"Apa ini?!" Ucap Diko dengan suara yang tidak kalah keras, bahkan kami sampai menjadi pusat perhatian banyak orang di sini. Beberap orang mulai mendekat, namun belum berani bertanya. Terlebih, kami memakai bahasa Indonesia, tidak mungkin mereka mengerti. Hanya saja cara kami berbicara saja yang belum dikatakan normal, hingga menjadi pusat perhatian. Aku mengambil tisu dan membersihkan wajahku yang kena siram. Untung saja masih air biasa, kalau sudah air berwarna mungkin sudah membuat mataku perih. Ini saja sudah cukup sakit. Sakit hati, tentunya. "Aku tidak menyangka ya kamu bisa seperti ini, Flo. Aku pikir kamu perempuan yang sangat baik, yang tahu sopan santun. Nyatanya, tidak sama sekali. Untung saja kamu meninggalkanku waktu itu, jika tidak mungkin sekarang lah baru aku merasakan ker

