Selamat Datang

2219 Kata
Sepasang kelopak mata Ellyora yang tertutup, perlahan terbuka oleh kesadaran yang mengejutkan. Pandangannya disambut oleh bangunan atap yang belum pernah ia lihat. Begitu suram, tinggi, dan cekung di bagian tengahnya.  Kedua tangannya mencoba bergerak, dan ia rasakan telapak tangannya meraba permukaan yang halus. Ya, kain berbahan halus yang selama ini sangat ingin ia sentuh. Tubuhnya pun terasa terbaring di permukaan yang lumayan empuk, bahkan tempat berbaring paling empuk yang pernah ia rasakan. Namun, itu tidak penting sekarang. Ellyora terlonjak duduk. Raut wajahnya kebingungan. Benaknya menapak balik kejadian yang telah ia alami. Kegelapan ... bertemu keriuhan dan orang-orang asing di suatu ruangan ... kegelapan lagi ... lalu ... Ellyora berpikir keras. Ia tidak ingat kejadian setelahnya, kejadian di mana kepalanya terasa pusing dan ... pingsan?  Oh, tidak! Pasti calon pemimpin Yurza itu yang membawanya ke sini. Ellyora segera memandang bajunya, lalu membuang napas lega. Bajunya masih sama seperti yang ia pakai saat berangkat dari penginapan, atasan longgar berlengan pendek warna coklat, celana kulot yang lebar, dan pedang yang masih tersemat di pinggangnya.  Tetapi di mana dia sekarang? Kepalanya bergegas memutari ruangan asing itu, yang berbentuk lingkaran dan dikelilingi tembok tinggi. Susunan batu itu menjulang seakan mencemooh ketidakberdayaan seorang gadis sepertinya. Ruang yang kaku dan kosong, tanpa ada perabot apa pun kecuali ranjang kecil yang ia duduki dan sebuah meja bercermin yang sebagiannya tersorot cahaya dari arah satu-satunya jendela di ruang itu.  Mungkinkah sekarang aku sudah berada di pulau Tannin? Sedikit ragu, Ellyora lantas menurunkan kakinya dari atas ranjang. Saat ini ia masih disorientasi sampai-sampai tidak ingat kapan tepatnya ia telah melepas sepatu kulitnya. TAP! Hawa dingin langsung menjalari tubuh begitu telapak kakinya menapaki lantai yang tersusun dari balok-balok batu berwarna hitam.  Ellyora menapaki perlahan lantai dingin itu menuju satu-satunya jendela yang ada. Terdapat tirai yang menutupi sebagian bingkainya, lalu Ellyora menggeser tirai berwarna coklat keemasan tersebut sehingga kini tampak ukuran jendela itu seluruhnya. Bukan jendela yang besar, bahkan ukurannya hanya sedikit lebih lebar dari tubuh Ellyora dan bingkainya yang berbentuk persegi memiliki tinggi persis sebatas kepala Ellyora.  Namun, dari bingkai jendela itu sudah cukup membuat Ellyora tahu bahwa saat ini ia sedang memijak bangunan yang cukup tinggi. Ellyora sedikit mencondongkan kepalanya, lalu mengumpulkan keberanian melongok ke bawah dan benar saja hamparan tanah gersang terlihat cukup jauh di bawah sana, membuat Ellyora bergidik karena ini kali pertama ia ada di bangunan setinggi ini.  Berbonggol-bonggol pepohonan tampak ditanam mengelilingi bangunan yang ia pijak. Entah itu pohon apa, tetapi pohon itu lumayan tinggi, dengan puncak mungkin sejajar dengan dirinya, padahal saat ini ia merasa sudah berada di bangunan yang cukup tinggi. Selain tinggi, pohon itu juga besar dengan sisi yang menggelembung. Alis Ellyora menyatu membentuk ekspresi aneh saat ia memperhatikan sisi menggelembung pohon itu. Jika terus diamati, lama kelamaan tampak seperti wajah dengan mata besar di sana. Tak hanya itu, akarnya yang mengular pun semakin lama terlihat seperti kaki, dan batangnya seperti tangan berlengan besar yang saling menjalin. Pohon itu seperti sosok berambut lebat dengan daunnya yang rindang, tetapi warna hijaunya mirip daun yang sudah kering.  Ellyora mencoba mencondongkan tubuhnya lagi untuk menemukan pemandangan lain yang mungkin berbeda. Benar, ada sedikit perbedaan saat dirinya menengok ke arah kanan. Ia melihat bulan bulat penuh dikelilingi koloni awan yang seakan mengapung di atas kilau lautan, tepat di atas puncak jalinan pepohonan aneh itu. Meski terlihat cukup jauh, tetapi tetap indah dan memukau. Ellyora baru ingat kalau pulau Tannin adalah pulau yang melayang di atas lautan bernama Ambert, dan dengar-dengar dari Cassandra, terkadang bulan di sana akan terlihat lebih besar. Diam-diam, Ellyora terkagum dan takjub. Selama di hutan Camden, ia belum pernah melihat pemandangan seindah itu. Selama beberapa saat Ellyora terpaku pada pemandangan itu, hingga kemudian terasa ada angin bertiup kencang seolah melewati sebelah kirinya, dan aroma belerang tercium setelahnya. "Apakah Anda menyukai tempat ini?" Mata Ellyora membeliak. Spontan, ia berbalik dan menyapu seluruh ruang dengan penuh kewaspadaan. Namun, tak menemukan seorang pun. "Halo! Nona?" Suara itu menggema lagi. Sumber suaranya terdengar tidak begitu jauh. Seperti dari arah ... lantai. Ellyora menunduk dan menemukan seekor burung gagak bertengger di lantai tak jauh dari kakinya. "Selamat datang, Nona!" sapa Alcott. "Ka-kau? Kenapa unggas sepertimu bisa bicara?!" Paruh Alcott terbuka. Unggas? Mata Alcott menyorot tajam. Tetapi ia ingat bahwa gadis di hadapannya adalah calon istri Tuannya. Menghela napas dalam, Alcott berusaha sabar. Baiklah, tak mengapa sekarang dirinya dikatakan unggas.  "Nona, sepertinya Anda masih bingung jadi menyebut saya unggas. Perkenalkan, nama saya Alcott Weigner. Anda bisa memanggil saya Alcott. Dan sebenarnya saya adalah pelayan terhormat di pulau Tannin ini." Alis Ellyora terangkat sebelah. Ternyata benar, dirinya sudah di pulau Tannin. Lalu tempat apa ini? Ia bergerak mundur hingga punggungnya terantuk bingkai jendela. "Anda tidak perlu takut, Nona." Alcott melanjutkan, seakan membaca raut wajah Ellyora. "Saya bertugas melayani beberapa kebutuhan Anda. Dan tentunya menjelaskan beberapa hal yang mungkin masih membuat Anda kebingungan. Saya mengerti. Sebagai gadis Albara, Anda merasa khawatir berada di pulau Tannin. Tenang, Nona. Yurza tidak akan meminum darah Anda ... ummm maksudnya, tidak akan menyakiti ... selama Anda bersedia menuruti perintah Tuan Edbert Kinsey, calon suami Anda." Calon suami? Tiba-tiba saja seperti ada duri ikan yang tersangkut di tenggorokan Ellyora, membuat ia terbatuk-batuk. Ketenangan diri yang sudah Ellyora siapkan jauh dari Snowden, kini nyaris meledak akibat menghubungkan nama Edbert Kinsey dan sebutan yang mengikutinya.  Tidak! Perut Ellyora terasa mual mendengar nama Edbert Kinsey disebut sebagai calon suaminya!  *** Di tepian ranjang, Ellyora duduk sambil memandang tanpa minat sepiring roti di sebelahnya. Itu adalah makan malamnya yang tadi disediakan Alcott. Selain roti, Alcott juga membawa pesan dari Edbert Kinsey bahwa Ellyora harus menghabiskan makanannya agar tetap hidup. Ellyora membuang napas kasar. Seorang Yurza meminta gadis Albara tetap hidup? Kedengarannya lucu. Perlakuan Alcott padanya tidak buruk, Ellyora bersyukur. Bahkan dengan sabar, burung gagak itu telah memberi penjelasan panjang lebar, walau sebenarnya Ellyora lebih banyak enggan mendengarkan. Ia sendiri masih perlu waktu untuk mencerna situasi ini, dan belum terbiasa berbicara dengan seekor unggas. Lagi pula, ia lebih mempercayai cerita tentang Yurza dan Tannin dari sudut pandangnya sendiri ketimbang mendengar langsung dari pelayan Yurza. "Ekhem!" Mendengar suara batuk yang disengaja, Ellyora terlonjak berdiri. Matanya terfokus pada seorang yang baru saja muncul berdiri membelakangi sebuah pintu, seolah baru masuk dari sana. Namun, Ellyora yakin sosok itu datang melalui cara lain karena pintu itu terlihat besar dan berat yang ketika dibuka mungkin akan menimbulkan suara, dan tadi tak ada suara apa pun. Sosok itu kemudian berjalan mendekat. Hanya ada penerangan lilin di menara, sehingga keremangan menyamarkan sosoknya, tetapi dari adanya tambahan cahaya bulan yang masuk, cukup membuat Ellyora tahu lelaki berjubah hitam itu berperawakan tinggi dan proporsional. Aroma segar daun mint segera tercium bersamaan dengan ketukan sepatu lelaki itu yang terdengar mendekat. Aroma khas yang juga membersamai dirinya saat berada di dalam portal kegelapan. Tidak salah lagi, lelaki itu adalah Edbert Kinsey. "Jangan mendekat!" teriak Ellyora waspada, lalu tangannya yang sudah sejak tadi menyiapkan pedang, lantas mengeluarkan pedang itu dari sarungnya. Ia hendak mengacungkannya. Namun, tiba-tiba saja sosok Edbert Kinsey sudah berdiri tepat di hadapan gadis itu.  Tudung jubah hitam menutup hampir keseluruhan wajah Edbert, namun dari jarak dekat Ellyora melihat bibir Edbert tampak membentuk senyuman smirk di balik bayangan tudung itu, sehingga membuat jantung Ellyora berdegup kencang.  Bibir yang awalnya tersenyum smirk itu terlihat menggumamkan mantra, lalu Edbert menjentikkan jarinya sambil berkata, "Sendok." Ellyora merasakan aliran darahnya berdesir lebih cepat, disusul iris matanya yang menyala ungu, dan .... CLING! Ellyora terperangah. Pedang di tangannya berubah menjadi SENDOK.  "Dasar penyihir! Kembalikan pedangku!" protes Ellyora tak terima sambil mengacungkan sendok itu. Edbert menggeleng santai. "Gadis kuno, gerakanmu sungguh lambat! Kau lebih cocok memegang sendok daripada pedang," katanya enteng seraya menyibak jubah hitam yang ia kenakan dengan penuh keangkuhan sebelum berbalik. Kemudian berjalan ke arah jendela. Ellyora memandang geram punggung lelaki yang kini berdiri membelakanginya dan sedang menghadap ke luar jendela. Berani-beraninya lelaki itu mengubah pedang pemberian Harry menjadi sendok. Jika saja ia tidak ingat pesan Cassandra untuk merahasiakan perisai sihirnya, pasti kini ia sudah mengubah kembali sendok itu menjadi pedang. "Apa maumu?" Mendengar nada pertanyaan yang terdengar berani, Edbert memutar tubuhnya perlahan. Tudung jubah hitamnya masih menyembunyikan ekspresi wajahnya yang misterius, sebelum akhirnya ia menyibak tudung itu sehingga cahaya bulan dari arah jendela langsung menyorot wajahnya yang angkuh tetapi tampan di saat bersamaan. Edbert melirik pada makan malam Ellyora yang masih utuh. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak bunuh diri atau semacamnya," tutur Edbert, masih dengan raut wajah tenang. "Tapi melihatmu tidak menyentuh makanan itu, sepertinya kau memang berniat bunuh diri, ya? Kau tidak lapar?" "Lapar? Oh, tidak, terima kasih. Situasi memuakkan ini sudah membuatku kenyang!" "Hmph. Kukira kau hanya gadis kuno yang lemah. Ternyata kau cukup berani juga, ya? Tapi sayang sekali. Keberanianmu akan berakhir konyol kalau kau mati karena menolak makanan," kata Edbert diakhiri senyum culas. Ellyora membuang wajah hanya untuk menyembunyikan kekehannya. "Cih! Jangan berkata seolah kau peduli padaku!" "Peduli?" Edbert tertawa meremehkan. "Jangankan peduli, asal kau tahu. Edbert Kinsey bukanlah tipe lelaki yang tertarik berurusan dengan gadis kuno sepertimu. Kau hanya sebatas alat yang akan kugunakan untuk mencapai tujuanku. Setelah itu tercapai, aku tidak membutuhkanmu lagi. Kau boleh melakukan keinginanmu ... bunuh diri, jadi aku tidak perlu repot-repot menyingkirkanmu." "Hahaha. Sayangnya aku tidak akan membiarkan tubuhku yang berharga membusuk di tempat ini." "Oh, ya? Hmmm. Atau kau ingin melarikan diri? Kau boleh mencoba. Tapi kau tak akan bisa. Dan biar kuberi tahu sesuatu. Sepanjang area menara ini sudah kuselimuti dengan sihir proteksi. Tidak akan ada yang bisa keluar masuk kecuali yang kukehendaki. Dan satu lagi ... menara ini dikelilingi pagar tanaman yang sewaktu-waktu bisa berubah menjadi monster, dan mereka akan menelanmu!" Lagi-lagi Ellyora terkekeh. Monster? Lelaki di depannya tidak tahu saja bahwa Ellyora memiliki bubuk daun Zipthus yang juga sewaktu-waktu bisa membunuh monster-monster itu, bahkan melumpuhkan kekuatan sihir Yurza. Tapi di mana tas rotannya? Ellyora mendadak celingukan setelah baru sadar, sejak ia tiba di bangunan ini tas rotannya sudah tidak ada. "Kau ke manakan tasku?"  "Hah? Tas reyot itu?" Edbert melipat tangannya ke d**a, kemudian menaikkan dagu dengan angkuh. "Kubuang." "Apa!" Ellyora ternganga. Tas itu berisi bubuk daun Zipthus pemberian Kai yang sangat berguna untuk Ellyora, dan ada sebuah benda yang merupakan pemberian Ibunya. Lalu tiba-tiba kini Edbert Kinsey membuangnya? Ellyora yang kesal lantas melempar sendok di tangannya hingga benda keras itu mendarat di tempurung kepala Edbert, lalu terdengar bunyi PLETANG! "Kau!" seru Edbert, saking geramnya sampai tak bisa berkata-kata. Wajahnya langsung berubah murung. Atmosfer di sekitarnya menggelap dan panas, mengalahkan udara dingin di dalam menara itu.  Ellyora mengundurkan kakinya. Meski tetap berusaha memasang wajah berani, tak dipungkiri kini ketakutan mulai menyusupi relung hatinya. Ketakutan tersebut bertambah saat melihat manik mata Edbert Kinsey yang tadinya berwarna biru, kini menyala merah. Itu dia! Tepat seperti yang pernah dikatakan Elena padanya, jadi begitulah penampakan keluarga Kinsey jika sedang murka. Edbert Kinsey terlihat merapalkan mantra, lalu tak lama kemudian ia mengangkat tangan kanannya. Ellyora terkesiap. Ia memang tidak bisa melihat cahaya tak kasat mata dari mantra sihir yang kini berpendar di telapak tangan Edbert, tapi sebagai suku Albara yang diberi kelebihan mendeteksi sihir, tentu saja gadis itu tahu bahwa sebentar lagi Edbert akan melesatkan sihir padanya. Maka Ellyora pun secepatnya menghindar. Ellyora melompat ke sisi kanan. Ia berhasil menghindar. Namun, kejadian tidak mengenakan tetap menimpa dirinya. Di sebelah kanannya ada meja, dan ia tidak memperkirakan kalau terdapat paku yang mencuat di tepian meja itu hingga membuat celana kulot berbahan kasar milik Ellyora tersangkut dan berakhir robek. Ellyora tersentak. Edbert pun tersentak. "Tidaaaak!" teriak Ellyora. Secepatnya ia menutupi paha kanannya yang tiba-tiba terekspos. "Penyihir càbul!" "Apa? Kau mengataiku penyihir càbul, padahal jelas-jelas kau sendiri yang ceroboh!" balas Edbert sambil memalingkan wajahnya. "Pergi kau dari hadapanku, penyihir càbul!" teriak Ellyora lagi. "Gadis kuno yang aneh!" balas Edbert tak kalah berteriak, tapi masih memalingkan wajahnya. "Di sini aku yang berkuasa. Jadi jangan coba-coba memerintahku seperti anjing yang menggonggong!" Tidak ada balasan lagi dari Ellyora. Hal itu membuat Edbert mencuri pandang apa yang sedang dilakukan gadis itu. Ternyata Ellyora sedang menangis. "Aku belum melakukan apa-apa padamu! Ke--kenapa sekarang kau menangis? Berhentilah menangis!" cerca Edbert, tapi Ellyora tetap menangis, bahkan sampai terduduk di lantai. Melihat hal itu, Edbert sempat terbengong tidak tahu mesti berbuat apa. Ia benci melihat seseorang yang menangis, apalagi seorang gadis. Sempat berdebat dengan dirinya sendiri, Edbert akhirnya melepas jubah hitamnya, sehingga yang tampak membalut tubuh tegapnya saat ini adalah setelan jas berwarna hitam.  Jubah hitam yang dilepas Edbert sempat melayang ke arah Ellyora sebelum akhirnya jatuh tepat menyelimuti tubuh gadis itu, termasuk menutupi kaki Ellyora sehingga bagian yang robek itu sudah tidak terlihat.  "Dasar gadis cengeng!" cemooh Edbert kemudian memutar tubuh dan menghilang dalam teleportasinya. Tindakan Edbert membuat Ellyora terkejut. Setelah lelaki itu menghilang, Ellyora memandangi jubah hitam milik Edbert yang kini menyelimuti tubuhnya. Apa baru saja penyihir itu berbuat baik padanya? Tidak! Itu tidak mungkin! Ellyora yakin di balik tindakan baik Edbert Kinsey tersimpan taktik jahatnya.  Ellyora menyingkirkan jubah milik Edbert dari tubuhnya, membiarkannya berserak di lantai meski sebenarnya jubah itu lumayan menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Ia tetap duduk meringkuk di lantai itu untuk beberapa lama. Hingga matanya terpejam bersama limpahan rasa sakit bercampur rindu, pada ayah, ibu, Shira, paman bibinya, dan ... kehidupannya di kerajaan timur. Sementara itu di kamar mansionnya, Edbert mondar-mandir sambil mengkondisikan ledakan wajahnya yang sejak di menara tadi sebenarnya sudah memanas. Jantungnya berdegup kencang. Dadanya bergerak tak harmonis setiap kali menatap Ellyora. Buruk. Sensasi ini sungguh buruk! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN