Sementara Edbert mengalihkan pandangannya, Ellyora masih bergeming. Tubuhnya melemas. Bahkan tas rotan miliknya yang tadi digunakan untuk menimpuk wajah Edbert sekuat tenaga, kini hampir terlepas dari genggaman tangannya saat rasa sakit tiba-tiba mencekik pernapasannya sehingga ia ingin meraih dadanya untuk menahan sumber rasa sakit itu.
Sekuat sisa tenaga Ellyora mencoba tetap terjaga meski tekanan batin telah benar-benar menguasai tubuhnya. Ia menyadari mungkin setelah ini hidupnya tidak akan sama lagi, atau bahkan bertemu kegagalan yang berakhir hilangnya kehidupannya ... atau nyawanya. Tapi Ellyora tidak akan membiarkan itu terjadi. Sebelum rencana ini dimulai, ia telah berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan lemah! Ia adalah keturunan bangsa kesatria yang berjiwa kuat dan pemberani.
Tantangan baru saja dimulai. Ia takkan mundur dan menangis hanya karena berada di sarang penyihir hitam!
***
Julia, si gadis berwajah lugu itu masih berdiri di pelataran rumahnya. Tak lama kemudian ia tersenyum cerah ketika melihat lelaki berambut pirang, dan pemilik manik mata hijau emerald menghampirinya. Lelaki yang bertubuh tinggi itu lantas mencondongkan badan ke arah Julia sehingga kini tatapan mereka sejajar. Ya, lelaki itu adalah Kai Xavier, ketua The Keepers yang sangat dikagumi oleh Julia.
Kai membalas senyuman Julia. Ia mengusap rambut di puncak kepala Julia dengan lembut layaknya seorang kakak yang bangga pada adiknya. "Terima kasih, Julia. Kau sudah melakukannya dengan baik."
"Aku senang bisa membantumu, Kai. Bagiku kau sudah seperti kakakku sendiri," kata Julia dengan tulus. "Tapi ... Tuan Muda tampan tadi sebenarnya siapa? Apa dia temanmu?"
"Hmm. Bisa dibilang dia teman lamaku," tutur Kai tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.
***
Beberapa kerajaan di bagian barat sudah bermandikan cahaya bulan. Satu di antaranya adalah kerajaan Kawa. Di dalam ruang pertemuan gedung parlemen kerajaan tersebut, Alcott dan beberapa pelayan yang lain tampak kewalahan meredam protes para perwakilan demonstran. Mediasi tak kunjung dimulai, dan agaknya para perwakilan demonstran itu sudah lelah menunggu si calon pemimpin Yurza datang.
"Ah, sudahlah. Kami semakin tahu, Edbert Kinsey memang tidak serius pada kepemimpinannya!" sungut seorang pria botak berjubah biru yang merupakan ciri khas keluarga kerajaan Kawa. Ia sampai bangkit dari duduknya untuk mengacungkan tinjunya ke udara.
"Betul!" seru seorang pria berjanggut lebat karena terpancing, diikuti yang lainnya.
"Tenang!" sahut Arthur dari ujung meja panjang. Malam ini ia duduk di kursi beludru emas karena bertindak sebagai pemimpin mediasi berdasarkan hasil kesepakatan. "Masih tersisa tiga puluh menit lagi. Saya mohon agar semua yang di ruang ini bisa menunggu dengan tenang."
"Kita sudah menunggu," keluh pria botak. "Tuan Arthur, jika Edbert Kinsey tidak serius pada tanggung jawabnya, kami mohon agar Anda bersedia menggantikan sebagai pemimpin kami. Bukankah Tuan Arthur adalah satu-satunya orang yang tepat?"
"Ya. Kau benar. Tuan Arthur berani memimpin serangan ke kerajaan Vash, sementara Edbert Kinsey? Kami sudah lelah menunggu pembuktian dirinya. Setelah namanya keluar sebagai calon pemimpin Yurza, seharusnya Edbert Kinsey mulai menunjukkan keseriusannya. Tapi sekarang sebaliknya. Bahkan menyelesaikan misi membawa calon pengantinnya sendiri saja belum juga dilakukan, padahal semua Yurza telah berharap pada kesungguhannya," komentar pria bertopi.
Hati Arthur mengembang. Namun, ia tidak bisa menampakkan kebahagiannya di depan para perwakilan anggota keluarga Kinsey yang hadir. Sebab kenyataannya, tidak sedikit keluarga Kinsey yang masih berpihak pada Edbert.
"Cukup. Memang dewan peradilan Yurza tidak melarang Yurza tingkat menengah untuk berpendapat, bahkan mengkritisi pemimpinnya. Tetapi jika itu sudah keterlaluan, maka kami akan menganggapnya sebagai penghianatan, dan kami berhak mengambil nyawa kalian tanpa persetujuan. Jadi hati-hati dengan ucapan kalian!" sergah Arthur, demi mendukung sandiwaranya.
Para perwakilan demonstran kembali menggerutu. Secara beramai-ramai mereka menyayangkan kenapa bukan Arthur yang terpilih menjadi calon pemimpin Yurza. Protes mereka sudah bersahut-sahutan, padahal mediasi belum dimulai.
"Hentikan!"
Ruang mendadak hening. Semua mata pun beralih memandang si pemilik suara husky yang baru saja tiba dari arah pintu, Edbert Kinsey. Pria pemilik mata biru bagai lautan es itu melangkah masuk dan berjalan maju tanpa ragu sambil menyeret pergelangan tangan Ellyora Bright lebih erat setelah tahu gadis itu berusaha melepaskan diri.
Tubuh Ellyora terhempas di lantai karpet tebal berwarna merah saat Edbert melepaskan cengkeraman tangannya dengan dorongan keras, sehingga kini ia terduduk di lantai tepat menghadap penghujung meja panjang. Di sekeliling meja itu, duduk berpuluh-puluh orang yang sedang menatap Ellyora. Bahkan, saat dirinya baru memasuki ruangan, beberapa orang terlihat membelalakkan mata. Ellyora enggan melontarkan pertanyaan apa pun untuk mencari tahu apa yang dipikirkan semua orang di ruang itu terhadapnya, atau apa yang sedang mereka perdebatkan sehingga ruangan riuh, ia kini hanya menunduk menatap lantai, sama sekali tak berniat menampakkan wajah di depan para Yurza.
"Apa dia si gadis Albara itu?" bisik salah satu perwakilan demonstran disahut yang lain.
Mendengar bisik-bisik tersebut, Edbert tersenyum miring sebelum mendekatkan dirinya ke ujung meja, berjalan membelakangi Ellyora. Inilah saatnya ia menunjukkan siapa yang berkuasa di sini, bahkan di seluruh kerajaan barat ini. Edbert berdiri tepat di ujung meja, memasang posisi tegap yang tak kalah angkuhnya dengan pandangan meremehkan para perwakilan demonstran.
"Benar," tegas Edbert. "Dia adalah gadis Albara yang kalian maksud. Ingat baik-baik. Kalian telah menyaksikan dengan mata kalian sendiri. Aku berhasil membawa gadis itu dengan tanganku sesuai ramalan Cassandra. Katakan, siapa di sini yang masih berniat meragukan kesungguhanku?!"
Para perwakilan demonstran mendadak bungkam. Sungguh mereka tidak menyangka kalau Edbert Kinsey yang dikenal pemalas dan tidak memiliki ambisi itu ternyata sanggup menyelesaikan misi ramalan pernikahannya. Beberapa dari perwakilan demonstran itu kemudian melirik ke ujung meja panjang, pada Arthur yang sedang membeku. Tatapan mereka seolah bertanya pada Arthur, apa yang harus mereka lakukan selanjutnya, tetapi mereka tidak mendapat jawaban atau kode apa pun, karena Arthur selaku dalang di balik demo ini memilih cuci tangan, tak sudi menoleh sedikit pun pada para perwakilan demonstran itu.
Tak mendapat respon dari Arthur, lelaki berjanggut lebat merasa harus mengambil langkah dengan bersuara lagi. "Tuan Muda Edbert Kinsey, bukan kami meragukan kesungguhan Anda. Hanya saja, kami khawatir. Tapi, karena sekarang kami telah melihat Anda membawa gadis Albara itu, kekhawatiran kami akan masa depan Yurza telah berkurang. Setelah ritual penobatan Anda sebagai pemimpin Yurza yang baru, kami harap adakan pernikahan itu secepatnya."
"Ya, itu benar, Tuan." Pria bertopi yang berdiri di sebelah lelaki berjanggut lebat menyahut. "Kami sudah tidak sabar ingin melihat ramalan Cassandra terwujud, kami ingin Yurza segera menguasai kerajaan timur."
"Tidak akan lama lagi. Aku ... Edbert Kinsey akan menikahi gadis Albara itu!" ucap Edbert dengan sungguh-sungguh, sehingga Ellyora yang sejak tadi menunduk tak kuasa mengangkat wajahnya dan menatap punggung Edbert Kinsey dengan pandangan mata mengabur.
Tepat setelah pengumuman itu disampaikan, para pelayan burung gagak yang bertengger di luar ruangan dan telah sejak tadi menunggu kabar, segera beterbangan. Masing-masing dari mereka tak sabar menyampaikan berita pernikahan itu kepada Tuannya.
***
Usai menemui Julia, Kai memasuki gugusan hutan, lalu berhenti ketika sampai di balik semak belukar yang tinggi. Dari tempat itulah tadi dirinya bersama Cassandra dan Diana mengawasi Ellyora sampai akhirnya gadis itu bertemu dengan Edbert. Kepergian itu sudah terjadi, tetapi masih meninggalkan badai bergemuruh di dadanya.
Cassandra menyambut Kai dengan mata berbinar, lain halnya dengan Diana yang meski memberinya senyum, tetapi senyum itu nampak dipaksakan. Kai tahu apa sebabnya. Diana merasa tersiksa karena tadi hanya bisa melihat putranya dari jauh. Ah, tapi Kai tidak peduli. Sama halnya dengan Diana yang tidak memahami perasaannya, Kai juga tidak peduli pada perasaan Diana saat ini.
Kai berdiri di sebelah Diana dengan tangan bersidekap. Ia menyembunyikan emosi dalam tatapan matanya sehingga memilih memandang lurus ke depan daripada menatap Diana atau Cassandra. "Nyonya Diana. Pernikahan itu baru akan dilaksanakan setelah ritual penobatan pemimpin Yurza. Apa Anda bisa menjanjikan kalau putra Anda, Edbert Kinsey, tidak akan menyakiti Ellyora?"
"Meski tidak mendidiknya sampai besar, tapi aku mengenal putraku. Edbert tidak akan menyakiti Ellyora," tutur Diana.
Kai terkekeh, lebih karena merasa miris. "Sejak rencana ini ada Anda selalu mengatakan seperti itu. Kadang aku heran. Kenapa begitu mudah seorang Ibu yang telah lama menghilang lalu berkata kalau dia mengenal anaknya. Padahal, tabiat seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Tapi kita lihat saja. Kalau sampai aku mendengar Edbert Kinsey menyakiti Ellyora, maka aku tidak akan tinggal diam."
***
Bersama Cassandra dan Diana, Kai kembali ke penginapan untuk beristirahat sebentar sebelum berangkat ke ibu kota Snowden. Setelah rasa lelahnya terobati, Kai lantas menyiapkan kudanya yang juga telah ia biarkan istirahat di pelataran penginapan.
"Nak?"
Kai berbalik, dan mendapati Cassandra tengah memberinya sebuah bungkusan. "Apa ini?" tanyanya.
"Bekal untukmu. Tadi Ibu membuatnya di dapur penginapan," kata Cassandra dengan lembut. Lalu Kai menerima bungkusan itu dengan wajah tanpa minat.
"Cassandra?" panggil Diana dari ambang pintu penginapan. Wanita itu menelengkan kepala memberi semacam kode. Saat itu juga Cassandra tahu bahwa Ramseya, burung gagaknya telah datang.
Kai menunda keberangkatannya dan berjalan di belakang Cassandra kembali ke penginapan. Diana menunggu di dalam kamar bersama Ramseya yang masih terengah usai terbang dengan kecepatan super tinggi menyeberangi samudra Erion, sehingga kini bulu di tubuhnya terlihat semakin rontok.
"Bagaimana Ramseya?" Cassandra bertanya. Kai ikut menyimak di sampingnya.
Ramseya terlebih dulu memberi hormat. "Semua berjalan sesuai rencana, Nyonya."
Kai tidak tahan untuk menyahut. "Apa Ellyora baik-baik saja? Calon pemimpin Yurza itu tidak menempatkannya di penjara Gregosus, 'kan?"
"Tidak, Tuan. Edbert Kinsey memberinya tempat tinggal di menara tak jauh dari penjara Gregosus. Dan dari hasil pengintaian saya, kelihatannya menara itu jauh lebih layak dari penjara Gregosus," terang Ramseya.
Membaca pikiran Kai, Cassandra menoleh dan mengusap pundak putranya sambil tersenyum lega. Kai menepis tangan wanita itu. Ia belum bisa menghilangkan kekecewaan terhadap Cassandra. Dari kecil, wanita itu seolah tidak peduli pada perasaannya, juga mendiang Ayahnya. Jangankan perasaannya, peduli pada dirinya pun mungkin tidak. Anda saja ia bukan seorang Albara yang harus menepati janji, Kai merasa mungkin ia tidak perlu lagi berurusan dengan Cassandra.
"Kalau begitu aku akan berangkat ke ibu kota sekarang. Ramseya, terus beri aku informasi tentang kabar Ellyora," pamit Kai lalu Ramseya mengangguk sebagai balasan.
Setelah itu, Kai memutar tubuh meninggalkan kamar tanpa berkata apa pun pada Diana atau Ibunya.
Cassandra memandang tubuh tinggi besar putranya yang telah menghilang keluar pintu kamar penginapan. Entah mengapa, kali ini hatinya terasa berat berpisah dengan Kai.
Seolah ... mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Cassandra mengerjap, lalu beralih menatap Diana. "Sepertinya aku harus segera kembali ke Rotherna. Apa tidak apa-apa?"
Diana mengangguk. "Tentu saja. Kau harus pulang. Pasti sebentar lagi akan banyak yang mencarimu karena kau yang akan memimpin ritual pernikahan itu. Aku akan mengurus sisanya di sini."
"Nyonya," sahut Ramseya. "Sebenarnya ada berita lain yang perlu saya sampaikan. Ini tentang Tuan Muda Dexter." Ramseya lalu menjelaskan kondisi Dexter yang belum sadarkan diri setelah terkena racun.
Diana mendadak lemas. "Jed adalah peramu paling hebat di Yurza. Jika Jed belum mampu membuat Dexter sadar, kemungkinan racun itu adalah jenis High Venois."
"Itu artinya, bukankah dibutuhkan ramuan khusus?" komentar Cassandra.
"Ya. Racun High Venois hanya bisa dinetralkan dengan bisa ular yang berasal dari lembah Aston."
"Tapi, bukankah ular dari kerajaan Mogwes itu sudah sangat langka?"
Diana membalas tatapan Cassandra. "Ya. Jadi untuk membuat ramuannya akan sangat sulit, meski bukan berarti tidak mungkin."
Cassandra memperhatikan wajah Diana yang sedang berusaha menyembunyikan kekhawatiran. Sebagai sesama Ibu, ia paham. Wajar kalau saat ini kekhawatiran tengah menyelimuti Diana.
"Nyonya." Ramseya menyahut. "Saya dengar Jed telah mengadakan sayembara bagi siapa saja Yurza yang bisa menemukan ular lembah Aston. Semoga informasi ini bisa membuat kekhawatiran Anda berkurang."
"Hmm. Terima kasih, Ramseya."
Diana tersenyum pada Ramseya. Tapi tetap saja hatinya belum bisa tenang. Bagaimanapun juga, Diana adalah wanita yang telah melahirkan Dexter. Hatinya terasa dihantam mendengar darah dagingnya sendiri terbaring tak berdaya.
***
Cassandra baru saja keluar dari kamar penginapan. Ia hendak mengurus pembayaran sewa pada si pemilik, tetapi langkahnya surut ketika melihat bungkusan bekal yang semula ia siapkan untuk Kai tergeletak di samping pintu. Cassandra memungut bungkusan itu. Tidak berat, tetapi fakta bahwa Kai telah menolak bekal itu membuat tangannya seperti kehilangan daya.
Kai, apa kau begitu membenciku? Maafkan Ibu.
"Ada apa, Cassandra?" tanya Diana dari dalam kamar.
"Oh, tidak ada." Cassandra menyembunyikan kesedihannya dan kembali berjalan sambil menutupi kotak bekalnya agar tidak terlihat Diana. Dari pada membuangnya, ia berpikir akan memberikan makanan itu kepada pemilik penginapan saja.
Cassandra telah selesai melakukan pembayaran. Ia kembali menemui Diana yang telah menunggu di halaman penginapan sebelum berpisah. Setelah ini Cassandra harus kembali ke kediamannya di kerajaan Rotherna. Sebagai peramal tersohor Yurza yang mewarisi bola kristal keramat, ia diberi hak khusus dari Roland sehingga menjadi satu-satunya peramal yang menguasai sihir teleportasi. Hal itu yang selama ini sangat membantunya keluar masuk kerajaan timur.
Diana memasang wajah penuh tanya ketika melihat Cassandra menyodorkan selembar kertas padanya. Ia tahu selembar kertas itu adalah surat meski tak trelihat goresan apa pun di sana. Model surat semacam itu sudah biasa digunakan di kalangan sesama penyihir untuk menjaga keamanan. Ada jalinan kata tersembunyi di kertas itu, dan kekuatan sihir yang menyebabkan hanya si penerima yang mampu membaca isinya.
"Ini surat yang telah lama kutulis," terang Cassandra tanpa ditanya. "Ketika rencana ini gagal, saya harap Anda bisa memberikan surat ini kepada Kai."
"Tidak. Kita harus yakin rencana ini akan berhasil." Diana menerima surat itu, meski tak bisa ditutupi kekakuan tampak menguasai tangannya. Kekakuan yang bercampur kekhawatiran. Karena jika rencana ini gagal, maka akan menjadi buah simalakama.
***