Hampir setiap hari selepas pulang sekolah aku selalu menangis, aku menangisi setiap pengalaman pahit yang aku rasakan selama di sekolah. Pengalaman pertemanan yang pahit untuk kesekian kalinya yang terjadi kepadaku seketika membuat alam bawa sadarku kembali me-recall ingatan kelam masa lalu pertemananku yang buruk, sehingga membuatku kembali merasakan bisikan-bisikan negatif muncul menganggu fikiranku, bisikan itu kembali mengatakan kepadaku.
“Lu enggak berguna, lu enggak diharapin di dunia, mending lu mati saja.” Suara delusi yang muncul di kepalaku secara berulang-ulang.
Kepalaku terasa sangat berat dan menyakitkan, kesadaranku sudah mulai goyah, saat itu aku tanpa sadar beranjak dari tempat tidurku, melangkahkan kaki ke luar kamar dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil pisau, tanpa sadar pisau tersebut aku goreskan ke tangan kiriku. Sudah sempat pisau itu menempel dan sedikit menggores lenganku hingga berdarah, di saat bersamaan tiba-tiba dari belakang aku merasakan ada tepukan tangan di pundakku, sembari terdengar suara.
“Ila, kamu sedang apa?” Ucap Mama keheranan melihatku tengah malam terbangun di dapur.
Suara dari Mama bagaikan malaikat yang sedang menamparku untuk sadar, dan alhamdulillahnya saat itu juga aku tersadar sebelum pisau lebih dalam melukai tanganku. Cepat-cepat kusembunyikan luka di tanganku dari Mama agar Mama tidak melihat luka di tanganku sembari aku bilang.
“Ehh, Mama…anu...enggak Ila hanya haus mau bikin minum.” Jawabku sembari terbata-bata kebingungan serta buru-buru menyembunyikan luka goresan di lenganku.
Orang tuaku tidak pernah tau kondisiku yang sering membenturkan kepalaku ke tembok atau melukai tangan dengan pisau, aku tidak pernah menceritakan semua itu kepada mereka, karena aku khawatir mereka stres karenaku. Keluargaku sudah banyak masalah, kita bukan keluarga yang kaya, Bapakku kerja serabutan di percetakan dengan gaji harian, Mamaku hanya jualan jajanan sekolah di depan rumah yang penghasilannya tidak menentu. Aku enggak mau menambah beban fikiran mereka dengan kondisiku. Selepas aku tersadar dari delusi yang menguasai diriku, badanku selalu terasa lemas, bingung dengan atas apa yang terjadi kepadaku, saat dalam delusiku hanya terlihat jelas gamaran sosok orang-orang yang dahulu pernah menyakitiku seperti sosok seorang Jani, Rae dan teman-temanku selainya, mereka semua seolah menghakimiku jika aku tidak layak untuk hidup di dunia, sosok Rae dalam delusiku tergambar jelas dia dengan perkataannya yang ingin menghilangkanku dari kehidupanku lengkap dengan gerak telunjuknya yang lurus mengarah ke wajahku, semua itu hadir dalam delusi yang menakutkanku.
Akan tetapi Allah maha baik kepadaku, untuk kesekian kalinya walaupun sempat aku goreskan pisau di lengangan kiriku, aku selalu dihalangi oleh Mama yang datang di saat yang tepat, untuk kesekian kalinya aku masih mampu menyembunyikan apa yang aku rasakan dari Mama. Peristiwa seperti itu lebih intens terjadi selama aku berada di tingkat satu SMK, selain ingin menggoreskan pisau, aku juga pernah ingin membakar tangannku di atas kompor yang tanpa aku sadari, aku nyalakan sendiri ketika kondisinya sedang di pengaruhi oleh delusinya, tak terhitung sudah berapa luka yang ada dalam tubuhku akibat delusi yang muncul dalam fikiranku, berada di tingkat satu SMK merupakan tahun yang sangat kelam bagi kehidupanku. Dengan rentetan delusi yang semakin merenggut kesadaranku ketika aku sedang mengalami kesedihan yang sangat mendalam, aku semakin yakin bahwa ada yang salah dengan diriku, saat itu aku mencoba cari-cari informasi tentang kondisi yang sedang aku alami melalui internet, hari Minggu aku pamit ke Mama untuk pergi ke warnet dekat rumahku.
“Ma, Ila mau pergi ke warnet dulu ya, mau ngerjain tugas.” Ucapku ke Mama dengan sedikit berbohong agar Mama tidak curiga kepadaku.
“Iya, jangan sore-sore pulangnya.” Ujar Mama.
Setibanya aku di warnet aku coba searching mencari-cari artikel yang mampu menjelaskan mengenai kondisi yang sedang aku alami, aku tuliskan pencarian tentang suara-suara yang sering muncul difikiran serta mampu mempengaruhi kesadaran, dan muncullah berbagai artikel yang menjelaskan tentang itu, rata-rata dari artikel yang aku baca waktu itu menjelaskan bahwa apa yang aku alami itu merupakan sebuah delusi yang disebabkan adanya gangguan psikologis, dan rata-rata dari artikel tersebut menyarankan untuk aku bisa konsultasi ke dokter secara langsung supaya bisa mengetahui lebih jelasnya mengenai penyakit yang aku alami saat itu. Melihat dari hasil pencarian informasiku diinternet membuatku semakin bingung dan khawatir, ketika aku harus berkonsultasi dengan dokter secara langsung, banyak ketakutan yang muncul dalam fikiranku. Terutama yang paling aku takutkan adalah ketika nantinya orang tuaku mengetahui semua tentang kondisiku, aku takut menjadi beban mereka dan menjadi sumber masalah dikeluarga. Akhirnya setelah aku mempertimbangkan itu semua, aku memilih untuk berkonsultasi dengan dokter via online, aku mencoba mencari dokter yang bisa aku ajak konsultasi online, ketemulah aku dengan dokter Dika yang bisa berkonsultasi secara online, aku coba ceritakan tentang apa yang aku rasakan dan aku alami selama ini dengan beliau, hingga aku divonis mengidap penyakit Bipolar disorder penyakit psikologis yang ekstream ketika mengalami kondisi sedih aku akan merasakan kesedihan yang mendalam sehingga memunculkan delusi dan kehilangan kesadaran sehingga bisa membahayakan diri sendiri, mendengar vonis tersebut membuat diriku tercengang seakan duniaku sudah hancur hari itu, di depan computer warnet saat itu aku menangis sejadi-jadinya, hingga tanpa sadar suaraku membuat bising satu ruangan, aku sempat ditenangkan oleh Mbak penjaga warnet saat itu sembari diberikan segelas air putih agar aku bisa tenang, fikiranku sudah kacau saat itu, cuman aku juga enggak mau keluargaku tau tentang kondisiku, sebelum aku pulang ke rumah aku coba tenangkan diriku, ambil nafas dalam-dalam, membasuh muka dengan air supaya terhapus bekas air mata yang sempat menetes deras membasahi wajahku. Setelah tenang dan hilang bekas air mata di wajahku, aku beranikan diri untuk pulang ke rumah, sesampainya di rumah.
“Assalammualaikum, Ila pulang.” Ucapku mengucap salam ke Mama yang sedang berada di ruang tamu.
“Wa’alaikumsalam, loh kamu kenapa Ila? Lagi ada masalah kah?” Ucap Mama yang kebingungan melihat ekspresiku dan mata lebamku seolah aku habis nangis.
“Enggak kok Ma, Ila engga apa-apa. Ila mau istirahat dulu ya.” Ucapku menghindari omongan Mama sembari langsung melangkahkan kaki menuju kamar.
Sejak saat itu aku mencoba sembunyikan tentang kondisiku kepada siapapun termasuk keluargaku sendiri, biar aku saja yang merasakannya tanpa perlu melibatkan atau membebankan orang lain.