Badanku rasanya remuk. Diko seakan mengamuk. Dia tidak memberikanku istirahat, meski hanya sebentar saja. Kini dia membuktikan janjinya dulu. Aku kapok menganggu Diko lagi, dia bisa jadi lebih menyeramkan, lebih dari yang aku bayangkan. "Sayang, bangun. Ini udah jam 11, kita belum sarapan. Bahkan kita melewatkan sarapan kita berdua," bisik Diko, selagi memelukku dari belakang. Jujur, aku masih malas melakukan apapun. Hanya tiduran saja yang rasanya enak. Berbatik sepanjang hari, dari pagi hingga pagi. "Badanku sakit, Diko. Aku ingin tidur aja, nanti aku sarapan belakangan." Jawabku. Kini, aku sedang membelakangi Diko. Diko menyuruhku untuk menghadapnya. Aku masih malu, menaikkan selimut hingga menutupi dadaku. Diko mengangkat sedikit kepalaku dan menjadikan lengannya sebagai bantalku

