(9)

1350 Kata
Keluarga kedua                 “Perjalanan terparah yang semakin memperburuk kondisiku adalah sejak aku SMK, saat itu aku benar-benar menghakimi diriku sendiri dengan cara melukai diri, aku memendam penyakit itu sendirian, bingung juga harus cerita ke siapa? Aku enggak mau orang tau tentang penyakitku apalagi keluargaku, yang akan semakin menambah beban mereka. Kalaupun aku mau ke dokter biayanya juga enggak murah, saat itu aku benar-benar bingung harus bagaimana, merasa sendiri dalam keramaian, dikucilkan, dibully teman, sendirian. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan teman-teman dan kakak-kakak yang baik di rohis.” Ucapku sembari sekali lagi tanpa sadar air mata menetes deras diwajahku mengingat peristiwa itu.                 Sempat saat itu aku enggak kuat untuk meneruskan ceritaku, karena kisah ini sangat menyesakkan dadaku, namun di depan pandanganku berdiri aku melihat sosok keluargaku, Kak Awan dan Kak Fatih bersama teman-teman baikku di rohis yang selama ini selalu support serta percaya kepadaku bahwa aku bisa melewati ini semua, melihat mereka semua hadir di hadapanku membuatku kembali kuat, karena merekalah yang bisa membuat nafas kehidupanku bisa berjalan panjang hingga sampai ke fase sekarang, ku tarik nafas panjang, aku atur irama perasaanku supaya aku mampu tenang mengendalikan gejolak emosiku, selepas itu pelan aku lanjutkan bercerita tentang perjalananku bertemu mereka Kak Awan, Kak Fatih, teman-teman seangkatanku di rohis yang mampu membuatku bisa bangkit dan selalu percaya bahwa dalam hidup senantiasa memberikan kita kesempatan apapun kondisi yang sedang terjadi kepada kita.                    Layaknya sebuah pertemuan, ia bisa menemukanmu dengan banyak orang serta membiarkanmu memeluk erat tangis mereka sembari kau menahan perih luka di d**a, saling berbagi serta menguatkan langkah bersama-sama. Hari-hari ku di sekolah tidak hanya berisikan tentang kisah angka-angka akademis saja, melainkan juga diwarnai dengan cerita bertumbuh yang aku alami dalam satu wadah bernama rohis (kerohanian islam), inilah yang membedakan antara remaja pada umumnya denganku. Melalui rohis inilah kisah pertemuanku dengan teman-temanku yang sudah aku anggap seperti keluarga keduaku di mulai.                  Ping… hari Jum’at malam itu selepas sholat isya’ ada pesan masuk di HP Kakak perempuanku, karena saat itu tablet satu-satunya alat komunikasiku rusak parah, pesan itu berasal dari Kak Indah senior rohis.                 “Assalammualaikum adik-adik sekalian, perkenalkan nama saya Indah dari rohis, saya mau menginfokan kepada kalian kalau besok sepulang sekolah kita ada kumpul perdana rohis di ruang aula sekolah, jangan sampai terlewatkan.” Isi pesan kak Indah yang dikirimkan kepadaku.                 “Wa’alaikumsalam kak... baik kak, insya Allah datang kak.” Balasanku atas pesan kak Indah.                 Keesokan harinya sepulang sekolah aku berkumpul bersama anak-anak lain yang juga mendaftarkan diri mengikuti ekskul rohis, ada sekitar sepuluh anak selain diriku yang ada di dalam aula sekolah. Sore itu kami menunggu hampir lima menit di dalam aula untuk dimulainya acara pertemuan pertama ekskul rohis, saat itu aku masih ingat temanku yang bernama Dayat duduk bersebelahan dengan Wawan di bangku depan baris kedua dari sisi kanan meja guru, di situ mereka berkenalan satu sama selainnya, Dayat memulai pembicaraan sembari mengulurkan tangan kanannya kepada Wawan.                 “Salam kenal ya, nama gue Dayat dari kelas X Farmasi klinis dan komunitas 2.” Ucap Dayat sembari megulurkan tangan kanannya untuk berjabatan dengan Wawan.                 “Eh…iya… gue Wawan dari kelas X Farmasi klinis dan komunitas 1.” Jawab Wawan sembari mengulurkan tangan kananya meraih ajakan jabat tangan Dayat. Sedangkan Safitri duduk bersebelahan dengan Danila di meja ketiga deretan bangku paling kanan meja guru, mereka juga sedang asyik saling berkenalan satu sama lainnya, Safitri memulai pembicaraan dengan Danila.                 “Perkenalkan gue Safitri dari kelas X Farmasi klinis dan komunitas 2, nama lu siapa?” Ucap Safitri sembari mengulurkan tangan kanannya kepada Danila untuk berjabat tangan.                 “Gue Danila dari kelas X Farmasi klinis dan komunitas 3, salam kenal ya.” Jawabku sembari mengulurkan tangan kananku meraih uluran jabat tangan Safitri.                 Tidak lama setelah itu terdengar langkah kaki dari luar pintu aula sekolah, langkah kaki tersebut sedang melangkah masuk ke dalam aula, terlihat sosok wanita tinggi berbadan kurus dengan kerudung dan kaca mata menempel di wajahnya. Ia melangkah masuk ke dalam aula menuju panggung aula sekolah, sembari berdiri di panggung Kak Indah memperkenalkan dirinya.                 “Assalammualaikum adik-adik sekalian, selamat datang dan terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk mengikuti pertemuan pertama ekskul rohis, perkenalkan nama Saya Indah, panggil saja saya Kak Indah, saya dari kelas XI Farmasi klinis dan komunitas 1, saya di sini sebagai kakak pembimbing kalian di rohis, oh iya Kakak kan belum mengenal kalian satu persatu, untuk awal-awal kita perkenalan diri dulu ya? Ada yang mau maju duluan?” Ucap kak indah menghentikan kebisingan suara di dalam aula.                 “Saya duluan kak.” Ujar Dayat dengan antusias.                 “Baiklah kamu duluan, nanti urut aja ya langsung setelah itu sebelahnya, silahkan maju memperkenalkan diri.” Ucap Indah sembari menunjuk Dayat.                 Dayat langsung berdiri sembari memperbaiki seragam serta dasi yang menempel di badannya supaya terlihat lebih rapi, ia dengan percaya dirinya melangkahkan kakinya maju menuju panggung aula, sembari menghadap ke bangku tempat anak-anak lainnya duduk, ia memperkenalkan dirinya.                 “Bang Sarkum beli sepatu… Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh…” Ucap Dayat dengan percaya diri di depan panggung aula.                 “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Jawab kompak seluruh anak di dalam aula.                 “Perkenalkan nama Saya Dayat, saya berasal dari kelas X Farmasi klinis dan komunitas 2, salam kenal buat kalian semua.” Ucap Dayat dengan tegas dan lancar memperkenalkan dirinya.                 “Baik terima kasih, selanjutnya kamu silahkan maju.” Ucap Indah sembari menunjuk Wawan untuk maju memperkenalkan dirinya.                 Gemetar dan keringat dingin tangan Wawan saat itu, ia pelankan mengangkat badannya dari kursi tempat duduknya sembari sesekali tangannya mengusap keringat yang keluar di wajahnya, ia sedang gugup saat itu. Ia melangkah pelan-pelan ke panggung aula dengan posisi kepala melihat ke bawah. Sesampainya di atas panggung aula, ia menghadapkan dirinya ke bangku tempat duduk teman selainnya, dengan wajah merunduk sembari sesekali curi pandang ke depan ia memperkenalkan dirinya.             “Ass…salammualaikum… semuanya, perkenalkan nama saya Wawan dari kelas X Farmasi klinis dan komunitas 1, salam kenal.” Ucap Wawan sembari terbata-bata karena menahan demam panggungnya.             Setelah Wawan sesi perkenalan diri dilanjutkan olehku yang mendapat giliran memperkenalkan diri, sempat agak enggak percaya diri dalam memperkenalkan diriku dihadapan semua teman-teman rohis saat itu, aku khawatir mereka semua akan menolak kehadiranku seperti teman-temanku sebelumnya, namun ketika aku melihat Wawan dengan kondisinya yang meskipun mengalami demam panggung dia masih tetap memberanikan diri untuk maju, aku jadi sedikit tertampar dan tergerakkan saat itu, dalam hatiku aku menguatkan diri sembari mensugesti diri.             “Dia saja dengan demam panggungnya masih berani maju dan dapat apresiasi dari selainnya, masa aku tidak bisa seperti dia, oke aku beranikan diri maju.” Ucapku dalam hati mencoba menguatkan diriku.               Ku tarik nafas dalam-dalam, ku langkahkan pelan kakiku menuju panggung aula, ku coba rekahkan senyuman manisku kepada teman-teman selainnya, kemudian dengan pelan aku sampaikan.             “Assalammualaikum teman-teman, perkenalkan namaku Danila dari kelas X Farmasi klinis dan komunitas 3, salam kenal ya? Mohon bantuannya dan kerjasamanya selama di rohis.” Ucapku dengan lancar memperkenalkan diri di atas panggung aula.              Setelahku maju memperkenalkan diri kemudian giliran Safitri, Mutmainnah dan teman-teman yang selainnya, dari sesi perkenalan tersebut mereka sudah saling mengenal antara satu dengan yang selainnya. Ada yang menarik dari sesi pengenalan diri tersebut, yaitu entah kenapa ekspresi dan fokusku ketika melihat Wawan memperkenalkan diri agak sedikit berbeda dengan cara pendangku kepada teman selainya yang memperkenalkan dirinya, seakan-akan fokus mataku tidak bisa berhenti mengamati setiap detail yang dilakukan Wawan, dalam hatiku berkata.             “Ahh, kenapa aku tiba-tiba bisa seperti ini ya? Mataku tidak berhenti mengamati Wawan.” Ujarku dalam hati                “Fikirku apa aku ‘tertarik’ dengan Wawan? Entahlah aku juga tidak memahami berkenaan dengan apa yang aku rasakan waktu itu.” Dialog-dialog aneh itu memenuhi fikiranku.              Meskipun saat itu merupakan pertemuan pertama kalinya bagi kami berdua, tapi entah kenapa aku merasa tertarik kepada Wawan, bagiku Wawan merupakan pribadi yang berbeda seperti ada yang spesial dari dalam diri Wawan yang menarik perhatianku, dari sinilah mucul benih ‘rasa penasaran’ dari dalam diriku kepada Wawan. Fokus perhatianku kepada Wawan saat itu terbuyarkan dengan suara lantang dari Kak Indah.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN