Untuk pertama kalinya Diko memasak untukku. Bahkan saat kami sering bersama dulu saat SMA, dia tidak pernah seperti ini. Diko semakin berubah setiap harinya, menjadi lebih romantis. Diko tidak membiarkanku untuk mengerjakan apapun. Aku hanya sebagai penontonnya saja, bahkan yang menyapu lantai pagi ini adalah dia. Memang agak aneh sih kelihatannya, tapi dia memaksa. Terlebih, dia sengaja melenggak lenggokkan pinggulnya, untuk membuatku tertawa. Rasanya, tiada kata selain cinta untuknya. Hanya saja memang ada saja hambatan dalam hubungan kami berdua. "Belepotan, kayak anak kecil saja!" Diko membersihkan sesuatu yang ada di pinggir bibirku. Aku terus memperhatikannya, kenapa dia begitu romantis?. Cup. Aku mencium pipinya. "Thanks, sayang." Bisikku. Rasanya, memanggilnya dengan panggi

