Menikah

2370 Kata
Tak terasa sudah banyak hal besar yang Maudy lewati bulan ini. Bertemu dengan lelaki yang dijodohkan dengannya, dilamar, ujian akhir semester, dan bertunangan. Hidupnya tiba-tiba berubah secepat itu. Tinggal menghitung hari, hidupnya akan benar-benar berubah sepenuhnya. Ia bukan lagi hanya anak dari Pak Subrata maupun Bu Ranti Yulia, tapi nanti ia akan memiliki gelar istri. Istri dari putra pertama Pak Damar Setyawan dan Bu Mirna Rosalina, pewaris PT. Bintang Satya Jaya, Erlangga Pratama. Tapi walaupun sudah bertunangan dengan Erlangga, sudah mulai mempersiapkan pernikahan, Maudy merasa sikap Erlangga tetap saja dingin kepadanya. Erlangga jarang sekali menghubungi Maudy. Ia hanya menghubungi Maudy jika ada persiapan pernikahan yang harus dilakukan berdua. Contohnya untuk memilih pakaian yang akan dikenakan mereka berdua di acara pernikahan. Sedangkan persiapan pernikahan yang lain Maudy yang mengurusnya dengan mamanya dan mama Erlangga. Erlangga berdalih bahwa ia punya banyak kerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan percaya apapun dengan pilihan mamanya. Tapi bagaimanapun Maudy jadi merasa hanya Maudy saja yang bersemangat untuk pernikahan mereka, sedangkan Erlangga seperti tidak peduli. Maudy jadi sering berpikir berlebihan, ia berpikir mungkin Erlangga terpaksa untuk menikah dengannya. Mungkin Erlangga hanya ingin menjadi anak yang berbakti dan memutuskan untuk menuruti permintaan orang tuanya. Hari ini adalah hari terakhir fitting baju pengantin, Erlangga datang agak terlambat. Ia langsung bergegas ke ruang ganti baju dan mencoba bajunya karena Maudy sudah masuk ke ruang ganti baju duluan. Erlangga memperlihatkan hasilnya kepada mamanya dan mama Maudy. "Wah, bagus banget Ngga. Kamu jadi kelihatan super ganteng pakai jas ini," ucap Bu Mirna senang. Erlangga hanya tersenyum tipis mendengar pujian mamanya itu. "Iya, jadi nggak sabar ya Mir nunggu hari H," ucap Bu Ranti tak kalah bersemangat. "Iya Mbak! Eh tapi Maudy mana ya? Kok belum keluar? Kan pengen lihat Erlangga sama Maudy cocok nggak baju pengantinnya kalau berdiri bersanding berdua." "Bentar, coba Mbak panggil dulu ya Mir," ucap Bu Ranti sambil bergegas pergi ke kamar ganti yang Maudy pakai. Tak lama kemudian Bu Ranti pun kembali bersama Maudy yang sudah mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Mata Bu Mirna berbinar saat melihat Maudy. "Ya ampun. Kamu cantik banget Maudy," ucap Bu Mirna di tengah ketersimaannya. "Makasih Tante," Maudy tersenyum malu karena pujian itu. Ia melirik ke arah Erlangga, ternyata lelaki itu tidak bereaksi apa-apa. Maudy jadi merasa sedih. Entah kenapa ia juga ingin dipuji oleh Erlangga. "Coba kamu berdiri di samping Angga," Bu Mirna menarik pelan Maudy agar berdiri di samping anaknya. Ia dan Bu Ranti pun terkesima melihat betapa serasinya Erlangga dan Maudy dalam balutan baju pengantin itu. "Bagus banget ya Mbak!" Kata Bu Mirna kepada Bu Ranti. "Iya! Kalian berdua serasi sekali!" Senyuman Bu Ranti kian mengembang melihat Erlangga dan Maudy berdiri berdampingan. "Mama foto ya Ngga!" Kata Bu Mirna sambil mengeluarkan HP-nya. "Ma, Angga nggak bisa lama-lama. Bentar lagi ada meeting," kata Erlangga, berusaha menghentikan mamanya yang ingin memotret dirinya dengan Maudy. Lebih baik fotonya di saat acara pernikahan saja, pikir Erlangga. Karena ia tidak mau membuang waktu lama-lama disini. Lebih baik ia main game saja daripada mencoba baju pengantin. "Ih Angga. Ngapain buru-buru gitu? Ini baru baju pertama lho. Udah, meeting-nya tunda aja," kata Bu Mirna. "Ya nggak bisa dong Ma. Soalnya ini meeting-nya penting banget. Kalau untuk nyobain dua baju lagi masih bisa. Masih ada waktu dua puluh menit lagi. Tapi kalau untuk foto takutnya bikin tambah lama Ma," Erlangga mengarang-ngarang alasan. Sepertinya kemampuan orang tuanya itu menurun baik ke dirinya. "Ah kamu ini," Bu Mirna memasang wajah cemberut, "ya udah kalau gitu langsung aja cobain baju keduanya." "Ya udah," kata Erlangga, lega karena mamanya tidak memaksanya. Ia dan Maudy bersiap untuk kembali ke kamar ganti, tapi tiba-tiba Bu Mirna memanggil mereka. "Eh tapi tunggu, Angga, Maudy. Lihat sini coba." Erlangga dan Maudy menuruti perintah Bu Mirna. Ternyata Bu Mirna tetap memotret putranya dan calon menantunya itu walaupun hanya sekilas. "Nah, masih sempat foto kan Ngga? Nggak perlu lama kok," ucap Bu Mirna sambil tersenyum puas. Bu Ranti yang ada di sampingnya tertawa melihat kelicikan Bu Mirna. "Kamu ini bisa aja ya Mirna. Kalau pengen sesuatu pasti bakal kamu usahain untuk dapat," puji Bu Ranti. "Iya dong Mbak. Udah, Angga, Maudy, sekarang kalian ganti baju ya," kata Bu Mirna kepada Erlangga dan Maudy yang melongo karena kelakuan Bu Mirna itu. Namun akhirnya mereka berdua pun kembali menuruti Bu Mirna. "Nanti kalau mereka baru datang langsung saya fotoin aja Mbak. Si Angga kebanyakan komplainnya, sok sibuk tuh anak," sungut Bu Mirna saat Erlangga dan Maudy sudah pergi. "Kalau gitu mbak videoin mereka ya Mir. Biar papanya juga bisa lihat," Bu Ranti memberi ide. "Nah, bagus tuh Mbak. Biar kita perlihatkan skill dokumentasi kita!" Bu Ranti dan Bu Mirna saling tersenyum licik, lalu tos bersama. Akhirnya selesai juga fitting baju pengantin. Erlangga kembali ke kantornya, Bu Ranti pulang ke rumahnya, Maudy dan mamanya pun juga pulang. Selama perjalanan, Maudy memikirkan sikap Erlangga tadi yang seperti sangat terpaksa untuk melakukan fitting baju. Erlangga bahkan mau buru-buru kembali ke kantor. Entah kenapa tiba-tiba keraguan perlahan menelusup di hati Maudy. Ia jadi tidak yakin untuk melanjutkan pernikahan dengan Erlangga. Maudy memegang lengan mamanya, mamanya pun menoleh kepada Maudy. "Ma..." Ucap Maudy lirih. "Kenapa Sayang?" Tanya Bu Ranti. Maudy menyadarkan dirinya. Ia seharusnya tidak boleh egois. Pernikahannya dengan Erlangga adalah mimpi orang tuanya. Pernikahannya dengan Erlangga juga bisa menyelamatkan perusahaan papanya. Lagipula sudah sejauh ini, persiapan pernikahan sudah hampir seratus persen. Jika Maudy tiba-tiba membatalkan, ia hanya akan mengecewakan banyak orang. Ia menggelengkan kepalanya agar bisa berpikir jernih. "Nggak papa Ma. Maudy cuma agak capek aja," ucap Maudy akhirnya. "Duh, anak Mama," Bu Ranti menyenderkan kepala Maudy ke bahunya, "nanti habis pulang kamu langsung istirahat ya! Kamu harus selalu fit. Terus jangan stres juga. Dibawa enjoy aja ya Maudy! Nanti sisa persiapan yang belum selesai biar mama aja yang urus." "Iya Ma," kata Maudy menurut. Ia menghela napasnya. Sepertinya ia memang lelah, hati dan mentalnya lelah. *** Hari yang dinantikan Erlangga akhirnya datang juga. Setelah dua bulan pasca melamar Maudy, akhirnya hari ini Erlangga akan menikah dengan Maudy. Itu berarti ia bisa membalaskan dendamnya kepada Natasha. Senyuman Erlangga terus mengembang, membayangkan Natasha yang hatinya hancur berkeping-keping karena mengetahui Erlangga menikah dengan orang lain. Ia yakin Natasha akan merasa menyesal karena sudah menyia-nyiakan orang yang sudah tulus mencintainya. Sudah waktunya untuk ijab kabul. Nampak Maudy sudah siap dengan kebayanya dan dandanan yang anggun, di dampingi kedua orang tuanya berjalan menuju tempat acara. Gadis itu terlihat begitu bersinar, membuat semua orang menghentikan aktivitas yang sedang mereka lakukan demi melihat kecantikan gadis itu. Begitupun Erlangga. Sejenak ia terpesona akan kecantikan calon istrinya itu. Padahal ia sudah beberapa kali bertemu dengan Maudy, tapi baru kali ini ia benar-benar melihat wajah Maudy dengan benar. Biasanya ia selalu mengalihkan pandangannya dari Maudy untuk menghindari percakapan. "Dia beneran calon istri gue?" batin Erlangga tak percaya. Wajahnya tersipu, perempuan secantik bidadari itu akan menjadi istrinya hari ini. Tapi kemudian ia menyadari bahwa Maudy terlihat begitu murung. "Mungkin Maudy tegang ya? Padahal gue yang bakal ijab kabul," ucap Erlangga lagi dalam hati. Erlangga tak lagi memperdulikan Maudy dan rasa ketersimaannya kepada gadis itu. Yang jelas ia sudah sangat siap untuk membacakan ijab kabul hari ini. Ia sudah latihan kemarin, dan ia yakin ia akan sukses dalam sekali coba. Tapi ternyata hal itu tidak semudah yang ia bayangkan. Saat Pak Brata menjabat tangan Erlangga untuk mengucapkan ijab, entah kenapa pikiran Erlangga menjadi begitu kacau. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Erlangga Pratama bin Damar Setyawan dengan anak saya yang bernama Maudy Ashalina dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dan logam mulia seberat 500 gram tunai," ucap pak Brata. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Maudy Ayunda..." Erlangga menghentikan perkataannya saat mendengar ketiga sahabatnya yang turut menyaksikan ijab kabul itu tertawa. Ia kemudian sadar kalau ia sudah salah menyebutkan nama lengkap Maudy. Ia pun melepas jabatan tangannya dengan papa Maudy. Tampak mama dan papa Erlangga memelototinya. "Mas, Maudy Ayunda udah nikah kali," celetuk Laras yang ikut tertawa bersama Panji, Gilang dan Dito. Wajah Erlangga memerah karena malu. Penghulu pun meminta Erlangga untuk berkonsentrasi dan mengulang ijab kabulnya. "Saya terima nikah dan kawinnya Maudy Ashalina Binti Erlangga..." Laras dan ketiga sahabat Erlangga kembali tertawa karena Erlangga lagi-lagi membuat kesalahan. Tapi akhirnya mereka malah ditegur oleh Bu Mirna. Laras, Panji, Gilang dan Dito pun menghentikan tawa mereka. "Coba niatnya dibetulkan lagi," ucap sang penghulu kepada Erlangga. Erlangga menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Mungkin ia gagal karena niatnya menikah dengan Maudy hanya untuk balas dendam. Kini ia mencoba mengesampingkan dendamnya dengan Natasha. Ia kembali mengingat nasehat Panji yang memintanya untuk menikah bukan karena untuk membalas dendam. Ia memang harus meluruskan niatnya karena betul yang dibilang Panji, menikah itu seumur hidup. Gadis di sampingnya akan menjadi istrinya, ia harus melupakan wanita lain dan hanya boleh memikirkan calon istrinya itu saat ini. Tanpa sadar, Erlangga tiba-tiba menggenggam tangan Maudy. Maudy menatapnya kaget karena memang mereka selama ini tidak pernah melakukan kontak fisik. Erlangga hanya tersenyum agar semua perasaannya yang kacau bisa tertata kembali dan ia benar-benar bisa fokus untuk menikahi Maudy. Erlangga melepaskan genggaman tangannya dari Maudy dan mengatakan bahwa ia sudah siap. Papa Maudy pun kembali menjabat tangan Erlangga dan membacakan kalimat ijab. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Erlangga Pratama bin Damar Setyawan dengan anak saya yang bernama Maudy Ashalina dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dan logam mulia seberat 500 gram tunai." Erlangga segera menyambut ijab dari papa Maudy dengan kalimat kabul, "saya terima nikahnya dan kawinnya Maudy Ashalina Binti Subrata dengan maskawinnya yang tersebut, tunai." "Bagaimana saksi, sah?" Tanya penghulu. "Sah!" Ucap seluruh saksi yang hadir disana. Erlangga menghembuskan napas lega, begitu juga Maudy. Keluarga mereka serta para sahabat pun terlihat begitu senang dan mengucapkan syukur. Akhirnya Erlangga berhasil juga mengucapkan kalimat kabul dengan sempurna. Acara resepsi pernikahan langsung dilaksanakan hari itu juga. Saat sedang tidak ada tamu undangan yang menghampiri Erlangga dan Maudy untuk bersalaman dan mengucapkan selamat kepada mereka di pelaminan, Erlangga perlahan kembali menggenggam tangan Maudy. Segala kekhawatiran Maudy kemarin pun sirna. Ia berpikir mungkin memang benar selama persiapan pernikahan Erlangga sibuk dengan pekerjaannya dan jadi terlihat tidak peduli dengan persiapan pernikahan karena lelah. Kemurungan pun tidak ada lagi di wajahnya dan sisa hari itu Maudy habiskan dengan senyuman manisnya. *** "Selamat siang semuanya!" Ucap Dito lewat mic. Ia ada di atas panggung sekarang, bersama Panji dan Gilang, setelah sebelumnya dengan sangat heboh menunjuk tangan saat MC meminta tamu undangan untuk bernyanyi di atas panggung. "Siang!" Jawab para tamu undangan serempak. "Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi kami, karena sahabat kami, Angga, akhirnya resmi menjadi suami orang. Tepuk tangan dong untuk Angga!" Para tamu undangan bertepuk tangan dengan patuh. "Sekali lagi kami mau ngucapin selamat untuk Angga dan Maudy. Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah, langgeng sampai tua!" Kata Dito lagi. Erlangga yang ada di pelaminan bersama Maudy tersenyum senang sambil memberikan jempol kepada Dito, merasa terkesan karena sahabatnya itu mendadak bisa menyusun kalimat dengan berakhlak. Tidak seperti biasanya. "Baiklah tanpa banyak basa-basi lagi, kita bertiga mau mempersembahkan sebuah lagu untuk kedua mempelai yang sebentar lagi mau unboxing. Judulnya belah duren! Tarik Mang!" Para tamu undangan tertawa mendengar perkataan Dito. Sementara Erlangga menutup wajahnya karena malu. Apalagi setelah musik dimainkan, ketiga sahabatnya itu bergoyang sangat heboh, cenderung ngebor. Erlangga jadi merasa sia-sia karena terkesan tadi. Di samping Erlangga, Maudy tertawa sedikit cekikikan. Ia merasa benar-benar terhibur dengan penampilan para sahabat Erlangga itu. Melihat tawa Maudy itu, hati Erlangga jadi turut merasa senang. Ia mendadak jadi bersyukur karena walaupun bukan anak shaleh, tapi diberikan rejeki berupa istri yang tawanya menyejukkan hati, wajahnya secantik bidadari. Jadilah ia hanya memperhatikan Maudy saat para sahabatnya berakting menjadi biduan di atas panggung. "Kenapa Mas?" Tanya Maudy yang akhirnya sadar kalau Erlangga terus memandanginya. "Nggak papa. Mau lihat kamu aja. Soalnya kemaren-kemaren kita jarang ketemu," jawab Erlangga jujur. Maudy terperangah. Ia yakin wajahnya sangat merah sekarang. Sayang sekali tidak ada benda yang bisa menutupi wajahnya saat ini. Dalam hati ia berteriak histeris. Baru kali ini Erlangga bersikap semanis ini di hadapannya. Erlangga terkekeh melihat reaksi Maudy itu. Ternyata ia bisa juga menggombali perempuan. Ia begitu bangga kepada dirinya sendiri. Ia yakin Maudy sangat klepek-klepek kepadanya. Akhirnya acara pernikahan Erlangga dan Maudy selesai juga. Dengan mobil pengantin yang sudah dihiasi bunga-bunga di kapnya, Erlangga dan Maudy siap diantar oleh supir ke rumah baru mereka, hadiah pernikahan dari orang tua Erlangga. Sebentar lagi mereka akan benar-benar hanya berduaan saja. Mendadak Erlangga menjadi tegang, tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mereka berdua saja di rumah baru. Apakah mereka akan langsung melakukan malam pertama? Rasanya cukup aneh melakukan hal itu dengan orang yang belum lama ia kenal. Mereka bahkan belum pernah bermesraan, berpegangan tangan pun baru hari ini. Benar-benar hubungan yang begitu halal. Erlangga tak menyangka ia akan memiliki hubungan seperti itu dengan perempuan. Tuhan sepertinya ingin Erlangga jadi anak baik-baik saja. "Mas, nanti malam beneran mau langsung unboxing?" Tanya Maudy tiba-tiba. "Hah?" Erlangga kaget dengan pertanyaan Maudy itu. Padahal ia sedang stres memikirkan kejadian malam nanti, Maudy malah mengajak berdiskusi tentang hal itu. Diliriknya kaca spion, ia bisa melihat supir yang duduk di balik setir mati-matian menahan tawa. "Itu, tadi teman-teman mas bilang kita mau unboxing. Memangnya hadiah-hadiah pernikahan kita langsung diantar hari ini?" Tanya Maudy lagi dengan polosnya. "O... Oohhh...." Erlangga bernapas lega karena ternyata Maudy membahas hadiah. Kalau tidak, ia akan merasa canggung karena ada supir yang mendengarkan obrolan mereka berdua. "Nggak tahu sih. Tapi kalau memang diantar hari ini, nggak usah dibuka dulu. Kan capek. Mending kita tidur aja," jawab Erlangga. Namun kemudian ia menyesali sarannya sendiri. Si supir pasti pikirannya sedang travelling karena Erlangga mengajak Maudy tidur. "Ooh, gitu. Tapi kita tidurnya gimana Mas?" "Ya Allah Maudy, kok nanya?" Erlangga berkata dalam hati sambil menepuk jidatnya. Lagi-lagi ia melirik kaca spion, melihat sang supir yang sangat tersiksa menahan tawa karena mendengar pertanyaan Maudy yang ambigu itu. "Tidurnya merem," jawab Erlangga akhirnya, sambil berusaha tersenyum ramah. Maudy pun manggut-manggut. "Maksudnya kita tidurnya itu..." "Nanti kita atur aja di rumah ya," kata Erlangga sebelum Maudy menyelesaikan pertanyaannya. Ia takut pikiran sang supir makin travelling. Lebih baik mengobrol dengan Maudy setelah mereka sampai di rumah saja, jadi tidak ada kecanggungan karena didengar orang lain, pikir Erlangga. "Oh, oke Mas," Maudy akhirnya memutuskan untuk diam. Erlangga pun menghela napas lega karena Maudy mau menurutinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN