Edbert sedang duduk di balkonnya sambil menyesap secangkir kopi hangat. Masih satu jam lagi sebelum ia menghadiri pertemuan Yurza bersama Roland. Waktu yang tersisa itu pun Edbert gunakan untuk membaca buku, mempelajari lebih banyak tentang tugasnya sebagai calon pemimpin Yurza agar saat pertemuan nanti tidak memalukan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian Alcott datang menghadap. Edbert pun menutup bukunya sebelum berkata pada pelayannya itu.
"Aku sudah mengambil enam baju dari kamar Dexter. Setelah ini, berikan pada gadis Albara itu," perintah Edbert pada Alcott, tanpa tahu apakah gaun-gaun hasil desain Dexter itu akan pas dipakai Ellyora atau tidak. Itu karena gaun yang tersimpan di lemari koleksi milik Dexter sangat banyak, mungkin ratusan, sementara Dexter hanya mengijinkannya mengambil enam gaun. Fashion dan sejenisnya bukanlah keahlian Edbert, jadi daripada pusing, tadi dia hanya asal ambil gaun.
"Baik, Tuan." Alcott terbang rendah untuk memindahkan pakaian yang terlipat di atas nakas Edbert ke dalam keranjang yang ia bawa. Setelah itu, ia kembali menghadap Edbert untuk memberi hormat sebelum memberikan pakaian itu pada Ellyora di menara.
"Oh, ya. Kemarin aku memberimu tugas tambahan. Bagaimana pergerakan Ramseya?"
"Sejauh ini saya belum menemukan sesuatu yang mencurigakan, Tuan."
Edbert berpikir sesaat. "Baiklah. Tetap awasi Ramseya untukku."
Alcott mengangguk patuh. "Ya, Tuan Muda." Kemudian ia memberi hormat.
***
Ellyora memandang pantulan dirinya di dalam cermin persegi panjang. Ia mengenakan dress biru berbahan sutra dengan potongan leher sabrina rendah, salah satu dari enam pakaian yang tadi dibawakan oleh Alcott. Bagian tepian kerahnya dihiasi batu permata yang berkilauan. Sebenarnya long dress itu begitu pas dan serasi dengan garis wajahnya yang lembut. Ia menjadi semakin terlihat cantik dan anggun. Tetapi gadis itu sama sekali tidak merasa senang.
Pakaian itu terlalu mewah dan tidak sesuai dengan jati dirinya sebagai bangsa kesatria. Ia terpaksa memakainya karena tidak ada pilihan baju lain. Celana kulot yang sebelumnya ia pakai sudah tidak layak pakai lagi karena robekannya yang semakin lebar, sementara ia tak memiliki jarum dan benang untuk memperbaikinya.
Ellyora meninggalkan cermin lalu dengan bosan memandang ke arah luar jendela, menerka waktu lewat sinar matahari yang ia rasakan berjalan begitu lambat. Ia terhanyut dalam lamunannya.
Nenek? Kenapa tiba-tiba Nenek menemuiku dalam mimpi? Ah, itu pasti karena aku rindu.
Nenek, Ayah, Ibu, Shira ... aku rindu mereka semua.
Kira-kira, apakah mereka sudah makan siang? Apa yang mereka makan? Kalau sudah, apa yang sedang mereka lakukan saat ini? Mungkinkah mereka sedang mengamati matahari seperti yang kulakukan?
***
Edbert merebahkan tubuh di kasur setelah pulang ke kamar mansionnya larut malam. Ia begitu lelah. Bersama Roland, hari ini ia menghadiri pertemuan-pertemuan Yurza dan mempelajari banyak hal yang berkaitan dengan tugas masa depannya sebagai Penyihir Agung. Kini tubuhnya seolah berubah menjadi sebongkah batu berat.
Hari ritual penobatan dirinya sebagai pemimpin Yurza tidak lama lagi. Karena itu, mulai besok Edbert sudah mulai melakukan beberapa persiapan. Meditasi selama satu pekan di ruang altar adalah salah satunya. Selama itu, Edbert Kinsey tidak bisa mengurusi hal di luar altar secara langsung, termasuk tidak bisa memantau Ellyora.
Edbert berpikir, tidak ada salahnya jika sekarang ia melihat Ellyora sebentar. Malam telah larut, jadi pasti gadis itu sudah tidur dan tidak akan menyadari kehadirannya.
Beberapa detik kemudian, tubuh Edbert sudah berpindah tempat. Sebelum beradaptasi dengan udara di dalam menara yang dingin, matanya melebar tatkala langsung berhadapan dengan tubuh Ellyora yang sedang terbaring di atas ranjang. Sesuai dugaannya, Ellyora Bright sudah tidur.
Tatapannya kemudian terpaku pada kecantikan gadis Albara itu. Wajah lembut dan tubuh berbalut dress sutra yang ... menggoda?
Tidak! Edbert mengerjap, berusaha menjernihkan kembali pikirannya.
Ia pun berjalan mendekat ke arah ranjang. Sangat pelan, hingga pijakan sepatunya tidak menimbulkan suara. Ketika sampai di sisi ranjang, Edbert menunduk. Tangannya terulur ke atas ranjang, mengambil kain tebal itu dan hendak menyelimutkannya ke tubuh Ellyora.
Namun ....
"Apa yang kau lakukan!"
Tiba-tiba saja Ellyora terbangun. Betapa terkejutnya gadis itu karena melihat Edbert sudah di hadapannya, bahkan dengan jarak sangat dekat.
Edbert cepat-cepat melempar kain tebal yang ia pegang ke arah Ellyora, sebelum memutar tubuh membelakangi karena tidak ingin Ellyora melihat wajahnya yang memanas. "Aku sudah berbaik hati menyediakanmu selimut. Kenapa tidak menggunakannya?!"
"Tadi aku tidak sengaja tertidur," jelas Ellyora sambil cepat-cepat menyelimutkan kain itu menutupi bagian atas tubuhnya.
"Selain kuno, ternyata kau juga ceroboh. Lain kali gunakan selimut. Sadarlah, tubuhmu itu berat. Jika kau mati kedinginan, maka akan menyusahkan banyak orang."
Rasa kesal meledak di hati Ellyora. Kata-kata lelaki itu sungguh kasar. Ia teringat perkataan Roseanne bahwa tidak semua penghuni pulau Tannin itu kejam. Jika itu benar, maka Ellyora yakin bukanlah Edbert orangnya. Satu tangan Ellyora mencakar udara di tengah dirinya dan punggung Edbert yang berbalut jubah hitam bertudung, saking tidak paham pada sikap kasar lelaki itu.
Ellyora mencoba menemukan ketenangan dirinya kembali sebelum bertanya. "Untuk apa kau datang larut malam begini?"
"Kau adalah peliharaanku. Aku bebas mendatangimu kapan saja."
"Kau anggap aku adalah peliharaanmu?"
"Ya. Pe-li-ha-ra-an," tegas Edbert. "Hidupmu kini adalah milikku. Jadi lakukan saja semua perintahku dan jangan bertanya apa pun yang tidak perlu, apalagi membantah."
Ellyora hanya membuang napas kasar sebagai respon tidak peduli.
"Beberapa hari ke depan aku akan bermeditasi," lanjut Edbert. "Selama itu Alcott akan tetap mengantar kebutuhan pokokmu. Tapi jangan pernah berpikir kau bisa berbuat macam-macam saat aku tidak mengawasimu. Karena kalau sampai itu terjadi, tubuhmu hanya akan berakhir menjadi santapan monster bergigi."
"Tapi di menara ini aku bosan. Aku tidak biasa berdiam diri tanpa melakukan kegiatan apa pun. Apa kau tidak bisa mempercepat pernikahan kita?"
Alis Edbert berjingit tinggi. Ia berbalik. Tatapannya menjangkau Ellyora dalam-dalam, membuat gadis itu khawatir kalau Edbert bisa membaca rencananya. Tersadar akan sikapnya yang terlalu antusias, Ellyora berusaha memperbaiki keadaan.
"Ummm ... maksudku, bukankah kau hanya butuh ramalan pernikahan itu terwujud? Setelah itu kau akan membebaskanku 'kan?"
Mendengar apa yang dikatakan Ellyora, Edbert justru semakin menatap tajam. Sorot mata birunya menelisik jauh pada wajah gadis di depannya. Bahkan perlahan Edbert mulai mendekatkan tubuhnya, tak peduli pada raut wajah Ellyora yang mulai ketakutan.
Gerakan tubuh Edbert yang semakin mendekat menuntun Ellyora mundur, hingga punggungnya terantuk dinding. Kedua tangan Edbert mengunci pergerakan gadis itu, memojokkannya di ujung ranjang sehingga Ellyora tidak berani bergerak lebih jauh. Wajah mereka semakin dekat, hingga Ellyora bisa merasakan embusan napas Edbert menerpa wajahnya.
Hangat dan beraroma mint segar.
Ellyora memalingkan kepalanya ke kanan dan kiri. Tangan Edbert kini benar-benar mengurungnya, membuat wajahnya kontan memanas, seakan aliran darahnya berlomba naik ke atas. Tidak! Ellyora berusaha tidak terpengaruh meskipun ia akui napas dan kinerja jantungnya tidak bisa melambat. Ia pun kembali memandang ke depan, menelusuri dengan berani garis rahang Edbert Kinsey yang tegas dan sepasang mata biru yang kini balik menatapnya.
Namun, sensasi aneh justru melingkupi Ellyora.
Kenapa aku menemukan kehangatan dalam tatapan dingin itu? Kenapa lelaki di hadapanku menatap seolah dia haus akan kelembutan dariku? Tatapan itu ... tatapan kesepian.
Sementara Ellyora tertegun, Edbert tersenyum liar. "Katakan saja kalau kau benar-benar menginginkannya ... menikah denganku. Begitu, kan?"
"Aku sama sekali tidak pernah menginginkan hal seperti itu," balas Ellyora dengan suara yang malah kedengaran mencicit.
"Bohong. Wajahmu memerah."
"Tidak," sahut Ellyora kelewat cepat. "Sudah kubilang aku tidak—"
"Sssst ...." Edbert memutus kalimat Ellyora lalu mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu untuk membisikkan sesuatu. "Kalau begitu, jangan pernah mengatakan keinginan vulgar seperti itu lagi."
"Ke—kenapa?"
"Kau bertanya kenapa?" Edbert tersenyum miring. "Karena hal itu bisa membangkitkan hasratku," tutur Edbert, lalu menurunkan tangannya, menegakkan tubuh, dan beringsut menjauh. Kembali menciptakan jarak di antara mereka.
***