Dikhianati

2144 Kata
Sudah hampir sebulan sejak acara makan siang yang tidak dihadiri Erlangga, tidak ada lagi kabar dari Pak Damar mengenai kelanjutan proses perjodohan Erlangga dengan Maudy. Maudy menunggu dengan harap-harap cemas. Pasalnya kondisi kesehatan papanya makin hari makin memburuk. Jika saja perjodohannya dengan Erlangga berjalan lancar, pasti hal itu akan membuat papanya senang dan kesehatannya bisa berangsur membaik. Erina, sahabat Maudy dari SD sampai kuliah, mendekati Maudy saat baru sampai di kelas setelah ia menyadari kemurungan yang terpancar dari wajah Maudy. Gadis berkacamata itu duduk di samping Maudy, melirik Maudy sambil tersenyum jahil kepada Maudy yang sedang menopang dagu dengan tatapan sendu. "Yang galau nggak jadi nikah," ucap Erina lalu tertawa. Ia meletakkan tasnya di papan yang melekat di kursi kuliahnya, yang memang di desain untuk menjadi meja saat kuliah. Maudy menatap sinis ke arah Erina, "seneng ya lihat temennya sedih." "Ya lagian Lo kenapa ngebet banget pengen nikah cepat? Biasanya orang kalau dijodohin nolak. Nah elo malah mau mau aja. Emang seganteng itu ya calonnya?" Erina menaik turunkan kedua alis matanya, lagi-lagi menggoda Maudy. "Ih gue ngelakuin itu demi orang tua gue tahu! Papa gue masuk rumah sakit lagi. Gue cuma pengen bikin Papa seneng biar bisa cepat sembuh." Erina terkesiap, "hah? Kok Lo nggak bilang?" "Baru kemarin masuk rumah sakitnya. Tapi udah seminggu kemarin di rumah aja," jelas Maudy tak bersemangat. "Ya udah, nanti gue jenguk ya?" Maudy mengangguk, namun wajahnya masih murung. "Udah... Udah... Jangan sedih lagi. Nanti gue bantuin deh acara perjodohan Lo biar lancar," ucap Erina sambil tersenyum yakin. "Gimana caranya?" Maudy tampak tak yakin dengan sahabatnya itu. "Ya... Nanti gue pikirin. Yang penting gue jenguk papa Lo dulu. Hehehe..." Maudy melengos, "gaya-gayaan aja lu." "Yang penting kan niat? Udah dong Maudy cantik jangan cemberut terus. Itu tuh lihat dosen kita udah datang," Erina mencoba mengalihkan pembicaraan karena kebetulan dosen yang akan mengajar mereka sudah datang. Ia pura-pura bersemangat menantikan pelajaran segera dimulai agar Maudy juga ikut bersemangat. Tak lupa ia tersenyum lebar agar terlihat ceria. "Udah nggak usah sok-sokan seneng belajar," Maudy menoyor kepala Erina pelan. Erina pun menatap Maudy tak terima, tapi Maudy merespon dengan tertawaan kecil, supaya tidak menarik perhatian banyak orang, terutama dosennya. Erina memang sahabat yang bisa membuatnya sedikit teralihkan dari rasa gundahnya. *** Beda orang beda pula kegundahannya. Jika Maudy galau karena perjodohannya tidak ada kejelasan, Erlangga galau karena Natasha semakin hari semakin susah untuk dihubungi. Sekalinya merespon, malah bilang sibuk. Erlangga berpikir mungkin Natasha masih ngambek kepadanya karena Erlangga belum juga bisa membuat orang tuanya merestui hubungannya dengan Natasha. Walaupun Erlangga bilang orang tuanya sudah tidak menyinggung soal perjodohannya dengan perempuan lain, tapi tetap saja hal itu tidak membuat Natasha puas. Sepertinya pernikahannya dengan Natasha akan semakin lama saja untuk menjadi kenyataan. Erlangga memutar otak agar Natasha tidak jutek kepadanya lagi. Ia sadar dua hari lagi tanggal 10, tanggal jadian mereka, sekaligus tepat setahun mereka menjalin hubungan asmara. Berdasarkan pengalamannya dengan para mantannya terdahulu, tanggal jadian haram hukumnya untuk dilupakan. Plus, hal itu harus dirayakan dengan romantis. Minggu lalu Natasha bilang kalau ia akan ke Bali karena suatu pekerjaan. Erlangga lantas langsung memanggil sekretarisnya, agar ia segera dipesankan tiket pesawat ke Bali tanggal 9, sekaligus minta dipesankan kursi di sebuah restoran untuk makan malam romantis dengan Natasha di tanggal 10. "Natasha pasti senang dengan kejutan dari gue!" Batin Erlangga optimis. Ia tersenyum lebar membayangkan Natasha yang sikapnya berubah dari senantiasa jutek kepadanya, menjadi begitu manis dan selalu memberikan senyuman indahnya. Erlangga segera meninggalkan kantor, tak peduli dengan pekerjaannya. Yang ia pikirkan sekarang adalah ia harus segera mencari kado terbaik untuk anniversary-nya dengan Natasha. Barang bermerek yang super mahal kesukaan Natasha. Keesokan harinya Erlangga sudah siap untuk pergi ke Bali, lagi-lagi menelantarkan pekerjaannya sebagai manajer pemasaran di kantor papanya. Baru saja ia turun dari pesawat dan mengaktifkan HP-nya, sudah datang saja telepon dari papanya. Pasti papanya melakukan sidak hari ini dan akhirnya mengetahui kalau Erlangga sedang ke Bali. Ia memilih untuk mengabaikan telepon itu. Untuk apa diangkat kalau ujung-ujungnya ia hanya akan mendengarkan omelan? Erlangga melanjutkan perjalanannya ke hotel. Ia memilih untuk beristirahat hari ini agar besok waktunya 100% bisa dihabiskan berdua dengan Natasha. Rasanya ia sangat rindu dengan kekasihnya itu dan tak sabar ingin segera bertemu. Tapi ia harus menahan diri demi kesuksesan kejutannya besok. Erlangga optimis pasti kejutannya akan berhasil. *** Sudah tanggal 10. Erlangga mengetahui keberadaan Natasha dari live i********: yang baru saja diakhiri Natasha. Tadi Natasha tampak begitu seksi dengan baju renang yang ia promosikan. Rasanya Erlangga tidak sabar untuk melihat kesekian Natasha itu secara langsung. Erlangga rela membuat akun i********: fake agar Natasha tidak tahu kalau ia menonton siaran langsung Natasha itu. Pokoknya ia harus benar-benar memberikan kejutan yang tidak Natasha duga-duga. Karena memang biasanya Erlangga jarang memberikan kejutan, apalagi sampai mengikuti Natasha ke luar kota saat ia bekerja. Natasha pasti akan merasa terkesima dengan perlakuan Erlangga, begitu pikir Erlangga. Dengan senyuman lebar dan jantung yang berdegup cukup kencang karena ia sangat bersemangat untuk bertemu dengan Natasha hari ini, Erlangga melangkah masuk ke area kolam renang tempat Natasha berada. Di tangannya sudah ada buket bunga dan kado yang sudah dibungkus dengan cantiknya. Natasha pasti akan balas menghadiahinya dengan kecupan mesra. Erlangga melemparkan pandangan di sekitar kolam itu. Semangatnya yang tadi meluap berubah menjadi kekecewaan. Ia tak menyangka Natasha malah akan memberikan kejutan yang lebih membuatnya kaget, hingga ia menjatuhkan buket bunga dan kado yang ada di tangannya. *** "Eh Om, Tante," Maudy menyunggingkan senyuman manisnya saat ia menemukan Pak Damar dan Bu Mirna di balik pintu ruang rawat inap papanya. Disalaminya suami istri itu dengan sopan, lalu mempersilahkan mereka berdua masuk dan duduk. Pak Damar menyerahkan bungkusan berupa buah-buahan dan roti kepada Maudy. Gadis itu menerimanya sambil mengucapkan terimakasih. "Maaf Pak, kami baru dapat kabar, makanya baru bisa jenguk," ucap Pak Damar kepada Papa Maudy yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Ia duduk tepat di samping ranjang Pak Brata bersama istrinya. "Iya nggak papa Pak. Terimakasih lho udah mau datang. Erlangga nggak sekalian dibawa untuk jenguk calon mertuanya?" Tanya Pak Brata, membuat Maudy terkejut. "Papa kok langsung-langsung aja sih? Memangnya perjodohannya jadi ya?" Tanya Maudy dalam hati. Ia baru saja bergabung dengan para orang tua itu setelah selesai meletakkan buah-buahan dan roti pemberian orang tua Erlangga di atas meja yang ada di kamar itu. Pak Damar dan Bu Mirna saling memandang, lalu Pak Damar membuat-buat tawanya, "hahaha... Mohon maaf Pak. Erlangga sebenarnya ingin sekali menjenguk calon mertuanya, tapi dia sekarang lagi ada di luar kota. Biasa, urusan kerjaan. Anak itu memang workaholic," ucap Pak Damar mencari alasan. Dalam hati sebenarnya ia ingin sekali mendatangi Erlangga sekarang dan menggeplak kepala anaknya itu. "Ooh... Begitu. Memang Erlangga rajin sekali ya!" "Hahaha... Memang begitulah anak kami Pak," Bu Mirna ikut-ikutan tertawa palsu. "Dia kan sebentar lagi mau diangkat jadi direktur. Usianya masih cukup muda, makanya dia sedang giat-giatnya mencari banyak pengalaman dan mengasah skill supaya nanti bisa menjadi direktur yang bisa diandalkan di perusahaan," Pak Damar makin luwes mengarang cerita. "Wah, bagus itu. Selagi masih muda harus bekerja keras. Memang nggak salah pilih calon menantu saya," Pak Brata tersenyum lebar mendengar cerita dari Pak Damar. Pak Damar dan Bu Mirna kembali membuat-buat tawa mereka. "Oh iya, Maudy gimana kuliahnya?" Bu Mirna mencoba mengalihkan pembicaraan, agar Pak Brata berhenti membahas tentang anaknya yang suka semaunya itu. "Lancar Tante, semester depan udah mulai skripsian," jelas Maudy sambil tersenyum ramah. Ia cukup senang karena kedatangan orang tua Erlangga membuat papanya terlihat ceria. "Maudy sebentar lagi libur semester. Jadi pasti bisa fokus untuk persiapan pernikahan, sebelum dia nanti sibuk dengan skripsinya," papa Maudy menimpali dengan kembali menyinggung soal perjodohan. Maudy hanya sedikit cengengesan mendengar perkataan papanya, berharap Pak Damar dan Bu Mirna tidak mempermasalahkan papanya yang terlihat begitu bersemangat tentang perjodohannya dengan Erlangga. "Wah, betul juga ya Pak. Memang saat Maudy sedang libur seharusnya sudah mulai persiapan untuk pernikahan," ucap Pak Damar, pasrah dengan ekspektasi Pak Brata. Ia berharap keinginan orang yang dihormatinya itu benar-benar bisa terwujud. "Betul itu," papa Maudy menimpali. Bu Mirna tidak mau terlibat lebih jauh dengan obrolan tentang perjodohan yang entah kenapa kembali terbuka lagi. Kini ia kembali mengalihkan pembicaraan dengan Maudy, "oh iya, Mama kamu mana Maudy? Kok nggak kelihatan?" Tanyanya. "Mama tadi pulang sebentar Tante, paling bentar lagi datang," jawab Maudy. "Ooh gitu." Tepat saat Bu Mirna menanggapi jawaban Maudy, pintu kamar rawat Pak Brata dibuka dari luar, dan muncullah Bu Ranti, alias Mama Maudy. "Nah itu mama udah datang," ucap Maudy sambil tersenyum lebar. "Assalamualaikum!" Seru Bu Ranti. "Walaikumsalam!" Jawab semua orang yang ada di ruangan itu. "Wah, panjang umur si Mbak. Baru aja diomongin," Bu Mirna ikut tersenyum melihat kedatangan mama Maudy. Bu Ranti segera berjalan mendekati Bu Mirna, "lah, ngapain ngomongin saya? Mending kita omongin soal perjodohan anak kita, Mir," ucap Bu Ranti bersemangat. Bu Mirna rasanya ingin menepuk jidat. Ia melirik suaminya yang ternyata hanya bisa tersenyum kaku, tampak tak bisa menyelamatkannya dari topik yang membuatnya sakit kepala. Kalau saja Erlangga mau menuruti orang tuanya, pasti Bu Mirna dan Pak Damar tidak akan merasa kesulitan di waktu sekarang ini. Rasanya Bu Mirna juga ingin menggeplak kepala anaknya itu. *** "Angga, kamu apa-apaan sih?!" Natasha mencoba menarik Erlangga yang sedang menghajar seorang pria yang hanya mengenakan boxer secara membabi-buta. Bukan tanpa alasan Erlangga melakukan hal itu. Karena lelaki yang tak Erlangga kenal itu sudah mencium kekasihnya, tepat di bibir Natasha. Begitu mesranya mereka tadi, apalagi tangan lelaki itu secara leluasa menyentuh tubuh Natasha yang masih mengenakan pakaian renang. Erlangga semakin kesal dengan pertanyaan Natasha, "maksud kamu apa aku apa-apaan, hah?! Dia kurang ajar udah macam-macam sama kamu!" Dan di saat perhatian Erlangga teralihkan ke Natasha, si lelaki yang babak belur dihajar Erlangga tadi mengambil kesempatan itu untuk balik menghajar Erlangga. Perkelahian pun kembali terjadi. "Udah... Udah... Stop!!!!" Pekik Natasha. Ia tak mau perhatian orang-orang jadi tertuju ke arah mereka. Ia menarik Erlangga lagi, lalu menahan lelaki terduga selingkuhan Natasha. "Sebentar Steve, I need to talk with him," ucap Natasha kepada lelaki blasteran yang tampak beberapa tahun lebih tua darinya itu. Steve yang masih dipenuhi emosi mencoba menahan diri dan mengangguk, membiarkan Natasha pergi dengan Erlangga. "Kamu kenapa Natasha? Kenapa kamu mesra-mesraan sama orang lain? Kamu nggak ingat kalau kamu punya pacar? Kamu nggak ingat kalau kamu udah nerima lamaran aku?!" Erlangga memborbardir Natasha dengan rentetan pertanyaan yang daritadi memenuhi kepalanya saat mereka pergi ke dekat ruangan ganti baju di area kolam itu. Hatinya terasa sangat sakit sekarang. Ia berharap Natasha bisa memberikan jawaban yang membuatnya bisa melupakan hal tadi, sehingga ia tidak perlu merasa sakit hati lagi. "Apaan sih Ngga? Kamu lebay banget. Kamu bikin aku malu, tahu? Kalau ada yang ngerekam gimana? Bisa hancur karir aku!" Natasha malah mengomeli Erlangga, membuat Erlangga tak habis pikir. "Kamu takut orang lain ngerekam aku ngehajar selingkuhan kamu? Tapi kamu nggak malu kalau sampai ada orang yang ngerekam kamu lagi selingkuh terang-terangan gitu?!" Natasha tak menjawab pertanyaan Erlangga. Ia hanya melipat tangan di d**a dan membuang muka. "Memangnya apa yang kurang dari aku Nat? Aku udah kasih semua yang kamu mau! Aku udah turutin semua permintaan kamu. Tapi lihat balasan kamu?" "Oh, jadi kamu ngerasa kamu udah ngasih banyak gitu ke aku?" Tanya Natasha dengan muka menantang. Erlangga mengerutkan keningnya. Bingung dengan maksud Natasha. "Steve bisa ngasih lebih daripada kamu. Steve lebih bisa ngertiin aku daripada kamu. Steve punya perusahaan sendiri, memangnya kamu yang cuma ngandelin harta dari orang tua?" "Maksud kamu apa Nat? Kamu udah nerima lamaran aku lho?" "Terus? Bukan berarti aku mau nikah beneran sama kamu!" Erlangga sangat terkejut mendengar perkataan Natasha tersebut. "Aku serius ngelamar kamu Nat!" "Oh ya? Aku nggak serius Nerima kamu tuh!" Ucap Natasha dengan entengnya. "Kenapa kamu mainin keseriusan aku Nat?!" "Memang dari dulu aku anggap hubungan kita cuma main-main." Mata Erlangga memerah menahan amarah. Dikepalnya tangannya sekuat tenaga, "padahal aku rela ninggalin kerjaan aku demi nyusul kamu kesini untuk ngerayain anniversary kita! Tapi ternyata aku cuma buang-buang waktu kesini!" "Oh, jadi itu maksud kamu tiba-tiba bisa ada disini? Sejak kapan aku suka surprise? Kamu itu memang nggak pernah ngerti aku. Udah lah! Aku capek pura-pura selama ini. Mending kamu balik aja ke Jakarta. Aku masih banyak kerjaan disini," kata Natasha tanpa rasa bersalah. Ia membalikkan tubuhnya, berjalan menjauhi Erlangga. Tak dihiraukannya Erlangga yang berteriak kesal sambil memukul loker besi yang ada disana dengan sekuat tenaga. Ia sudah tidak memerlukan Erlangga lagi. Sudah ada lelaki lain yang bisa memenuhi semua keinginannya. Erlangga memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Hatinya sudah begitu hancur. Impiannya untuk bisa menikah dengan perempuan pujaannya nampaknya memang tak akan pernah terwujud. Ia benar-benar merasa sangat bodoh karena ditipu dengan semena-mena oleh Natasha. Sebelum benar-benar pergi, Erlangga menginjak-injak buket bunga yang tadi dibawanya. Ia hampir menginjak kado yang tergeletak tak jauh dari buket bunga itu. Tapi ia ingat kado itu begitu mahal. Ia pun memungut kado itu, membawanya pulang bersamanya ke Jakarta. *** Bersambung... Jangan lupa comment ya ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN