Matahari Pagi Pulau Tannin

1997 Kata
"Ellyora?" .... "Ellyora?" Mendengar suara neneknya memanggil-manggil, Ellyora berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat, dan ketika ia membuka mata, Ellyora langsung melihat neneknya sedang duduk di hamparan rumput bersebelahan dengan dirinya. Ia memandangi neneknya, lalu tenggelam dalam rasa rindu. Rambut putih panjang yang digerai, mata coklat terang yang berkilauan, dan wajah menenangkan milik sang nenek yang terasa hangat sampai ke hatinya.  Tapi, ada yang berbeda pada penampilan neneknya kali ini. "Nenek? Kenapa Nenek memakai mahkota?" tanya Ellyora keheranan sambil mengamati mahkota berwarna emas yang memukau. Neneknya tidak langsung menjawab. Seulas senyum kemudian menghiasi wajah menenangkan itu, sebelum akhirnya bibir sang nenek terlihat mengucapkan sesuatu. Kata-kata yang membuat Ellyora penasaran, tetapi anehnya ia tidak dapat mendengarnya.  "Apa yang Nenek katakan?" tanya Ellyora dengan raut wajah bingung.  Untuk ke dua kali Neneknya seakan mengucapkan sesuatu. Ellyora sangat ingin mengetahuinya, tapi lagi-lagi seolah ada tabir yang menghalangi sehingga ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Neneknya.  "Nenek?"  Sekejap berikutnya Ellyora terbangun. Sinar matahari yang menyorot dari jendela membuat Ellyora mengedip-ngedipkan mata sebelum mendapati dirinya masih di posisi yang sama saat terakhir kali menangis semalam. Duduk di lantai hingga tubuhnya rebah dan tertidur. Tentang bertemu neneknya ... ternyata itu hanyalah mimpi. Ellyora berusaha bangkit, duduk menyandarkan punggung di tembok sembari mengumpulkan kesadaran karena belum terbiasa bangun di lingkungan ruang yang asing. Ia merenggangkan otot, dan sekujur tubuhnya terasa pegal-pegal. Mungkin akibat tertidur di lantai dingin semalaman.  Diliriknya jubah hitam milik Edbert Kinsey masih tergeletak di lantai, tepat di samping kanannya. Ia hanya memandang jubah itu sekilas kemudian melihat sekeliling. Di pagi hari suasana menara nampak lebih baik daripada semalam. Lebih cerah, seolah kesuramannya berkurang tergantikan sinar matahari yang terasa hangat meresapi pori-pori tubuhnya. Setelah merasa lebih baik, perlahan-lahan Ellyora menggerakkan kaki untuk bangkit. Ia berpegangan pada tepian meja rias tak jauh dari jangkauannya. Meja rias itu cukup kuat dengan cermin besar dan beberapa rak kosong tersusun vertikal di sebelah cermin itu.  Ellyora kembali mengamati sekeliling begitu ia berdiri. Sinar matahari membuat dua pintu di dalam ruang menara nampak lebih jelas. Satu pintu tembaga berukuran besar dengan gembok besi, dan satu lagi pintu kayu biasa tak bergembok yang ukurannya lebih kecil. Ellyora yakin pintu besar itu adalah akses keluar masuk menara. Tetapi karena digembok, lalu Ellyora menilik pintu yang satunya, yang ternyata menghubungkan ke ruangan kecil mirip kamar mandi. Melihat air segar yang mengalir dari pancuran mengisi belanga besar, Ellyora jadi ingin membersihkan diri. Ia pun melangkah masuk. Setelah mengambil beberapa tangkup air di tangan untuk membasuh wajahnya, tiba-tiba ia mendengar bunyi suara benda terjatuh.  Ellyora yang terkejut, lantas keluar kamar mandi untuk memeriksa. Pandangannya langsung tertuju pada roti-roti yang berserekan di lantai dekat ranjang. Piring berbahan alumunium yang seharusnya menjadi wadah roti-roti itu menggelinding seperti roda sebelum akhirnya menabrak tembok dan menyebabkan bunyi PRANG. Semalam sepiring roti itu tergeletak di atas ranjang, dan kini piring itu jatuh? Siapa yang menjatuhkannya? Tentu saja Ellyora jadi was-was. Sejak terbangun tadi ia merasa hanya ada dirinya seorang diri di dalam menara. Jika sepiring roti itu jatuh, apakah kemungkinan ada orang lain selain dirinya? Pandangan Ellyora memutari ruangan. Karena tidak menemukan seorang pun, ia mengambil piring itu sebelum berjalan mendekat pada empat roti yang berserakan di lantai dekat ranjang. Gadis itu berjongkok untuk mengambil salah satu roti pipih berbentuk bundar. Roti itu yang paling menyita perhatiannya karena bagian tepiannya tidak utuh lagi, seolah ada yang telah menggigitnya. "Siapa yang telah memakannya? Padahal semalam aku sama sekali belum menyentuhnya?" gumam Ellyora. "Mungkinkah di sini aku tidak sendirian?" "Selamat pagi, Nona Ellyora Bright!" sapa Alcott tiba-tiba. Ellyora bergegas menoleh pada Alcott dan bertanya. "Alcott? Sejak kapan kau datang?" "Baru saja, Nona," kata Alcott sambil meletakkan keranjang yang ia bawa di atas meja rias.  Ellyora berpikir sesaat, lalu bertanya lagi. "Emmm... di menara ini apakah ada orang lain selain aku, Alcott?" "Tuan Muda Edbert Kinsey membangun menara ini khusus untuk Anda, Nona. Jadi tidak mungkin ada orang lain yang tinggal di sini selain Anda. Memangnya ada apa, Nona Bright? Kenapa Anda bertanya seperti itu?" "Ah, tidak apa-apa. Lupakan saja pertanyaan isengku, Alcott," kata Ellyora, berharap Alcott tidak bertanya lebih jauh. Ia memang masih penasaran tentang apa yang terjadi pada rotinya, tetapi gadis itu berpikir akan mencari tahu sendiri saja.  Sesuai harapan Ellyora, Alcott memaklumi dengan tidak bertanya lagi. Ia sendiri sedang banyak urusan, jadi memilih tidak ambil pusing pertanyaan Ellyora.  Alcott lantas berpaling pada keranjang yang tadi ia bawa. Terlihat kepulan ketika keranjang itu dibuka. Kepulan beraroma lezat menggiurkan tersebut kemudian tertiup angin dari arah jendela, membuat Ellyora mengakui kalau dirinya sedang lapar dan tergiur ingin menyantap sumber aroma lezat itu. "Saya membawakan sarapan Anda, Nona. Sebaiknya Anda segera makan sekarang selagi hangat," kata Alcott setelah mengeluarkan sebuah mangkuk dari dalam keranjang dan meletakkannya di atas meja. "Terima kasih," ucap Ellyora berusaha menghargai usaha Alcott. "Oh, ya. Alcott? Aku memiliki permintaan. Bisakah kau tidak berbicara formal padaku?" Mata Alcott menyipit, paruhnya terbuka lalu ia reflek tertawa. "Maaf, Nona. Anda adalah calon istri Tuan saya. Sudah seharusnya saya berbicara formal kepada Anda." "Alcott, keberadaanku di sini karena paksaan. Aku tidak suka disebut calon istri Tuanmu." Ellyora memalingkan wajahnya, sehingga Alcott merasa tidak enak.  "Maaf, Nona," ucap Alcott.  Sekali lagi, istilah calon istri dan calon suami mengguncang batin Ellyora. Terjadi keheningan selama beberapa saat. Sampai akhirnya Ellyora memutuskan untuk bertanya perihal lain saja.  "Alcott, kau tahu di mana tasku?" "Oh, tas rotan itu, ya?" Alcott berpikir sesaat. "Apakah Anda sudah coba bertanya pada Tuan Muda Edbert?" "Ya. Dan dia bilang sudah membuang tasku, tapi aku masih berharap dia tidak benar-benar melakukannya." "Mengenai itu, saya tidak berani menjawabnya sekarang Nona. Nanti akan saya tanyakan dulu pada Tuan Muda," terang Alcott lalu Ellyora menampilkan ekspresi sedih. Alcott pun bertanya. "Memangnya apa isi tas rotan Anda, Nona? Kenapa Anda mencarinya?" "Bukan sesuatu yang penting. Aku mencarinya karena membutuhkan pakaian ganti. Kebetulan bajuku yang sekarang robek," jawab Ellyora, menyembunyikan alasan sebenarnya kenapa ia membutuhkan tasnya kembali. "Oh. Baiklah, Nona. Setelah ini saya akan segera menyampaikannya pada Tuan Muda," kata Alcott. "Kalau begitu, saya mohon undur diri. Selamat menikmati sarapan, Anda." Ellyora mengangguk, lalu Alcott kembali terbang ke luar jendela, meninggalkan bau belerang yang khas. *** Buru-buru Edbert melompat ke atas ranjang. Ia harus berpura-pura ke posisi tidur sebelum Alcott datang. Namun, belum sempat menarik selimut .... "Tuan!" Alcott sudah terlebih dulu sampai dengan teriakannya yang membahana. Edbert mengerjap. Sial! "Syukurlah. Ternyata Anda sudah bangun, Tuan. Dari jauh saya melihat ada bayangan seseorang mondar-mandir di balik jendela. Jadi saya pikir orang lain memasuki kamar Anda." Edbert terduduk. Rambut hitam gaya mullet-nya acak-acakan, dan di bawah poninya yang berantakan itu ia menyorot tajam ke arah Alcott dengan kelopak matanya terasa berat karena semalaman ia hanya bisa tidur ayam.  "Aku menyelimuti kamarku dengan sihir proteksi. Selain aku, hanya kau yang kukehendaki memasuki kamar ini. Apa kau lupa, Alcott?" "Maaf, Tuan. Saya khawatir karena tidak biasanya Anda bangun sepagi ini. Adakah yang mengganggu pikiran Anda, Tuan? Seperti ... memikirkan Nona Ellyora Bright?" Kepala Edbert seolah tersambar petir. "Me-memikirkan siapa kau bilang? Gadis kuno itu? Ah, jaga bicaramu, Alcott. Semalam aku tidak bisa tidur karena memikirkan ... Dexter. Ah, kasihan sekali adikku itu. Seharusnya kemarin sore dia sudah sadar seperti perkiraan Jed," terang Edbert bohong. Ia membuang napas, berusaha menampilkan wajah seprihatin mungkin sebelum bertanya lagi. "Lalu, bagaimana kondisinya sekarang?" "Nona Ellyora sedang membutuhkan pakaian ganti, Tuan." "Bukan kondisi gadis kuno itu, Alcott! Tapi Dexter." Edbert memutar bola matanya. "Oh, maaf. Dari kemarin banyak hal yang saya pikirkan sehingga kurang fokus. Tentang Tuan Muda Dexter, saya dengar keadaannya sudah semakin membaik, meski tetap belum sadarkan diri. Tadi pagi Tuan Roland terlihat menjenguknya." "Hm. Andai saja Dexter tahu bahwa Ayah memberinya perhatian, pasti anak itu akan kegirangan. Berita tentang racun itu telah menyebar. Pihak kerajaan Mogwes sudah menutup bar itu untuk sementara, tapi meski begitu, aku masih meyakini kalau ada dalang di balik perempuan penabur racun itu." "Ya, Tuan. Tetapi sepertinya akan sulit membuktikannya. Saat ini semua Yurza percaya bahwa pelayan bar itu memang melakukannya atas keinginannya sendiri. Apalagi ditambah pengakuan dari teman dekat perempuan itu pada saat di sidang peradilan, yang mengatakan kalau selama ini dia tidak setuju jika Anda terpilih menjadi calon pemimpin Yurza. Karena itulah tidak ada yang curiga bahwa perempuan itu adalah suruhan." "Aku menyesal." Edbert memandangi tangannya, tangan yang ia gunakan untuk menghabisi perempuan penabur racun itu. Rasa bersalah kembali menenggelamkannya dalam keheningan. Edbert menghela napas sebelum kembali memandang Alcott. Wajahnya yang serius, perlahan berubah santai. Ia teringat pernyataan Alcott yang terlewatkan. "Oh, ya. Tadi kau bilang, gadis kuno itu sedang membutuhkan pakaian ganti?" "Benar, Tuan Muda." "Tidak perlu repot-repot membelikannya. Ambilkan saja dari kamar Dexter. Anak itu suka mempelajari mantra sihir mendesain baju, bahkan untuk pakaian wanita. Aku pernah melihat banyak sekali koleksi hasil desainnya tersimpan di lemari." "Mengambil dari sana? Saya tidak berani. Apa tidak sebaiknya Anda saja, Tuan Muda? Selain itu, Anda bisa memilihkan secara langsung pakaian yang pas untuk Nona Ellyora." "Apa? Kenapa harus aku?" Edbert berdecak sambil bersidekap dengan wajah angkuh. Tapi beberapa detik kemudian dia berkata, "Ya sudah, nanti aku saja yang akan mengambilkannya. Lagi pula aku ingin melihat keadaan Dexter." "Itu ide yang tepat, Tuan Muda," komentar Alcott. Tak berapa lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Tok tok tok! Edbert mengernyit. "Alcott, kau memanggil pelayan lain untuk bersih-bersih?" Alcott menggeleng. "Tidak mungkin saya berani memanggil pelayan lain ke kamar ini tanpa persetujuan Anda." "Lalu itu siapa?"  Kening Edbert berkerut. Kemudian, ia melayangkan mantra sihir ke arah pintu sehingga bagian atas pintu besar itu membentuk lingkaran yang transparan. Sesosok wajah segera terlihat. Wajah itu tersenyum seolah menyerap semua cahaya di sekitarnya, disusul awan merah jambu berbentuk domba yang berarak menjadi latar senyuman itu. "Maxen Kinsey?" gumam Edbert. "Bagaimana Tuan Muda? Kemarin Anda bilang masih kesal pada Tuan Maxen akibat suatu tragedi. Haruskah sekarang saya membukakan pintunya?" Alcott meminta ijin. Edbert berpikir sesaat, sebelum akhirnya mengangguk. Seberapa besar seorang Maxen Kinsey telah membuatnya kesal, Edbert tetap tidak bisa membenci kakak sepupunya itu. Sementara Alcott membukakan pintu, Edbert menarik kembali sihir proteksi yang menyelubungi kamarnya agar Maxen bisa masuk. "Selamat pagi! Salam hormat dari Maxen Kinsey untuk calon pemimpin Yurza," sapa Maxen begitu ia memasuki kamar. Tubuhnya yang tinggi tegap terbalut jubah hitam bermotif emas khas keluarga Kinsey. Jubah itu berkibar tatkala Maxen berjalan menghampiri Edbert, membuat Edbert melongo untuk sesaat dan mengakui bahwa dari dulu sosok Maxen Kinsey memang mampu menyilaukan siapa pun yang memandangnya. Tak heran banyak wanita seakan terhipnotis oleh pesona pria itu. "Apa yang membuat kakak datang ke sini pagi-pagi?" tanya Edbert. "Tentu saja karena aku rindu pada adik sepupuku. Tapi selain itu, aku juga ingin mengambil barangku yang tertinggal." "Oh, ya? Apa itu?" "Payung merah. Waktu itu aku tidak sengaja meninggalkannya di sana." Maxen menunjuk ke sebelah kiri ranjang Edbert. Alcott menyahut. "Jadi benda itu milik Anda, Tuan? Apakah payung itu keluaran terbaru Biddlestone?" Sambil tertawa, Maxen menggeleng. "Tentu saja bukan, Alcott. Payung itu ... sebenarnya adalah pemberian dari seseorang yang berharga dalam hidupku." "Rupanya begitu. Sebentar, Tuan. Akan saya ambilkan payung merah itu untuk Anda." Alcott terbang keluar jendela untuk menuju gudang keluarga Kinsey. Selagi menunggu Alcott, Maxen berjalan santai menuju balkon. Pandangannya langsung disambut garis horison yang membatasi langit dan lautan Ambert. "Jadi calon pengantinmu sudah tinggal di menara?" tanya Maxen pada Edbert yang kini berdiri di sebelahnya. Kemudian terdengar Edbert berdecih. "Pertanyaan retoris. Aku tahu kau sudah mendengarnya." Maxen tertawa. "Kau tidak asik. Seharusnya dengan bangga kau menjawab IYA. Dengan begitu aku akan mengucapkan selamat atas keberhasilanmu."  Edbert hanya terkekeh sebagai balasan. Lalu mereka terdiam beberapa saat sambil sama-sama memandang ke lautan Ambert. "Setelah ini, apa kegiatanmu?" tanya Maxen, menoleh pada Edbert yang juga baru saja menoleh sekilas padanya. "Nanti siang aku akan ikut Ayah menghadiri beberapa pertemuan. Tapi sebelum itu aku akan mampir ke kamar Dexter." "Oh, ya? Kebetulan. Aku juga ingin menjenguk Dexter. Kalau begitu lebih baik kita ke sana bersama-sama," usul Maxen, lalu Edbert pun mengangguk. "Bagus!" kata Maxen, kemudian berbicara lagi dengan lebih semangat. "Dan setelah dari kamar Dexter, kau harus mengajakku melihat calon pengantinmu di menara!"  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN