Cahaya Samar

1413 Kata
Edbert meninggalkan Ellyora setelah kalimat peringatan yang ia lontarkan berhasil membuat gadis itu tak bisa berkata-kata. Usai berteleportasi ke kamarnya, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memandang langit-langit dengan tatapan tak percaya. “Sialan! Kenapa aku mengatakan hal canggung seperti itu?” sesal Edbert lalu wajahnya memerah mengingat perkataannya sendiri. Entah sebab apa, kata-kata canggung itu secara refleks keluar begitu saja dari mulutnya.  Maksudnya tadi hanyalah ingin menakut-nakuti Ellyora, dan membuat gadis Albara itu menjaga sikap, tetapi malah kata-kata seperti itu yang lolos dari mulutnya. Bahkan, sebenarnya Edbert belum pernah mengatakan hal semacam itu pada gadis mana pun, jadi kini ia menyesal karena mengatakan untuk pertama kali pada Ellyora. Mudah-mudahan saja Ellyora tidak berpikir kalau Edbert benar-benar berrgairah padanya.  “Ada masalah apa, Tuanku?” “Astaga!” Edbert terperanjat, lantas segera menoleh kepada si penanya, yaitu Alcott yang sedang menatap bingung setelah pelayan itu melihat Edbert mengacak-acak rambutnya sendiri. Edbert mengerjap dan membuang napas. “Kau! Kalau sekali lagi kedatanganmu membuatku kaget, aku akan menjadikanmu burung panggang!” “Hah? Tapi, Tuan. Saya bukan baru saja datang. Sebelum Anda kembali dari menara, saya sudah berada di kamar ini.” “Kau tahu aku baru saja dari menara?” “Ya, Tuan. Setelah mendengar kalau Anda sudah pulang dari pertemuan Yurza, saya berpikir Anda sangat lelah jadi pasti langsung beristirahat. Tetapi saya melihat pintu balkon kamar Anda masih terbuka lebar, jadi saya berinisiatif datang untuk menutup pintu tanpa bermaksud membangunkan Anda. Tapi setelah saya sampai di sini, ternyata Anda tidak ada. Saya putuskan untuk mencari Anda, karena bagaimana pun, adalah tugas saya untuk mengingatkan agar Anda beristirahat untuk meditasi besok. Sampai akhirnya pencarian saya sampai di menara. Tapi, begitu saya sampai di sana …. “ Edbert menelan ludah saat Alcott tidak langsung melanjutkan kalimatnya, bahkan kini wajah pelayannya itu menampilkan ekspresi canggung. “Begitu sampai di sana, lalu apa?” tanya Edbert tak sabar. “Ampuni saya, Tuan. Saya telah melihatnya.” “Me-melihat apa?” “Saya bersumpah kalau saya tidak sengaja,” kata Alcott lalu menutup mata menggunakan sayapnya. Jantung Edbert berdebar-debar. “Cepat katakan, apa yang kau lihat!” “Itu … emmm, Anda dan Nona Ellyora di atas ranjang sedang ….” “KAU SALAH PAHAM! Dan berhentilah menutup matamu seolah aku baru saja melakukan hal yang tidak-tidak!” “Tuan, Anda tidak perlu khawatir. Sebagai sesama lelaki, saya memahaminya. Memang sulit untuk menahan naluri itu.” “Tidak! Aku bersumpah ini tidak seperti yang kau pikirkan!” “Tuan, saya akan pura-pura tidak pernah melihatnya.” Edbert terlihat syok. “Sialan! Jangan berpikiran mes*um!” Alcott melihat wajah Edbert yang putih sudah memerah, sangat merah! Kemudian ia beringsut mundur, seolah bergerak menjauh dari gunung berapi yang siap meletus. “Tuaaan?!” seru Alcott saat mengetahui Edbert mengangkat tangan kirinya, hendak melancarkan sihir padanya. “Ampuuuun, Tuaaaan!” pintanya lalu terbang keluar kamar untuk menghindari serangan sihir Edbert. Di sisi lain, Ellyora masih bergeming di sudut tempat tidur. Kata-kata Edbert masih terngiang di telinganya, dan itu membuat bulu di sekujur tubuhnya meremang. Meski begitu, anehnya ada hal yang ia rasakan lebih besar dari rasa takutnya sekarang. “Ucapannya memang mengerikan, tapi tatapannya …” Ellyora menggantung kalimatnya sendiri, ragu kata-kata seperti apa yang akan keluar dari mulutnya. Perasaan yang kini ia rasakan sungguh aneh. Sama dengan saat dirinya menatap Kai untuk pertama kali, yang ia rasakan saat dirinya berpandangan dengan mata tajam Edbert Kinsey pun tidak membuatnya takut. Bagaimana mungkin? Padahal calon pemimpin Yurza itu akan menjadi sosok yang paling gelap di antara semua peyihir hitam. Seharusnya menyeramkan, tapi entah mengapa di mata Ellyora tidak seperti itu. Alih-alih aura kegelapan yang menyeramkan, semakin ia menyelami kedalaman mata biru milik Edbert Kinsey, ia justru melihat ada cahaya samar di sana—yang hangat dan penuh harapan di antara lautan es. Oh, tidak! Ellyora memegangi keningnya sendiri, merasa sepertinya pikirannya sudah kacau. “Mana mungkin aku bisa menemukan cahaya harapan pada calon pemimpin Yurza! Konyol sekali,” katanya pada dirinya sendiri. Kemudian sisi lain dari dirinya meneruskan, kalau mungkin saja perasaan seperti ini muncul karena Ellyora adalah suku Albara. Dan ia tidak boleh membiarkan rasa iba itu muncul untuk Edbert Kinsey. Ellyora menghela napas panjang. Daripada terus memikirkan yang tidak-tidak, lebih baik sekarang ia tidur saja. Lagi pula malam sudah cukup larut, dan sebenarnya begadang bukanlah kebiasaan yang diajarkan Ayah Ibunya. Ellyora lantas menenggelamkan diri di balik selimut, berharap perasaan anehnya pada Edbert Kinsey juga ikut tenggelam dan tidak muncul lagi. *** Di luar kediaman Cassandra. Suara hewan malam mengisi kesunyian. Angin malam membuat dedaunan bergemerisik dan menjatuhkan beberapa helainya yang lemah. Hagburn bersembunyi di balik rimbun dedaunan itu. Matanya yang bermanik merah mencuri pandang ke arah kediaman Cassandra melalui celah dedaunan dari batang pohon yang dihinggapinya. Tak ia pikirkan sudah berapa lama ia berada di sana. Yang ia pedulikan saat ini adalah menunggu Ramseya datang. Beberapa saat kemudian, bayangan hitam tampak bermanuver di udara, terbang menuju atap rumah Cassandra. Hagburn segera sadar kalau bayangan hitam itu adalah Ramseya. Bagaimana bisa ia tidak bisa mengenali wanita yang dicintainya? Pergerakan Ramseya memang cepat, tetapi Hagburn lebih gesit darinya. Maka sebelum bayangan Ramseya benar-benar lenyap di balik atap rumah milik Cassandra, Hagburn sudah terlebih dulu mencekalnya. Ramseya nyaris terbanting setelah tubuh rampingnya bertubrukan dengan tubuh Hagburn yang kekar. “Argh!” pekik Ramseya. “Apa yang kau lakukan di sini!” Hagburn tidak langsung menanggapi. Ia berdiri tegap memijak atap sambil menatap Ramseya tajam, tetapi ada kekhawatiran dalam sorot matanya. “Ramseya, aku mohon, berhentilah.” Ramseya mendengus penuh ironi. “Aku tidak paham apa yang kau maksud, wahai pelayan kepercayaan Yang Mulia Roland! Dan aku dengar-dengar kau sibuk. Jadi lebih jangan buang waktumu dengan memohon pada pelayan rendahan sepertiku.” Ramseya membalikkan badannya bersiap pergi, lalu Hagburn mengatakan sesuatu yang akhirnya membuat niatnya untuk terbang langsung surut. “Berhentilah menyeberangi samudra Erion. Saat ini orang yang mencurigaimu bertambah,” jelas Hagburn. “Sekali lagi, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” kata Ramseya ketus sambil menolehkan sedikit wajahnya pada Hagburn. “Cukup, Ramseya. Ini sudah menjadi rahasia kita sejak lama. Dan yang baru saja kukatakan tidak main-main. Selama ini aku masih bisa menyembunyikan apa yang kau lakukan dari Yang Mulia Roland, tetapi tidak dari Alcott yang mulai mengawasimu.” Ramseya berbalik, dan akhirnya tatapan mereka kembali bertemu. “Alcott?” “Ya. Aku melihat kedatangannya beberapa kali di tempat ini. Kalau dia membawa pesan untuk Cassandra, pasti dia tidak akan hanya bersembunyi dan berlama-lama di balik semak belukar.” Hagburn menjeda dan menatap Ramseya iba. Tatapan matanya yang biasanya selalu membara, tergantikan oleh tatapan penuh kasih sayang, dan itu hanya ia tujukan untuk Ramseya. “Aku mohon, berhentilah pergi ke kerajaan timur.” Permintaan Hagburn membuat Ramseya terkekeh. “Kau sudah tahu, aku tidak mungkin memenuhi keinginanmu. Aku akan tetap mengunjungi saudaraku di kerajaan timur,” bohong Ramseya untuk menutupi rencananya dengan Diana. “Baiklah. Aku tahu itu. Kau sudah memberitahuku sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan sesuai keinginanmu, aku tidak memberitahukannya pada siapa pun, termasuk Yang Mulia Roland. Aku juga tidak berusaha mencari tahu bagaimana caramu masih bisa bertahan hidup sampai sekarang, padahal jelas-jelas kau sudah berkali-kali menyeberangi Erion, sesuatu yang mustahil dilakukan burung hasil transformasi seperti kita. Semua itu kulakukan karena aku mempercayaimu … dan masih mencintaimu.” Ramseya membuang wajahnya sebelum membalas pernyataan Hagburn. Lagi-lagi terdengar ia mendengus kecil. “Terserah. Aku akan pura-pura tidak mendengarnya.” “Kau benar-benar membuatku frustrasi, Ramseya.” “Hubungan kita telah lama selesai. Tidak ada gunanya sekarang kau berkata seolah sudah berkorban untukku.” “Ramseya, asal kau tahu. Aku akan melakukan apa pun untuk melindungimu, bahkan jika itu membahayakan nyawaku.” “Kalau begitu, jawab aku. Setelah Yang Mulia Roland tidak lagi menjadi pemimpin Yurza, mana yang akan kau pilih? Tetap mengabdi padanya atau hidup bersamaku?” tanya Ramseya lalu Hagburn bungkam, sehingga Ramseya merasa miris. “Kau tidak bisa menjawabnya, bukan? Maka lupakanlah perasaanmu padaku.” “Mungkin benar, sisa hidupku akan habis untuk mengabdi pada Yang Mulia Roland, tapi ketahuilah. Rasa cintaku padamu tidak berkurang.” “Cih. Simpan omongan manismu.” “Ramseya, kali ini aku mohon dengarkan aku! Berhentilah menyeberangi samudra Erion. Setidaknya untuk sementara, sampai Alcott tidak lagi mengawasimu dan situasi aman. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu.” Menoleh sebentar pada Hagburn, Ramseya lantas mengepakkan sayapnya pergi tanpa membalas apa pun. Di langit sana, cahaya bulan tampak samar karena tertutup awan, dan seperti itulah Hagburn yang hanya bisa menelan kembali perasaannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN