Kedatangan

2116 Kata
Ratusan orang berjubah hitam memenuhi ruangan altar. Simbol lingkaran matahari berwarna emas mengukir di setiap d**a jubah mereka—jubah yang juga dipakai oleh Edbert Kinsey. Di antara ratusan orang itu, Edbert berjalan di antara mereka, mencari Ibunya. “Ibu?” seru Edbert panik sambil mendesak-desakkan tubuh kecilnya. Ia mendongak dan memeriksa satu per satu wajah orang-orang di sekelilingnya. Hampir sebagian dari wajah-wajah itu tertutup tudung jubah, dan menatap tajam ketika Edbert berusaha mengenalinya. Tidak! Mereka bukanlah orang asing, melainkan kerabatnya—keluarga Kinsey. Akan tetapi Edbert tidak suka tatapan mereka semua, tatapan yang entah mengapa begitu mengintimidasi sehingga Edbert merasa lemah. Edbert kembali melangkah, tak memedulikan mereka semua. Untuk apa? Toh selama ini yang ia rasakan mereka juga tak benar-benar peduli padanya. Hanya Ibunya, sosok yang paling ia percaya di dunia ini. Tetapi ke mana Ibunya sekarang? Edbert berhasil menerobos ke tengah ruang altar yang di sana terdapat meja dan seorang wanita memakai gaun biru berbaring di atasnya. Jantungnya berdebar kencang. Aneh! Wajah wanita itu begitu mirip dengan Ibunya. Bahkan, hiasan berbentuk bunga bluebells yang biasa dipakai Ibunya, kini juga dipakai wanita itu, menghiasi rambut hitam panjangnya yang tergerai. Apa yang terjadi pada Ibunya? Edbert menangis dan berhambur memeluk Ibunya. Akan tetapi karena meja tersebut cukup tinggi, tubuhnya yang kecil hanya mampu menggapai tangan wanita itu saja. Dipeluknya tangan wanita yang selalu memperlakukannya dengan lembut itu. Tidak seperti biasanya yang hangat, kini tangan itu terasa dingin. Sangat dingin. Diperhatikannya tangan itu lekat-lekat, hingga akhirnya ia mengenali sesuatu. Tangan itu tidak seperti milik Ibunya. Edbert mendongak. Wajah wanita itu juga perlahan berubah, bukan wajah Ibunya. Tangisan Edbert terhenti, lalu dengan bingung memundurkan langkahnya hingga punggungnya terasa menabrak seseorang. “Jangan menangis. Ibumu sudah pergi untuk selama-lamanya,” kata seseorang di belakang Edbert. Pria itu menunduk untuk ketika berbicara pada Edbert, tetapi sebagian wajahnya tertutup oleh tudung jubah sehingga Edbert hanya bisa melihat bibir pria itu yang tersenyum licik. Edbert menepis saat tangan pria pemilik senyuman licik itu berusaha menyentuh puncak kepalanya, dan Edbert teramat yakin kalau yang dikatakan orang itu kepadanya tidak benar. “Kau salah. Wanita di sana bukan Ibuku!” Pria itu langsung tertawa terbahak-bahak, sambil menunjuk. “Bocah lemah!” katanya pada Edbert yang kebingungan. Tawa pria itu kemudian disusul tawa mengejek dari semua orang yang ada dalam ruangan. Tubuh Edbert gemetar. Kenapa semua orang menertawakannya? Ia tidak suka! Tawa orang-orang itu semakin keras, memenuhi rongga telinganya bersama kegelapan yang datang dari segala arah kemudian menyergap. Tak ada lagi yang menolongnya, tak ada lagi tangan lembut yang akan menggapainya. Kakinya melemas. Tubuhnya jatuh meringkuk dan membiarkan jiwanya dikuasai kegelapan. Mungkin benar yang dikatakan pria itu. Aku … hanyalah bocah lemah. Usai sudah. Edbert merasa hidupnya berakhir. Tak akan ada yang menolongnya. Saat ini ia benar-benar merasa sendirian, kesepian di antara keramaian, semakin tenggelam dalam kegelapan yang dingin. Hingga akhirnya ia rasakan sentuhan hangat mengusap bahunya. Edbert mengangkat wajahnya. Hampir ia menepisnya, karena berpikir kalau tangan itu adalah milik pria tadi. Akan tetapi, bukan. Sebab, yang ia temukan adalah sepasang mata coklat terang yang berkilauan sedang menatapnya hangat, seakan puluhan kunang-kunang menghiasi mata itu dan memberikan Edbert cahaya. Mata bercahaya kunang-kunang. Cahaya harapan. “Aku akan meruntuhkan kegelapan ini untukmu,” ucap gadis itu. “Siapa kau?” tanya Edbert kebingungan. Namun, sebelum gadis itu menjawabnya tiba-tiba saja Edbert tak lagi bisa melihat. Tubuhnya mendadak mati rasa dan perlahan hancur menjadi pasir. Edbert terlonjak duduk. Napasnya memburu dan jantungnya berpacu kencang. Matanya bergerak liar, mencari-cari sosok yang terakhir kali dilihatnya, tetapi yang ada hanyalah ruang kamarnya yang kosong. Tak ada gadis itu atau seorang pun. Edbert berusaha mengatur napas. Entah mengapa ada rasa perih yang begitu menyayat di hatinya, rasa perih yang disebabkan karena baru saja kehilangan seseorang yang teramat berharga. Tetapi di sisi lain Edbert lega, karena ia telah kembali ke alam sadarnya, bukan lagi mimpi buruk—yang lagi-lagi adalah tentang Ibunya. Edbert mengakui kalau ia belum bisa menerima kepergian Ibunya. Sejenak Edbert terdiam, seakan berdebat dengan dirinya sendiri. Hingga beberapa saat kemudian, ia telah berhasil menemukan ketenangannya lagi. Ia termenung, memandang keluar jendela yang masih gelap. “Siapa gadis di dalam mimpiku tadi?” gumamnya. Gadis kecil dengan mata seperti itu tidak pernah ada dalam ingatannya. Ellyora Bright. Edbert menggeleng tak percaya. Bagaimana bisa kini yang malah muncul di benaknya adalah wajah Ellyora Bright. Kalau diingat-ingat, mata gadis yang muncul dalam mimpinya itu memang sangat mirip dengan mata coklat terang Ellyora. “Ah, itu pasti karena tadi malam aku terlalu lama menatap mata gadis itu,” katanya, lalu berusaha melupakan dengan tidur lagi. *** Sinar matahari pagi dari balik pepohonan di taman menyambut Edbert Kinsey saat dia bersiap memasuki ruang altar. Sesaat dia mengamati cerahnya langit lalu menurunkan pandangannya ke arah lembah Tarka pulau Tannin, yang mana di salah satu relung kegelapan lembah tersebut, berdiri menara yang ditinggali Ellyora. Ia memandang ke arah itu cukup lama, meski yang terlihat hanyalah pepohonan tinggi yang mulai menggugurkan daunnya akibat menyambut musim dingin. Tak ada yang dipikirkannya saat memandang ke sana. Dia … hanya menuruti kata hatinya. Itu saja. Edbert menoleh ke belakang untuk memanggil salah satu dari pelayan yang sejak tadi setia mengantarnya hingga ke altar. “Alcott?” panggilnya. “Iya, Tuanku.” Alcott mengangguk patuh kemudian terbang rendah meninggalkan barisan pelayan dengan penuh semangat, menghampiri Edbert yang telah menunggunya di ambang pintu, kemudian hinggap di tangan kanan Edbert. Sementara dengan tangan kiri, Edbert memberi kode sehingga para penjaga yang awalnya mengapit pintu altar beringsut menjauh, pun dengan pelayan lainnya paham kode itu lalu ikut memberi jarak. “Aku lupa bertanya, bagaimana hasil pengawasanmu pada Ramseya?” tanya Edbert pelan. “Lapor, Tuan. Selama beberapa hari ini saya mengawasi kediaman peramal Cassandra, saya tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, bahkan saya belum melihat Ramseya.” “Hmm. Begitu, ya?” gumam Edbert. “Kalau Cassandra?” “Peramal Cassandra sudah kembali dari meditasinya, dan kemarin berapa kali saya melihat beliau berjalan-jalan di halaman rumahnya.” Edbert terdiam. Namun, sampai di sini ia belum bisa menyimpulkan apa pun. “Kalau begitu tetap lakukan pengawasan. Segera ikuti Ramseya begitu kau melihatnya.” “Laksanakan, Tuan.” “Dan tetap awasi gadis kuno itu.” “Maksud Anda, apakah Nona Ellyora Bright?” Edbert merasakan wajahnya menghangat. “Ya. Siapa lagi?!” “Baik, Tuan.” Alcott tersenyum melihat reaksi Edbert. ***   Sementara itu, di sisi lain, Ellyora baru saja terbangun dari tidurnya dengan perasaan kaget kala melihat cahaya matahari yang sudah tampak mengintip dari balik tirai jendela. Rupanya di luar sana hari sudah hampir siang. Akibat semalam sulit tidur, kini ia jadi bangun kesiangan. Kalau saja ada Ayah dan Ibunya, pasti saat ini ia akan banjir teguran. Ah, sekarang ia jadi merindukan omelan itu. Ellyora menurunkan kakinya dari ranjang, bersiap ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekilas ia menoleh ke arah meja. Di sana terdapat piring bertudung yang sudah diganti, bukan piring yang semalam. Ellyora menduga kalau pagi tadi Alcott sudah datang mengantarkan sarapan. Ellyora mendesah. Kenapa Alcott tidak membangunkannya? Ellyora pun bangkit dan menghampiri meja yang tak jauh dari ranjangnya itu, iseng ingin memeriksa makanan apa yang kali ini dibawakan untuknya. Selama di pulau Tannin ini Alcott beberapa kali membawakannya makanan yang tampak asing bagi Ellyora, tapi Ellyora mengakui kalau rasanya cukup enak. Alcott bilang makanan itu merupakan hasil masakannya sendiri, sehingga membuat Ellyora yang juga gemar memasak, diam-diam jadi penasaran dan ingin tahu bagaimana cara membuatnya. Tudung piring itu berbahan alumunium dan memiliki pegangan di bagian atasnya, lantas Ellyora mengangkat pegangan itu. Namun, kelopak matanya yang masih berat seketika naik. Ellyora mengambil secuil roti dari atas piring. Ia mengangkat dan memperhatikannya. Apakah secuil roti yang besarnya tidak lebih dari ibu jarinya itu adalah sarapan yang dibawakan Alcott? Mungkin Ellyora akan percaya kalau bentuk roti itu masih utuh, tetapi roti di tangannya sekarang, lagi-lagi menyisakan jejak bekas gigitan di sana. Ditambah, setelah diamati dengan lebih jelas, ada sisa-sisa remahan roti yang berceceran di atas meja, tepatnya di sekeliling piring. “Hmmm.” Alis Ellyora berkerut. Ia semakin yakin kalau dugaannya benar. Bahwa di menara ini ia tidak tinggal sendirian. *** Berada di menara tanpa melakukan kegiatan apa pun, Ellyora merasa bosan. Selain rindu bercengkrama dengan keluarganya, ia juga rindu kesehariannya. Ia tidak biasa hanya duduk berdiam diri. Andai saja ada yang bisa ia kerjakan. Memasak, berkebun, atau membaca misalnya. Oh, tidak. Tidak perlu berharap terlalu jauh. Mungkin mendapat teman bicara saja untuk saat ini sudah cukup baginya. Saat Ellyora sedang melamun, terdengar suara rintik hujan. Ia meninggalkan ranjang dan berjalan ke arah jendela. Diletakkan kedua tangannya bertumpu pada bingkai jendela untuk mengamati hujan lebih jelas. Hujan turun tiba-tiba, padahal beberapa waktu lalu langit masih tampak cerah. Lalu nanti hujan itu akan reda dan kembali cerah. Seperti kehidupan, cuaca menjadi rahasia langit yang sulit ditebak. Semuanya bisa berubah dalam sekejap, dan Ellyora berharap hidupnya juga segera menemui perubahan. Segala hal suram, semoga lekas berganti dengan secercah kebahagiaan dan kedamaian. Ellyora mendongak. Beberapa kawanan burung tampak terbang di atas sana. Entah itu burung sungguhan atau bukan, Ellyora tidak tahu. Kenyataannya memang ada burung yang bisa berbicara di pulau Tannin, dan hal itu mengaburkan pengetahuan yang selama ini ia dapat saat hidup di hutan Camden. Tampaknya hujan yang turun membuat kawanan burung itu mencari tempat meneduh. Mereka terlihat terbang mengarah pada berbonggol-bonggol pepohonan tinggi yang menjadi pagar seluruh sisi halaman menara. Burung-burung itu menjulurkan kaki panjangnya, sehingga terlihat sepasang cakar mereka hendak mendarat pada dahan-dahan puncak pepohonan. Mata Ellyora berbinar melihatnya. Mungkin akan menyenangkan kalau burung-burung itu mau mendekat dan Ellyora bisa menjadikan kawanan burung itu—atau salah satunya—teman bicara. Mengajak hewan bicara, sebenarnya bukanlah kebiasaannya. Terlebih ia ingat pernah menganggap Shira aneh karena melakukan hal itu: berbicara pada seekor kucing. Ya, kini ia menyesal pernah berpikir seperti itu. Sinar harapan di wajah Ellyora kemudian sirna saat melihat cahaya oranye yang tiba-tiba berkilat tepat mengenai kawanan burung itu, lalu setelahnya burung itu seperti terbakar dan jatuh. Ellyora mengamati cahaya berwarna oranye yang masih terlihat berkilat-kilat di atas puncak pepohonan, seolah cahaya itu membentuk sebuah selubung. Wajah Ellyora menegang. Ia teringat perkataan Edbert Kinsey kalau di seluruh sisi halaman menara diselubungi oleh sihir proteksi, sehingga hanya yang dikehendaki calon pemimpin Yurza itu yang bisa menembusnya. “Mungkinkah selubung cahaya oranye di sana adalah sihir proteksi itu?” tanya Ellyora pada dirinya sendiri. Sedetik berikutnya wajahnya tertekuk kecewa. Selama selubung sihir itu ada, sudah dipastikan ia tidak akan memiliki teman bicara, kecuali Alcott yang tidak bisa selalu diharapkan karena hanya datang sesekali untuk mengantarkan makanan, atau si pencipta selubung itu sendiri—dan tentu saja Ellyora tidak berniat menjadikan lelaki bertemperamen kasar itu teman bicara. Keinginannya untuk mendapatkan teman bicara pun pupus. Saat ini Ellyora hanya berharap agar waktu bisa berjalan lebih cepat, sehingga rencananya saat ritual pernikahan dapat segera berhasil dan ia akan terbebas dari mimpi buruk nan gelap di pulau Tannin ini. Ellyora menilik tembok di sisi kiri jendela. Di sana tampak coretan berupa barisan garis-garis tegak yang ia tulis menggunakan ujung sendok sejak ia tiba di menara ini. Dan hari ini ia telah menambahkan satu garis, yang artinya jumlah harinya tinggal di pulau Tannin telah bertambah. Salah satu hal yang membuat Ellyora kuat menjalani hari demi hari adalah semakin bertambah garis itu, maka semakin dekat juga hari yang dinantikannya. Yang harus ia lakukan sebelum hari itu tiba hanyalah menunggu sambil sebisa mungkin tidak berbuat hal-hal aneh yang membahayakan dirinya, atau apa pun yang membuat rencananya berantakan. Ya, Ellyora hanya harus menunggu. BRUK! Terdengar bunyi benda terjatuh dari arah belakang Ellyora. Lalu tak lama kemudian, terdengar suara teriakan. “Ahhhh tidak!” teriak suara itu. Ellyora bergegas memutar tubuh. Ia segera menyadari dari mana sumber suara berisik itu setelah melihat pergerakan di dalam ember penampungan air berbahan alumunium yang sengaja ia kosongkan. Beberapa saat yang lalu ia mengisi ember tersebut dengan secuil roti pagi tadi sebagai jebakan. Selama hidup di hutan Camden yang berdampingan dengan berbagai macam hewan, jebakan seperti ini bukan pertama kali ia lakukan. Dan ia senang karena kini jebakannya berhasil. Mata Ellyora berkedip-kedip, mencerna apa yang ia lihat. Seekor tikus kecil berwarna putih dan bermata abu-abu sedang melompat-lompat berusaha keluar dari ember. Karena tikus itu bisa berbicara, sudah bisa dipastikan kalau itu bukan tikus biasa, melainkan tikus jadi-jadian—hasil sihir transformasi—seperti halnya Alcott. Khawatir tikus itu berbahaya, dengan sigap Ellyora meraih pegangan tudung piring. Awalnya hanya untuk berjaga-jaga, tetapi ketika melihat si tikus berhasil melompat keluar ember, refleks Ellyora langsung menampol tikus itu sekuat tenaga dengan tudung di tangannya, sehingga terdengar bunyi PRANG, kemudian si tikus terhempas ke lantai. Ellyora mengamati tikus di hadapannya yang terkapar. Tikus itu tidak bergerak, meski Ellyora telah menggoyang-goyangkan badan tikus itu dengan kakinya. “Ups, apakah aku sudah membuatnya mati?” *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN