Hampir tiga minggu berlalu. Aku yang semakin tidak sabar dengan kelakuan Zeline, hanya bisa menghembuskan nafas kesabaran atas segala tingkah lakunya. Entah ia yang bermasalah denganku di kantor sampai perdebatan kami berdua menjadi perbincangan karyawan lain, atau ia yang tiba-tiba saja datang ke rumah Diko tanpa ada kabar sebelumnya. Perdebatan kami berdua sudah menjadi rahasia publik. Setiap kali melewati keramaian, selalu itu saja yang menjad pembahasan mereka, sampai rasanya aku tahu persis apa saja yang menjadi topik pembahasan yang seru, bagi mereka. Setiap kali ke kantornya, aku pasti merasa sedikit tersisihkan. Karena itu lah, dua minggu yang lalu, aku menjemput Siti agar dia juga bisa menemaniku selama di kantor Diko. Sementara waktu, ia memang belum mulai masuk kuliah. Setel

