Bab 2

1012 Kata
Setelah menenangkan pikiran nya sejenak, akhirnya Arabella pulang ke rumah orang tua nya. Rumah besar dan mewah itu, adalah rumah warisan dari nenek pihak Ibu nya. Arabella tersenyum kecut saat melihat rumah itu. Harus nya, ia adalah putri di keluarga itu. Harus nya, diri nya lah yang patut tinggal di rumah itu. Tapi nyata nya, Ibu tiri dan adik tiri nya malah menguasai semua nya dan mengusir nya secara halus dari rumah itu. "Nona Arabella, anda akhirnya pulang. Bibi sangat merindukan mu." Ucap salah satu pelayan tua milik Ibu nya. "Bibi, apa kabar?" "Ya begini lah. Ayo masuk. Bibi sudah merapikan kamar Nona." Arabella pun masuk bersama dengan pelayan tua itu. Tidak lama kemudian, Ibu tiri nya pun menghampiri Arabella dan langsung memeluk nya. "Anak Ibu akhirnya pulang. Ibu sudah sangat merindukan mu, sayang." Ucap wanita licik itu. Dengan tangan bergetar dan air mata yang ia coba tahan, ia pun membalas pelukan palsu itu. "Bella juga rindu Ibu. Maafkan Bella yang baru saja pulang sekarang." "Sudah lah, tak apa. Ayo kita masuk. Ibu dan Ayah mu sedang mengatur para undangan untuk hari bahagia mu." Arabella pun melihat ruang keluarga yang di penuhi dengan banyak nya barang. Salah satu nya adalah undangan pernikahan milik nya dan Raka. Ia ambil salah satu undangan itu. Sungguh sangat sederhana. Ia adalah putri sulung dari keluarga kaya raya. Bahkan keluarga sederhana pun tidak membuat undangan seburuk itu. "Ayah, siapa yang memesan undangan ini?" "Ibu mu. Ibu mu berkata kamu tidak suka hal yang mewah. Jadi, dia memesan undangan sederhana seperti ini." "Tapi, aku tidak suka undangan jelek seperti ini. Aku adalah putri sulung ayah dan ibu. Aku mau, undangan pernikahan ku, aku yang urus sendiri. Apa kah boleh?" "Bella, tapi ini semua hanya buang-buang uang. Lagian pun, ini cuma undangan." "Justru karena undangan, aku tidak mau kita di hina. Apa Ayah tidak malu?" Mata Ayah nya Arabella dan Ibu nya saling pandang. Lalu wanita licik itu pun mengangguk. "Baik lah terserah pada mu saja. Tapi, waktu nya sudah mepet." "Ayah tenang saja. Dalam waktu dua hari, semua akan selesai." Ucap Arabella sambil tersenyum. Setelah itu, ia pun kembali ke kamar nya. Kamar sederhana yang dulu nya bekas gudang. Sungguh sangat berbeda dengan kamar milik Mita adik tiri nya. Dulu, Arabella mengalah karena kasihan pada adik nya itu. Tapi siapa sangka, gadis itu benar-benar beracun. "Bik, aku bosan dengan kamar ku. Pindahkan barang-barang Mita ke sini, dan barang-barang ku ke kamar nya." "Apa Nona yakin? Bukan kah dulu Nona sendiri yang memberikan kamar itu untuk nya?" "Hmm,, ya mau gimana. Tiba-tiba saja aku ingin tidur di kamar itu. Atau jangan-jangan, Bibi nggak sayang aku lagi?" "Tidak, Nona. Tidak begitu. Baiklah, bibi akan meminta tolong pada pelayan yang lain." Arabella kembali tersenyum. Satu persatu, akan ia rebut kembali apa yang menjadi milik nya. Ia pun duduk santai di sofa yang ada di lantai dua sambil mengirimkan pesan pada teman nya. Pesan berupa undangan pernikahan nya dan Raka. "Loh, apa-apaan ini? Kenapa semua barang-barang yang ada di kamar ku di keluarkan? Buuuu.... Ibu....." Mita berteriak memanggil Ibunya. Dan tidak lama kemudian, Wanita licik itu pun muncul. "Ada apa, Mita? Baru pulang kok malah teriak-teriak kayak gitu?" "Bu, lihat mereka itu. Semua barang-barang ku malah di keluarkan." Ibu tiri nya Arabella yang bernama Mahdalena, langsung melihat ke dalam dan mencoba bertanya pada para pelayan itu. "Ada apa ini? Mengapa semua barang-barang nya Mita di keluarkan?" "Maaf, Nyonya Lena. Ini perintah Nona Arabella. Malam ini, Nona ingin tidur di kamar ini." "Apa? Lalu, dimana dia sekarang?" "Aku di sini, Ibu. Kenapa Ibu? Apa Ibu marah karena aku mau tidur di kamar ku sendiri?" "Tidak begitu. Tapi, bukan kah kamar ini sudah kamu berikan pada Mita?" "Iya sih. Tapi, aku kan sebentar lagi akan menikah. Aku butuh kamar yang lebih besar. Bagaimana kalau Mita tidur di kamar ku untuk sementara?" "Tidak mau. Ibuuu,, aku tidak mau. Kamar itu pengap dan bau. Tak ada pendingin ruangan di dalam sana. Dan, nyamuk nya juga banyak." "Lalu, apa kah aku yang calon pengantin ini harus tidur di kamar yang banyak nyamuk nya?" Tanya Arabella. "Ibuuuuuuu." "Cukup, Mita. Jangan manja. Mengalah dengan kakak mu. Sebentar lagi ia akan jadi pengantin. Jadi, kamu jangan minta yang aneh-aneh. Ayo, ibu bantu berkemas." Dengan rasa kesal Ibu dan anak itu pun akhirnya pergi. Arabella begitu puas. Mungkin, mereka mengira jika Arabella akan keluar dari rumah itu setelah menikah. Tapi, mereka salah. Sampai kapan pun Arabella tidak akan pernah keluar dari rumah peninggalan ibu nya. Arabella pun kembali duduk. Tidak lama kemudian, ponsel nya berdering. Nama Raka tertera di sana. Ia pun dengan cepat menjawab panggilan itu. Ia mau tahu, apa yang dikatakan oleh Raka saat itu. "Halo, Bella sayang. Apa kamu sudah sampai di rumah? Kok kamu tidak mengatakan pada kekasih mu ini kalau sudah pulang." "Dari mana kamu tahu aku sudah pulang?" "Oh,, itu. Hmmm,," "Sudah lah. Aku tahu pasti kita sehati." "Iya sayang. Oh ya Arabella, apa kamu bisa mengirimkan uang? Seminggu lagi pernikahan kita. Orang tua dan adik-adik ku sama sekali belum memiliki pakaian yang layak. Apa kamu tidak malu, jika nanti orang tua ku memakai pakaian jelek?" "Raka, kamu jangan bicara begitu. Aku pasti mengingat orang tua dan adik-adik mu. Walau bagaimanapun, mereka kan keluarga ku. Kamu tenang saja. Nanti aku akan membelikan mereka pakaian khusus desainer." "Benar kah?" "Tentu saja. Aku mana pernah bohong." "Terima kasih, Arabella. Kamu memang cinta ku. Kamu memang pantas jadi istri ku. Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu ya. Aku masih harus kerja. Da sayang ku... Muach." Arabella langsung mengakhiri panggilan itu dan melempar ponsel nya begitu saja. Ia begitu jijik pada Raka. Namun, ia tetap harus melanjutkan pernikahan mereka demi membalas dendam pada mereka semua yang telah menipu nya. Memang tidak mudah. Tapi Arabella harus berusaha sekuat tenaga untuk menghan-curkan mereka semua. Jika membatalkan pernikahan, itu terlalu mudah bagi Raka dan Mita. Arabella akan menjadikan Raka sebagai umpan, untuk membuat Mita dan Ibu nya mengaku dengan sendiri nya. "Bella, total harga undangan seluruh nya lima ratus juta. Bagaimana? Kamu ambil?" Sebuah pesan masuk di ponsel Arabella. "Ambil." Pesan terkirim.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN