Maudy mematut dirinya di depan cermin setinggi tubuhnya yang ada di dalam kamarnya. Ia mencoba menghela napas. Jantungnya benar-benar berdegup kencang sekarang. Tidak seperti sebulan yang lalu saat ia akan pergi makan siang untuk bertemu Erlangga dan keluarganya, kali ini Maudy merasa lebih tegang. Mungkin karena Pak Damar meyakinkan papa Maudy bahwa anaknya benar-benar akan datang, dan juga mengatakan bahwa Erlangga sudah menyetujui perjodohan itu. Sebentar lagi Maudy akan bertemu calon suaminya.
Tak lama kemudian suara pintu kamar Maudy diketuk dari luar, diikuti oleh suara mamanya.
"Sayang, kamu udah siap?"
Secepat kilat Maudy membuang perasaan yang berkecamuk di hatinya dan menjawab pertanyaan mamanya.
"Udah Ma!"
Maudy bergegas menuju pintu kamarnya dan membuka pintu itu. Mamanya menyambut dengan wajah puas, karena Maudy benar-benar kelihatan cantik dengan long dress beraksen payet berwarna gold dan lengan baju berbahan tile yang membentuk tubuhnya yang tinggi langsing. Ankle strap heels dan metallic clutch yang ia kenakan juga menyempurnakan penampilannya.
"Ya ampun, anak mama cantik banget!" Seru Bu Ranti bersemangat.
"Hehehe... Iya dong Ma! Ini bajunya baru aku beli lho. Kemaren milihnya bareng Erina. Bagus kan?" Kata Maudy bangga.
"Iya, bagus banget! Selera kamu sama Erina memang top deh!" Bu Ranti mengacungkan kedua jempolnya sambil memamerkan senyuman lebar, "ya udah kalau gitu ayo kita berangkat sekarang! Papa udah nunggu tuh di bawah," lanjut Bu Ranti.
"Oke Ma!"
***
Akhirnya Maudy sekeluarga sudah sampai di restoran. Nampak keluarga Erlangga sudah ada disana, menunggu mereka. Mata Maudy langsung tertuju pada seorang pria muda yang ada di meja itu, yang ia yakini adalah Erlangga. Di samping kiri Erlangga ada Laras yang langsung menyadari kedatangan Maudy dan melambaikan tangannya dengan bersemangat kepada Maudy sambil menyerukan nama Maudy.
"Kak Maudy!!!!"
Maudy melemparkan senyum manisnya kepada Laras. Orang tua Erlangga dan Laras yang tadi sibuk mengobrol ikut mengarahkan pandangan mereka kepada keluarga Maudy dan mempersilahkan mereka untuk bergabung. Erlangga pun juga mengarahkan pandangannya kepada keluarga Maudy, tapi tak ada senyuman yang lelaki itu berikan. Sikapnya terlihat dingin. Seketika Maudy jadi merasa canggung dengan reaksi Erlangga itu.
"Ayo Angga, salamin keluarga pak Brata," bisik mama Erlangga yang duduk di samping kanan Erlangga. Ia dan suaminya berdiri dan berjalan mendekati keluarga Maudy untuk menyalami mereka, diikuti dengan Laras yang mengekor di belakang dan langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Maudy. Erlangga dengan sedikit terpaksa mengikuti mereka. Karena bagaimanapun ia sudah menyetujui perjodohannya dengan Maudy, walaupun ia mengatakan hal itu secara spontan karena sakit hati dengan Natasha. Ia berharap Natasha juga akan merasakan sakit yang sama dengan dirinya saat Erlangga sudah menikah dengan Maudy nanti. Ia berharap Natasha akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan cinta yang tulus darinya.
Erlangga memaksakan senyumnya saat bersalaman dengan orang tua Maudy. Kini ia beralih ke Maudy, namun ia hanya menatap sekilas gadis itu dan menyalami Maudy sebentar, lalu segera melepas tangannya dan kembali ke tempat duduknya. Sungguh pertemuan pertama yang berbeda dari apa yang Maudy pikirkan. Padahal Erina bilang Erlangga pasti akan terkesima saat pertama kali melihat Maudy. Maudy seketika menjadi merasa sedih.
Pak Damar mempersilahkan keluarga Maudy untuk duduk di hadapan keluarga mereka. Mama Maudy memberikan kode kepada Maudy untuk duduk di hadapan Erlangga. Jika respon Erlangga tadi baik, mungkin Maudy akan dengan senang hati duduk disana. Tapi karena Erlangga bersikap dingin, Maudy jadi sedikit merasa enggan. Namun Maudy tetap menuruti mamanya.
"Ayo Pak Brata, Bu Ranti, Maudy, silahkan dinikmati makanannya," ucap pak Damar ramah. Ia memang sengaja memesan duluan makanan untuk makan malam mereka agar tidak terlalu lama menunggu. Kedua keluarga itupun segera menyantap hidangan yang ada di hadapan mereka.
"Akhirnya kita bisa juga bertemu dengan anak Pak Damar yang ganteng ini," kata papa Maudy sambil terkekeh. Ia terlihat begitu senang karena Erlangga benar-benar datang. Pak Damar juga ikut tertawa terkekeh bersama istrinya, sementara Erlangga hanya diam tak memberikan reaksi, dan Laras mengernyitkan dahinya karena tak terima Erlangga dibilang ganteng.
"Ya akhirnya waktu yang tepat pasti akan datang juga Pak. Ternyata hari ini kedua anak kita bisa bertemu," kata Pak Damar yang senyumnya masih juga belum hilang.
Kedua keluarga itu terus menyantap makan malam mereka sambil mengobrol. Erlangga terus-terusan memberikan jawaban singkat saat ada pertanyaan yang diarahkan kepadanya, membuat mamanya menyikut anak lelakinya itu dan meliriknya geram, memberikan kode kepada Erlangga untuk bersikap lebih ramah.
Maudy yang beberapa hari kemarin merasa optimis dengan perjodohannya dengan Erlangga mendadak menjadi pesimis malam ini. Pasalnya Erlangga terlihat sama sekali tak bersemangat, bahkan lelaki itu tidak mau melirik Maudy. Maudy takut setelah selesai acara makan malam ini Erlangga tiba-tiba membatalkan niatnya untuk menerima perjodohannya dengan Maudy. Padahal Maudy merasa ia sudah tampil sangat total malam ini agar Erlangga tidak kecewa, namun nampaknya semua usahanya tidak membuahkan hasil. Seketika Maudy merasa ini adalah karma untuknya karena ia tidak pernah menerima cinta dari semua lelaki yang mengejar-ngejarnya. Ternyata begini rasanya tertolak.
Laras menyadari kecanggungan dan kesedihan di wajah Maudy. Ia menjadi kasihan dengan calon kakak iparnya itu. Kalau Laras ada di posisi Maudy, Laras pasti juga akan sedih melihat orang yang akan dijodohkan dengannya terlihat tidak tertarik dengannya. Ia tak menyangka kakak laki-lakinya itu orang yang tidak memiliki hati. Setidaknya Erlangga bisa menghargai Maudy walaupun cuma pura-pura ramah. Akhirnya setelah selesai makan, Laras menjalankan sebuah rencana yang daritadi dipikirkannya selama menyantap makan malamnya. Ia berharap rencananya ini dapat membantu Maudy agar bisa dilihat oleh Erlangga.
"Kak Maudy, temenin aku ke toilet dong?" Pinta Laras.
"Oh, oke. Yuk," ucap Maudy. Ia dan Laras pun segera beranjak dari tempat duduk mereka dan berjalan menuju toilet.
"Kakak mau ke toilet juga?" Tanya Laras setelah ia dan Maudy sampai di depan toilet.
"Enggak sih. Kakak nunggu di depan sini aja ya?"
"Oke!" Jawab Laras yang langsung berlalu masuk ke dalam toilet. Sesampainya di dalam toilet, Laras langsung mengeluarkan HP-nya. Ia menghubungi Erlangga, bersiap menjalankan rencananya.
"Halo?" Sapa Erlangga di ujung telepon.
"Halo Mas! Gawat nih!"
"Gawat kenapa?" Tanya Erlangga. Entah kenapa ia jadi punya firasat bahwa Laras akan menyusahkannya.
"Gue mendadak datang bulan."
"Terus?"
"Gue nggak bawa pembalut. Tolong beliin dong!"
"Lah, kok gue?"
"Terus siapa dong?"
"Ya beli sendiri lah sana," ucap Erlangga tak mau direpotkan.
"Gue nggak bisa beli sendiri Mas. Kalau gue banyak gerak ntar darahnya tembus rok gue," Laras merengek, berharap Erlangga punya belas kasihan kepadanya.
"Ya tapi masa gue sih? Gue nggak ngerti belinya."
"Minta temenin aja sama kak Maudy."
"Hah?" Erlangga terdengar keberatan. Sudah Laras duga. Tapi Laras tetap berharap Erlangga mau menuruti permintaannya.
"Kenapa sih Angga?" Terdengar suara Bu Mirna yang tampaknya penasaran karena Erlangga terlihat kesal.
"Laras nih Ma," Erlangga langsung menyerahkan HP-nya kepada mamanya, berharap mamanya bisa menyelamatkannya dari permintaan Laras yang tak ingin ia lakukan sama sekali. Namun hal itu membuat Laras senang karena ia bisa meminta bantuan mamanya untuk membujuk Erlangga. Dan benar saja, setelah ia berbicara dengan mamanya, mamanya tetap menyuruh Erlangga untuk membantu Laras.
Laras bisa mendengar sayup-sayup suara Erlangga dari sambungan telepon yang masih juga keberatan, tapi tampaknya ia tidak bisa ngotot untuk tidak mau membantu adiknya karena sekarang ia sedang bersama keluarga Maudy. Pasti Erlangga gengsi merengek seperti anak kecil di hadapan para orang tua itu agar ia tidak perlu dipaksa untuk membantu Laras. Laras terkekeh kecil, rencananya sepertinya berhasil.
"Ya udah, gue beliin!" Kata Erlangga akhirnya, dengan nada kesal.
"Oke, kalau gitu gue kasih tahu kak Maudy ya. Lo jemput dia di depan toilet cewek."
"Iya."
Erlangga langsung mematikan sambungan telepon. Tawa Laras kini pecah, tak peduli orang yang ada di luar toilet mengira ada orang gila yang terlalu bahagia buang air sampai tertawa sekencang itu. Tapi sekarang ia menghentikan tawanya, ia harus menghubungi Maudy supaya Maudy tidak kaget Erlangga tiba-tiba datang menjemputnya untuk membeli pembalut.
***
Erlangga dan Maudy sekarang sudah ada di dalam mobil, dalam perjalanan menuju mini market terdekat. Mereka berdua cuma diam selama perjalanan. Maudy terlalu takut untuk berbicara dengan Erlangga yang sikapnya dingin, sementara Erlangga sibuk sendiri dengan pikirannya yang kesal dengan Laras. Bisa-bisanya Laras memintanya untuk pergi berdua dengan Maudy, padahal Erlangga enggan berinteraksi dengan Maudy. Ia merasa tidak bisa menyesuaikan diri dengan perjodohan ini. Rasanya aneh bertemu dengan perempuan yang dikenalkan oleh orangtuanya. Kalau berkenalan dengan perempuan yang ia temui sendiri, rasanya tidak secanggung ini. Maudy terasa lebih seperti teman dari orang tuanya, jadi ia sungkan untuk mendekatkan diri.
"Mas, itu minimarketnya," akhirnya Maudy bersuara juga. Ia menunjuk mini market yang berada tak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
"Iya," kata Erlangga singkat, lalu segera mengarahkan mobilnya ke minimarket tersebut, memarkirkan mobilnya di samping sebuah sepeda motor. Dan ia keluar dari mobil bersama Maudy.
Erlangga mengikuti Maudy dari belakang yang segera menuju rak tempat pembalut wanita di pajang. Setelah mengamati sekilas Maudy langsung mengambil satu pack pembalut dan meletakkannya di keranjang belanjaan yang tadi langsung diambilnya saat baru masuk ke minimarket.
"Udah Mas," ucap Maudy sambil membalikkan badannya, agar ia bisa berbicara dengan Erlangga yang berdiri di belakangnya.
"Itu aja?" Tanya Erlangga.
"Iya. Aku nggak mau beli apa-apa. Kalau Mas mau beli sesuatu?"
Erlangga merasa agak gengsi ke minimarket hanya membeli pembalut. Berdua pula. Rasanya ia ingin menyuruh Maudy membayar sendiri saja ke kasir, dan ia akan menunggu di mobil. Tapi ia segan untuk bersikap seperti itu. Akhirnya Erlangga memutuskan untuk meraih barang yang lain untuk dimasukkan ke keranjang belanjaan yang Maudy pegang. Tanpa melihat, ia mengambil satu produk di belakangnya.
Erlangga memasang wajah cengo saat mengetahui barang apa yang tadi ia masukkan ke keranjang. Satu kotak celana dalam pria. Maudy tidak berkomentar apa-apa, tapi Erlangga malah merasa malu. Dari sekian banyak barang di minimarket itu, kenapa malah celana dalam yang ia ambil?
"Ada lagi yang mau dibeli Mas?" Tanya Maudy kemudian.
Erlangga menggeleng cepat, tidak bisa berpikir untuk membuat keadaan menjadi lebih baik. Ia lalu bergegas berjalan menuju kasir, Maudy pun akhirnya mengikuti.
"Ini aja belanjaannya Mas?" Tanya kasir kepada Erlangga yang sudah mengeluarkan dompetnya, bersiap untuk membayar.
"Iya."
"Kita lagi ada promo beli satu kon**m gratis satu. Nggak sekalian Mas?" Sang kasir menawarkan dengan senyuman, seolah tidak ada beban saat mengatakan itu.
Erlangga membelalakkan matanya. Bisa-bisanya ada promo seperti itu. Dengan cepat Erlangga langsung menolak tawaran sang kasir. Hal itu membuat Erlangga semakin canggung dengan Maudy.
Selama perjalanan kembali ke restoran, Erlangga dan Maudy kembali hanya terdiam. Dalam hati Erlangga mengutuk Laras yang sudah membuatnya terjebak dalam suasana yang membuatnya canggung dan tidak nyaman. Sementara Maudy masih merasa sedih karena Erlangga terlihat seperti mengabaikannya. Sepertinya rencana Laras untuk membuat Erlangga dan Maudy menjadi akrab gagal.
***
Keluarga Erlangga dan keluarga Maudy pulang ke rumah masing-masing tak lama setelah Erlangga dan Maudy kembali dari minimarket. Tadi orang tua mereka menyambut mereka berdua dengan senyuman lebar, senang karena anak-anak mereka pergi berduaan. Orang tua Erlangga dan orang tua Maudy menganggap membiarkan Erlangga dan Maudy berdua saja adalah hal yang tepat, karena mereka berdua terlihat canggung saat ada orang tua yang melihat perkenalan mereka. Padahal tanpa dilihat orang tua mereka pun, Erlangga dan Maudy masih tetap saja canggung.
Laras masuk ke mobil keluarganya dan duduk di kursi penumpang bersama mamanya. Ia merasa ia menduduki sesuatu, lalu mengambil barang tersebut. Dahinya berkernyit saat melihat barang yang barusan didudukinya itu.
"Mas, Lo tadi beli celana dalam?" Tanya Laras kepada Erlangga.
"Iya," jawab Erlangga singkat. Ia merasa tidak perlu menceritakan hal yang membuatnya terpaksa membeli celana dalam itu, lalu segera mengendarai mobilnya meninggalkan restoran.
"Ih, nggak malu. Masa baru pertama kali ketemu sama kak Maudy malah beli celana dalam? Kayak nggak bisa nanti aja gitu pas kita pulang," komentar Laras dengan pedas. Erlangga memilih untuk mengabaikan perkataan Laras tersebut.
"Ya ampun Angga. Kamu kenapa sih?" Mamanya ikut berkomentar sambil geleng-geleng kepala. Sementara papa Angga tertawa.
"Ya memang apa salahnya? Celana dalam aja dipermasalahkan," ucap papanya sambil terkekeh.
"Ih Papa sama aja anehnya sama Mas Angga," kata Laras. Ia meletakkan kotak berisi celana dalam pria itu di sampingnya, lalu mengeluarkan HP-nya dan sibuk sendiri menggulir layar HP itu.
"Ngomong-ngomong tadi Lo sama kak Maudy di mobil gimana?" Tanya Laras kemudian. Tiba-tiba jadi penasaran tentang apa yang terjadi saat Erlangga pergi berduaan saja dengan Maudy.
"Gimana maksudnya?"
"Ya... Ngobrol kah gitu? Atau apa gitu, pegangan tangan," Laras berbicara sambil tertawa cekikikan.
"Heh, kok baru kenal udah pegang-pegang aja," tegur Bu Mirna.
"Nggak ada kok Ma. Orang diem-diem aja," jelas Erlangga.
"Lah kok diem-diem aja sih? Padahal udah susah payah gue muter otak biar Lo bisa berduaan sama kak Maudy, kenalan lebih akrab sama kak Maudy, jadi Lo nggak dingin lagi ke kak Maudy."
Erlangga akhirnya tersadar kalau ia sudah dibohongi Laras. Ia melirik spion mobil, mencari bayang Laras disana, lalu menatapnya tajam, "Lo ngerjain gue ya?!"
Laras hanya tertawa.
"Ya nggak papa lah Angga. Lagian kamu juga sama Maudy kok tadi nggak ramah? Besok kalau ketemu lagi, kamu harus lebih banyak ngobrol dengan dia. Dia kan calon istri kamu. Ajak kenalan yang benar dong," ceramah Pak Damar.
"Iya Pa," ucap Erlangga dengan malas, lalu kembali fokus ke jalan raya.
"Jadi gimana Maudy menurut kamu? Cantik kan?" Tanya papanya lagi.
"Iya," jawab Erlangga masih malas-malasan. Dalam hati ia mengakui Maudy memang benar-benar cantik, berbeda jauh dari apa yang selama ini ia pikirkan. Tapi pikirannya masih dipenuhi dengan rasa sakit hatinya dengan Natasha, sehingga ia tidak bisa membuat hatinya melihat Maudy.
"Maudy itu sudah cantik, pintar, baik, sopan, tidak pernah pacaran lagi. Kamu itu beruntung pak Brata mau menjodohkan anaknya dengan kamu. Kalau kamu jadi menikah dengan Natasha, pasti masa depan kamu bakalan hancur."
"Iya Pa, iya..." Erlangga merasa enggan mendengar perkataan papanya lebih lama lagi. Memang perkataan orang tuanya selama ini benar. Ia sangat menyesali insting orang tuanya yang ternyata menjadi kenyataan.
***
"Gimana tadi sama Mas Angga? Kita kemaren udah pilih baju mewah ala red carpet lho. Pasti dia langsung kepincut sama Lo kan?"
Erina segera menelepon Maudy saat Maudy mengabari kalau ia sudah pulang dari acara makan malam bersama keluarga Erlangga. Ia sangat penasaran bagaimana reaksi Erlangga saat bertemu Maudy.
"Gue nggak tahu Er. Kok tadi kesannya dia cuek banget ya?" Kata Maudy sedih. Ia sedang membersihkan make up-nya sekarang, "apa dia nggak suka ya sama gue?"
"Loh? Masa sih?" Tanya Erina. Ia tidak percaya ada laki-laki yang tidak suka dengan Maudy.
"Iya Er. Tadi juga gue sempet pergi berdua dia ke minimarket karena adeknya minta beliin sesuatu. Tapi selama perjalanan dia diam aja. Mukanya serem. Gue jadi takut."
"Mukanya serem? Berarti dia nggak ganteng? Tampangnya kayak om-om ya? Duh kasihan banget Maudy kok dijodohin sama om-om?" Kata Erina penuh simpati.
"Bukan, dia bukan om-om. Umurnya cuma beda lima tahun dari kita. Dia itu tadi hampir nggak ada senyum Er. Apa dia bete ya?"
"Dia tegang kali karena harus ketemu sama keluarga Lo."
"Kenapa harus tegang?"
"Ya gue pernah denger kalau ketemu calon mertua itu pasti deg-degan. Karena kita pasti bakal dinilai dari ujung kaki sampai ujung kepala."
"Oh, gitu ya? Ya gue juga deg-degan sih ketemu sama orang tuanya mas Angga," Maudy setuju dengan opini Erina, "tapi kenapa pas kami cuma berdua di mobil, mas Angga tetap nggak mau senyum?"
"Lah, kenapa ya" Erina jadi ikut bingung.
"Dia nggak mau dijodohin sama gue kali ya? Apa habis ini dia bakal ngebatalin perjodohan kami?"
"Duh, jangan mikir yang aneh-aneh dulu Mod. Dia nervous kali ada di dekat cewek secantik Lo," Erina berusaha menghibur.
"Dih, Lo malah bercanda."
"Gue nggak bercanda Mody. Lo itu beneran cantik. Udah nggak usah insecure gitu. Mending kita berdo'a yang terbaik aja buat kalian berdua. Kalau memang perjodohan kalian berdua itu jalan keluar untuk masalah Lo, pasti kalian bakalan bersatu kok. Udah, tenang aja!"
"Wah, bijak banget Lo. Barusan kesambet apa?" Maudy terkekeh mendengar perkataan Erina yang tumben-tumbennya betul.
"Kesambet genderuwo!" Kata Erina asal, bete karena Maudy malah menertawakannya.
"Emang genderuwo bijak ya Er?"
"Iya. Makanya Lo sering-sering main di semak-semak biar kesambet genderuwo juga."
Maudy tertawa terpingkal. Pikiran-pikirannya yang tadi dipenuhi dengan kekhawatiran sekarang berubah menjadi lebih lega setelah bercerita dengan Erina.
"Makasih ya Er. Lo memang selalu bisa ngehibur gue."
"Ya iyalah. Erina Anindita gitu lho. Sahabat yang paling baik sedunia dan seakhirat."
"Iya... Iya... Pokoknya kalau gue jadi nikah sama Mas Angga, gue bakal traktir Lo seharian!"
"Asyik! Janji ya?"
"Iya..."
"Okie dokie! Pokoknya tiap hari gue bakal do'ain Lo supaya beneran berjodoh sama mas Angga!"
"Hihihi... Amin!"
"Udah, tidur sana. Semoga mas Angga datang ke mimpi Lo ya!"
Maudy kembali tertawa mendengar perkataan Erina.
"Lo juga semoga didatengin suami halu Korea Lo ya, bukan sama genderuwo."
"Sialan Lo Mod!"
***