Pura-Pura

1177 Kata
Mendengar permintaan Maxen yang menurutnya sangat amat tidak penting, Edbert langsung menoleh setengah terkejut. "Untuk apa?" Maxen tertawa renyah. "Tentu saja karena aku ingin mengenal calon pengantinmu, yang berarti calon adik iparku." "Tidak perlu." Edbert merengut. "Lagi pula aku tidak pernah menganggapnya calon pengantinku. Bagiku gadis kuno itu tidak lebih dari sekadar peliharaan." "Ckckck. Edbert Kinsey, ternyata kau lebih mengerikan dari yang aku kenal," kelakar Maxen. "Tapi biar kuingatkan sesuatu. Jangan terlalu membencinya, atau kau justru akan jatuh cinta padanya." "Apa? Jatuh cinta pada gadis kuno itu?" Edbert bersidekap, mengangkat dagu setinggi keangkuhannya. "Itu tidak akan pernah terjadi." "Oh, ya? Apa kau yakin? Aku dengar-dengar gadis Albara itu berparas cantik dan menggoda!" celetuk Maxen, setelah sebelumnya ia mencuri dengar dari beberapa keluarga Kinsey yang hadir saat mediasi. Edbert terperanjat. Darahnya berdesir heboh, menguarkan panas tubuh hingga perlahan menimbulkan rona di wajahnya. Ca-cantik? Sial! Itu memang benar.  "Karena itulah aku penasaran ingin melihatnya," lanjut Maxen. "Kau hanya akan kecewa. Gadis Albara itu tidak cantik seperti yang diberitakan," kilah Edbert enggan mengakuinya. "Benarkah? Ah, aku jadi semakin ingin membuktikannya. Tunggu apa lagi. Segera ajak aku melihat gadis itu." Edbert menggeleng. "Tetap jawabannya tidak." Maxen melirik Edbert sambil tersenyum miring. "Aku curiga. Kau bersikukuh menolak permintaanku, jangan-jangan itu karena kau tidak ingin membagi kecantikan calon pengantinmu pada laki-laki lain, ya?" Sekali lagi Edbert terperanjat, seperti ada sengatan yang mencambuk kinerja jantung di dalam dadanya. "Jangan berkata yang bukan-bukan!" omel Edbert lalu menyembunyikan seringai malunya. Melihat hal itu, Maxen tertawa lepas, sehingga spontan Edbert menoleh sambil menautkan kedua alisnya. Setelah tawanya mereda, Maxen berkata, "Maaf, adik sepupuku sayang. Tadi aku hanya bercanda. Walaupun memang benar aku penasaran pada calon pengantinmu, tapi kalau kau tidak mengijinkanku untuk mengenalnya, mau bagaimana lagi. Aku tidak akan memaksa."  Edbert mendengus sebal lalu melemparkan seringainya. Ia memberengut dan tak mengatakan sepatah kata pun sampai akhirnya Alcott datang. "Silakan, Tuan Maxen Kinsey," tutur Alcott sambil menyerahkan payung merah yang baru diambilnya dari gudang. "Terima kasih, Alcott." Seulas senyum di bibir Maxen mengembang. Akhirnya ia bisa memegang payung merah itu lagi. Payung yang sejak kemarin terus menerus ia pikirkan, dan merupakan pemberian seorang gadis yang lupa ia tanyakan siapa namanya. *** Edbert selesai membersihkan diri. Pakaiannya sudah bukan setelan piyama lagi, melainkan setelan jas dilengkapi outer jubah hitam bermotif emas ciri khas keluarga Kinsey. Setelah memastikan penampilannya di depan cermin besar, ia menghampiri Maxen. Kakak sepupunya itu masih duduk menunggunya di balkon. Tak menunggu waktu lagi, lantas mereka berteleportasi menuju kamar Dexter.  Yurza tingkat pertama memberlakukan aturan khusus tentang sihir teleportasi, di mana aturan itu mengikat para pengguna sihir teleportasi untuk tetap saling menjaga privasi. Tidak boleh ada yang semena-mena, seperti mendaratkan portal teleportasi langsung di dalam rumah atau kamar Yurza lain tanpa ijin. Sebagai gantinya, mereka tetap harus menggunakan pintu jika ingin mengunjungi seseorang. Jika ada yang melanggar, maka pihak yang dirugikan berhak melapor pada dewan peradilan Yurza. Maka seperti itulah yang kini dilakukan Edbert dan Maxen. Teleportasi mereka hanya sampai di depan pintu kamar Dexter lalu setelahnya mereka menggunakan pintu untuk masuk. Ranjang Dexter berada di tengah-tengah ruangan, dan di sanalah Dexter terbaring belum sadarkan diri. Sama dengan kamar Edbert, seluruh dinding marmer di kamar Dexter juga teraliri energi sihir yang bisa menyesuaikan cuaca sehingga tercipta suhu ruangan yang nyaman. Nampak paling mencolok dari kamar Dexter adalah nuansanya. Tembok, lemari, tirai, perabotan, rak, dipan ... semuanya warna-warni dan ceria, sangat berbeda dengan kamar Edbert yang cenderung elegan.  Edbert dan Maxen lalu duduk di samping ranjang Dexter.  "Oh, adik sepupuku yang malang," ucap Maxen sendu sambil memegangi tangan kiri Dexter. Di sebelah Maxen, Edbert melempar pandangan prihatin. "Saat ini Jed sedang mengadakan sayembara bagi siapa saja yang mampu menangkap ular di lembah Aston. Dia bilang racun yang termakan oleh Dexter adalah jenis High Venois karena sampai sekarang Dexter belum sadar juga. Karena itulah dibutuhkan ramuan ular lembah Aston agar Dexter benar-benar sembuh." Edbert dan Maxen lantas sama-sama memandangi wajah Dexter dengan perasaan iba. Terutama Maxen, ia sangat merasa kehilangan sosok Dexter yang cerewet dalam hidupnya. Maxen adalah lelaki yang ceria, tapi bisa menjadi sangat sedih jika seseorang yang ia sayangi terluka. Maka saat ini ia hampir tidak bisa membendung air matanya ketika melihat Dexter. Matanya sudah memanas. Sebentar lagi air matanya tumpah. Namun, tidak jadi.  Sepasang mata Maxen Kinsey yang bermanik hazel justru melebar ke arah Dexter, demi memastikan apa yang baru saja ia lihat. Beberapa detik kemudian, raut kesedihan di wajahnya hilang, berganti seulas senyum simpul penuh arti.  Edbert yang melihat perubahan wajah Maxen pun penasaran, lalu melempar pandangan penuh tanya. Mxen memberi jawaban melalui bisikannya di telinga Edbert.  Setelah mendengar apa yang dikatakan Maxen, wajah Edbert berubah kesal. Tapi Maxen mengusap pundak Edbert, berusaha memberi kode: "sabar," pada lelaki itu lewat kedipan matanya. Edbert menjatuhkan punggungnya ke punggung kursi, lalu berbicara pada Maxen tanpa suara: terserah kau saja. Maxen menanggapi persetujuan Edbert dengan senyum lebar, kemudian satu detik kemudian ia berseru. "Ada KECOAK TERBANG!!!" Mendengar teriakan itu, Dexter luar biasa kagetnya. Ia terbangun seperti mayat yang tiba-tiba hidup lagi. "Di mana? Di mana serangga bau itu!" "Ekhem!" Edbert menatap tajam pada Dexter. "Ternyata kau sudah sadar, Bocah! Ke mari kau! Kau telah menipu semua orang! Kau tahu? Kekacauan telah terjadi karena ulahmu!" omel Edbert berusaha menangkap Dexter yang menghindarinya. Habislah sudah! Dexter sadar kalau ia sudah tertangkap basah! Dexter lantas berhambur menyembunyikan separuh tubuhnya ke belakang Maxen, seperti yang biasa ia lakukan kalau Edbert sedang marah padanya.  "Edbert, redakan emosimu," tutur Maxen dengan bijak. Lalu beralih pada Dexter. "Dan kau, Dexter. Jelaskan pada Kakak, kenapa kau melakukan semua ini?" Dexter duduk di tepi ranjang menghadap Maxen. "Sebenarnya semalam aku memang sudah sadar. Aku berniat memberi tahu kalian, atau Ayah. Tapi tidak jadi." "Kenapa?" tanya Edbert tak sabar. "Setelah aku sadar, aku sangat mengantuk lalu tidur. Saat terbangun, aku tidak sengaja melihat Ayah duduk di sampingku. Seumur hidup Ayah tidak pernah memperhatikanku seperti itu. Aku takut kalau saat itu Ayah melihatku bangun, dia tidak akan memperhatikanku lagi. Jadi aku terpaksa pura-pura belum sadarkan diri." Edbert mengerjap, kehilangan kata-kata untuk menanggapi Dexter. Ia tahu perlakuan yang diterima Dexter atas sikap Roland memang berbeda. Edbert merasakannya, meski ia belum tahu alasan pasti yang menyebabkan sikap Ayahnya seperti itu. "Aku tahu perasaanmu," tutur Maxen seraya menyalurkan kehangatan tangannya melalui pundak Dexter "Jangan dipikirkan. Kalau kau ingin Ayahmu terus memperhatikanmu, maka teruslah berpura-pura tidak sadarkan diri. Tidak apa-apa, aku mendukungmu. Dan tidak akan memberi tahu pada siapa pun kepalsuan ini." "Aku tidak setuju," sergah Edbert. "Akan lebih berbahaya jika Ayah tahu Dexter hanya berpura-pura." "Kalau begitu jangan sampai Ayah kalian tahu. Setidaknya sampai Jed berhasil membuat ramuan ular lembah Aston itu," kata Maxen pada Edbert, kemudian beralih menatap Dexter. "Selama itu, kau harus pandai bersandiwara. Kau bisa melakukannya?" Dexter mengangguk mantap. "Aku pandai bersandiwara." "Bohong. Kau tidak pandai bersandiwara," tukas Edbert. "Kali ini saja kau ketahuan." "Aku akan berusaha bersandiwara lebih baik lagi. Kumohon. Sekali ini saja." "Aku kakak sepupu yang baik. Jadi aku merestuimu," ucap Maxen. Lalu dia dan Dexter sama-sama menatap Edbert penuh harap. "Kalian menyebalkan!" umpat Edbert. Ia mengerjap sebelum berkata, "Baiklah. Terserah kalian saja." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN