleh pada langit yang mulai menampakkan semburat jingganya. Cuaca begitu mendukung untuk bersantai, tapi Edbert malah harus pusing-pusing memikirkan misinya. Tidak banyak waktu lagi, apalagi untuk bermalas-malasan. Edbert mengerjapkan mata, merasakan ruang kebebasannya yang menyempit. Hidupnya seakan dikelilingi banyak tembok yang memiliki telinga, serta debu yang bisa berbicara. Semakin dekat dengan penobatannya sebagai pemimpin Yurza, semakin sulit pula mengenali mana yang bisa dipercaya. Seperti saat ini.  Sebenarnya siapa di balik semua ini? *** WUSSS .... Angin sejuk lautan Ambert menerpa wajah Edbert serta mata birunya yang dingin menusuk. Kedua tangannya mencengkeram pembatas balkon. Langit sudah sepenuhnya senja. Sesuai yang dikatakan Jed, seharusnya Dexter sudah sadar sore ini. Mata Edbert menajam ketika melihat Alcott yang ia perintahkan menengok Dexter sudah kembali. "Bagaimana? Dexter sudah sadar kan?" tanya Edbert tak sabar. Alcott menunduk hormat usai mendaratkan cakarnya di pembatas balkon. "Maaf, Tuan. Sayang sekali. Tuan Muda Dexter masih belum sadar." "Apa?! Bagaimana mungkin?" Edbert mengepalkan tangan.  "Tentang itu, saya dengar malam ini Jed akan datang untuk memeriksa kembali kondisi Tuan Muda Dexter." "Sial. Itu artinya aku harus menyelesaikan misiku sendirian." "Bagaimana kalau mencari pesuruh saja untuk membawa gadis Albara itu, Tuan Muda?" "Kalau dengan cara itu bisa membungkam orang-orang yang meragukanku, pasti sudah dari awal akan kulakukan. Tapi, bukan seperti itu yang diramalkan Cassandra. Hanya dengan cara membawa gadis Albara itu dengan tanganku lah maka pihak-pihak yang meragukanku akan terbungkam. Begitulah ramalannya. Sepertinya inilah waktunya, dan aku hanya harus membuktikan kemampuan diriku, membawa gadis Albara itu dengan tanganku sendiri!" kata Edbert mantap. "Tapi ...." "Tapi apa, Tuan?" "Menghilangnya Cassandra sedikit membuatku janggal," tutur Edbert lalu beralih menatap Alcott. "Aku memiliki tugas tambahan untukmu."  Mata Alcott melebar. "Tugas tambahan? Apa itu, Tuan?” “Awasi pergerakan pelayan setia Cassandra.” “Maksud Anda … apakah Ramseya?” “Benar,” jawab Edbert tegas. *** Beberapa saat kemudian …. "Tuan Muda, kebutuhan menyamar Anda sudah saya siapkan." Alcott tampak kelelahan. Bagaimana tidak? Dalam sehari ia melaksanakan tugas yang cukup banyak. Mengurusi demonstran, mengawasi para monster yang membangun menara, belum lagi ia harus tetap melayani kebutuhan pribadi Tuannya. "Hmmm," respon Edbert tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia baca sambil duduk di kursi balkon. Wajahnya sudah lebih santai sekarang, meski belum sepenuhnya. “Lalu bagaimana dengan pembangunan menara?" lanjutnya. "Para monster berkepala kerbau sudah hampir menyelesaikannya. Diperkirakan malam ini menara itu sudah selesai," terang Alcott. "Bagus. Jangan biarkan para monster itu beristirahat sebelum pekerjaan mereka selesai," kata Edbert tanpa menoleh. "Baik, Tuan."  Edbert mengibaskan tangannya. “Kau boleh pergi.” Alcott mengangguk dan kembali memberi hormat. Pandangan Edbert mengikuti arah Alcott terbang ke timur. Melewati padang rumput, sungai kecil, kemudian hilang di antara gugusan pepohonan, tertelan dalam lembah Tarka. Senyum culas terpatri di wajahnya, membayangkan seorang gadis Albara terkurung di menara yang sedang dibangun itu. Edbert tak sabar membuat pihak-pihak yang meragukan keseriusannya terbungkam. Sudah waktunya Edbert Kinsey membuktikan kemampuan dirinya. Mediasi malam ini adalah waktu yang tepat, atau Edbert tak akan punya kesempatan lagi nanti. Di sisi lain, Alcott telah sampai di lembah paling suram di pulau Tannin, yakni lembah Tarka. Di lembah itu juga bangunan penjara Gregosus berdiri. Tak lama setelah terbang melewati atap penjara Gregosus, Alcott sampai di pembangunan menara. Melihat Alcott datang, para monster berkepala kerbau semakin cepat bahu membahu menyusun batu di menara itu. Belum sepenuhnya selesai, tapi sudah nampak kokoh, tinggi, dan ... suram. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN