Usai dari kerajaan Kawa, di mana di kerajaan barat itu paling banyak demonstran yang kontra pada Edbert Kinsey berkumpul, Ramseya kembali terbang melintasi samudra Erion untuk menyampaikan laporan pada Cassandra. Ia bermanuver memastikan situasi di luar penginapan aman sebelum masuk ke salah satu jendela yang merupakan kamar Cassandra bersama Roseanne alias Diana.
Seperti biasa, kedatangan Ramseya selalu sangat senyap, sehingga saat burung itu mendarat di atas meja dekat ranjang, Cassandra dan Roseanne tidak langsung menyadarinya. Mereka baru tersadar ketika mencium bau belerang lalu mendapati Ramseya yang tengah mengkondisikan tarikan napasnya.
Cassandra mengambil botol kecil berisi cairan hitam lalu dengan sigap meminumkannya pada Ramseya. Setelah itu, Ramseya pun mulai bugar kembali meski cairan hitam itu tidak mampu menumbuhkan bulunya yang telah rontok.
"Berita apa yang kau bawa?" tanya Cassandra.
"Sesuai ramalan Anda. Telah terjadi demo di beberapa kerajaan barat, Nyonya. Dan saya dengar Tuan Muda Edbert Kinsey akan mendatangi mediasi nanti malam," lapor Ramseya.
Di balik selendang merahnya, Cassandra tersenyum simpul. "Bagus. Sekarang terbanglah menemui Kai."
***
Ketika warna senja di pulau Tannin hampir memudar, Edbert Kinsey telah berangkat ke kota Eden melalui teleportasinya. Di kerajaan Snowden waktunya lebih lambat, sehingga ketika Edbert sampai di kota Eden, matahari di sana baru naik.
Edbert berjalan menyusuri jalan tanah berkerikil yang memisahkan deretan warung-warung di pasar Eden. Sesekali jalanan itu mendadak berdebu ketika ada kuda yang melintas. Edbert pun menutup hidungnya dengan tangan. Selain itu, aroma tidak enak yang berasal dari parit di pinggir jalan serta amis ikan-ikanan dari beberapa warung juga membuat Edbert memutuskan tetap menutup hidungnya sambil tetap fokus mencari rumah panggung cat biru seperti yang pernah dideskripsikan Dexter.
Pengunjung pasar Eden lumayan ramai, dan karena itu Edbert perlu waspada. Jangan sampai keberadaannya yang merupakan penyusup diketahui The Keepers.
Di tengah kesibukan pasar, Edbert mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya, yang saling tersenyum, menyapa, dan beberapa di antaranya berbagi makanan pada orang-orang berpakaian lusuh sepertinya.
Aneh. Mereka manusia berkekurangan. Kenapa masih sempat saling membantu?
Edbert mengembuskan napas tak mengerti sebelum kembali berjalan dan melanjutkan pencarian. Saat sampai di sudut pasar yang tidak begitu ramai, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menabrak bahunya, sehingga Edbert seketika menoleh.
Tiga pria gemuk berpenampilan berantakan nampak sedang memasang seringai padanya. Edbert tahu mereka preman pasar, dan tentu saja ia tidak berminat untuk berurusan dengan mereka yang hanya akan menghambat misi pencariannya. Edbert pun mengabaikan tiga preman itu dan kembali berjalan.
Namun, rupanya tiga preman tersebut tak ingin kalau Edbert buru-buru pergi. Maka ketika Edbert baru saja mulai melangkah, salah satu preman mencekal kakinya. Edbert yang tak siap akhirnya tersungkur. Ia mendongakkan wajahnya yang geram.
Preman kampret! Seenaknya saja bertingkah.
Edbert mengumpat dalam hati. Seumur-umur baru pertama kali ini ada orang yang berani membuatnya jatuh tersungkur. Melihat wajah-wajah pongah yang kini menyeringai padanya, tangan Edbert mengepal kuat. Andai saja saat ini ia berada di tempat yang benar-benar sepi. Ingin sekali ia menggunakan kekuatan sihirnya untuk memusnahkan tiga preman tak berguna itu.
Salah satu preman berambut mohak membuang ludah. "Cepat, tunggu apa lagi! Serahkan uangmu jika ingin selamat!"
Alis Edbert menukik curam. "Lucu sekali! Mana mungkin pria gelandangan dengan baju lusuh sepertiku memiliki banyak uang?"
"Gelandangan?" Preman berkalung rantai menyahut dan tertawa menggelegar. "Kau tidak bisa mengelabuhi kami. Gelandangan mana yang berkulit bersih sepertimu?"
Preman lain ikut tertawa. Keras, parau, dan penuh ejekan. Membuat para pejalan kaki yang kebetulan melintas di sekitarnya merinding dan tak berani ikut campur.
Tangan Edbert semakin kuat mengepal. Yang dikatakan preman itu tidak salah. Penyamarannya memang tidak maksimal. Tapi melumuri wajah dengan lumpur seperti yang disarankan Alcott, tentu saja Edbert tidak akan melakukannya.
Ketiga preman tidak sabar lagi. Mereka berhambur mendekat. Secara bersamaan, mencoba menangkap tubuh pria tinggi di hadapan mereka.
HYAAA! Namun, tangkapan mereka hanya berbuah angin.
Dengan sigap, Edbert berhasil menghindar. Ia kemudian memanfaatkan kerikil di dekat pijakan kakinya untuk melempari tiga preman itu. Tiga buah kerikil yang semula di tangannya, secara tepat berhasil mendarat di kening masing-masing preman.
"Baji*gan!" teriak preman rambut mohak sambil memegangi dahinya.
Edbert tersenyum miring sebelum memutar tubuh dan berlari. Ia tidak berniat melarikan diri. Hanya ingin membuat ketiga preman itu mengejarnya dan ketika sudah menemukan tempat yang sepi, Edbert akan memberi pelajaran pada preman-preman itu dengan sihirnya.
"Kejaaaaar!" teriak preman itu lagi, kemudian berlari mengejar Edbert diikuti dua preman lain.
Edbert berlari menerobos kerumunan pasar. Hingga akhirnya ia memutuskan berhenti ketika sampai di jalan kecil yang sepi. Dengan percaya diri, ia memutar tubuh. Namun ....
Ke mana empat preman itu?
Edbert menoleh kanan dan kiri, dan yang ada hanyalah dirinya dan pekarangan sunyi. Sepertinya tadi ia berlari terlalu kencang, sehingga empat preman gemuk itu menyerah untuk mengejar.
"Sayang sekali, padahal tanganku sudah gatal ingin menghabisi empat onggok manusia tak berguna itu. Berani-beraninya mereka mengejek calon pemimpin Yurza!" umpat Edbert.
Tak ingin waktunya yang terbatas ini terbuang sia-sia, Edbert lantas kembali ke pasar Eden untuk melanjutkan pencariannya. Ia berjalan di pinggiran pasar.
"Permisi."
Edbert terkesiap. Langkahnya terhenti, dan ketika ia menurunkan pandangannya, seorang anak perempuan sudah berdiri di sampingnya. Dengan tersenyum, si anak lalu menyodorkan sebuah apel. Edbert menebak, mungkin usia anak perempuan itu sekitar enam tahun.
"Tuan, apel ini untukmu," kata anak perempuan itu dengan suaranya yang terdengar menggemaskan. Wajah lugunya membuat siapa pun yang melihat ingin melindunginya.
Meski begitu, Edbert tidak langsung menurunkan tangannya yang sedang bersidekap untuk menerima apel itu. Ia justru menaikkan dagunya dengan angkuh.
Untuk apa aku menerima sebuah apel dari orang miskin? Ini penghinaan!
Batin Edbert menggerutu, tapi tak lama kemudian ia melirik ke bawah, pada pakaian lusuh dan kasar yang membalut tubuhnya. Ah, benar. Pasti anak perempuan itu berpikir dirinya adalah gelandangan, dan hanya gelandangan palsu yang menolak makanan.
Jadi terpaksa Edbert pun menerima apel itu. "Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama," balas si anak perempuan sambil tersenyum.
"Berbahaya bagi anak kecil sepertimu berkeliaran di pasar sendirian. Di mana orang tuamu?" tanya Edbert, tapi alih-alih menjawab, si anak perempuan justru menangis sehingga membuat Edbert kebingungan. "Hei, jangan menangis. Nanti orang-orang berpikir aku telah menyakitimu."
Si anak perempuan pun mengusap matanya yang basah menggunakan punggung tangan, lalu menatap Edbert pilu. "Tadi aku ke pasar ini bersama teman-temanku, tapi sekarang mereka tidak tahu di mana. Tuan, saya tahu Anda orang baik. Bisakah Anda mengantarkan saya pulang? Saya tidak berani pulang sendirian."
Edbert langsung mengernyit. "Aku bukan orang baik seperti yang kau pikirkan. Lagi pula, aku sedang ada urusan. Minta tolong pada orang lain saja."
"Saya mohon, Tuan," ucap si anak perempuan sambil merengek. "Bukankah tadi Anda bilang akan berbahaya kalau anak kecil seperti saya berkeliaran di pasar sendirian?"
***
Sial!
Edbert mengutuk dirinya sendiri. Dia adalah calon pemimpin Yurza! Calon penguasa kekuatan sihir hitam! Tapi menolak permintaan anak perempuan berwajah lugu saja tidak tega.
Alhasil kini Edbert harus menerima konsekuensinya, menunda sementara misinya dan menemani si anak perempuan yang bernama Julia itu pulang ke rumahnya.
"Kita sudah meninggalkan pasar Eden cukup jauh. Kau tidak lupa di mana rumahmu kan?" tanya Edbert.
Julia menggeleng. "Aku tidak lupa. Rumahku ada di balik gugusan hutan itu."
Menghela napas, Edbert berusaha tetap sabar. Mereka melewati gugusan hutan yang cukup sepi, hingga akhirnya sebuah rumah kayu yang tampak begitu sederhana terlihat di ujung jalan.
"Itu rumahmu?" tanya Edbert, lalu menghentikan langkah karena langkah Julia juga terhenti.
Julia mengangguk. Kemudian mendongakkan wajah untuk berbicara pada Edbert. "Tuan, kau bisa meninggalkanku sekarang. Terima kasih karena telah mengantarku."
"Baiklah kalau begitu." Edbert sudah hendak memutar tubuh, tapi urung karena merasa ada yang masih perlu dikatakan pada Julia. Entah mengapa Julia mengingatkannya pada Dexter. "Julia, lain kali jangan bermain terlalu jauh kalau tidak bersama orang tuamu," pesan Edbert, lalu Julia mengulas senyum di bibir mungilnya seraya melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
Edbert bukan seseorang yang menyukai perpisahan, jadi melihat Julia melambaikan tangannya begitu, ia hanya tersenyum tipis sebelum berbalik dan meninggalkan Julia.
"Ada-ada saja," gumam Edbert sambil menapaki jalan setapak. Langkahnya terhenti begitu keluar dari gugusan hutan. Karena kakinya mulai terasa pegal, Edbert pun menepi ke sisi jalan dan berniat beristirahat sebentar di bawah pohon berdaun rindang. Terlebih dulu ia meletakkan apel pemberian Julia sebelum menemukan posisi duduk yang nyaman.
Namun ....
Mata Edbert langsung melebar, berusaha melihat dengan lebih jelas apa yang ia lihat. Benar saja. Ia berani memastikan kalau gadis yang sedang berjalan tak jauh darinya adalah gadis yang selama ini ia cari, karena Edbert belum melupakan wajah gadis itu. Tapi kenapa gadis itu berjalan sendirian di tempat sepi ini? Ah, masa bodoh, yang penting Edbert tidak ingin kehilangan kesempatan ini.
Ellyora Bright, kau tidak akan bisa lari lagi dariku!
***
Meski sudah menyiapkan dirinya, tetapi kini Ellyora tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Refleks, ia memekik dan kedua matanya terpejam ketika tiba-tiba saja tubuhnya disambar dengan kasar oleh seseorang. Entah seperti apa sosoknya, kejadian yang Ellyora alami begitu cepat.
Setiap tarikan napas semakin dekat dengan kegelapan. Begitulah yang saat ini Ellyora rasakan. Ia mencoba membuka mata. Tetapi yang tampak di sekitar hanyalah kegelapan. Hitam dan tak berujung. Di mana ia berada?
Sejatinya Ellyora bukan gadis yang takut akan kegelapan, tetapi kegelapan tak bernama kali ini berhasil membuatnya gusar. Gadis itu pun berusaha mendongak. Lalu samar-samar terlihat dagu dan rahang milik seorang pria yang membawanya, menggendong tubuhnya dengan sangat erat.
Lelaki itu? Apakah dia si calon pemimpin Yurza seperti yang Cassandra katakan?
Di waktu yang sama, Edbert tak bisa menahan rasa bahagianya. Ternyata dugaan yang sempat terlintas di kepalanya salah. Benar kata Cassandra, kegagalan sihirnya di kebun tomat hanya karena saat itu ia sedang gugup. Terbukti sekarang saat Edbert mencobanya lagi dengan lebih tenang, sihirnya berhasil dan akhirnya ia bisa membawa gadis itu di kedua tangannya dengan teleportasi.
Kau hebat, Edbert Kinsey! Selangkah lagi untuk membuat semua pihak yang meragukanmu bungkam!
Edbert berkata pada dirinya sendiri kemudian tersenyum smirk.
BRUK!
"Awww!" seru Edbert ketika merasa wajahnya tertimpuk sebuah benda. Edbert pun menunduk geram karena yakin pelakunya adalah Ellyora. "Berani-beraninya kau—“
Edbert tercekat. Alih-alih melanjutkan, kalimat yang sudah sampai di lidahnya pun tertelan kembali saat manik mata birunya bersirobok dengan sepasang mata coklat terang milik Ellyora. Ada desir halus yang tiba-tiba datang menguasai aliran darahnya, membuat seringai yang semula mengembang di wajahnya perlahan memudar.
Edbert buru-buru mengangkat dagunya kembali untuk mengalihkan pandangan, sebelum Ellyora menyadari bahwa sebentar lagi pipinya mungkin memerah. Portal kegelapan mendadak diselimuti keheningan yang canggung.
Sungguh ... Edbert benci untuk mengakui. Kenapa ada kehangatan yang tiba-tiba mulai menyebar di relung hatinya?
***