Toko sudah tutup. Jeno sudah bersiap untuk pulang, tapi saat akan pergi, ia memutuskan untuk menundanya, karena kondisi tubuhnya yang tidak enak. Ia pun duduk di salah satu meja yang berada dekat dengan pintu.
Jeno mendengus, sembari sesekali mengurut pelipisnya. Mulutnya terasa asam dan tidak enak, kepalanya juga sakit dan tubuhnya terasa agak meriang. Sudah sehArian ini ia tidak merokok, padahal saat jam makan siang, ia sudah curi-curi kesempatan untuk merokok di belakang toko, tapi baru saja berjongkok dan hendak mengambil rokok serta pemantiknya di saku celana, Kamila tiba-tiba muncul untuk buang sampah.
Kalau yang buang sampah pegawai, Jeno akan tetap melanjutkan niatnya untuk merokok, tapi karena Kamila yang buang sampah, terpaksa ia tidak melakukannya untuk jaga imej. Heran juga, padahal Kamila atasan, tapi malah ia yang buang sampah.
Sebenarnya ayah Jeno tidak merokok, tapi saat Jeno mulai masuk kuliah, ia melihat teman-temannya merokok, ia pun jadi ikut-ikutan, dan akhirnya tidak bisa berhenti. Orang tuanya tidak mempermasalahkan, karena menganggap, rokok sudah biasa, orang umum kebanyakan juga merokok.
Tora sudah sering bilang, meskipun merokok tampak seperti hal biasa, sebenarnya rokok itu haram. Yang membuatnya terlihat umum, karena orang-orang sudah banyak yang merokok, dan tidak ada hukum larangan. Padahal rokok sudah seperti n*****a, bikin kecanduan.
Tapi untuk melepas rokok tidaklah mudah, lebih gampang ngelupain mantan dari lepas rokok, pikir Jeno. Sekarang saja, tidak merokok sehAri, Jeno rasanya sudah seperti sekarat.
"Jen, toko udah mau tutup. Kok masih bengong? Gak mau pulang?" Jeno seketika tersadar dari lamunannya, saat mendengar suara Kamila di sebelahnya.
Jeno menoleh sekilas ke arah Kamila, kemudian hanya mengangguk lesu sebagai respon. Ia kemudian mengambil tasnya yang sebelumnya ia letakan di atas meja, kemudian beranjak berdiri untuk pergi.
Kamila sendiri sudah jalan keluar, baru Jeno menyusul. Ia jalan dengan langkah sempoyongan keluar dari toko roti.
Sesampainya di luar toko, saat hendak keparkiran, Jeno tiba-tiba merasa sekelilingnya berputar, yang membuatnya hampir saja terjatuh, untungnya Kamila dengan sigap meraih tangannya, dan memegangi satu bahunya, hingga ia tidak jadi jatuh.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Kamila panik.
Jeno terdiam dengan alis bertahut dengan kening mengkerut, kepalanya pusing sekali, suara Kamila bahkan terdengar seperti degungan di telinganya.
"Biar kamu saya antar pulang,” ucap Kamila.
Jeno menggelengkan kepalanya. “Aku bawa mobil kok,”
“Ya udah, biar saya yang nyetir. Gak mungkin kan kamu mau nyetir dengan kondisi kayak gini?”
Jeno tertegun. “Kamu bisa bawa mobil?”
“Bisa. Dari pada kamu kecelakaan, mending saya yang bawa mobilnya, lagian kita kan tetanggaan,”
Jeno akhirnya mengeluarkan kunci mobilnya dan menyerahkannya pada Kamila. Benar, ia tidak bisa memaksakan diri untuk menyetir dengan kondisi seperti ini, ia belum siap mati. Ia harus mengenyahkan rasa sungkannya, demi keselamatan dirinya.
Kamila kemudian memanggil salah satu pegawainya yang laki-laki untuk membopong Jeno ke mobil.
Selama di perjalanan, tidak ada yang bicara. Kamila fokus menyetir, sementara Jeno memejamkan matanya, dengan kepala sengaja ia sandarkan di kaca mobil, membuat kepalanya terpental-pental, dan rasa sakit di kepalanya jadi sedikit membaik.
"Kamu itu sebenernya kenapa?" tanya Kamila setelah sekian lama hanya diam.
Jeno tidak langsung menjawab, mau jawab bohong dosa, dosa Jeno sudah banyak. Mau jujur, tapi takut Kamila jadi tidak menyukainya.
Setelah berpikir cukup lama, Jeno akhirnya memutuskan untuk jujur, toh, rasanya tidak mungkin ia bisa mendapatkan hati seorang Kamila. Ia sendiri juga merasa tidak pantas untuk Kamila.
"SehArian ini aku gak ngerokok, jadi gini deh badannya,” Jeno akhirnya menjawab pertanyaan Kamila. “Yah, aku emang perokok aktif,” sambung Jeno dengan nada lirih.
Kamila tidak merespon. Jeno akhirnya mengangkat kepalanya dari kaca mobil, dan menoleh ke arah Kamila, untuk melihat ekspresinya saat ini.
Ekspresinya ternyata biasa saja, tidak seperti dugaan Jeno yang berpikir Kamila jadi memasang ekspresi jijik padanya.
Sadar diperhatikan, Kamila pun berdehem, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Gak ada niatan berhenti ngerokok?" tanya Kamila kemudian.
Jeno terdiam sesaat. “Sebelumnya sih gak kepikiran, tapi sekarang kayaknya iya. Cuman kan gak gampang,” balas Jeno.
Kamila kali ini benar-benar tidak memberi tanggapan, tapi ia mendengarkan. Sampai akhirnya mereka tiba juga di rumah Jeno. Kamila memarkirkan mobilnya di depan rumah Jeno, sebelum akhirnya turun, dan pamit pulang.
Jeno memperhatikan gadis itu, dari mulai berjalan ke rumahnya, sampai akhirnya masuk dan menghilang di balik pintu. Ia kemudian menumpukan keningnya dengan satu tangan, sementara sikunya ia letakan di bawah kaca jendela mobil. Pikirannya mendadak kacau, Kamila pasti sekarang jadi hilang respek padanya.
•••
Kamila menghela napas lega, karena Lino ternyata belum ada di rumah. Kalau ia ada di rumah, pasti Lino sudah mewawancarainya karena pulang dengan Jeno. Kamila meraih ponselnya, untuk mengabari Lino kalau ia sudah pulang.
Lino biasanya menjemputnya setelah ia pulang kerja, itu sebabnya Kamila harus memberi kabar.
Rumah terasa sepi sekali, orang tuanya juga sepertinya tidak ada di rumah.
Kamila masuk ke kamarnya, ia duduk di pinggir ranjang, dan termenung. Mengingat pembicaraannya dengan Jeno dalam perjalanan pulang tadi, membuatnya jadi mengingat sesuatu.
Ia akhirnya berjongkok di depan ranjangnya, kemudian menArik keluar sebuah kotak dAri kolong kasurnya. Kotak berwarna biru dongker yang mengkilap ini, adalah kotak bekas gaun pemberian ayahnnya, saat usianya baru tiga belas tahun. Sekarang kotaknya ia isi dengan barang-barang kenangannya di masa lalu. Masa-masa kelamnya.
Kamila membuka kotak tersebut, di dalam kotak terdapat lima buah bungkus rokok yang sudah kosong, ada cutter, juga beberapa barang lain yang terlihat biasa saja di mata orang, tapi menyedihkan bagi Kamila.
Kamila merokok saat remaja. Bukan perokok aktif, ia hanya merokok jika sedang stress dan tertekan. Tidak ada yang tahu kecuali dirinya sendiri. Ia juga sering melukai dirinya sendiri, dan menggunting-gunting foto keluarganya, namun foto yang sudah hancur itu, akan ia simpan.
Keluarganya pernah hancur, berawal dari ayahnya yang selingkuh, sehingga membuat ibu kandung Kamila dan Lino menuntut cerai. Mereka pun bercerai, dan ayah mereka akhirnya menikah dengan selingkuhannya.
Tak berselang lama ibu kandung Kamila dan Lino meninggal dunia karena kecelakaan, membuat Lino dan Kamila terpaksa diasuh ayah dan ibu tiri mereka, setelah sebelumnya dirawat ibu kandung.
Namun ibu tiri mereka, sering menyiksa Lino dan Kamila karena tahu ayah begitu sedih dan terpukul dengan kepergian mantan istrinya. Ia berpikir ayah masih mencintai mantan istrinya, yang membuat ayah merasa sangat menyesal dan bersalah pada anak-anaknya serta mantan istrinya.
Alasan Lino jadi bersikap aneh, sebenarnya ia mencoba menutupi dirinya yang tertekan di depan Kamila, ia juga selalu berusaha membuat Kamila tetap tersenyum dan tertawa di tengah kondisi keluarga mereka yang berantakan, dengan cara bersikap aneh dan random untuk menghiburnya. Padahal Kamila tahu, Lino diam-diam sering menangis. Namun sikap anehnya itu, akhirnya terbawa sampai sekarang.
Ayah akhirnya memutuskan untuk menceraikan selingkuhannya, dan bertemu wanita lain yang saat ini menjadi ibu baru Kamila dan Lino.
Wanita itu yang sudah memperbaiki kerusakan keluarga Kamila, dan menjadikan ayah, Kamila dan Lino lebih dekat dengan Tuhan.
Ibu mereka yang sekarang, seorang yang religius, ayah, Lino dan Kamila otomatis jadi terbawa. Meskipun Lino masih sering ngawur, tapi bukan berarti ia tidak punya keinginan untuk menjadi lebih baik.
Itu alasan Kamila tidak pernah men- judge orang. Ia pernah ada di posisi kelam. Kamila yakin setiap orang berhak dan bisa berubah menjadi lebih baik, tapi bukan dengan cara dihakimi, tapi diberi motivasi yang membangun.
Cklek, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, membuat Kamil tersentak kaget, dan sontak menoleh ke belakang. Matanya melebar, melihat Lino berdiri di ambang pintu.
“Dari tadi Kakak salam, kok gak dijawab?” ujar Lino.
“Eh, maaf Kak,” ucap Kamila panik, sembari buru-buru menutup kotak yang sedAri tadi membuatnya termenung.
Lino mengernyit, dan menatap kotak itu penasaran. “Kotak apa itu Mil?” tanyanya.
“Bukan apa-apa, Kak,” balas Kamila. Ia hendak memasukan kembali kotak tersebut di bawah kasurnya, namun Lino dengan sigap mengambil kotak tersebut.
“Kakak liat ada rokok tadi di sini,” kata Lino, yang membuat Kamila membelalakan mata.
“Gak ada Kak! Kakak salah liat!” seru Kamila sembari beranjak berdiri, dan hendak mengambil kotaknya kembali.
Namun terlambat, Lino sudah lebih dulu membuka kotak tersebut, dan melihat isinya. Lino mematung, begitu juga dengan Kamila.
Lino kemudian menatap Kamila yang saat ini membuang muka darinya.
“Apa-apaan ini Mil?”
•••
Karena tidak mau kejadian seperti kemarin, Jeno akhirnya memutuskan untuk merokok dulu sebelum berangkat kerja. Tapi setelah merokok, ia menyikat giginya, dan memastikan mulut serta badannya tidak mau rokok.
Saat melewati rumah Kamila, Jeno melihat Kamila dan Lino sedang mau berangkat kerja juga. Keningnya mengernyit, melihat ekspresi keduanya yang tampak tidak enak. Sepertinya mereka baru saja bertengkar.
Jeno jadi khawatir itu karena dirinya yang semalam diantar Kamila. Bisa saja Lino tidak menyukai itu, jadi marah pada Kamila.
‘Semoga bukan gara-gara gue,’ doa Jeno di dalam hatinya.
•••
Kamila hari ini terlihat murung, dia tidak banyak bicara dan berinteraksi seperti biasanya dengan para pegawai serta pelanggan. Jeno mau tidak mau jadi merasa khawatir.
Kamila juga biasanya banyak tersenyum, namun hari ini Jeno sama sekali belum melihat senyumannya.
Memasuki jam sepuluh, roko roti mulai sepi karena masih jam kerja. Jeno pun memutuskan membuatkan sesuatu untuk Kamila, sekaligus ingin melihat kondisinya.
Ia terdiam sejenak, untuk berpikir apa yang bisa ia buatkan untuk Kamila. Coklat panas? Seperti enak, tapi sekarang cuacanya sedang panas. Berarti yang bisa ia buat coklat dingin.
Jeno pun bergegas ke dapur untuk membuatkan Kamila minuman, tapi tentu, setelah ia dapat izin dari manajer untuk menggunakan dapur.
Jeno sebenarnya ragu, apa minumannya ini akan enak atau tidak, karena ia hanya mengira-ngira, dan tidak pernah membuat minuman seperti ini sebelumnya. Jadi sambil membuat, Jeno sambil merapalkan doa, berharap minuman buatannya enak.
Setelah minumannya jadi, Jeno memberi toping marshmallow dengan bentuk yang lucu-lucu, di atas krim kocok yang sebelumnya sudah ia berikan di atas minuman coklat dingin itu. Ia tersenyum kecil, melihat hasil kerjanya sendiri.
Selain minuman, Jeno juga membawakan roti isi sosis. Kata salah satu pegawai, Kamila sangat suka roti isi sosis, selain rasa coklat dan karamel.
Jeno pun membawanya ke ruangan Kamila. Jantungnya berdebar kencang, apa lagi setelah ia tiba di depan ruangan Kamila. Ia mengangkat satu tangannya hendak mengetuk pintu, namun pergerakan Jeno terhenti karena mendengar suara Kamila dari dalam, yang sepertinya tengah berbincang dengan seseorang.
Jeno terdiam, dan tanpa sadar menguping.
"Maafin aku Kak,” suara Kamila terdengar lirih.
"Kakak masih gak nyangka kamu pernah ngerokok dan nyakitin diri kamu sendiri," suara Lino, yang sepertinya berasal dari telefon, kemudian terdengar.
"Ya lagian itu kan dulu, sekarang aku udah gak kayak gitu,"
"Tapi kenapa kamu nyimpen bungkus-bungkus rokok sama cutternya?"
"Buat kenangan aja,"
“Tapi kenapa kamu bisa sampai ngelakuin hal yang kayak gitu? Apa Kakak gak cukup di sisi kamu waktu itu? Padahal Kakak udah sebisa mungkin jaga kamu dan bikin kamu bahagia,”
"Gak selamanya kakak bisa ada di sisi aku. Lagian mana mungkin aku tega, bebanin Kakak terus-terusan? Ada kalanya aku coba hibur diri aku sendiri,”
Jeno terdiam, ia shock mendengar pembicaraan Kamila dengan Lino. Seorang Kamila ternyata pernah seperti itu? Rasanya sulit dipercaya. Seharusnya ruangan Kamila kedap suara, atau telfonnya tidak perlu di- loudspeaker. Bagaimana kalau orang lain yang dengar? Pikir Jeno.
Jeno menghela napas. Setelah memastikan Kamila sudah selesai menelfon dengan Lino, ia pun memberikan diri untuk mengetuk pintu ruangannya. Suara Kamila yang menyuruhnya masuk, tak lama terdengar.
Jeno membuka pintunya perlahan, kemudian mengintip sejenak ke dalam ruangan, sebelum akhirnya masuk. Kamila terlihat duduk di atas sofa panjang, di depan meja yang berantakan. Berkas-berkas berserakan di meja, bahkan sampai ada yang menyebar di lantai.
Kamila sedikit terkejut, melihat Jeno yang rupanya datang, ia kemudian mencoba tersenyum, meskipun sangat sulit untuk dilakukan saat ini.
"Oh Jeno,” gumam Kamila sembari menggigit bibir bawahnya sejenak. “Ada apa?” tanyanya kemudian.
"Eum, maaf udah ganggu. Ini aku mau anter minuman coklat sama roti, hehe,” kata Jeno sambil nyengir.
Kamila mengernyit, kemudian melihat jam tangannya. “Belum jamnya makan siang,”
“Aaa... kamu kayak lagi ada beban, kalau minum minuman manis, mungkin bisa bikin kamu ngerasa jadi lebih baik, ditambah makan. Kalau aku sih, makan pas galau, membantu banget,” ujar Jeno.
Kamila seketika gelagapan. “Ah, keliatan ya kalau saya ada masalah?”
“Iya, soalnya kamu kan biasanya senyum terus, dari pagi sampai sekarang enggak sama sekali, tadi juga keliatan senyumnya terpaksa. Gak papa kok kalau lagi mood buat senyum. Mending sekarang minum dulu aja, sama makan rotinya, biar aku beresin mejanya ya?” papar Jeno.
"Eh, gak usah repot-repot," tolak Kamila.
"Gak repot kok. Kalau meja berantakan, biasanya bikin gak enak mau kerja kan? Jadi biar aku beresin ya, aku kan pegawai kamu lagian, gak masalah dong,” tutur Jeno.
Kamila terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. Jeno pun meletakan nampan berisi minuman coklat serta roti yang dibawanya, di atas meja yang sebelumnya sudah ia kosongkan, dengan cara menggeser berkas-berkasnya menggunakan nampan.
Setelah itu Jeno bersimpuh di samping meja, dan mulai meraih berkas-berkas yang berserakan untuk dibereskan. Sesekali matanya melirik Kamila yang sedang meraih gelas, jantung Jeno seketika berdetak dengan kencang, takut rasanya tidak enak.
Selain itu, ia juga salah fokus dengan cara minum Kamila yang terlihat anggun saat minum, membuatnya merasa semakin tidak bersama, kalau Kamila pernah merokok dan melukai dirinya sendiri.
Jeno berdehem, saat Kamila baru selesai minum, dan mengembalikan gelasnya kembali ke atas nampan. Kamila pun otomatis menoleh ke arahnya.
"Enak gak? Soalnya itu aku sendiri yang bikin, pake racikan sendiri. Takutnya gak enak," tutur Jeno dengan raut wajah cemas.
"Enak kok. Kepahitan dikit sih, kayaknya kamu naruh bubuk coklatnya kebanyakan ya? Tapi saya malah suka. Soalnya gak suka yang terlalu manis," komentar Kamila jujur.
"Berarti gak suka sama aku dong?" celetuk Jeno, yang membuat Kamila mengernyit.
"Maksudnya?” tanya Kamila.
"Soalnya aku kan manis, hehehe," canda Jeno, dengan cengiran lebar di wajahnya.
Kamila terdiam sejenak, sebelum akhirnya tertawa menanggapi candaan Jeno. Jeno merasa malu, sekaligus merasa lega, melihat Kamila bisa tertawa karena candaannya. Padahal biasanya candaannya suka bikin emosi dibanding menggelitik.
“Hahaha, kamu bisa aja,” gumam Kamila.
“Alhamdullillah, bisa bikin kamu ketawa,” kata Jeno.
Kamila tersenyum, kali ini senyumannya tulus, tidak dipaksakan seperti sebelumnya. “Makasih ya, ahh... masalah saya sebenernya cuman...,” Kamila menggantung kalimatnya sejenak, merasa tidak yakin apakah ia harus menceritakannya atau tidak.
“Pokoknya masalah saya, gak gitu... penting sebenernya, bukan masalah besar,”
“Apapun masalahnya, gak masalah kok kalau kamu mau sedih, bahkan nangis. Bukan karena kamu cengeng, tapi dibanding ditahan, mending diluapin aja perasaan itu, biar kamu ngerasa lega. Kalau ditahan-tahan, malah bikin kamu bikin tertekan, dan masalah pun rasanya jadi gak selesai-selesai,” celotehan Jeno, sukses membuat Kamila tertegun.
Kamila menangkup wajahnya sejenak dengan kedua telapak tangannya, kemudian menghela napas. Entah kenapa mendengar perkataan Jeno, malah membuatnya jadi ingin menangis, setelah sekian lama ia tahan. Menggunakan satu tangan, ia menutup mulutnya, dan tak berselang lama, air matanya pun berlelehan, yang membuat Jeno terkejut.
Namun ia hanya diam, membiarkan Kamila menangis. kalau saja ia bisa menyentuhnya, mungkin Jeno sudah memeluknya, atau sekedar menepuki punggungnya.
Kamila tidak pernah menangis di depan orang, bahkan kakaknya sendiri, tapi ia sekarang menangis di depan Jeno, seseorang yang belum lama ia kenal.